Tuesday, January 27, 2015

Review: Tusk (2014)

Bagaimana jika tubuhmu berubah menjadi seekor anjing laut? Lalu, tanpa kau sadari, jiwa manusia di dalamnya perlahan menjelma jiwa anjing laut?

Kau pernah melihat anjing laut, kan? Kau tahu rupa anjing laut, kan? Sepintas, makhluk itu tampak tak menarik. Tubuh gempal, dengan lipatan-lipatan lemak di sekitar leher. Tapi, cobalah lihat lebih lama, anjing laut tampak lucu dan menggemaskan. Seperti bayi gembul imut yang akan senang hati kau cium-cium. Anjing laut, mamalia berkumis yang hidup di air es. Ya, bagaimana jika kau diubah, dengan sengaja, menjadi anjing laut?

Horor! Sama sekali tidak lucu dan menggemaskan. Kau tampak menyedihkan. Kau pun sangat marah tak terperikan. Kau menyimpan dendam kesumat teramat dalam pada orang yang dengan sengaja mengubahmu menjadi anjing laut. Kau begitu berang, kau pun begitu sedih. Kepedihan yang tak akan terobati dengan cara apapun. Kau merutuk, mengutuk orang yang telah berbuat begitu kejam, sadis, tak berperikemanusiaan.

Namun, bagaimana kau akan merutuk? Mengutuk? Sementara tubuhmu sebentuk anjing laut. Anjing laut tak dapat bicara. Meski kau mengerti kata-kata, kau hanya mengeluarkan suara-suara berteriak tanpa makna. Seperti lolongan yang menyahat hati. Karena lidahmu telah dimutilasi. Ya, kau benar-benar tampak seperti anjing laut, meski kulitmu masih kulitmu, tak selicin kulit anjing laut.


Akhirnya, dengan tubuh yang kini hanya bisa melata seperti anjing laut, kau mampu membalas dendammu. Kau bunuh pelaku yang meyebabkanmu kehilangan hidup yang manusiawi. Meskipun dengan itu kau dianggap telah menjadi anjing laut sebenar-benarnya. Kau tak lagi peduli, karena sesungguhnya kau tak sekadar balas dendam. Kau telah membasmi seorang psikopat. Psikopat yang sewaktu-waktu akan berbuat serupa pada orang lain. Psikopat yang akan terus memburu manusia yang bisa diubah menjadi anjing laut. Tidak, itu tak boleh terjadi lagi. Cukuplah kau lihat korban sebelumnya, yang kau temukan tak sengaja dalam kolam tempat kau dikurung. Cukuplah kau manusia terakhir yang menjelma anjing laut.

Ya, kau manusia terakhir yang terjerat perangkap. Manusia terakhir yang diterima sebagai tamu di rumah seorang psikopat. Manusia terakhir yang dijamu minuman mengandung obat tidur. Manusia terakhir yang ketika bangun telah kehilangan kaki hingga lutut. Manusia terakhir yang terus disekap dalam rumah besar terisolir. Manusia terakhir yang terus-menerus mengalami operasi-operasi yang bahkan kau sendiri tak percaya hal itu bisa terjadi. Bagaimana mungkin kau bisa menjadi manusia terakhir yang kedua sisi lenganmu dijahitkan ke sisi badanmu? Bagaimana mungkin kau bisa menjadi manusia terakhir yang dari leher hingga lutut ditambal sulam dengan daging dan kulit? Bagimana mungkin kau bisa menjadi manusia terakhir yang langit mulutmu dibuatkan dua lubang lalu ditanamkan sepasang gading? Sepasang gading seperti yang dimiliki anjing laut. Ya, bagaimana mungkin, kau mulai beradaptasi makan ikan mentah utuh, seperti anjing laut? Kau tak punyai jawaban-jawaban. Kau, pada akhirnya, menerima nasib menjadi anjing laut.

Tusk (2014)
Image: reddit.com

Berharaplah, apa-apa yang telah tertulis di atas, hanya terjadi dalam sebuah film. Film berjudul Tusk, rilis September 2014, bisa dibilang sebagai film horor komedi. Di bagian transformasi Wallace Bryton menjadi Mr.Tusk adalah horornya. Selain itu, adegan-adegan, dialog-dialognya adalah komedi. Rating film ini di IMDb memang tak begitu bagus. Tapi, cukup layak tonton, kok. Lagipula, ada Johnny Depp juga main dalam film ini. Sebagai detektif nyentrik bernama Guy de Lapointe. Ya, kalau kau tak takut melihat anjing laut seperti dalam gambar, cobalah tonton. Menurut saya, sosok tersebut tidak menyeramkan. Memang sangat banyak bekas-bekas jahitan--dan rasanya tak mungkin dengan bentuk seperti itu seorang manusia masih bisa bertahan hidup--yang sebenarnya tidaklah mengerikan, tapi lebih ke sangat menyedihkan. Syukurlah, semua ini hanya fiksi. Dan, fiksi dalam film ini diadaptasi dari cerita podcast. Hmm, podcast itu, seperti sandiwara radio, hanya saja medianya adalah internet. CMIIW.

Kenapa judulnya Tusk? Tusk, atau gading, adalah sebuah nama yang diberikan pada seekor anjing laut sungguhan. Anjing laut yang memberi kehangatan pada seorang lelaki muda yang terdampar setelah kapal tempat ia bekerja karam. Lalu, kenapa lelaki itu menjadi psikopat dan terobsesi mengubah manusia menjadi anjing laut? Karena ia telah kehilangan Mr.Tusk, anjing laut penyelamatnya. Dan, menurut Howard Howe, si psikopat, buat apa jadi manusia yang penuh dengan kebobrokan?
Are you really mourning your loss of humanity? I don't understand. Who in the hell would want to be human? God Almighty... In all of my travels, I've only ever known a human to be an ocean of shit. (Howard Howe) 
Namun, mau diubah menjadi bentuk apa pun, menjadi binatang apa pun, di dalam bentuk itu masih tersimpan jiwa manusia. Wallace memang telah menjadi anjing laut, tapi dalam dirinya ia tetap seorang manusia, karena di akhir cerita, Wallace yang telah menerima nasib menjadi anjing laut meneteskan air mata.
It's good to cry. It separates us from the animals. Shows you have a soul. (Ally Leon, pacarnya Wallace)


No comments:

Post a Comment