Wednesday, November 18, 2015

Itali (Cerpen Terjemahan "Italy" oleh Antonio Elefano)

*diterjemahkan oleh Helvira Hasan dari Italy


ITALI

Kita sudah berpacaran selama delapan bulan dan empat belas hari ketika kau bertanya: “Kenapa kau tak mengucapkan kau mencintaiku lagi?”

Di pikiranku, pertanyaan itu memiliki dua kemungkinan makna: (1) Kenapa aku tak mengucapkan aku mencintaimu lagi? Seperti kenapa aku tak dengan senang hati membandingkan cinta saat ini dengan cinta yang aku rasakan di masa lalu? Dan (2) Kenapa aku tak mengucapkan aku mencintaimu lagi? Seperti kenapa aku tak menggunakan frasa “aku mencintaimu” lebih sering? Tampaknya lebih cenderung yang kedua, walaupun aku mempertimbangkan yang pertama itu kemungkinan yang lebih menarik. Ketika aku membandingkan semantik itu, kau melayangkan kedua tanganmu dan menyuruhku meninggalkanmu sendiri. (Aku menolak.)

Setelah dua puluh dua menit meyakinkanmu untuk membuka kunci pintu kamar, aku menjelaskan bahwa aku telah mengatakan padamu aku mencintaimu sekitar enam bulan lalu.

“Aku ingat,” katamu. “Tapi bukankah aneh kau tak pernah mengatakannya lagi?”

“Apa saat itu kau tak mempercayaiku?”


Aku tak pernah menjadi seseorang yang mengatakan sesuatu hanya demi untuk mengatakannya saja. Sebagai anak dari seorang insiyur dan linguis, aku menghargai ketepatan dan ketelitian. Kepada orang-orang yang bilang cinta bukanlah dunia dengan moral-moral seperti itu, aku akan menunjuk selusin lebih hubungan yang berantakan karena kegagalan dalam komunikasi. Tidak hanya kurang komunikasi, tapi juga bahasa bertele-tele yang sembrono. Pilihlah kata-katamu. Terutama  untuk mereka yang kau sayangi.

Sebulan kemudian, aku memintamu untuk menikah denganku, yang kau jawab ya, yang cukup mengejutkan teman-temanmu. Setahun setelah itu, kita menikah di rumah kaca di Cape Cod. Acara kecil. Keluarga dan kawan. Janji perkawinan yang kita tulis sendiri. Kau menyebutku lelaki yang paling bisa dipercaya yang pernah kau kenal. Dapat diandalkan, jujur, sangat blak-blakan—aku bicara apa yang aku maksud, tak pernah berlebihan, dan itu sebuah kualitas—yang keterusterangan itu bagi orang lain menganggapku sulit—tapi kau anggap sangat romantis. Kelihatannya, selintas, kau menyampaikan itu untuk orang lain ketimbang untukku—seolah-olah: ini, lho, alasan-alasanku. Aku tak keberatan. Aku hanya mengira-ngira.

Sementara janjiku berupa tak lebih dari rangkaian pengamatan. Kencan ketiga kita. Sebuah lubang di dinding restoran steak yang kau temukan saat tur belanja dengan saudaramu. Kau mengenakan sweater jingga membara di atas kemeja berkerah putih. Kau berlari terburu-buru pada malam itu setelah joging sore dan tak punya waktu untuk meluruskan rambutmu. Helaian gelap dan tebal yang mengibas di sekitar wajah-yang-merona-karena-dingin-mu. Kau bicara penuh semangat tentang proyek pekerjaan terbarumu. Ada harmoni pada suaramu, laju kata-kata menuju sebuah jeda—yang berdesah—dan ketenangan ucapan yang membuatmu berirama. Bahumu yang merosot ke dalam; kau menjulurkan tanganmu untuk penekanan—jemari merenggang, seperti sebuah antena serangga. Ketika kau menyampaikan lelucon buruk atau ceritamu mulai membosankan, kau memalingkan kontak mata. Ketika kau tertawa, lehermu terjulur ke atas, bahumu santai, dan bibir atasmu hilang ke dalam senyumanmu. Dua jam setelah makan malam kita, kau minta permisi ke belakang, membuat seluruh ruangan berkabut kelabu. Aku hanya terpusat padamu: langkahmu yang pendek, badanmu yang condong ke depan, cara kakimu yang tampak hilang di antara meja-meja ketika kau menyeberangi ruangan. Kau menangkapku yang sedang menatapmu dan kau pun malu—minta permisi lagi dengan kedua matamu sampai seorang pelayan mengarahkanmu. Kau kembali, tersenyum malu-malu. Kau tertawa walaupun tak ada yang diucapkan. Kau ceritakan sebuah laporan detail yang mengganggu tentang penyergapan nenekmu yang sedang bercinta dengan seorang tukang, lalu kau bersikeras untuk membayar tagihan karena aku telah mendengar ceritamu. Kau pikir kau membosankan, tak layak diperhatikan, padahal kenyataannya, kau hanya secara menyakitkan sadar diri dan mudah teralihkan.

