Thursday, January 29, 2015

Perempuan ke Perempuan

"Woman is intimidating woman."
in·ti·mi·da·si n tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman;
meng·in·ti·mi·da·si v menakut-nakuti; menggertak; meng-ancam 
Hari ini saya, sebagai perempuan, merasa terintimidasi, entah disengaja atau tanpa disengaja pelaku. Saya telah menikah tiga bulan. Sementara perempuan lain (A) yang menikah tak lama setelah saya diketahui positif hamil. Lalu, perempuan lain lagi (B) yang merasa subur, yang mungkin dulu juga segera hamil setelah menikah, entah kenapa seharian ini harus dua kali membicarakan kehamilan si perempuan A di depan saya. Pertama, ia bicara langsung dengan saya, yang mana saya sebenarnya juga sudah tahu perihal kehamilan A dari kemarin. Kedua, ia bicara dengan orang lain di mana ada saya di sana yang, mau tak mau, mendengar. Saya tak tahu apa maksudnya. Apakah ingin menyinggung saya? Soal apakah saya sudah "isi" atau belum? Bukankah ia sudah tahu? Ataukah, belum tahu, tapi penasaran? Hanya saja untuk menjawab rasa penasarannya, ia harus menyinggung kehamilan orang lain? Kenapa tidak bertanya langsung pada saya? Karena itu, saya merasa terintimidasi. Seolah-olah saya ditakut-takuti bahwa saya belum hamil sementara perempuan lain yang menikah setelah saya malah sudah hamil. Ditakut-takuti bahwa saya atau suami mungkin tidak subur karena ia bilang di depan saya bahwa perempuan A itu subur. Bagi saya, ia--sadar tak sadar--sudah mengintimidasi keperempuanan saya.

Perempuan, dalam budaya kita, dituntut untuk menikah. Apalagi kalau sudah memasuki usia kepala tiga. Lewat kepala tiga, akan ada cibiran, cemoohan, atau berupa kata-kata penyesalan yang mungkin bermaksud simpatik, seperti yang dialami sahabat saya. Ia ingin menikah, tapi memang belum ketemu jodoh yang tepat. Namun, perempuan lain, tanpa disadarinya sudah menyinggung perasaan sahabat saya itu dengan bilang, "Nggak apa-apa kamu nggak nikah-nikah, yang penting kamu sudah niat." Lah, ya iya, ia jadi sedih. Ucapan yang seolah-olah menenangkan, justru sebenarnya menakuti-nakuti. Tidak ingat kalau ucapan itu adalah doa?

Tuesday, January 27, 2015

Review: Tusk (2014)

Bagaimana jika tubuhmu berubah menjadi seekor anjing laut? Lalu, tanpa kau sadari, jiwa manusia di dalamnya perlahan menjelma jiwa anjing laut?

Kau pernah melihat anjing laut, kan? Kau tahu rupa anjing laut, kan? Sepintas, makhluk itu tampak tak menarik. Tubuh gempal, dengan lipatan-lipatan lemak di sekitar leher. Tapi, cobalah lihat lebih lama, anjing laut tampak lucu dan menggemaskan. Seperti bayi gembul imut yang akan senang hati kau cium-cium. Anjing laut, mamalia berkumis yang hidup di air es. Ya, bagaimana jika kau diubah, dengan sengaja, menjadi anjing laut?

Horor! Sama sekali tidak lucu dan menggemaskan. Kau tampak menyedihkan. Kau pun sangat marah tak terperikan. Kau menyimpan dendam kesumat teramat dalam pada orang yang dengan sengaja mengubahmu menjadi anjing laut. Kau begitu berang, kau pun begitu sedih. Kepedihan yang tak akan terobati dengan cara apapun. Kau merutuk, mengutuk orang yang telah berbuat begitu kejam, sadis, tak berperikemanusiaan.

Namun, bagaimana kau akan merutuk? Mengutuk? Sementara tubuhmu sebentuk anjing laut. Anjing laut tak dapat bicara. Meski kau mengerti kata-kata, kau hanya mengeluarkan suara-suara berteriak tanpa makna. Seperti lolongan yang menyahat hati. Karena lidahmu telah dimutilasi. Ya, kau benar-benar tampak seperti anjing laut, meski kulitmu masih kulitmu, tak selicin kulit anjing laut.

