Thursday, February 5, 2015

Review: Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Sir Murakami, 

First of all, I'd like to ask your kindness to forgive me as I had read your newest book, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, in Pdf format which was free downloadable in internet. This book was first published in 2013 and had been sold more than one million copies. It's such an abundant! So I thought you wouldn't mind if the rest of people like me--who trying to be pennywise about buying some books--read your bestselling book without any charge of price but an internet access fee. I think you'll probably agree that the best thing of being writer is not about how many people buying your book, but how many people reading your book. And here I am, the one who read your book. 

Sincerely, 
Your reader

---



Hahaha... Iya, nih, saya baca novel terbaru Haruki Murakami dalam format Pdf. Ebook yang saya download secara gratis di internet. Nggak apa-apa ya, penulis bestseller seperti Haruki Murakami kan sudah kaya dengan penjualan novel-novelnya. Penulis macam saya? Habis cetakan pertama saja sudah untung! Nah, untung nggak ada pdf gratisannya di internet. Buat yang mau baca novel saya, Al Dente, beli ya bukunya di toko buku offline/online. Sekarang Al Dente juga tersedia versi ebook di Google Play. Belum gratis, kok! Hehehe...

Back to main purpose I write this post. Reviewing. Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage (mari kita singkat jadi CTTHYP) novel ketiga dari Murakami yang saya baca. Tapi, ini adalah novel ke sekian Murakami. Mungkin sudah yang belasan. Saya nggak hitung dan malas cek ricek. Pertama kali berkenalan dengan Murakami lewat novel Norwegian Wood (yang juga saya dapat gratis ebooknya di internet, hehehe...) dengan karakter utamanya laki-laki. Yang saya suka dari novel itu, gaya berceritanya yang sangaaat mengalir. Ceritanya cukup depressing (karakter-karakter yang bunuh diri! why o why!), tapi banyak kalimat/pemikiran bagus yang bisa dikutip jadi status di medsos. Hehehe... Norwegian Wood adalah judul lagu juga. Judul lagu yang tentu disebut-sebut dalam cerita. Lalu, novel Murakami kedua yang saya baca, Kafka on The Shore (yang ini saya beli bukunya, hehehe...) ternyata juga merupakan judul lagu. Bedanya, judul lagu ini hanya fiktif, hanya ada dalam cerita. Sementara, Norwegian Wood, judul lagu beneran yang dinyanyikan The Beatles, band legendaris itu. Karakter utama Kafka on The Shore juga seorang laki-laki. Menempuh perjalanan ke kota lain dan mengalami banyak kejadian magis. Nah, CTTHYP, sebagian judulnya adalah judul komposisi piano klasik dari Franz Liszt, AnnĂ©es de pèlerinage, yang diartikan ke bahasa Inggris jadi Years of Pilgrimage. Jadi, tiga novel Murakami yang saya baca sama-sama ada hubungannya dengan sebuah lagu. Entah itu mempengaruhi plot langsung atau hanya sebagai asesoris yang bisa dikait-kaitkan dengan cerita. Contohnya CTTHYP ini. Years of Pilgrimage barangkali sebagai asesoris saja. Tokoh utama sama sekali tidak melakukan perjalanan spiritual bertahun-tahun. Tapi, setelah dibaca sampai selesai, barangkali pembaca baru menyadari bahwa si tokoh utama selama bertahun-tahun memang melalui perjalanan spiritual tersendiri. Ia memang tidak ke mana-mana. Ia hanya menetap di Tokyo dengan memendam luka batin. Hanya dengan tidak ke mana-mana itu, ia bisa menyembuhkannya. Memang pada akhirnya, ia sampai terbang ke Finlandia, tapi kan hanya beberapa hari. Bukan bertahun-tahun.

Luka batin yang dialami oleh Tsukuru Tazaki bermula pada usianya ke dua puluh tahun. Setahun setelah ia pindah dari kampung halamannya Nagoya ke Tokyo untuk melanjutkan kuliah. Di Nagoya, Tsukuru memiliki empat sahabat; dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka semacam satu geng sekolah. Biasa lah ya, di sekolah kita punya beberapa teman dekat yang selalu bersama-sama. Pertemanan yang berlanjut jadi persahabatan. Orang-orang terdekat setelah keluarga. Empat sahabat Tsukuru itu uniknya mempunyai nama dengan arti warna.
The two boys’ last names were Akamatsu—which means “red pine”—and Oumi—“blue sea”; the girls’ family names were Shirane—“white root”—and Kurono—“black field.” - Ch.1 
Hanya Tsukuru yang namanya tidak mengandung arti warna. Ketika empat lainnya dipanggil dengan warna--Aka si Merah, Ao si Biru, Shiro si Putih dan Kuro si Hitam--Tsukuru dipanggil Colorless--tanpa warna. Sering terbersit di pikiran Tsukuru muda, ia akan mudah dienyahkan dari kelompok, karena hanya ia sendiri yang tak punya warna. Dan, melihat karakter teman-temannya yang tampaknya juga berwarna, Tsukuru beranggapan dirinya memang tidak berwarna. Hanya cowok biasa yang tak menarik, tak punya kelebihan apa-apa. Tapi, itu pikiran-pikiran buruk selewat yang di kemudian hari ternyata menjadi kenyataan. Memasuki tahun kedua kuliah di Tokyo, keempat temannya meminta Tsukuru untuk tidak menghubungi mereka lagi. Tanpa alasan yang jelas. Ya, saya tahu rasanya, sakit!