Ibuku pernah bilang pernikahan merupakan persetujuan untuk menyaksikan kehidupan pasangan. Aku bisa mengamatimu selamanya.

Setelah pernikahan, kita pindah ke New York, aku mendapat tawaran sebagai asisten professor di Columbia. Lewat seorang teman dari seorang teman, kau mendapat posisi sebagai koordinator acara di Perpustakaan Umum New York. Kita pindah ke sebuah apartemen di Upper East Side, bisa berjalan kaki dari Park. Bersama, kita joging di pagi hari—kau dengan sengaja memperlambat lajumu, aku dengan sengaja mempercepat lajuku sehingga kita bisa memulai dan mengakhiri bersama. Kehidupan kita adalah pembelajaran dalam kompromi dan alasan. Kita membangun rutinitas. Satu film sekali seminggu (biasanya di bioskop indie pusat kota). Makan di luar dua kali seminggu (satu tempat santai, lainnya apapun yang populer menurut New York Magazine atau Times). Teater sekali sebulan (untukmu klasik, untukku kontemporer). Pesta makan malam dua kali sebulan dengan tanggung jawab memasak dibagi berdua (kau, spesialis kuliner Asia dan Latin; aku, lebih condong ke makanan aman Amerika). Ketika salah satu orangtua kita berkunjung, kita menawarkan tempat tidur kita dan menolak mereka untuk membayar apapun; kita pergi tur, mengajak mereka ke pameran di museum, dan keduanya pura-pura menikmati opera.

Tiga tahun pernikahan kita, kita mencoba mendapatkan anak. Tiga bulan percobaan, kau pun hamil. Sebulan kemudian… keguguran. Kau begitu berani, melalui sejumlah kunjungan ke dokter dan berbagai pemeriksaan, dan aku mengagumi ketabahanmu. Kita mencoba lagi bereproduksi enam bulan kemudian dan dua bulan setelah itu kau hamil lagi. Hingga akhir trimester pertama… keguguran lagi. Kali ini, kau tertekan. Kita sudah begitu percaya diri. Kita telah mengabari orangtua kita walaupun teman-teman sudah menyarankan untuk menunggu sampai trimester kedua. Kita telah memilih nama….

Beberapa bulan berlalu, kita pun bicara mengenai adopsi tapi ide tersebut tak pernah dipadatkan menjadi rencana. Pada akhirnya, kita menerima bahwa kehidupan kita bersama, masa depan kita, akan hanya untuk kita berdua saja. Akhirnya hilanglah gambaran menjadi orangtua, kita pun menyadari keindahan tak terhingga dari sebuah tanggung jawab terhadap diri kita saja.

Bertahun-tahun telah lewat, aku menerima jabatan dosen tetap di Columbia; kau dipromosikan menjadi kepala perencanaan acara di perpustakaan. Kita pindah dari apartemen satu kamar di Upper East dan membeli apatemen dua kamar yang lebih luas di Park Slope (menjadikan kamar kedua sebagai kantor/kamar tamu). Kita mengadakan selamatan rumah baru, kita menyajikan buffet Middle Eastern dan spicy rum punch. Kita menambah frekuensi menonton teater menjadi dua kali sebulan dan melanjutkan tradisi berlibur bergantian ke keluargamu dan keluargaku dengan sesekali merayakan Thanksgiving di tempat kita.

Dibandingkan dengan kebanyakan suami istri untuk jangka waktu yang sama, pernikahan kita minim konflik. Tak ada ketololan laku. Tak ada perpisahan. Argumen, tentu. Beberapa cukup panas. Tapi kebanyakan… kecil, remeh dalam skema yang besar, perbedaan dalam kepribadian ketimbang sarat pengkhianatan.

Keenggananku bepergian, misalnya, yang berakar dari ketakutanku pada pesawat terbang (yang segera aku akui karena data statistik yang irasional). Kau, kebalikannya, sangat senang bepergian. Demi semangat perdamaian, aku tak membuat keributan ketika kau melakukan perjalanan tahunanmu dengan ibumu. Irlandia, Swedia, Thailand, Malaysia. Walaupun aku merasa bingung tanpamu, bahkan untuk waktu singkat, aku tak mengeluh, dan juga kau.

Setelah ibumu meninggal pada usia tujuh puluh tujuh tahun, bagaimanapun kau tetap ingin melihat dunia dan aku masih memiliki ketakutan kalau-kalau tabung besi itu melontar sendiri ke langit merapal kematianku.

Namun demikian, pada ulangtahun pernikahan kita yang ke dua puluh tiga, aku memesan dua penerbangan ke Roma. Untuk pertama kalinya setelah begitu lama, kau tampak terkejut dan menciumku seperti suatu ciuman yang tak pernah kau lakukan bertahun-tahun, seperti ciuman yang telah aku lupakan untuk kurindukan.

“Terima kasih,” ucapmu berkali-kali.

“Sama-sama,” balasku.

Berkat keapikan farmasi modern, satu-satunya yang kuingat tentang penerbangan ke Itali hanya aku duduk di sebelah jendela, mengencangkan sabuk pengaman, dan memegang tanganmu. Aku tak sadarkan diri semenjak kita lepas landas. 

Pada hari kita tiba, kita tertidur di hotel selama tiga jam. Kita terbangun dalam keadaan lapar dan keinginan besar untuk menjelajah. Setelah berjalan-jalan singkat melalui blok sekitar, kita menemukan restoran pizza yang disarankan oleh portir hotel, di sana kita berbagi rigatoni dengan tomat dan pancetta, pizza teri tipis kering, dan kue coklat yang dibuat dengan minyak zaitun. Kita dihibur oleh penyanyi lokal bernama Fabricio, berpakaian jin biru dan rompi berbordir krem; kita gembira dalam suasana baru itu sampai akhirnya tidak lagi (pas “Cuando Cuando Cuando”), tapi kemudian, dibantu oleh botol anggur ketiga di meja wine, suasana berbalik semangat. Kita katakan kepadanya kita sedang merayakan hari jadi kita, dan dia mencium tanganmu, dan menepuk punggungku, dan mendoakan untuk dua puluh tiga tahun lagi. Setelah itu, kita berjalan kaki di bawah pohon sycamore di sepanjang tepi sungai Tibre, saling bergandeng tangan dan berciuman bila suasana hati kita pas. Kita nyasar saat berjalan pulang ke hotel, tapi menemukan jalan kembali sebelum tengah malam. Kita tak tidur hingga fajar. 

Sembari menyisir helaian rambutmu, yang sekarang lurus panjang dan kembali ke warnanya yang alami, aku terkenang gaya lamamu: Pixie praktis sepuluh tahun lalu, fase semi-nakal pirang/berpita biru, keriting yang buruk di kelas tujuh, dan akhirnya, gadis bergaun biru dengan rambut Bob yang kekanak-kanakan, yang kini, setidaknya, bukan sekadar fantasi yang konyol—tapi sebuah cinta, cinta sejati, dengan tubuhnya dan perjuangannya dan sejarahnya. Tertunduk tepat di atas matamu yang mengantuk dan bibir setengah terbuka, aku memandangimu yang perlahan memasuki tidur yang damai. 

Keesokan pagi, kita berjalan ke Pantheon. Kita letakkan jari-jari kita ke dalam lubang kecil pembuangan air dan terpesona pada makam kecil Raphael. Kita lemparkan koin ke dalam Air Mancur Trevi (tiap satu koin—jaminan kembali berkunjung) dan berjalan menaiki bundaran Coliseum, di mana kita merenungi pertarungan kuno antara manusia dan binatang buas. Keluar dari sana, kita teringat pada pertarungan pribadi kita yang konyol dahulu. Bertengkar tentang di mana menginvestasikan tabungan kita (kamu menang); cekcok tentang mobil mana yang akan dibeli (aku menang).

Sore harinya, kita naik mobil sendiri ke perbukitan Trivoli dan air mancur megah Taman Trivoli. “Kalau kita sudah balik pulang,” katamu, “aku ingin bertanam taman seperti ini.”

“Kau membunuh sebuah kaktus waktu kuliah dulu. Sekarang kau ingin sebuah pohon zaitun di lorong darurat kebakaran kita?”

“Kau tahu apa masalahmu? Tak ada keyakinan. Tak ada imajinasi.”

“Sebatang kaktus. Tanaman yang berkembang meski tanpa perhatian—“

“Aku benci pengandaianmu. Kau selalu memilih yang paling konyol dan selalu kau ulang—“

“Pernah juga ada wadah tanaman hidroponik.”

“Sekarang kau terdengar jahat.”

Hari berikutnya, kita mengunjungi Basilica Saint Peter. Di sana kau merasa malu karena patung lilin para Paus berlapis perunggu; kau membuatku berjanji untuk mengkremasimu saat waktumu tiba. Aku segera menyetujui, sekiranya karena kematian selalu menakutiku, tetapi setelah bertahun-tahun pikiran tentang kematianku kini ditimpa oleh ketakutan akan kematianmu. Di luar Saint Peter, kita mengudap bola-bola nasi goreng berisi mozzarella, tomat, dan kacang polong sebelum menyetir ke utara menuju Assisi dan Basilica Saint Francis. 

“Jadi biar kuperjelas,” katamu. “Lelaki ini mengajar dalam keadaan bugil untuk menarik perhatian, berkhotbah kepada burung merpati, dan berdoa memohon stigmata—dan kau memasukkannya ke dalam daftar orang-orang suci?” Kau masih punya kebiasaan bicara padaku seolah-olah aku perwujudan gereja Katolik. 

“Yah, apapun dalam intonasi itu terdengar menggelikan.”

“Kalau kita punya anak, mereka pastilah agnostik.” Itu pertama kalinya setelah bertahun-tahun salah satu dari kita menyebut momok dari anak-anak kita yang tak ada. Aku memberimu semua alasan kenapa spiritualitas, walaupun bukan agama yang teratur, penting bagi seorang anak dan penting bagiku. Kau mengangguk dan menyarankan kita membuat daftar hipotetiknya, yang kemudian, ya, kita kerjakan.

Aku mabuk laut esok pagi dalam perjalanan ke Capri. Aku menutup mata dan menundukkan kepalaku. Kau menumpukan tubuhku terhadapmu dan meminta gerombolan remaja yang berisik untuk diam. Aku merasa baikan begitu kita sampai pantai, tapi kau memberiku segelas air dan memaksa untuk duduk sebelum kita menumpang kendaraan ke Anacapri. 

Perjalanan mendaki gunung begitu indah dan ramai—kelokan-kelokan tajam memperlihatkan selingan tak terhitung antara daratan dan lautan yang mempesona. Kita menaiki kereta gantung ke titik paling tinggi. Duduk di bangku kayu yang tampak seperti sesuatu dari sekolah dasar kuno, tanpa pegangan kecuali palang berkarat yang bisa ditarik, kita naik ke atas sepanjang tebing berumput. Mediterrania—biru dan lebih biru, rumah-rumah pastel—indah dengan keheterogenannya. Begitu kita tiba di tujuan, mudahnya kita dikelabui untuk percaya kalau kita berada di puncak dunia. 