Sunday, January 25, 2015

The Walrus and The Carpenter

The Walrus and The Carpenter

Lewis Carroll

(from Through the Looking-Glass and What Alice Found There, 1872)


The sun was shining on the sea,
Shining with all his might:
He did his very best to make
The billows smooth and bright--
And this was odd, because it was
The middle of the night.

The moon was shining sulkily,
Because she thought the sun
Had got no business to be there
After the day was done--
"It's very rude of him," she said,
"To come and spoil the fun!"

Wednesday, January 21, 2015

Mencuri Resep Sambal Mentah

Kemarin sore, buat makan malam, saya beli ayam penyet di warung dekat rumah. Tempatnya kecil sekali, sebuah garasi rumah yang disulap jadi tempat makan. Tempat memasaknya di depan; proses penggorengan maupun pembakaran lauknya, proses mengulek sambel, sampai proses membukus makanan yang sudah jadi dan pembeli tinggal bayar lalu langsung pergi. Biasanya saya suka pesan sambel penyet--ulekan cabe rawit dengan bawang putih yang tentu ditambah garam dan penyedap rasa, mungkin Sasa. Tahu resepnya begitu, saya kadang bikin sambel sendiri kalau lagi rajin ke pasar buat beli bahan-bahan buat masak. Rasanya tak jauh beda. Nah, pas kemarin, saya memesan tambahan sambal. Saya perhatikan, di warung itu ada dua tempat ulekan. Bekas sambel yang diulek di sana tampak beda. Selama ini saya mengira warung itu hanya menyajikan dua macam sambel; sambel penyet dan sambel goreng--yang maaf saja saya tak selera, makanya sering pesan sambel penyet. Ternyata, setelah saya tanya kepada si penjual, ulekan yang satu lagi itu buat sambel mentah. Saya pesan deh, minta seharga tiga ribu rupiah. Jadilah, kemarin itu saya membawa pulang dua macam sambel ke rumah.

Setiba di rumah, tanpa nunggu suami pulang karena sudah kelaperan, saya langsung makan. Ngeces lihatin dua macam sambel itu. Wah, enak juga nih mentah-mentah gini! Yang ujung-ujungnya saya mikirin kebersihannya. Hihihi... Tempat ulekan bekas yang mudah-mudahan dicuci setidaknya sekali sehari, cabe mentah yang mudah-mudahan sudah dicuci bersih (gak yakin!), terasi yang mungkin dari pasar langsung dimasukin ke wadah bahannya, tomat yang saya harap lagi sudah dicuci bersih. Tapi, ya, tanpa memikirkan itu semua, sambel mentahnya tetap enak! Apalagi dicampur dengan sambel penyet. Hingga keesokan harinya, yakni hari ini, saya sempat-sempatnya membayangkan sambel mentah itu buat makan malam. Apalagi suami saya juga suka pedas. Jadi, deh, saya ke pasar--yang untungnya dekat rumah, tinggal jalan kaki--beli cabe rawit seperempat kilo. Btw, harga cabe turun lagi, lho! Dulu waktu BBM naik, cabe keriting sempat menembus angka 90 ribu/kg. Lalu, turun ke 80 ribu/kg, sampai minggu lalu turun jadi 60 ribu/kg, eh, hari ini saya bisa beli cabe keriting 48 ribu/kg. Eh, maaf, kalau harga cabe rawitnya saya gak hapal, tapi yang pasti juga turun, kok! Hehehe...

Tuesday, January 20, 2015

Goblok vs Pintar ala Bob Sadino

BERANI 'GOBLOG' by ~Bob Sadino~ in memorium
"Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain." - Bob Sadino
"Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya." - Bob Sadino
"Orang pintar kebanyakan ide & akhirnya tidak ada satupun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya 1 ide dan itu jadi kenyataan." Bob Sadino
"Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat & jika untung maka bertambahlah syukur saya!" Bob Sadino
"Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif." - Bob Sadino
"Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar."- Bob Sadino
"Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu." - Bob Sadino
"Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya ga pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir kan cuma selangkah." - Bob Sadino
"Orang goblok itu gak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah." - Bob Sadino
"Orang pintar maunya cepet berhasil, padahal semua orang tau itu impossible! Orang goblok cuma punya 1 harapan: hari ini bisa makan." - Bob Sadino
"Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok berjuang keras untuk sukses biar bisa bayar para pelamar kerja." - Bob Sadino
~ Sekian perbedaan orang goblok dan orang pintar versi Bob Sadino.