Rasa sakit itulah yang membuka cerita bab pertama. Ketika Tsukuru hanya memikirkan kematian. Hmm, lebay gak sih diasingkan oleh sahabat, trus jadi kepikiran cuma mau mati? Merasa hidup begitu hampa. Entahlah ya. Mungkin memang begitu rasanya. Bayangkan! Selama SMA, berteman sama-sama terus. Saat Tsukuru akhirnya memilih kuliah di Tokyo, sementara keempat lainnya tetap di Nagoya, tiap libur kuliah Tsukuru selalu pulang dan kumpul lagi dengan teman-temannya itu. Lalu, ketika masuk tahun kedua kuliah, pas libur Tsukuru pulkam lagi, eh teman-temannya mendadak tidak bisa dihubungi semua. Tak ada kabar sama sekali. Hingga akhirnya Ao mau menjawab telepon dari Tsukuru dan memberi kabar buruk. JANGAN HUBUNGI KAMI LAGI! Tanpa alasan yang jelas. Well, yeah, Tsukuru must feel lost. And lost sometimes leads to willing of death.
“That was the first time in my life that anyone had rejected me so completely,” Tsukuru said. “And the ones who did it were the people I trusted the most, my four best friends in the world. I was so close to them that they had been like an extension of my own body. Searching for the reason, or correcting a misunderstanding, was beyond me. I was simply, and utterly, in shock. So much so that I thought I might never recover. It felt like something inside me had snapped.” - Ch.2
Plot maju mundur CTTHYP langsung mengantarkan pembaca pada Tsukuru usia 30-an setelah cerita pembuka tentang keinginannya untuk mati. Tsukuru bertemu dengan seorang perempuan yang dua tahun lebih tua dari dirinya, Sara. Sara yang kemudian membuka luka yang di luar tampak kering tapi di dalam masih begitu basah. Belum ada hubungan spesial di antara mereka. Mereka baru kenalan, Tsukuru tertarik mengajak kencan. Dalam kencan-kencan itulah, Tsukuru bercerita tentang keempat sahabatnya (biasalah ya, kalau lagi pedekate, biasa ditanya-tanya masa lalu juga kan?! hehehe....) Mendengar kisah persahabatan Tsukuru, Sara merasa Tsukuru harus menuntaskan perasaannya. Luka itu harus disembuhkan. Dengan cara mencari tahu alasan Tsukuru dijauhi, menurut Sara. Tsukuru awalnya tidak peduli lagi. Ya, sudahlah... lewat belasan tahun juga. Toh, Tsukuru sekarang baik-baik saja. Rasa ingin mati yang dulu menghinggapinya selama enam bulan dianggapnya sebagai masa transisi. Transisi menjadi pribadi yang berbeda. Tsukuru yang harusnya lebih baik. Tsukuru dewasa muda yang melanjutkan kuliahnya dengan baik. Mendapatkan pekerjaan impiannya. Hidup simpel di Tokyo. Tapi, menurut Sara, Tsukuru harus benar-benar pulih dari luka itu. Kalau tidak, suatu ketika, luka itu bisa mengganggu hubungan mereka ke depan, ya kalau Tsukuru mau serius menjalin hubungan, sih!

So, that's it! Berkat bantuan Sara mencari tahu informasi keempat temannya, Tsukuru memulai perjalanannya membongkar masa lalu. Menemui Aka dan Ao di Nagoya, mengetahui bahwa Shiro meninggal beberapa tahun lalu, dan Kuro yang telah menetap di Finlandia. Semua cerita dalam CTTHYP begitu realis, tapi ada juga bagian-bagian yang tetap menjadi misteri, bahkan terkesan mistis. Seperti mimpi basah yang dialami Tsukuru dengan kedua teman perempuannya Shiro dan Kuro. Kenapa hanya Shiro yang dipenetrasi. Lalu, hubungan Tsukuru dengan teman dekat barunya di Tokyo, Haida, yang dikenalnya setahun setelah kejadian menyakitkan itu. Haida, yang namanya juga mengandung arti warna--gray field. Haida yang entah kenapa bercerita pada Tsukuru tentang pertemuan ayahnya dengan seorang pianis di sebuah penginapan di daerah pegunungan. Suatu malam aneh yang dialami Tsukuru dengan Haida, yang menurutnya mimpi tapi kesannya begitu nyata. Lalu, pertemanan mereka berakhir. Tak ada lagi kunjungan Haida ke apartemen Tsukuru. Ada perpisahan yang sepertinya hanya untuk sementara, tapi ternyata Tsukuru tak pernah bertemu lagi dengan Haida. Ada pula cerita tentang orang-orang yang memiliki jari keenam. Aargh... Entah saya yang kurang nangkep arti bahasa inggrisnya hingga ada bagian-bagian cerita yang tak terjawab oleh saya, seakan-akan tak tuntas.