“Inilah tempat favorit baruku,” kau berkata.

Aku pun. 

Pada hari terakhir kita di Itali, dalam perjalanan kembali ke Roma, kita berhenti di sisa-sisa kota kuno Pompeii. Di dalam gerbang, kita dibawa ke dalam sebuah kota yang diawetkan oleh erupsi Gunung Vesuvius. Kita melewati pemandian berlantai mosaik, kuil-kuil para dewa Romawi, dan favoritmu—brodil dua lantai dengan lukisan posisi-posisi seksual yang dianjurkan. 

Aku menunjuk salah satunya, dengan berkelakar menaikkan satu alis mataku. 

“Yang benar saja? Kau mengajakku bercinta di tengah-tengah rumah pelacuran kuno.”

“Ada ranjang batu di sebelah sana.”

“Jaga adikmu baik-baik, Jupiter.”

Aku pun menurut. Keesokan pagi, kita telah berada di pesawat menuju New York. Aku memutuskan untuk tidak menggunakan obat, kau pun terkagum sampai akhirnya terjadi satu jam tangisan cengeng di atas Atlantik. Kecuali perjalanan kembali ke rumah, kau bilang itu adalah dua minggu terbaik seumur hidupmu. Yang kemudian disusul oleh dua tahun terburuk. 

Kita mulai merencanakan perjalanan kita selanjutnya (Jerman atas saran teman kerja perpustakaanmu) ketika kabar itu kita terima. 

Kanker rahim. Seolah-olah bagian anatomi khusus itu tidak cukup sensitif. Dokter memberi tahu kita tentang pemeriksaan eksperimental di Mount Sinai. Berisiko, dengan efek samping yang buruk sekali, peluang kecil untuk pulih, tapi pada dasarnya satu-satunya harapanmu. Kau berhenti mendengarnya. Kau hentakkan kakimu ke lantai dan memandang ke jendela. Dokter mulai berbicara kepadaku. Aku mengangguk. Aku mencatatnya. Aku bilang kepadanya kita butuh waktu untuk mempertimbangkannya. Setelah kita keluar dari ruangannya, kau beranjak dari kursimu, kabur dari hadapanku. Aku tak menyusulmu sampai kita berada di tempat parkir. 

“Kau tak senang,” kataku. 

“Kau menyetujuinya?”

“Kau butuh waktu untuk menyerap berita.”

“Apapun katamu, Profesor. Kau, lagipula, adalah calon peraih penghargaan Genius. Dinominasikan sendiri, tentunya.”

“Kau yang mendorongku melakukannya.”

“Hanya setelah kau memutuskannya. Sejujurnya, itu membuatku malu. Bahwa kau sangat memikirkan dirimu sendiri. Tahun demi tahun.”

“Ini yang kau butuhkan sekarang? Samsak tinju? Baiklah kalau itu bisa bernilai terapeutik.”

“Betapa baiknya.”

“Aku tak bisa bicara denganmu jika kau seperti ini.”

“Kalau begitu diamlah!”

“Kau perlu meluangkan waktu. Tekanan darahmu—“

“—yang paling sedikit kukhawatirkan.” Kau menggelengkan kepala. “Tak bisakah kau diam barang semenit? Mengikutiku ke batas tindakan irasional? Aku rasa—aku perlu—aku hanya ingin mengemudi mobil menghantam dinding bata atau berteriak di dalam gereja yang terlalu penuh. Bisakah kau mengerti itu?”

Omelan panjangmu dimulai dengan perintah diam. Tapi kau mengakhirinya dengan sebuah pertanyaan. Konteks yang menunjukkan kau sedang retoris, tapi aku selalu salah dalam menanggapi.

“Tidak.”

“Persetan kau.” Retoris.

Malam itu, kau kembali ke dirimu biasanya. Setelah sesorean dalam keheningan, kau membenamkan dirimu dalam rangkulanku dan tertidur.

