Sunday, March 22, 2015

Kolaborasi Dunia Penerbitan dan Film

Hari ini saya menghadiri undangan dari Agromedia Group. Sebuah acara yang bernama #SundayMeeting, yakni forum penulis dari kelompok penerbit Agromedia yang membahas suatu tema tertentu tiap kali diadakan. Saya, penulis novel Al Dente yang diterbitkan oleh GagasMedia, cukup antusias dengan tema kali ini, yakni tentang adaptasi novel menjadi film--kolaborasi dunia penerbitan dan film. Pembicaranya ada dari kalangan produser film (Yoen K dari Maxima Pictures), penulis skenario (Haqi Ahmad), dan penulis yang karyanya telah diangkat ke layar lebar (Aditya Mulya).

Sebagian penulis tentu senang kalau karyanya menarik minat produsen film. Pada umumnya, memang produserlah yang "mencari" novel yang layak difilmkan. Apa sih yang dicari produser film dari sebuah novel? Intinya, produser akan melihat jumlah cetakan novel. Sudah seberapa banyak bukumu yang laris di pasaran? Ini cukup menentukan. Setidaknya, novelmu sudah memiliki pasarnya sendiri. Produser tentu menimbang risiko bisnis. Kalau novelmu pada cetakan pertama saja "hidup segan, mati tak mau" di pasaran, jangan terlalu berharap, deh, bakal ada produser film yang minat. Tapi, kalau kamu cukup yakin dengan kualitas ceritamu, punya pesan bagus yang ingin disampaikan, kamu bisa mencoba. Produser tidak hanya "mencari", kok, tapi juga "dicari". Dicari siapa? Oleh kamu yang merasa karyanya bagus untuk difilmkan.

Nah, katanya, sekarang lagi trend bikin film dengan setting luar negeri. Katanya lagi, dengan setting luar negeri bisa menambah value film itu sendiri. Tapi, bukan berarti sebagai penulis novel, kamu harus menulis cerita dengan setting luar negeri. Satu film adaptasi novel dengan setting luar negeri jadi box office, bukan berarti film senada selanjutnya juga akan box office. Yang paling penting itu tetap "storytelling", faktor inilah yang tidak membedakan novel dan film. Cerita apa sih yang mau disampaikan ke pembaca ataupun penonton? Jadi, jangan terpengaruh dengan karya yang sudah laris manis. Jangan ikut-ikutan pokoknya. Karena faktor ini juga, terkadang novel yang tidak meledak sekalipun bisa saja dilirik oleh produser film. Karena pada dasarnya, film itu akan punya pasar sendiri. Kalau sebuah novel difilmkan, bukan berarti yang nonton adalah pembaca novel itu saja kan?! Toh, banyak juga kan, film tanpa adaptasi dari buku apapun bisa meraup keuntungan yang tak sedikit. Gampangnya, kita bedakan saja ada pasar si film, ada pasar si novel. 

Jadi, salah satu kelebihan film adaptasi novel, selain penikmat film doang, yang ditarik buat nonton juga pembaca novel. Inilah kenapa beberapa produser makin banyak berminat mengadaptasi novel menjadi film. Nah, karena ada dua pasar itu, sebagai penulis jangan berharap novelmu harus dibuat sesuai ekspektasi pembaca. Novel dan film adalah dua media berbeda yang menampung kekuatan sebuah "storytelling" yang sama. Kalau kata Aditya Mulya, ketika menulis novel kita jadi tuhan, maka ikhlaskanlah untuk tidak lagi menjadi tuhan ketika sudah "menjual" novelmu ke produsen film. Penulis mesti mau berkompromi dengan penulis skenario, produser, dan sutradara. Empat pilar inilah (penulis novel, penulis skenario, produser, dan sutradara) yang menentukan kekuatan pondasi sebuah film. Untuk hal kompromi ini, maka penulis novel terbagi dua jenis. Jenis pertama adalah yang cukup menjual hak adaptasi film ke produser film. Urusan filmnya nanti seperti apa, penulis tidak mengurusnya. Jenis kedua adalah yang ikut terlibat. Seperti Aditya Mulya untuk karya terbarunya yang laris manis di pasaran itu--Sabtu Bersama Bapak bakal difilmkan, lho--juga menjadi penulis skenarionya. Tapi, mau pilih jadi jenis pertama atau kedua, biasanya penulis skenario tetap membahas skenario yang akan ditulis dengan penulis novelnya. Menurut Haqi Ahmad, usulan-usulan dari penulis cukup penting dipertimbangkan dalam menulis skenario. Seperti, apakah ada bagian tertentu yang tidak ingin dihilangkan. Nah, jangan kaget ya kalau tidak semua bagian dalam novelmu menjelma film. Novel bisa berjumlah halaman tak terbatas, sementara film punya durasi terbatas. Karena itu, kata Aditya Mulya, penting diingat oleh penulis yang ingin karyanya difilmkan. Tidak lagi jadi tuhan dan mau berkompromi.

Bagaimana? Tertarik memfilmkan novelmu? Apa? Tertarik? Sudah terbit novelnya? Hah? Belum? Ya susah! Pesan pak produser nih ya, jangan pikirkan mau filmkan novel, deh! Paling penting itu, tulis dulu cerita yang bagus! Tanpa kamu usahakan, novelmu akan menemukan jalannya sendiri ke dunia film. 


No comments:

Post a Comment