Tuesday, August 25, 2015

Not Expecting a Miscarriage

Jakarta, May 15th, 2015

On April 15th, I was gifted with two red lines on my test pack. It's quite surprising because I thought I'd wait longer to get pregnant. I even updated status how I was gonna prepare my best while waiting for a miracle happened. Despite that, I of course was in awe, looking at test pack several times to make sure myself that it was true. My period had been late about two weeks. So I believed that I was positively pregnant. What a joyful moment that day. And then...

For some reasons, I visited an obgyn three weeks after. I went in his office, had an ultrasound on my belly, and watched my baby on the screen. Oh dear God, I silently shed a tear. My happiness tear for seeing a successful conjoined of my husband's cell and mine. But shortly after, the doctor looked worried for not detecting baby's heartbeat. He kept searching... in vain. The heartbeat's negative. My baby stayed still. The doctor couldn't make sure my baby would be okay. I tried to be strong. But back home, I cried like a child on my husband's shoulder.

Not convinced by doctor's statement, I decided to get second opinion and waited a week to give some time for a baby to thrive. Moreover, I had no spotting, no bleeding, and other worse signs. I had to give some time. It was a horrible week for not knowing anything, whether my baby would survive or stop growing. What I could do was only asking God for the best. I know that first trimester is vulnerable for miscarriage. If it happened, I would be morose. Few weeks I had experienced a mother's emotion. Feeling happy, being protective, full of hope, getting a bit worried, and happy again. But then a miscarriage would take them away. People might give sympathy and support. But inside a mother-to-be's heart would be as empty as her womb. I thought I was not ready yet for loss.

Thursday, August 20, 2015

Spicy String Beans

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah masak tumis buncis sederhana. Tapi, namanya keren, nyontek bahasa Inggris gitu, deh. Hehehe... Baru kemarin saya bagi resepnya di blog ini. Namanya Buttery Garlic String Beans. Bisa lihat di post ini. Karena sepertinya saya mulai suka dengan sayuran buncis, dan sisa buncis di kulkas masih ada, hari ini saya masak tumis buncis lagi. Hanya saja dengan resep yang berbeda. Masih tumis-tumisan, sih, tapi lebih banyak bahan yang dibutuhkan. Jangan khawatir, tetap sederhana saja, kok, bahan-bahannya. Mudah didapatkan. Saya kasih lihat dulu, deh, penampakannya.

Spicy String Beans
Dari gambarnya saja sexy menggoda gitu. Hot! Hehehe... Masaknya nggak sampai sepuluh menit, termasuk persiapan bahannya. Pertama, iris halus bawang putih yang sudah dikupas, potong pendek daun bawang, potong kecil tomat, iris cabai rawit, dan tentunya si buncis sendiri yang juga diiris dengan ketebelan yang cukup supaya tidak layu dimasak. Untuk menumis, sediakan mentega. Saya lebih suka pakai mentega daripada minyak. Biar kilap sayurannya itu lebih menggugah selera, ketimbang minyak yang kesannya terlalu oily lengket gitu. Mentega juga menambah rasa gurih, mungkin karena ada sedikit rasa asinnya. Nah, level hot bisa diatur dengan menambahkan merica/lada bubuk.

Setelah bahan disiapkan, mulai memasak, deh! Panaskan mentega, masukkan bawang putih, tunggu sampai aromanya menguar, jangan sampai coklat atau hangus, lalu masukkan semua daun bawang, tomat, cabai rawit, dan buncis bersamaan. Aduk merata. Tambahkan merica sesuai selera. Jangan sampai layu, ya! Cukup masak dengan melihat sedikit asap yang mulai membumbung. Angkat, pindahkan ke piring saji, et voila... Spicy String Beans.

Anyway, setiap kali saya berbagi resep, saya hampir tak pernah mencatat takaran setiap bahan. Bagi saya, memasak itu seperti mencipta karya seni. Dalam berkesenian tak ada aturan pasti. Jadilah, saya menakar-nakar sesuai feeling. Pakai perasaan, gitu, deh! Hehehe... Dan, menurut saya juga, takaran itu tidak bisa dipastikan atau disamakan. Karena rasa yang kita inginkan dari masakan kadang tak sama. Bisa jadi ada yang pengin lebih asin, lebih beraroma, lebih pedas, dsb. Maka, based on my experience yang secuil ini, memasaklah dengan cinta. Biar makannya juga lebih nikmat, bagaimanapun hasil masakannya. Hohoho....