Pagi hari, kau minta maaf atas sikapmu kemarin. Kau bilang kau baik-baik saja, segala sesuatunya baik-baik saja—tak terperinci, samar-samar yang menakutkan. Kali ini, bagaimanapun, kubiarkan saja, seperti yang disarankan buku Letting Go of Loved Ones.

Namun, pada malam harinya, walaupun aku protes, kau bersikeras tidur di sofa. Keesokan pagi, aku buatkan kopi yang kita minum sembari membaca koran Minggu. Tanpa melihatku, matamu masih tertuju pada Arts & Leisure, kau berkata: “Aku mendaftar pemeriksaan itu.”

Walaupun aku sedikitnya punya tujuh pertanyaan balasan, aku hanya jawab: “Oke.”

Setelah perawatan pertamamu, kombinasi radiasi dan campuran obat-obatan baru, aku menyadari bahwa kau butuh perhatian penuh. Aku mengambil cuti tak terbatas dari universitas. 

Aku tak pernah mengerti detail aturan perawatanmu. Ini merupakan permintaanmu, atau lebih kurang—tuntutanmu. Setelah pertemuan awal dengan dokter, kau ingin pergi ke semua kunjungan berkala sendirian. Itu, bisa kubilang, adalah harapanmu melepaskanku dari informasi yang dengan itu kau mencerabut keinginanku untuk bertanya.

Aku melakukan apapun yang kau minta. Aku menyerap luapan amarahmu. Aku menggenggammu ketika kau kesakitan. Kusembunyikan rasa sakitku darimu. Itulah pemberianku: tampilan kekuatan, walaupun pura-pura, rasa aman dari seorang suami yang tak berubah, yang memujamu seperti sedia kala, meski dalam kondisimu yang berubah—kau menyebutnya melemah.

Kesehatanmu memburuk. Kunjungan ke rumah sakit semakin sering. Berat badanmu turun. Tak mampu memakan makanan padat. Hilangnya keinginan untuk menangis. 

Suatu malam, setelah kau muntah darah, aku membawamu ke ruang gawat darurat. Perawatmu yang biasa, Nancy—di jam terakhir shift gandanya—dipanggil dari bagian onkologi. Setelah dia bicara dengan dokter pemeriksamu, anak laki-laki kurus berambut ikal, tak lebih sehari pun dari usia dua puluh delapan, dia menyapaku di lorong. 

“Dua puluh satu minggu,” katanya. Cukup lama sampai aku mengerti dia sedang merujuk durasi perawatanmu. 

“Ya benar,” kataku.

“Tak seorang pun yang melakukannya dua puluh satu minggu. Mungkin ada. Seorang wanita di Minnesota.”

“Mereka melakukan hal ini di Minnesota?”

Dia mengangguk. “Begitulah yang saya dengar.”
“Dan bagaimana keadaannya?”

Dia berhenti sebentar. “Saya tak tahu. Saya pikir baik-baik saja.” Aku tak suka dibohongi tapi kubiarkan dia melanjutkan: “Dia seorang janda. Tak ada keluarga. Setelah minggu kesembilan, biasanya keluarga yang menghentikannya.” Dia melihat ke depan dan bukan kepadaku. 

“Tapi, ini tak sepenuhnya pilihanku, bukan?”

Dia menoleh. “Anda bisa meyakinkannya. Dia benar-benar dalam kesakitan.”

“Saya mengerti. Dan dia bisa menghentikannya kapan pun.”

“Saya rasa anda tak mengerti.”

“Saya mengerti semuanya teramat jelas. Istri saya telah memilih perawatan ini, telah bertahan dengan efek sampingnya yang mengerikan, dan untuk apa? Untuk orang-orang seperti anda, untuk seorang. Untuk jika, semoga Tuhan tak mengizinkan, anda suatu saat mendapatkan diri anda dengan diagnosa yang tak diharapkan, tanpa keraguan bahwa hasil perawatan ini akan sedikitnya menolong di garis paling tepi. Dan ya, untuk alasan-alasan egois juga. Untuk sebuah kesempatan bertahan, walaupun tak begitu. Jika dia memilih berpegangan pada hal itu, jika dia ingin berjuang meski peluangnya buruk—siapa saya memintanya berhenti?”

