Wednesday, November 18, 2015

Itali (Cerpen Terjemahan "Italy" oleh Antonio Elefano)

*diterjemahkan oleh Helvira Hasan dari Italy


ITALI

Kita sudah berpacaran selama delapan bulan dan empat belas hari ketika kau bertanya: “Kenapa kau tak mengucapkan kau mencintaiku lagi?”

Di pikiranku, pertanyaan itu memiliki dua kemungkinan makna: (1) Kenapa aku tak mengucapkan aku mencintaimu lagi? Seperti kenapa aku tak dengan senang hati membandingkan cinta saat ini dengan cinta yang aku rasakan di masa lalu? Dan (2) Kenapa aku tak mengucapkan aku mencintaimu lagi? Seperti kenapa aku tak menggunakan frasa “aku mencintaimu” lebih sering? Tampaknya lebih cenderung yang kedua, walaupun aku mempertimbangkan yang pertama itu kemungkinan yang lebih menarik. Ketika aku membandingkan semantik itu, kau melayangkan kedua tanganmu dan menyuruhku meninggalkanmu sendiri. (Aku menolak.)

Setelah dua puluh dua menit meyakinkanmu untuk membuka kunci pintu kamar, aku menjelaskan bahwa aku telah mengatakan padamu aku mencintaimu sekitar enam bulan lalu.

“Aku ingat,” katamu. “Tapi bukankah aneh kau tak pernah mengatakannya lagi?”

“Apa saat itu kau tak mempercayaiku?”

Monday, November 16, 2015

Beberapa Tipe Pengguna Facebook

Menurut data yang pernah saya baca, pengguna Facebook di seluruh dunia itu sudah berjumlah ratusan juta. Bisa jadi saat ini sudah mencapai satu milyar pengguna. Facebook mungkin merupakan media sosial (medsos) terbesar. Sekalipun ada yang tidak aktif menggunakan Facebook, tapi banyak yang menyambungkan postingan mereka di medsos lain ke Facebook. Update di Instagram, Twitter, Path, dll, bisa nongol otomatis di Facebook. Mereka yang katanya berpindah ke medsos lain ternyata tetap meninggalkan jejak di Facebook. Mungkin karena Facebook memang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Banyak hal yang Facebook berikan untuk penggunanya. Ada alasan-alasan yang membuat kita tetap bertahan di medsos ini. Saya sendiri pengguna Facebook sejak tahun 2008. Sejak saya jadi pengguna aktif, lalu tidak aktif, kembali aktif, dan seterusnya, Facebook telah berkembang menjadi medsos dengan berbagai keuntungan maupun kerugian bagi penggunanya. Berdasarkan alasan-alasan orang menggunakan Facebook, saya mencoba membagi pengguna ke dalam beberapa tipe.

Saturday, November 14, 2015

Terlalu Sibuk dengan Smartphone


Mungkin karena setelah menonton video tersebut juga yang menyebabkan saya untuk tidak update status/upload foto apapun di Facebook dan Instagram sebulan terakhir. (Baca post saya sebelumnya: Menyimpan Segala Sesuatunya Sendiri)Ya, berkat smartphone yang begitu nyaman digenggam, mudah sekali untuk cek media sosial sana sini. Smartphone atau gadget sejenis lainnya sama sekali tidak membuat kita smart kalau HANYA untuk menyalurkan bakat narsistik kita. So, I'm trying to be wise. Not to be addicted to smartphone hence to prevent any social disorder.  

Friday, November 13, 2015

Menyimpan Segala Sesuatunya Sendiri

Hai... hai!

Sudah lama saya tidak update blog. Kenapa ya? Karena memang tak ada yang ingin saya ceritakan di sini. Segala hal, segala kejadian, baik, buruk, biasa-biasa saja saya jalani saja tanpa harus dicatat dan dibagikan ke media blog yang siapa saja bisa baca. Tahun ini cukup banyak gejolak naik turun kehidupan yang saya lalui. Dan saya menjaga itu semua untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat, terutama suami yang telah menakhodai bahtera pernikahan setahun ini. Ya, ada kalanya kita tak perlu membagi cerita kehidupan kepada orang lain.

Post terakhir saya mengenai secuil kisah kehamilan pertama saya yang akhirnya harus gugur di usia dua bulan. Setelah itulah, saya tidak menulis apapun di blog. Tapi, ternyata, pageviews tetap bertambah. Ada saja tulisan/artikel yang saya tulis di blog ini dicari oleh banyak orang, diintip dan syukur-syukur dibaca sampai tuntas. Setidaknya, dari sedikit tulisan, saya bisa berbagi sedikit manfaat. Mudah-mudahan. Hmm, saya sadari, saya hidup ini semestinya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Semoga saya bisa berproses menjadi demikian, menjadi sebaik-baiknya manusia.

Tuesday, August 25, 2015

Not Expecting a Miscarriage

Jakarta, May 15th, 2015

On April 15th, I was gifted with two red lines on my test pack. It's quite surprising because I thought I'd wait longer to get pregnant. I even updated status how I was gonna prepare my best while waiting for a miracle happened. Despite that, I of course was in awe, looking at test pack several times to make sure myself that it was true. My period had been late about two weeks. So I believed that I was positively pregnant. What a joyful moment that day. And then...

For some reasons, I visited an obgyn three weeks after. I went in his office, had an ultrasound on my belly, and watched my baby on the screen. Oh dear God, I silently shed a tear. My happiness tear for seeing a successful conjoined of my husband's cell and mine. But shortly after, the doctor looked worried for not detecting baby's heartbeat. He kept searching... in vain. The heartbeat's negative. My baby stayed still. The doctor couldn't make sure my baby would be okay. I tried to be strong. But back home, I cried like a child on my husband's shoulder.

