Monday, January 19, 2015

"Tuliskan!" atau "Bagikan!"

Apa gunanya blog ini? Saya biasa menulis di blog untuk menyimpan karya fiksi yang pernah saya tulis, untuk mereview buku dan film--tidak semua yang saya baca dan tonton, untuk mencatat perjalanan dan pengalaman hidup--tentunya tidak semua, hanya yang sangat berkesan, dan... untuk menyimpan kenangan. Seperti deskripsi judul blog saya ini, Kisah Klasik: Kemarin telah berlalu, tapi kisahnya sedang saya tulis hari ini, hingga esok tak ada yang terlupa. Karena selamanya setiap kisah akan menjadi kenangan.

Perhatikanlah kata-kata yang saya cetak tebal dan garisbawahi. Catatan waktu, kisah, kenangan. Blog ini saya gunakan untuk mencatat kisah, baik nyata maupun fiktif. Supaya kelak saya bisa mengenang perjalanan yang telah saya lalui. Atau sekadar sebagai kotak penyimpanan dengan catatan waktu yang nanti bila perlu bisa saya buka sewaktu-waktu dengan mudah. Tanpa perlu memeras memori kepala saya untuk mengingat-ingat--apalagi saya seorang pelupa. Namun, sayangnya, tidak selalu saya manfaatkan blog ini. Saya hanya memposting beberapa kali. Tidak selalu menulis. Barangkali apa yang telah saya lalui tidak begitu penting--menurut saya pada saat sebuah moment baru saja berlangsung. Padahal, alangkah cukup bermanfaat jika moment itu dicatat. Atau, barangkali, saya menganggap sesuatu penting untuk dicatat tapi saya terlalu malas untuk duduk di depan laptop. Bahkan percuma saja saya install aplikasi mobile blog, karena untuk mencatatnya melalui ponsel pun saya malas. Atau, saya terlalu pemilih? Terlalu banyak pertimbangan apakah perlu dicatat di blog atau tidak? Begitulah. Terlalu banyak pikir, tak ada yang dikerjakan, akhirnya.

Lalu, apa tujuan saya menulis di blog kali ini? Jadi... begini. Saya baru saja deaktivasi akun Twitter. Lagi? Iya, lagi. Saya tidak tahu kapan akan mengaktifkannya lagi. Entah akan saya biarkan mati seperti akun lama saya dulu karena lewat masa tenggang deaktivasi 30 hari. Sejak menikah, saya memang tak seaktif dulu memantau timeline. Tapi, saya juga bikin akun baru yang saya khususkan untuk follow akun-akun parenting, kesehatan, dan tentang anak. Tetap saja, saya juga tidak aktif scrolling Twitter dengan akun baru saya ini. Saya lebih banyak cek Facebook dan Instagram. Saya tidak punya akun Path. Instagram pun saya jadikan akun sosial media saya dengan lingkup sosial terdekat. Beberapa followers akhirnya saya blok dan profil akun saya dikunci untuk umum. Facebook yang tadinya sangat 'bebas' dan 'liar', siapa saja bisa jadi teman, akhirnya saya perketat lagi. Jumlah teman yang telah melebihi 1000 orang itu akhirnya bersisa 700 orang. Apakah saya mengenal 700 orang itu? Tidak juga. Tapi, setidaknya saya tahu siapa mereka karena identitas yang jelas. Bermain di arena Facebook ini cukup tricky. Saya tidak bisa sembarangan update status. Sebagian besar keluarga ada di sana. Sebagian besar teman sekolah/kuliah ada di sana. Sebagian besar teman menulis juga di sana. Apakah saya akan menumpahkan semuanya di sana? Tidak. Tidak bisa. Tapi, bukankah semua media sosial itu tricky. Kita tak bisa menumpahkan semuanya semau kita. Free speech? Bisa-bisa ada yang tersinggung lalu menuntut kita lewat jalur hukum. Tapi, menggunakan sosial media untuk sharing remeh-temeh, pada akhirnya akan ketemu titik jenuh. Seperti saya? Deaktivasi akun Twitter, mempersempit ruang Instagram dan Facebook. Apa kemudian saya sebenarnya sedang anti-sosial? Kenapa tak sekalian lupakan semua akun media sosial yang ada? Jadi... ini tujuan saya menulis di blog? Karena di blog, hanya soal saya, tidak perlu berbagi ke sesiapa. Terserah kalau ada yang baca dan komen. Karena blog hanya perlu saya. Saya yang menulis tentang apa saja. Yang penting, tuliskan! Bukan jargon media sosial, bagikan! 

Kesimpulannya, hanya ada dua pilihan--setidaknya bagi saya--yakni; tuliskan atau bagikan!

"Tuliskan" lebih mendekati "to express", untuk menyatakan. Sementara, "bagikan" lebih mendekati "to impress", untuk membuat orang terkesan. Tapi, dengan "to express" juga bisa menjadi "to impress". Dalam artian, hasil "to express" menyebabkan orang-orang terkesan. Intinya adalah perbedaan niat. Apakah bisa sebaliknya? Dengan niat "to impress" bisa menghasilkan "to express". Bisa jadi. Entahlah. Saya belum menemukan logikanya. Hipotesis saya saat ini hanya sebatas itu. 

Apapun, saya telah deaktivasi akun Twitter. Tak ada lagi "to express" maupun "to impress" di sana. Sementara di Facebook dan Instagram, saya masih belum bisa menentukan apa yang saya lakukan di sana, apakah "to express" atau "to impress". Tapi, saya cukup yakin bahwa yang saya lakukan di blog ini adalah... "to express!". 
   

1 comment: