Friday, November 13, 2015

Menyimpan Segala Sesuatunya Sendiri

Hai... hai!

Sudah lama saya tidak update blog. Kenapa ya? Karena memang tak ada yang ingin saya ceritakan di sini. Segala hal, segala kejadian, baik, buruk, biasa-biasa saja saya jalani saja tanpa harus dicatat dan dibagikan ke media blog yang siapa saja bisa baca. Tahun ini cukup banyak gejolak naik turun kehidupan yang saya lalui. Dan saya menjaga itu semua untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat, terutama suami yang telah menakhodai bahtera pernikahan setahun ini. Ya, ada kalanya kita tak perlu membagi cerita kehidupan kepada orang lain.

Post terakhir saya mengenai secuil kisah kehamilan pertama saya yang akhirnya harus gugur di usia dua bulan. Setelah itulah, saya tidak menulis apapun di blog. Tapi, ternyata, pageviews tetap bertambah. Ada saja tulisan/artikel yang saya tulis di blog ini dicari oleh banyak orang, diintip dan syukur-syukur dibaca sampai tuntas. Setidaknya, dari sedikit tulisan, saya bisa berbagi sedikit manfaat. Mudah-mudahan. Hmm, saya sadari, saya hidup ini semestinya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga saya bisa berproses menjadi demikian, menjadi sebaik-baiknya manusia.


Hampir sebulan terakhir ini, saya juga tidak aktif di media sosial yang selama ini saya selami. Facebook dan Instagram. Saya sama sekali tidak update apapun, bahkan sekadar share post menarik, informatif dan bermanfaat di Facebook. Instagram juga begitu. Entahlah. Mungkin saya lelah. Saya sudah terlalu lama terpapar dengan media sosial. Media di mana saya bisa melihat kehidupan orang lain begitu gamblang. Media di mana orang lain pun bisa melihat kehidupan saya demikian jelas. Apa menariknya? Tak jenuhkah? Apa lagi yang bisa disembunyikan dari orang-orang? Kita begitu terbuka. Nyaris telanjang. Tapi, bisa jadi juga, nyaris pencitraan! Kebanyakan hanya memamerkan moment indah. Wah, betapa bahagianya dia?! Ckckck... hidupnya menyenangkan sekali! Oh, sungguh keluarga kecil bahagia! Pada akhirnya, saya melakukan perbandingan. Perbandingan antara orang-orang dengan diri saya.

Saya sendiri bukan tipikal orang yang hanya bisa membagi moment indah. Bagi orang lain, mungkin saya dianggap pengeluh atau mungkin penarik perhatian. Tapi tahukah? Saya hanya ingin orang lain melihat saya seutuhnya sebagai manusia, manusia yang bisa bahagia saat di puncak kehidupan, dan manusia yang bisa sedih saat ditimpa kemalangan. Bukankah semua manusia pasti mengalami dua hal itu?! Lagipula, dengan saya mencatat dua macam kejadian itu, saya sesungguhnya sedang menyimpan kenangan, mengutuhkan ingatan. Inilah perjalanan saya. Anak cucu saya nanti mungkin juga bisa melihat masa lalu saya. Tapi, pikiran saya ini tentu tak terpikirkan oleh orang lain. Akhirnya saya mengerti, tiap orang punya pikiran masing-masing, dan tiap orang akan menyikapi tiap kejadian dengan cara masing-masing pula.

Pada intinya mungkin saya jenuh. Jenuh melihat kebahagiaan orang lain. Jenuh membagi kebahagiaan DAN kesedihan saya. Jenuh hingga saya malas update status apapun di Facebook maupun upload foto di Instagram sesering biasanya. Hampir sebulan. Entah sampai kapan. Mungkin ada baiknya untuk menyimpan segala sesuatunya sendiri. Sementara ini.

Sampai jumpa!


No comments:

Post a Comment