“Apa maksud anda dengan ‘berjuang’? Dia tak memberi tahu anda?”

“Memberi tahu apa?”

Walaupun dia melanggar kerahasiaan dokter-pasien, aku berterima kasih atas klarifikasi perawat Nancy. Menurutnya, perawatanmu pada dasarnya telah berakhir, gagal dua minggu lalu, setidaknya dari segi tujuan utamanya. Sekarang, apa yang terjadi, dalam ketakutan dan kebingunganku, adalah pengumpulan data sederhana—tidak, tidak sederhana—darah-dalam-kotoranmu, radioaktif, kesakitan.

Malam itu, aku menunggu sampai kau nyaman, sampai obat-obatan yang kau terima di ICU bekerja. Sebuah penundaan sekejap dan jarang dari rasa sakit. Aku benci mencemooh, tapi kau tak memberiku pilihan. 

Dengan wajah kaku dan tegang, kau menjelaskan alasan-alasan kau meneruskan perawatan eksperimental itu—bukan karena beberapa harapan yang salah arah (dokter-dokter dan penelitian mandirimu sendiri telah mematahkannya) tapi karena sebuah kebutuhan untuk memelihara rasa keberdayaan. Dengan masa pensiunmu dari perpustakaan, dengan aku yang mengurus pekerjaan rumah dan kebutuhan sehari-hari kita, kanker pada dasarnya menjadi kesibukanmu.

“Aku mengerti,” kataku dengan anggukan. “Tapi jika kau menganalisa cost-benefit yang benar, tentunya penurunan kualitas hidupmu melebihi manfaat dari data terbatas yang kau sumbangkan.”

“Tak apa-apa,” katamu. “Biarkan saja.”

“Ini bukan saja tentang dirimu, sayang. Tapi pasien-pasien di masa depan. Orang-orang yang rentan.”

“Biarkan saja,” ulangmu, lebih lembut tapi lebih tegas. 

Aku menyerah.

Minggu-minggu setelah itu, tanpa beban dari efek samping perawatan, kau menjadi lebih lunak—sebuah peningkatan kecil sementara dalam suasana hati dan sikap. Sebuah jeda yang singkat dari kemajuan yang sebenarnya. Kemudian, tiada lagi.

Kau menjadi lemah, terbaring di tempat tidur. Pergumulan sehari-hari untuk memandikanmu. Gerakan usus menjadi rumit jika pengeluarannya tak sering. Kau mulai mengalami masalah dengan ingatan. Dokter tak pernah bilang tentang kemungkinan itu. Kau terus meminta cerita-cerita, tapi ketika aku masuk ke kamarmu dengan setumpuk buku, kau tampak kecewa. 

“Ceritakan aku tentang Itali,” mintamu rinci. “Ceritakan kepadaku apa yang terjadi di Itali.” Dari semua cerita tentang kita, Itali menjadi permintaanmu yang paling sering. Aku menceritakan kisah yang sama lagi dan lagi dengan cara yang pastinya sama. Konsistensiku, kau bilang, menenangkanmu. 

Lalu, pada suatu Kamis pagi yang tenang, di tengah musim semi yang sejuk tak seperti biasanya, aku terbangun di sebelahmu dan menyadari kau tak lagi bernafas. Sudah menjadi harapanmu untuk meninggal dalam tidur. Sedikit melegakan saat itu. 

Telah lima tahun sejak kau tiada. Universitas mengizinkanku segera kembali setelah pemakaman, dan walaupun aku akan segera pensiun, aku tetap bekerja selama beberapa waktu. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan dengan waktu luangku tanpamu. Kita selalu membayangkan perjalanan tambahan di masa pensiun kita. Hingga saat ini, tak terpikir olehku aku akan menikmati bepergian sendirian sebagaimana aku menikmati Itali. 