Not convinced by doctor's statement, I decided to get second opinion and waited a week to give some time for a baby to thrive. Moreover, I had no spotting, no bleeding, and other worse signs. I had to give some time. It was a horrible week for not knowing anything, whether my baby would survive or stop growing. What I could do was only asking God for the best. I know that first trimester is vulnerable for miscarriage. If it happened, I would be morose. Few weeks I had experienced a mother's emotion. Feeling happy, being protective, full of hope, getting a bit worried, and happy again. But then a miscarriage would take them away. People might give sympathy and support. But inside a mother-to-be's heart would be as empty as her womb. I thought I was not ready yet for loss.

Thursday, August 20, 2015

Spicy String Beans

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah masak tumis buncis sederhana. Tapi, namanya keren, nyontek bahasa Inggris gitu, deh. Hehehe... Baru kemarin saya bagi resepnya di blog ini. Namanya Buttery Garlic String Beans. Bisa lihat di post ini. Karena sepertinya saya mulai suka dengan sayuran buncis, dan sisa buncis di kulkas masih ada, hari ini saya masak tumis buncis lagi. Hanya saja dengan resep yang berbeda. Masih tumis-tumisan, sih, tapi lebih banyak bahan yang dibutuhkan. Jangan khawatir, tetap sederhana saja, kok, bahan-bahannya. Mudah didapatkan. Saya kasih lihat dulu, deh, penampakannya.

Spicy String Beans
Dari gambarnya saja sexy menggoda gitu. Hot! Hehehe... Masaknya nggak sampai sepuluh menit, termasuk persiapan bahannya. Pertama, iris halus bawang putih yang sudah dikupas, potong pendek daun bawang, potong kecil tomat, iris cabai rawit, dan tentunya si buncis sendiri yang juga diiris dengan ketebelan yang cukup supaya tidak layu dimasak. Untuk menumis, sediakan mentega. Saya lebih suka pakai mentega daripada minyak. Biar kilap sayurannya itu lebih menggugah selera, ketimbang minyak yang kesannya terlalu oily lengket gitu. Mentega juga menambah rasa gurih, mungkin karena ada sedikit rasa asinnya. Nah, level hot bisa diatur dengan menambahkan merica/lada bubuk.

Setelah bahan disiapkan, mulai memasak, deh! Panaskan mentega, masukkan bawang putih, tunggu sampai aromanya menguar, jangan sampai coklat atau hangus, lalu masukkan semua daun bawang, tomat, cabai rawit, dan buncis bersamaan. Aduk merata. Tambahkan merica sesuai selera. Jangan sampai layu, ya! Cukup masak dengan melihat sedikit asap yang mulai membumbung. Angkat, pindahkan ke piring saji, et voila... Spicy String Beans.

Anyway, setiap kali saya berbagi resep, saya hampir tak pernah mencatat takaran setiap bahan. Bagi saya, memasak itu seperti mencipta karya seni. Dalam berkesenian tak ada aturan pasti. Jadilah, saya menakar-nakar sesuai feeling. Pakai perasaan, gitu, deh! Hehehe... Dan, menurut saya juga, takaran itu tidak bisa dipastikan atau disamakan. Karena rasa yang kita inginkan dari masakan kadang tak sama. Bisa jadi ada yang pengin lebih asin, lebih beraroma, lebih pedas, dsb. Maka, based on my experience yang secuil ini, memasaklah dengan cinta. Biar makannya juga lebih nikmat, bagaimanapun hasil masakannya. Hohoho....

See you on next recipe! 

Wednesday, August 19, 2015

Mari Masak!

Saya lagi senang masak, tapiii... yang simpel saja. Sejak menikah akhir tahun lalu, baru beberapa bulan terakhir saya tinggal di rumah sendiri bareng suami. Warung makan cukup jauh dari rumah yang berada dalam kompleks perumahan. Jadi tak seperti sebelumnya yang sering beli makanan siap saji. Dan ternyata dengan memasak sendiri itu juga jauh lebih hemat. Ya, hematlah! Keseringan masak 3T, sih! Apa tuh? Tahu, tempe, telur! Hehehe... Soalnya saya masih agak malas beli daging-dagingan, malas bersih-bersihnya, cuci-cucinya. Kayak ikan, ayam, daging sapi. Padahal pengin juga sesekali masak udang. Sampai saat ini, saya biasanya masak telur bulat balado, telur ceplok mata sapi, telur kocok dadar, lalu tahu dan tempe goreng. Semuanya serba goreng. Tapi, untuk sayuran, biasanya saya suka eksperimen sendiri, tetap yang simpel juga sih. Kayak sayur sop yang isinya wortel, kentang, kembang kol/kadang diganti buncis, bayam kuah bening, buncis uap, tumis kangkung terasi, pernah juga bikin sayur pecel yang isinya kacang panjang, tauge, kangkung, bahkan saya juga bikin "buttery garlic string beans", keren kan?! Hahaha... Alias tumis buncis doang, sih!

Nah, kalau sudah masak gitu, saya suka iseng foto dan upload di Instagram saya. Kadang hasil fotonya biasa saja, kadang juga bagus sampai-sampai agak beda dari gambaran aslinya. Hehehe... Kali ini, saya mau posting beberapa fotonya di sini, sekalian mencatat resepnya. Mungkin ada yang mau mencoba. Mulai dari yang keren dulu....

Buttery Garlic String Beans (Tumis Buncis):

Wednesday, August 5, 2015

Advan Vandroid X7: Tablet PC Berotak Komputer

Sebelumnya saya mengira gadget bermerek Advan adalah produk impor dari Cina. Namun, setelah menghadiri acara peluncuran tablet terbaru Advan khusus untuk bloggers pada hari Senin, 3 Agustus 2015, di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, barulah saya tahu kalau Advan itu brand lokal, asli punya anak bangsa. Pabrik perakitannya terletak di Semarang. Walaupun 80% perantinya belum berasal dari negeri sendiri, setidaknya Indonesia memiliki Advan yang berkomitmen untuk mendorong pemerataan teknologi di semua kalangan masyarakat Indonesia. Kalau kata Marketing Director Advan, Tjandra Lianto, yang mengutip kata-kata pemilik perusahaan, "Teknologi bukan hanya untuk orang kaya. Semua orang harus punya dan menikmati perangkat teknologi, maka Indonesia harus punya Advan." Nah, jadi apa sih produk terbaru yang dikeluarkan Advan? Ini, lho, tablet yang bikin kita main 3D games lebih seru dan belajar lebih baik, tablet PC berotak komputer dengan processor terbaru di dunia dari Intel, Advan Vandroid X7 dengan layar 7". Dan... harganya juga sangat terjangkau! Pas banget dengan visi Advan.

maaf, numpang narsis dengan tablet kece Advan Vandroid X7

Prosesor terbaru Intel Atom X3 yang terdapat dalam Advan Vandroid X7 menawarkan performa luar biasa untuk menghasilkan foto High Definition (HD) dan video untuk saling berbagi, ketahanan baterai yang memungkinkan kita beraktivitas lebih lama dan produktif. Jelaslah! Otaknya Intel gitu, lho! Hanya dengan Intel Inside yang bikin performa prosesor mengagumkan. Di acara product launching ini juga hadir Country Manager Intel Indonesia, Harry K Nugraha, yang menyampaikan kerjasama Intel dengan Advan tak lain adalah untuk mendorong brand lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Diharapkan Advan menjadi market leader tablet nomor 1 di Indonesia. Khusus Vandroid X7, tablet ini dirancang sedemikian rupa hingga sangat cocok digunakan oleh siapa saja, termasuk para pelajar yang membutuhkan gadget untuk mendukung kebutuhan ilmu pengetahuan dan informasi. Supaya anak muda Indonesia melek teknologi, kata Yakobus sebagai Product Manager Advan yang juga menyampaikan spesifikasi lebih detail Vandroid X7 ini:

Sunday, March 22, 2015

Kolaborasi Dunia Penerbitan dan Film

Hari ini saya menghadiri undangan dari Agromedia Group. Sebuah acara yang bernama #SundayMeeting, yakni forum penulis dari kelompok penerbit Agromedia yang membahas suatu tema tertentu tiap kali diadakan. Saya, penulis novel Al Dente yang diterbitkan oleh GagasMedia, cukup antusias dengan tema kali ini, yakni tentang adaptasi novel menjadi film--kolaborasi dunia penerbitan dan film. Pembicaranya ada dari kalangan produser film (Yoen K dari Maxima Pictures), penulis skenario (Haqi Ahmad), dan penulis yang karyanya telah diangkat ke layar lebar (Aditya Mulya).

Sebagian penulis tentu senang kalau karyanya menarik minat produsen film. Pada umumnya, memang produserlah yang "mencari" novel yang layak difilmkan. Apa sih yang dicari produser film dari sebuah novel? Intinya, produser akan melihat jumlah cetakan novel. Sudah seberapa banyak bukumu yang laris di pasaran? Ini cukup menentukan. Setidaknya, novelmu sudah memiliki pasarnya sendiri. Produser tentu menimbang risiko bisnis. Kalau novelmu pada cetakan pertama saja "hidup segan, mati tak mau" di pasaran, jangan terlalu berharap, deh, bakal ada produser film yang minat. Tapi, kalau kamu cukup yakin dengan kualitas ceritamu, punya pesan bagus yang ingin disampaikan, kamu bisa mencoba. Produser tidak hanya "mencari", kok, tapi juga "dicari". Dicari siapa? Oleh kamu yang merasa karyanya bagus untuk difilmkan.

Saturday, March 21, 2015

A Happiness Box

Last night, my online friend posted something awesome on her Instagram. No, not that glamorous stuff you wear, not that fancy food you eat, not that enviable place you visit. She called it 'a happiness box'. The picture wasn't attractive at all. It looks like a cardboard box, just thicker, with colorful motif cover. But, what she told in caption that inspired me to do the same thing. To have a 'happiness box'. She said that she collected stuff that literally make her happy. Could be a boarding pass when she traveled abroad, a book--I saw Le Petit Prince novel in that box--, a concert ticket, pictures, anything! So when she's down, she takes her happiness box, open it, then somehow she instantly gets the positive energy which means happiness. Cool, huh?!

Then, I was like thinking of creating my own happiness box. If I had one, what things would I put in there? My books? The most favorite which I even can't decide one? Oh, probably a novel I wrote! Aha.. what a cheesy! Hahaha... Till now, I still don't know what things that make me happy straightaway. I kept thinking that my whole life is a package of happiness, so what's the box for then? Such a lie, you think?! Maybe! Hehehe... But maybe I didn't try hard enough to remember the happy things. So, right now, I'm trying to find--writing--the stuff that makes me happy all this time. 

The picture of my parents. Of course I couldn't put my living parents into a box. It would need a giant box. And actually I have one. A home. A home where my parents stay. So, I'll keep a picture of my parents at home. Don't you think that it's just fulfilling a moral purpose? How come you don't include your parents as something that makes you happy?! What a damned if you don't keep a picture of your parents in your happiness box?! But, it's not like that. We know that the truth is our parents don't always make us happy. Sometimes we argue a lot with them. So irritating. But, however your parents treat you, there's a time that you even can't remember when your parents were so blissful for your presence. We, somehow, are the things that make them happy. Get my point? They're happy for me. So, why can't I be happy for them?

Thursday, February 5, 2015

Review: Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage

Sir Murakami, 

First of all, I'd like to ask your kindness to forgive me as I had read your newest book, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, in Pdf format which was free downloadable in internet. This book was first published in 2013 and had been sold more than one million copies. It's such an abundant! So I thought you wouldn't mind if the rest of people like me--who trying to be pennywise about buying some books--read your bestselling book without any charge of price but an internet access fee. I think you'll probably agree that the best thing of being writer is not about how many people buying your book, but how many people reading your book. And here I am, the one who read your book. 

Sincerely, 
Your reader

---



Hahaha... Iya, nih, saya baca novel terbaru Haruki Murakami dalam format Pdf. Ebook yang saya download secara gratis di internet. Nggak apa-apa ya, penulis bestseller seperti Haruki Murakami kan sudah kaya dengan penjualan novel-novelnya. Penulis macam saya? Habis cetakan pertama saja sudah untung! Nah, untung nggak ada pdf gratisannya di internet. Buat yang mau baca novel saya, Al Dente, beli ya bukunya di toko buku offline/online. Sekarang Al Dente juga tersedia versi ebook di Google Play. Belum gratis, kok! Hehehe...

Back to main purpose I write this post. Reviewing. Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage (mari kita singkat jadi CTTHYP) novel ketiga dari Murakami yang saya baca. Tapi, ini adalah novel ke sekian Murakami. Mungkin sudah yang belasan. Saya nggak hitung dan malas cek ricek. Pertama kali berkenalan dengan Murakami lewat novel Norwegian Wood (yang juga saya dapat gratis ebooknya di internet, hehehe...) dengan karakter utamanya laki-laki. Yang saya suka dari novel itu, gaya berceritanya yang sangaaat mengalir. Ceritanya cukup depressing (karakter-karakter yang bunuh diri! why o why!), tapi banyak kalimat/pemikiran bagus yang bisa dikutip jadi status di medsos. Hehehe... Norwegian Wood adalah judul lagu juga. Judul lagu yang tentu disebut-sebut dalam cerita. Lalu, novel Murakami kedua yang saya baca, Kafka on The Shore (yang ini saya beli bukunya, hehehe...) ternyata juga merupakan judul lagu. Bedanya, judul lagu ini hanya fiktif, hanya ada dalam cerita. Sementara, Norwegian Wood, judul lagu beneran yang dinyanyikan The Beatles, band legendaris itu. Karakter utama Kafka on The Shore juga seorang laki-laki. Menempuh perjalanan ke kota lain dan mengalami banyak kejadian magis. Nah, CTTHYP, sebagian judulnya adalah judul komposisi piano klasik dari Franz Liszt, Années de pèlerinage, yang diartikan ke bahasa Inggris jadi Years of Pilgrimage. Jadi, tiga novel Murakami yang saya baca sama-sama ada hubungannya dengan sebuah lagu. Entah itu mempengaruhi plot langsung atau hanya sebagai asesoris yang bisa dikait-kaitkan dengan cerita. Contohnya CTTHYP ini. Years of Pilgrimage barangkali sebagai asesoris saja. Tokoh utama sama sekali tidak melakukan perjalanan spiritual bertahun-tahun. Tapi, setelah dibaca sampai selesai, barangkali pembaca baru menyadari bahwa si tokoh utama selama bertahun-tahun memang melalui perjalanan spiritual tersendiri. Ia memang tidak ke mana-mana. Ia hanya menetap di Tokyo dengan memendam luka batin. Hanya dengan tidak ke mana-mana itu, ia bisa menyembuhkannya. Memang pada akhirnya, ia sampai terbang ke Finlandia, tapi kan hanya beberapa hari. Bukan bertahun-tahun.

Luka batin yang dialami oleh Tsukuru Tazaki bermula pada usianya ke dua puluh tahun. Setahun setelah ia pindah dari kampung halamannya Nagoya ke Tokyo untuk melanjutkan kuliah. Di Nagoya, Tsukuru memiliki empat sahabat; dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka semacam satu geng sekolah. Biasa lah ya, di sekolah kita punya beberapa teman dekat yang selalu bersama-sama. Pertemanan yang berlanjut jadi persahabatan. Orang-orang terdekat setelah keluarga. Empat sahabat Tsukuru itu uniknya mempunyai nama dengan arti warna.
The two boys’ last names were Akamatsu—which means “red pine”—and Oumi—“blue sea”; the girls’ family names were Shirane—“white root”—and Kurono—“black field.” - Ch.1 
Hanya Tsukuru yang namanya tidak mengandung arti warna. Ketika empat lainnya dipanggil dengan warna--Aka si Merah, Ao si Biru, Shiro si Putih dan Kuro si Hitam--Tsukuru dipanggil Colorless--tanpa warna. Sering terbersit di pikiran Tsukuru muda, ia akan mudah dienyahkan dari kelompok, karena hanya ia sendiri yang tak punya warna. Dan, melihat karakter teman-temannya yang tampaknya juga berwarna, Tsukuru beranggapan dirinya memang tidak berwarna. Hanya cowok biasa yang tak menarik, tak punya kelebihan apa-apa. Tapi, itu pikiran-pikiran buruk selewat yang di kemudian hari ternyata menjadi kenyataan. Memasuki tahun kedua kuliah di Tokyo, keempat temannya meminta Tsukuru untuk tidak menghubungi mereka lagi. Tanpa alasan yang jelas. Ya, saya tahu rasanya, sakit!

Rasa sakit itulah yang membuka cerita bab pertama. Ketika Tsukuru hanya memikirkan kematian. Hmm, lebay gak sih diasingkan oleh sahabat, trus jadi kepikiran cuma mau mati? Merasa hidup begitu hampa. Entahlah ya. Mungkin memang begitu rasanya. Bayangkan! Selama SMA, berteman sama-sama terus. Saat Tsukuru akhirnya memilih kuliah di Tokyo, sementara keempat lainnya tetap di Nagoya, tiap libur kuliah Tsukuru selalu pulang dan kumpul lagi dengan teman-temannya itu. Lalu, ketika masuk tahun kedua kuliah, pas libur Tsukuru pulkam lagi, eh teman-temannya mendadak tidak bisa dihubungi semua. Tak ada kabar sama sekali. Hingga akhirnya Ao mau menjawab telepon dari Tsukuru dan memberi kabar buruk. JANGAN HUBUNGI KAMI LAGI! Tanpa alasan yang jelas. Well, yeah, Tsukuru must feel lost. And lost sometimes leads to willing of death.
“That was the first time in my life that anyone had rejected me so completely,” Tsukuru said. “And the ones who did it were the people I trusted the most, my four best friends in the world. I was so close to them that they had been like an extension of my own body. Searching for the reason, or correcting a misunderstanding, was beyond me. I was simply, and utterly, in shock. So much so that I thought I might never recover. It felt like something inside me had snapped.” - Ch.2
Plot maju mundur CTTHYP langsung mengantarkan pembaca pada Tsukuru usia 30-an setelah cerita pembuka tentang keinginannya untuk mati. Tsukuru bertemu dengan seorang perempuan yang dua tahun lebih tua dari dirinya, Sara. Sara yang kemudian membuka luka yang di luar tampak kering tapi di dalam masih begitu basah. Belum ada hubungan spesial di antara mereka. Mereka baru kenalan, Tsukuru tertarik mengajak kencan. Dalam kencan-kencan itulah, Tsukuru bercerita tentang keempat sahabatnya (biasalah ya, kalau lagi pedekate, biasa ditanya-tanya masa lalu juga kan?! hehehe....) Mendengar kisah persahabatan Tsukuru, Sara merasa Tsukuru harus menuntaskan perasaannya. Luka itu harus disembuhkan. Dengan cara mencari tahu alasan Tsukuru dijauhi, menurut Sara. Tsukuru awalnya tidak peduli lagi. Ya, sudahlah... lewat belasan tahun juga. Toh, Tsukuru sekarang baik-baik saja. Rasa ingin mati yang dulu menghinggapinya selama enam bulan dianggapnya sebagai masa transisi. Transisi menjadi pribadi yang berbeda. Tsukuru yang harusnya lebih baik. Tsukuru dewasa muda yang melanjutkan kuliahnya dengan baik. Mendapatkan pekerjaan impiannya. Hidup simpel di Tokyo. Tapi, menurut Sara, Tsukuru harus benar-benar pulih dari luka itu. Kalau tidak, suatu ketika, luka itu bisa mengganggu hubungan mereka ke depan, ya kalau Tsukuru mau serius menjalin hubungan, sih!

So, that's it! Berkat bantuan Sara mencari tahu informasi keempat temannya, Tsukuru memulai perjalanannya membongkar masa lalu. Menemui Aka dan Ao di Nagoya, mengetahui bahwa Shiro meninggal beberapa tahun lalu, dan Kuro yang telah menetap di Finlandia. Semua cerita dalam CTTHYP begitu realis, tapi ada juga bagian-bagian yang tetap menjadi misteri, bahkan terkesan mistis. Seperti mimpi basah yang dialami Tsukuru dengan kedua teman perempuannya Shiro dan Kuro. Kenapa hanya Shiro yang dipenetrasi. Lalu, hubungan Tsukuru dengan teman dekat barunya di Tokyo, Haida, yang dikenalnya setahun setelah kejadian menyakitkan itu. Haida, yang namanya juga mengandung arti warna--gray field. Haida yang entah kenapa bercerita pada Tsukuru tentang pertemuan ayahnya dengan seorang pianis di sebuah penginapan di daerah pegunungan. Suatu malam aneh yang dialami Tsukuru dengan Haida, yang menurutnya mimpi tapi kesannya begitu nyata. Lalu, pertemanan mereka berakhir. Tak ada lagi kunjungan Haida ke apartemen Tsukuru. Ada perpisahan yang sepertinya hanya untuk sementara, tapi ternyata Tsukuru tak pernah bertemu lagi dengan Haida. Ada pula cerita tentang orang-orang yang memiliki jari keenam. Aargh... Entah saya yang kurang nangkep arti bahasa inggrisnya hingga ada bagian-bagian cerita yang tak terjawab oleh saya, seakan-akan tak tuntas.