Jadi, daripada saya melanjutkan review ini begitu panjang tapi membingungkan, saya akan segera sudahi catatan ini. Alasan kenapa Tsukuru dienyahkan dari geng ada dalam cerita. Alasan yang menyangkut dengan kondisi Shiro. Mungkin karena itu hanya Shiro yang dipenetrasi saat mimpi-mimpi basah Tsukuru dengan Shiro dan Kuro. Mengetahui alasan itu cukup memuaskan saya membaca novel ini. Setidaknya saya tahu plot utamanya. Kadang hal-hal yang tak kita ketahui saat ini akan kita ketahui nanti. Ketidaktahuan saat ini mungkin adalah jalan yang lebih baik. Jalan untuk menemukan jati diri. Seperti Tsukuru yang akhirnya menyadari, ia bukannya tak berwarna. Tak pernah Tsukuru sadari saat muda, bahwa dia lah warna paling indah dalam gengnya. Tsukuru memang tak mengandung arti warna. Tapi, hanya Tsukuru yang hidupnya paling sesuai dengan arti namanya. Tsukuru, to make atau to build. Tsukuru dahulu tak pernah tahu betapa teman-temannya terkesan dengan ketertarikan Tsukuru pada stasiun kereta. Hingga memutuskan kuliah di tempat terbaik yang mengajarinya membangun stasiun, lalu mendapatkan pekerjaan di bidang yang sesuai. Meski ia tak puas-puas amat dengan pekerjaannya. Karena tak ada lagi pembangunan stasiun, yang ada hanya perawatan dan renovasi saja. Pfft...

Oh, ya, mengenai kelanjutan hubungannya dengan Sara juga tak terjawab eksplisit. Kalau kata Kuro yang ia temui di Finlandia, Tsukuru harus mempertahankan hubungannya dengan Sara. Jadi, di akhir cerita, Tsukuru hanya bilang kalau besok Sara memilihnya, mau menerima dirinya, ia akan langsung melamar Sara saat itu juga. Jadi ceritanya, Tsukuru tahu kalau Sara punya hubungan dengan laki-laki lain. Tapi, Sara tak tahu kalau Tsukuru tahu. Makanya ending-nya jadi ribet gitu. Saya sendiri kurang puas dengan ending novel ini. But, overall, CTTHYP bagus, kok! Memberi kesan tersendiri bagi saya mengenai persahabatan. Saya teringat bagaimana dulu saat libur kuliah, saya pulang kampung, dan ngumpul lagi dengan teman-teman yang sama. Selalu begitu. Hingga akhirnya, semua berbeda. Karena kita bertumbuh, berkembang... berubah dari masa lalu.
“People change,” Sara said.
“True enough,” Tsukuru said. “People do change. And no matter how close we once were, and how much we opened up to each other, maybe neither of us knew anything substantial about the other.” - Ch.9
Setelah membaca tiga novel Murakami, saya menyimpulkan Murakami memang layak jadi penulis favorit manusia sejagad. Murakami terampil menceritakan hal-hal absurd, walaupun kadang seperti ngelantur ke sana ke mari. Seakan-akan apa yang ia tuliskan itu untuk "just so you know" gitu deh. Tapi, tetap saja bisa dinikmati. Kadang saya merasa Murakami sedang menceritakan dirinya sendiri. Seperti Tsukuru yang selalu membawa swimsuit ke mana pun karena bisa jadi ia harus memenuhi kebutuhan mendesak untuk berenang. Lah, belum lama ini saya baca artikel tentang Murakami yang punya kebiasaan seperti itu juga. Lalu, cara Murakami meramu musik-musik yang ia dengar ke dalam cerita yang ia tulis. Bagaimana ia memilih lagu/musik tertentu untuk dijadikan bagian penting dalam cerita itu menurut saya tidak semua penulis bisa melakukannya sebaik Murakami. Walaupun saya sendiri tidak familiar dengan musik-musik pilihan Murakami, ceritanya tetap asyik dibaca, bahkan sampai kepikiran ceritanya meskipun lagi istirahat membacanya. Cerita-cerita Murakami yang cenderung tentang orang-orang penyendiri membuat saya merasa tak sendiri. Dan, demikianlah, buku bagus itu. Membaca buku membuatmu tak lagi merasa sendiri.