Catatan di atas saya copas dari status FB seseorang. Setelah diperhatikan, tak satu orang, tapi beberapa orang lainnya juga membagi catatan tersebut di halaman FB mereka. Tak ada salahnya, sih. Catatan berisi kutipan-kutipan dari mendiang Bob Sadino, salah satu pengusaha sukses Indonesia, memang ada benarnya. Salahnya hanya pemahaman orang-orang yang membacanya tak akan sama. Kalau dibaca orang goblok beneran gimana? Bisa-bisa sekolah jadi kosong, tak ada yang mau belajar, karena mending jadi orang goblok seperti Bob Sadino. Tapi, syukurlah, masih banyak orang yang tak berani goblok. Banyak orang yang masih ingin dibilang, dipuji dan dicap pintar. Yang berani goblok hanya segelintir orang macam mendiang Om Bob--ikut orang-orang manggil Om--yang semoga bahagia di akhirat sana.

Saya percaya, peran kita di dunia ini berbeda-beda. Ada yang jadi goblok seperti Bob Sadino. Ada yang jadi pintar seperti Einstein. Kalau semua orang ingin jadi pengusaha, siapa yang akan jadi pegawai? Kalau semua orang pintar, siapa yang kita sebut goblok? Kutipan-kutipan di atas tentu hanya semacam panduan bagi yang berminat berwirausaha. Wirausahawan yang bagaimana? Yang goblok? Nah, itu terserah yang minat. Tapi, siapa sih yang tak minat jadi wirausahawan? Jadi boss? Punya bawahan, anak buah, karyawan, pegawai? Membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang pintar karena rajin belajar? Menggaji orang-orang yang berarti memberi makan anak-istri mereka? Etapi, ini baru enaknya saja! Yang tak enaknya bagaimana? Sudah tahu? Yakin tetap mau jadi goblok? Kalau begitu ya, semoga sukses bagi anda!

Monday, January 19, 2015

"Tuliskan!" atau "Bagikan!"

Apa gunanya blog ini? Saya biasa menulis di blog untuk menyimpan karya fiksi yang pernah saya tulis, untuk mereview buku dan film--tidak semua yang saya baca dan tonton, untuk mencatat perjalanan dan pengalaman hidup--tentunya tidak semua, hanya yang sangat berkesan, dan... untuk menyimpan kenangan. Seperti deskripsi judul blog saya ini, Kisah Klasik: Kemarin telah berlalu, tapi kisahnya sedang saya tulis hari ini, hingga esok tak ada yang terlupa. Karena selamanya setiap kisah akan menjadi kenangan.

Perhatikanlah kata-kata yang saya cetak tebal dan garisbawahi. Catatan waktu, kisah, kenangan. Blog ini saya gunakan untuk mencatat kisah, baik nyata maupun fiktif. Supaya kelak saya bisa mengenang perjalanan yang telah saya lalui. Atau sekadar sebagai kotak penyimpanan dengan catatan waktu yang nanti bila perlu bisa saya buka sewaktu-waktu dengan mudah. Tanpa perlu memeras memori kepala saya untuk mengingat-ingat--apalagi saya seorang pelupa. Namun, sayangnya, tidak selalu saya manfaatkan blog ini. Saya hanya memposting beberapa kali. Tidak selalu menulis. Barangkali apa yang telah saya lalui tidak begitu penting--menurut saya pada saat sebuah moment baru saja berlangsung. Padahal, alangkah cukup bermanfaat jika moment itu dicatat. Atau, barangkali, saya menganggap sesuatu penting untuk dicatat tapi saya terlalu malas untuk duduk di depan laptop. Bahkan percuma saja saya install aplikasi mobile blog, karena untuk mencatatnya melalui ponsel pun saya malas. Atau, saya terlalu pemilih? Terlalu banyak pertimbangan apakah perlu dicatat di blog atau tidak? Begitulah. Terlalu banyak pikir, tak ada yang dikerjakan, akhirnya.