Aku sering memikirkan perjalanan kita dan mengulang cerita wisata kita itu pada diri sendiri, kadang-kadang—memang cukup aneh—dengan suara keras. Perjalanan itu bukanlah ukuran kebahagiaanku bersamamu, berbeda dari penilaian analisku. (Setahun setelah kepergianmu, aku tahu-tahu menangis saat iklan maskapai penerbangan dan dengan segera aku mencari bantuan profesional.) Namun, ketika orang-orang bertanya tentangmu, cerita tentang Itali itulah yang kuceritakan—bukan karena kisahnya menarik (terlalu sedikit konflik, tak banyak untuk momentum naratif), tetapi karena dalam tiap kata-katanya terdengar menyenangkan, menenangkan, dan mudah dicerna. 

Terapisku menghabiskan tujuh sesi untuk topik itu tapi tanpa kesimpulan yang memuaskan. Meskipun begitu, aku tetap bertemu dengannya. Kepergianmu telah menyebabkan dua kehilangan: satu-satunya orang yang pernah aku nikmati mengamatinya setiap saat dan satu-satunya orang bersedia mengamatiku begitu baiknya. Dan aku puas hanya untuk yang terakhir, yang aku bayar untuk itu, meskipun menurutku teorinya dangkal walaupun dengan kemampuannya yang memukau. “Anda seperti seorang pelacur,” kataku kepadanya pada sesi terakhir. 

Cukuplah terapi. Manfaatnya yang kecil tak lagi sebanding dengan biayanya. Lagipula, aku telah mendiagnosa masalahku, dan tak banyak analisa yang dapat meredakan kesedihan yang telah terikat ini. Seseorang yang paling menarik yang pernah kukenal tak lagi ada. 

Segala kata-kata ini, seluruh penjelasan ini, tak lebih dari sebuah prelude dari pernyataan yang begitu lama tertunda. Walaupun ini pasti teramat jelas sekarang, walaupun kau telah mengetahuinya, pernyataan yang layak untuk diucapkan ribuan kali: 

Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. 

*** 

Tamat

PS: Ini cerpen berbahasa Inggris pertama yang saya terjemahkan. Akhirnyaaa... Setelah begitu lama punya niatan untuk belajar menerjemahkan karya fiksi, baru kali ini saya kerjakan, dan harus diselesaikan dalam dua setengah malam untuk cerita 3000-an kata ini. Hahaha... Ternyata sangaaat tidak mudah pekerjaan menerjemahkan bahasa asing, bahasa yang tidak kita gunakan sehari-hari, meskipun kita sudah belajar sampai tingkat Advance sekalipun. Selalu ada rasa bahasa yang tak bisa kita mengerti dengan cepat, ataupun slang-slang yang jarang--bahkan tak pernah kita dengar. Tapi, inilah salah satu media pembelajaran bahasa Inggris. Dan sebagai pengarang, menerjemahkan karya fiksi juga menjadi salah satu cara saya untuk belajar menulis. Semoga akan ada karya terjemahan lainnya. It's fun!

PPS: Mohon maklum untuk hasil terjemahan yang kurang tepat. Hehehe...

7 comments:

  1. Replies
    1. masih ada kelanjutannya, belum selesai saya terjemahkan.

      Delete
  2. Keceeee asliiii....gw share ya di FB

    ReplyDelete
  3. Salam kenal, Mbak Helvira Hasan. Lagi googling cerpen terjemahan Femina, nyasarnya kok ke sini, Ha Ha #eh
    Saya juga lagi belajar menerjemahkan. Senang bertemu kawan baru, hehe #siapaelu
    Mongomong, apakah Mbak Helvira ikut berlatih di situs ini: https://latihanterjemah.wordpress.com? Seru ;)
    Semoga karya terjemahannya lekas bertambah lagi .... Ciao!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, diyday! Iya nih baru belajar, belum tau juga kapan nambah lagi. Hihihi... Boleh juga tuh nanti saya coba intip situs latihan terjemah itu. Thanks for info ya.. :)

      Delete