Jadi, daripada saya melanjutkan review ini begitu panjang tapi membingungkan, saya akan segera sudahi catatan ini. Alasan kenapa Tsukuru dienyahkan dari geng ada dalam cerita. Alasan yang menyangkut dengan kondisi Shiro. Mungkin karena itu hanya Shiro yang dipenetrasi saat mimpi-mimpi basah Tsukuru dengan Shiro dan Kuro. Mengetahui alasan itu cukup memuaskan saya membaca novel ini. Setidaknya saya tahu plot utamanya. Kadang hal-hal yang tak kita ketahui saat ini akan kita ketahui nanti. Ketidaktahuan saat ini mungkin adalah jalan yang lebih baik. Jalan untuk menemukan jati diri. Seperti Tsukuru yang akhirnya menyadari, ia bukannya tak berwarna. Tak pernah Tsukuru sadari saat muda, bahwa dia lah warna paling indah dalam gengnya. Tsukuru memang tak mengandung arti warna. Tapi, hanya Tsukuru yang hidupnya paling sesuai dengan arti namanya. Tsukuru, to make atau to build. Tsukuru dahulu tak pernah tahu betapa teman-temannya terkesan dengan ketertarikan Tsukuru pada stasiun kereta. Hingga memutuskan kuliah di tempat terbaik yang mengajarinya membangun stasiun, lalu mendapatkan pekerjaan di bidang yang sesuai. Meski ia tak puas-puas amat dengan pekerjaannya. Karena tak ada lagi pembangunan stasiun, yang ada hanya perawatan dan renovasi saja. Pfft...

Oh, ya, mengenai kelanjutan hubungannya dengan Sara juga tak terjawab eksplisit. Kalau kata Kuro yang ia temui di Finlandia, Tsukuru harus mempertahankan hubungannya dengan Sara. Jadi, di akhir cerita, Tsukuru hanya bilang kalau besok Sara memilihnya, mau menerima dirinya, ia akan langsung melamar Sara saat itu juga. Jadi ceritanya, Tsukuru tahu kalau Sara punya hubungan dengan laki-laki lain. Tapi, Sara tak tahu kalau Tsukuru tahu. Makanya ending-nya jadi ribet gitu. Saya sendiri kurang puas dengan ending novel ini. But, overall, CTTHYP bagus, kok! Memberi kesan tersendiri bagi saya mengenai persahabatan. Saya teringat bagaimana dulu saat libur kuliah, saya pulang kampung, dan ngumpul lagi dengan teman-teman yang sama. Selalu begitu. Hingga akhirnya, semua berbeda. Karena kita bertumbuh, berkembang... berubah dari masa lalu.
“People change,” Sara said.
“True enough,” Tsukuru said. “People do change. And no matter how close we once were, and how much we opened up to each other, maybe neither of us knew anything substantial about the other.” - Ch.9
Setelah membaca tiga novel Murakami, saya menyimpulkan Murakami memang layak jadi penulis favorit manusia sejagad. Murakami terampil menceritakan hal-hal absurd, walaupun kadang seperti ngelantur ke sana ke mari. Seakan-akan apa yang ia tuliskan itu untuk "just so you know" gitu deh. Tapi, tetap saja bisa dinikmati. Kadang saya merasa Murakami sedang menceritakan dirinya sendiri. Seperti Tsukuru yang selalu membawa swimsuit ke mana pun karena bisa jadi ia harus memenuhi kebutuhan mendesak untuk berenang. Lah, belum lama ini saya baca artikel tentang Murakami yang punya kebiasaan seperti itu juga. Lalu, cara Murakami meramu musik-musik yang ia dengar ke dalam cerita yang ia tulis. Bagaimana ia memilih lagu/musik tertentu untuk dijadikan bagian penting dalam cerita itu menurut saya tidak semua penulis bisa melakukannya sebaik Murakami. Walaupun saya sendiri tidak familiar dengan musik-musik pilihan Murakami, ceritanya tetap asyik dibaca, bahkan sampai kepikiran ceritanya meskipun lagi istirahat membacanya. Cerita-cerita Murakami yang cenderung tentang orang-orang penyendiri membuat saya merasa tak sendiri. Dan, demikianlah, buku bagus itu. Membaca buku membuatmu tak lagi merasa sendiri.

Thursday, January 29, 2015

Perempuan ke Perempuan

"Woman is intimidating woman."
in·ti·mi·da·si n tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang atau pihak lain berbuat sesuatu); gertakan; ancaman;
meng·in·ti·mi·da·si v menakut-nakuti; menggertak; meng-ancam 
Hari ini saya, sebagai perempuan, merasa terintimidasi, entah disengaja atau tanpa disengaja pelaku. Saya telah menikah tiga bulan. Sementara perempuan lain (A) yang menikah tak lama setelah saya diketahui positif hamil. Lalu, perempuan lain lagi (B) yang merasa subur, yang mungkin dulu juga segera hamil setelah menikah, entah kenapa seharian ini harus dua kali membicarakan kehamilan si perempuan A di depan saya. Pertama, ia bicara langsung dengan saya, yang mana saya sebenarnya juga sudah tahu perihal kehamilan A dari kemarin. Kedua, ia bicara dengan orang lain di mana ada saya di sana yang, mau tak mau, mendengar. Saya tak tahu apa maksudnya. Apakah ingin menyinggung saya? Soal apakah saya sudah "isi" atau belum? Bukankah ia sudah tahu? Ataukah, belum tahu, tapi penasaran? Hanya saja untuk menjawab rasa penasarannya, ia harus menyinggung kehamilan orang lain? Kenapa tidak bertanya langsung pada saya? Karena itu, saya merasa terintimidasi. Seolah-olah saya ditakut-takuti bahwa saya belum hamil sementara perempuan lain yang menikah setelah saya malah sudah hamil. Ditakut-takuti bahwa saya atau suami mungkin tidak subur karena ia bilang di depan saya bahwa perempuan A itu subur. Bagi saya, ia--sadar tak sadar--sudah mengintimidasi keperempuanan saya.

Perempuan, dalam budaya kita, dituntut untuk menikah. Apalagi kalau sudah memasuki usia kepala tiga. Lewat kepala tiga, akan ada cibiran, cemoohan, atau berupa kata-kata penyesalan yang mungkin bermaksud simpatik, seperti yang dialami sahabat saya. Ia ingin menikah, tapi memang belum ketemu jodoh yang tepat. Namun, perempuan lain, tanpa disadarinya sudah menyinggung perasaan sahabat saya itu dengan bilang, "Nggak apa-apa kamu nggak nikah-nikah, yang penting kamu sudah niat." Lah, ya iya, ia jadi sedih. Ucapan yang seolah-olah menenangkan, justru sebenarnya menakuti-nakuti. Tidak ingat kalau ucapan itu adalah doa?

Tuesday, January 27, 2015

Review: Tusk (2014)

Bagaimana jika tubuhmu berubah menjadi seekor anjing laut? Lalu, tanpa kau sadari, jiwa manusia di dalamnya perlahan menjelma jiwa anjing laut?

Kau pernah melihat anjing laut, kan? Kau tahu rupa anjing laut, kan? Sepintas, makhluk itu tampak tak menarik. Tubuh gempal, dengan lipatan-lipatan lemak di sekitar leher. Tapi, cobalah lihat lebih lama, anjing laut tampak lucu dan menggemaskan. Seperti bayi gembul imut yang akan senang hati kau cium-cium. Anjing laut, mamalia berkumis yang hidup di air es. Ya, bagaimana jika kau diubah, dengan sengaja, menjadi anjing laut?

Horor! Sama sekali tidak lucu dan menggemaskan. Kau tampak menyedihkan. Kau pun sangat marah tak terperikan. Kau menyimpan dendam kesumat teramat dalam pada orang yang dengan sengaja mengubahmu menjadi anjing laut. Kau begitu berang, kau pun begitu sedih. Kepedihan yang tak akan terobati dengan cara apapun. Kau merutuk, mengutuk orang yang telah berbuat begitu kejam, sadis, tak berperikemanusiaan.

Namun, bagaimana kau akan merutuk? Mengutuk? Sementara tubuhmu sebentuk anjing laut. Anjing laut tak dapat bicara. Meski kau mengerti kata-kata, kau hanya mengeluarkan suara-suara berteriak tanpa makna. Seperti lolongan yang menyahat hati. Karena lidahmu telah dimutilasi. Ya, kau benar-benar tampak seperti anjing laut, meski kulitmu masih kulitmu, tak selicin kulit anjing laut.

Sunday, January 25, 2015

The Walrus and The Carpenter

The Walrus and The Carpenter

Lewis Carroll

(from Through the Looking-Glass and What Alice Found There, 1872)


The sun was shining on the sea,
Shining with all his might:
He did his very best to make
The billows smooth and bright--
And this was odd, because it was
The middle of the night.

The moon was shining sulkily,
Because she thought the sun
Had got no business to be there
After the day was done--
"It's very rude of him," she said,
"To come and spoil the fun!"

Wednesday, January 21, 2015

Mencuri Resep Sambal Mentah

Kemarin sore, buat makan malam, saya beli ayam penyet di warung dekat rumah. Tempatnya kecil sekali, sebuah garasi rumah yang disulap jadi tempat makan. Tempat memasaknya di depan; proses penggorengan maupun pembakaran lauknya, proses mengulek sambel, sampai proses membukus makanan yang sudah jadi dan pembeli tinggal bayar lalu langsung pergi. Biasanya saya suka pesan sambel penyet--ulekan cabe rawit dengan bawang putih yang tentu ditambah garam dan penyedap rasa, mungkin Sasa. Tahu resepnya begitu, saya kadang bikin sambel sendiri kalau lagi rajin ke pasar buat beli bahan-bahan buat masak. Rasanya tak jauh beda. Nah, pas kemarin, saya memesan tambahan sambal. Saya perhatikan, di warung itu ada dua tempat ulekan. Bekas sambel yang diulek di sana tampak beda. Selama ini saya mengira warung itu hanya menyajikan dua macam sambel; sambel penyet dan sambel goreng--yang maaf saja saya tak selera, makanya sering pesan sambel penyet. Ternyata, setelah saya tanya kepada si penjual, ulekan yang satu lagi itu buat sambel mentah. Saya pesan deh, minta seharga tiga ribu rupiah. Jadilah, kemarin itu saya membawa pulang dua macam sambel ke rumah.

Setiba di rumah, tanpa nunggu suami pulang karena sudah kelaperan, saya langsung makan. Ngeces lihatin dua macam sambel itu. Wah, enak juga nih mentah-mentah gini! Yang ujung-ujungnya saya mikirin kebersihannya. Hihihi... Tempat ulekan bekas yang mudah-mudahan dicuci setidaknya sekali sehari, cabe mentah yang mudah-mudahan sudah dicuci bersih (gak yakin!), terasi yang mungkin dari pasar langsung dimasukin ke wadah bahannya, tomat yang saya harap lagi sudah dicuci bersih. Tapi, ya, tanpa memikirkan itu semua, sambel mentahnya tetap enak! Apalagi dicampur dengan sambel penyet. Hingga keesokan harinya, yakni hari ini, saya sempat-sempatnya membayangkan sambel mentah itu buat makan malam. Apalagi suami saya juga suka pedas. Jadi, deh, saya ke pasar--yang untungnya dekat rumah, tinggal jalan kaki--beli cabe rawit seperempat kilo. Btw, harga cabe turun lagi, lho! Dulu waktu BBM naik, cabe keriting sempat menembus angka 90 ribu/kg. Lalu, turun ke 80 ribu/kg, sampai minggu lalu turun jadi 60 ribu/kg, eh, hari ini saya bisa beli cabe keriting 48 ribu/kg. Eh, maaf, kalau harga cabe rawitnya saya gak hapal, tapi yang pasti juga turun, kok! Hehehe...

Tuesday, January 20, 2015

Goblok vs Pintar ala Bob Sadino

BERANI 'GOBLOG' by ~Bob Sadino~ in memorium
"Saya sudah menggoblokkan diri sendiri terlebih dahulu sebelum menggoblokkan orang lain." - Bob Sadino
"Banyak orang bilang saya gila, hingga akhirnya mereka dapat melihat kesuksesan saya karena hasil kegilaan saya." - Bob Sadino
"Orang pintar kebanyakan ide & akhirnya tidak ada satupun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya 1 ide dan itu jadi kenyataan." Bob Sadino
"Saya bisnis cari rugi, sehingga jika rugi saya tetap semangat & jika untung maka bertambahlah syukur saya!" Bob Sadino
"Sekolah terbaik adalah sekolah jalanan, yaitu sekolah yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif." - Bob Sadino
"Orang goblok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar."- Bob Sadino
"Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu." - Bob Sadino
"Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat. Saya ga pernah mikir karena cuma melangkah saja. Ngapain mikir kan cuma selangkah." - Bob Sadino
"Orang goblok itu gak banyak mikir, yang penting terus melangkah. Orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah." - Bob Sadino
"Orang pintar maunya cepet berhasil, padahal semua orang tau itu impossible! Orang goblok cuma punya 1 harapan: hari ini bisa makan." - Bob Sadino
"Orang pintar belajar keras untuk melamar pekerjaan. Orang goblok berjuang keras untuk sukses biar bisa bayar para pelamar kerja." - Bob Sadino
~ Sekian perbedaan orang goblok dan orang pintar versi Bob Sadino.

Catatan di atas saya copas dari status FB seseorang. Setelah diperhatikan, tak satu orang, tapi beberapa orang lainnya juga membagi catatan tersebut di halaman FB mereka. Tak ada salahnya, sih. Catatan berisi kutipan-kutipan dari mendiang Bob Sadino, salah satu pengusaha sukses Indonesia, memang ada benarnya. Salahnya hanya pemahaman orang-orang yang membacanya tak akan sama. Kalau dibaca orang goblok beneran gimana? Bisa-bisa sekolah jadi kosong, tak ada yang mau belajar, karena mending jadi orang goblok seperti Bob Sadino. Tapi, syukurlah, masih banyak orang yang tak berani goblok. Banyak orang yang masih ingin dibilang, dipuji dan dicap pintar. Yang berani goblok hanya segelintir orang macam mendiang Om Bob--ikut orang-orang manggil Om--yang semoga bahagia di akhirat sana.

Saya percaya, peran kita di dunia ini berbeda-beda. Ada yang jadi goblok seperti Bob Sadino. Ada yang jadi pintar seperti Einstein. Kalau semua orang ingin jadi pengusaha, siapa yang akan jadi pegawai? Kalau semua orang pintar, siapa yang kita sebut goblok? Kutipan-kutipan di atas tentu hanya semacam panduan bagi yang berminat berwirausaha. Wirausahawan yang bagaimana? Yang goblok? Nah, itu terserah yang minat. Tapi, siapa sih yang tak minat jadi wirausahawan? Jadi boss? Punya bawahan, anak buah, karyawan, pegawai? Membuka lapangan kerja bagi orang-orang yang pintar karena rajin belajar? Menggaji orang-orang yang berarti memberi makan anak-istri mereka? Etapi, ini baru enaknya saja! Yang tak enaknya bagaimana? Sudah tahu? Yakin tetap mau jadi goblok? Kalau begitu ya, semoga sukses bagi anda!

Monday, January 19, 2015

"Tuliskan!" atau "Bagikan!"

Apa gunanya blog ini? Saya biasa menulis di blog untuk menyimpan karya fiksi yang pernah saya tulis, untuk mereview buku dan film--tidak semua yang saya baca dan tonton, untuk mencatat perjalanan dan pengalaman hidup--tentunya tidak semua, hanya yang sangat berkesan, dan... untuk menyimpan kenangan. Seperti deskripsi judul blog saya ini, Kisah Klasik: Kemarin telah berlalu, tapi kisahnya sedang saya tulis hari ini, hingga esok tak ada yang terlupa. Karena selamanya setiap kisah akan menjadi kenangan.

Perhatikanlah kata-kata yang saya cetak tebal dan garisbawahi. Catatan waktu, kisah, kenangan. Blog ini saya gunakan untuk mencatat kisah, baik nyata maupun fiktif. Supaya kelak saya bisa mengenang perjalanan yang telah saya lalui. Atau sekadar sebagai kotak penyimpanan dengan catatan waktu yang nanti bila perlu bisa saya buka sewaktu-waktu dengan mudah. Tanpa perlu memeras memori kepala saya untuk mengingat-ingat--apalagi saya seorang pelupa. Namun, sayangnya, tidak selalu saya manfaatkan blog ini. Saya hanya memposting beberapa kali. Tidak selalu menulis. Barangkali apa yang telah saya lalui tidak begitu penting--menurut saya pada saat sebuah moment baru saja berlangsung. Padahal, alangkah cukup bermanfaat jika moment itu dicatat. Atau, barangkali, saya menganggap sesuatu penting untuk dicatat tapi saya terlalu malas untuk duduk di depan laptop. Bahkan percuma saja saya install aplikasi mobile blog, karena untuk mencatatnya melalui ponsel pun saya malas. Atau, saya terlalu pemilih? Terlalu banyak pertimbangan apakah perlu dicatat di blog atau tidak? Begitulah. Terlalu banyak pikir, tak ada yang dikerjakan, akhirnya.