See you on next recipe! 

Wednesday, August 19, 2015

Mari Masak!

Saya lagi senang masak, tapiii... yang simpel saja. Sejak menikah akhir tahun lalu, baru beberapa bulan terakhir saya tinggal di rumah sendiri bareng suami. Warung makan cukup jauh dari rumah yang berada dalam kompleks perumahan. Jadi tak seperti sebelumnya yang sering beli makanan siap saji. Dan ternyata dengan memasak sendiri itu juga jauh lebih hemat. Ya, hematlah! Keseringan masak 3T, sih! Apa tuh? Tahu, tempe, telur! Hehehe... Soalnya saya masih agak malas beli daging-dagingan, malas bersih-bersihnya, cuci-cucinya. Kayak ikan, ayam, daging sapi. Padahal pengin juga sesekali masak udang. Sampai saat ini, saya biasanya masak telur bulat balado, telur ceplok mata sapi, telur kocok dadar, lalu tahu dan tempe goreng. Semuanya serba goreng. Tapi, untuk sayuran, biasanya saya suka eksperimen sendiri, tetap yang simpel juga sih. Kayak sayur sop yang isinya wortel, kentang, kembang kol/kadang diganti buncis, bayam kuah bening, buncis uap, tumis kangkung terasi, pernah juga bikin sayur pecel yang isinya kacang panjang, tauge, kangkung, bahkan saya juga bikin "buttery garlic string beans", keren kan?! Hahaha... Alias tumis buncis doang, sih!

Nah, kalau sudah masak gitu, saya suka iseng foto dan upload di Instagram saya. Kadang hasil fotonya biasa saja, kadang juga bagus sampai-sampai agak beda dari gambaran aslinya. Hehehe... Kali ini, saya mau posting beberapa fotonya di sini, sekalian mencatat resepnya. Mungkin ada yang mau mencoba. Mulai dari yang keren dulu....

Buttery Garlic String Beans (Tumis Buncis):

Wednesday, August 5, 2015

Advan Vandroid X7: Tablet PC Berotak Komputer

Sebelumnya saya mengira gadget bermerek Advan adalah produk impor dari Cina. Namun, setelah menghadiri acara peluncuran tablet terbaru Advan khusus untuk bloggers pada hari Senin, 3 Agustus 2015, di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, barulah saya tahu kalau Advan itu brand lokal, asli punya anak bangsa. Pabrik perakitannya terletak di Semarang. Walaupun 80% perantinya belum berasal dari negeri sendiri, setidaknya Indonesia memiliki Advan yang berkomitmen untuk mendorong pemerataan teknologi di semua kalangan masyarakat Indonesia. Kalau kata Marketing Director Advan, Tjandra Lianto, yang mengutip kata-kata pemilik perusahaan, "Teknologi bukan hanya untuk orang kaya. Semua orang harus punya dan menikmati perangkat teknologi, maka Indonesia harus punya Advan." Nah, jadi apa sih produk terbaru yang dikeluarkan Advan? Ini, lho, tablet yang bikin kita main 3D games lebih seru dan belajar lebih baik, tablet PC berotak komputer dengan processor terbaru di dunia dari Intel, Advan Vandroid X7 dengan layar 7". Dan... harganya juga sangat terjangkau! Pas banget dengan visi Advan.

maaf, numpang narsis dengan tablet kece Advan Vandroid X7

Prosesor terbaru Intel Atom X3 yang terdapat dalam Advan Vandroid X7 menawarkan performa luar biasa untuk menghasilkan foto High Definition (HD) dan video untuk saling berbagi, ketahanan baterai yang memungkinkan kita beraktivitas lebih lama dan produktif. Jelaslah! Otaknya Intel gitu, lho! Hanya dengan Intel Inside yang bikin performa prosesor mengagumkan. Di acara product launching ini juga hadir Country Manager Intel Indonesia, Harry K Nugraha, yang menyampaikan kerjasama Intel dengan Advan tak lain adalah untuk mendorong brand lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Diharapkan Advan menjadi market leader tablet nomor 1 di Indonesia. Khusus Vandroid X7, tablet ini dirancang sedemikian rupa hingga sangat cocok digunakan oleh siapa saja, termasuk para pelajar yang membutuhkan gadget untuk mendukung kebutuhan ilmu pengetahuan dan informasi. Supaya anak muda Indonesia melek teknologi, kata Yakobus sebagai Product Manager Advan yang juga menyampaikan spesifikasi lebih detail Vandroid X7 ini: