Wednesday, December 31, 2014

Ceracau Akhir Tahun

Menutup tahun 2014, saya memutuskan untuk update blog. Dini hari ini, tepat setelah mandi junub. Karena sebelumnya sempat kawin. Alhamdulillah. Hehehe... Saya memasuki bulan ketiga pernikahan saya dengan pria yang pernah saya pacari empat tahun lebih. Pfft.... Begitu lama pacaran, akhirnya jadi mantan pacar. Dan sejak postingan terakhir saya perihal persiapan pernikahan, saya begitu tidak peduli dengan blog yang terbengkalai. Bahkan untuk update prewed prep pun maleees banget. Padahal beberapa hari setelah The Wedding Day, saya sempat nulis panjang di ponsel, mengeluhkan beberapa hal terkait make-up artist dan butik baju nikah. Tulisan yang masih tersimpan sebagai draft di dashboard blog ini. Makin tua, kok saya makin takut buat posting hal-hal jelek. Ah, mungkin saya makin bijaksana untuk menentukan mana yang sebaiknya diutarakan di publik, mana yang sebaiknya disimpan sendiri. Anggaplah juga saya ingin berbuat baik dengan memandang sisi positif saja dari hal-hal yang saya keluhkan itu.

Pernikahan pada sabtu pagi itu, 25 Oktober 2014, berlangsung lancar, tanpa kendala berarti. Hanya PLN tolol yang mendadak memadamkan listrik area rumah saya tepat acara akad nikah dimulai. Padahal, karena suatu hal yang telah dilakukan oleh pihak keluarga saya, PLN tak seharusnya memadamkan listrik pada hari itu, apalagi tepat pada jam itu. Setelah seseorang bersegera ke kantor PLN, beberapa menit kemudian, listrik kembali nyala. Grrr banget ulah PLN! Bapak saya juga sempat kesal. Well... the show must go on! Tibalah waktunya perjanjian suci dan sakral itu. Bapak masuk ke kamar pengantin menemui saya, menanyakan kerelaan saya untuk dinikahkan. Lalu, Bapak keluar, berhadapan dengan mempelai pria. Dan... ijab kabul pun terucap sempurna. SAH! Saya resmi jadi istri Pambudi Satria. Saya pun menemui suami saya tersebut. Minta ridho orangtua, tukar cincin, cium tangan cium kening, foto-foto, tandatangan buku nikah, foto-foto, salam-salaman dengan tamu, foto-foto, ya... selalu foto-foto.

Ba'da dzhuhur, saya dan suami berganti pakaian dengan pakaian adat untuk acara Babako. Berasal dari dasar kata 'bako' yang berarti keluarga dari ayah saya. Secara akademis dan resminya, saya sebenarnya agak kurang paham tentang adat babako ini. Garis besar yang saya pahami adalah pengantin menjemput keluarga dari ayah untuk menghadiri perhelatan nikah. Karena, orang Minang itu matrilinial, yang pasti menetapnya di rumah/kampung keturunan ibu. Maka acara nikahnya pun pasti di tempat ibu. Sehinggaaa... perlu suatu prosesi menjemput keluarga pihak ayah. Berhubung kampung ayah saya berjarak sekitar 3-4 jam perjalanan darat dari kampung ibu, iring-iringan jemputan si pengantin pun, yaitu saya dan suami serta beberapa saudara lainnya, hanya menjemput di suatu spot tak jauh dari rumah. Ya, sesuatu kadang perlu dikompromikan. Lalu, keluarga pihak ayah akan ikut pula iring-iringan dengan pihak penjemput ke tempat perhelatan. Jalan kaki dan ada musik tradisionalnya; bunyi talempong. Hehehe... Nah, pengantin dan rombongan pihak penjemput ini berada di barisan paling belakang. Yang depan yaaa... tetamu dari kampung ayah itu alias masih sanak saudara juga, yang pas acara saya ini, ada puluhan orang. Yang unik lagi dari Babako ini, ada beberapa tamu yang akan memasangkan cincin emas langsung ke jemari pengantin perempuan a.k.a anak daro. Kalau pengantin laki-laki, istilahnya marapulai, dan tugasnya pada acara ini hanya mendampingi anak daro, tidak menerima sematan cincin-cincin dari tetamu. Sementara tamu-tamu yang lain membawa 'jamba' berisi beras, gula, kain panjang, sarung, atau kado lain. Yang saya sebutkan itu adalah pemberian/hadiah pada umumnya dari bako saya. Yap, beras atau gulanya juga tiap orang yang bawa juga tidak banyak, biasanya sekantong/sebungkus plastik kecil gitu. Hihihi... Yah, intinya begitu deh acara babako. Mereka tentu juga dijamu makan-makan. 'Jamba' yang mereka bawa biasanya akan diisi kembali dengan sebungkus rendang oleh pihak keluarga ibu. Lalu, pulang deh mereka sendiri. Pergi dijemput, pulang tak diantar.

Selesai sudah dua acara seharian Sabtu itu. Menjemput malam, rumah pun dibersihkan lagi, dipersiapkan untuk acara esok hari. Sementara suami istri baru malu-malu bercumbu di kamar pengantin. Hahaha.... Eh, menjelang tengah malam, suami malah keluar kamar. Katanya sih mau lihat keadaan di luar. Oh, ya, biasanya kalau malam minggu, atau malam apa pun menjelang acara baralek (istilah resepsi minang), orang-orang sekitar rumah, umumnya laki-laki, akan datang sekadar kumpul-kumpul sambil main kartu atau apa kek gitu. Perlu dijamu juga dengan makanan dan minuman, tapi ya sekadarnya gitu. Kalau saat itu, ibu-ibu di rumah nyiapin nasi goreng dan kopi atau teh. Entah apa esensinya, tapi menurut saya mungkin sebagai penjaga keamanan rumah yang sedang riweh dengan acara pernikahan atau baralek. Atau mungkin yaaa biar ramai aja gitu. Soalnya juga kadang yang datang malam itu juga kadang ada aja penyusup yang berniat jahat. Keamanan pun pada akhirnya dipertanyakan. Hehehe... Ya sudahlah ya. Terserahlah apa yang terjadi di luar sana. Yang penting saya di kamar mau istirahat dulu. Walaupun agak gimana gitu rasanya kok malah ditinggal suami keluar pas malam pertama. Hahaha... Eh, dentang jam di ruang tamu sebanyak 12 kali terdengar sampai kamar saya. Masuklah beberapa orang tersayang ke kamar.

SURPRISE! Selamat ulang tahun saya! Iya, memasuki hari Minggu, 26 Oktober 2014, usia saya bertambah. Ah, tak perlulah saya sebutkan angkanya. Yang pasti saya makin tua, jatah hidup makin kurang. Memang saya agak maksa minta nikah pada tanggal ini. Memang tak tepat pas harinya sama. Beda tipis saja. Nikah tanggal 25, ulang tahun tanggal 26. Nah, resepsi/pesta pernikahan atau baraleknya anggaplah sebagai pesta ulangtahun saya juga. Jarang-jarang lho ulangtahun saya dirayakan. Hehehe... Alhamdulillah, keinginan saya terpenuhi. Suami dan terutama orangtua saya. Sungguh saya bersyukur sekali. Sangat berterimakasih kepada mereka. Saya akan berusaha untuk membalas budi. Entah kapan terpenuhi. Tapi, akan saya usahakan. Harus bisa.

Pffft.... udah panjang saja ini tulisan. Ringkas saja deh. Hari Minggu ya acara resepsi, saya pakai suntiang. Ya gitu deh, pakaian adat pernikahan orang Minang. Seru sih foto-foto. Salam-salam. Foto-foto. Salam-salam. Tapi, kebanyakan kagak kenaaal! Teman saya yang datang cuma segelintir. Hiks... gak gaul sih! Hehehe... Memang gak ngarep banyak teman yang datang sih. Hanya tololnya saya, begitu ngarep semua sahabat bisa datang. And on the D day? Miris! Tapi, ya... mau gimana ya... Ya sudahlah ya. Terima kasih untuk yang sudah datang jauh dari Surabaya, juga teman di Jakarta yang sudah tinggal di Padang, dan dua sahabat lain yang dari dulu memang sudah di Padang. Hehehe... Terima kasih ya. Sungguh kalau mengingat ketidakhadiran sahabat yang sudah saya anggap keluarga itu bikin cenat-cenut hati. Tapi, kembali lagi mengingat artikel yang pernah saya baca. Akan selalu ada orang-orang yang kau harapkan hadir di acara pernikahanmu malah tidak datang, tapi ada hal yang lebih penting dari itu; pasangan yang mendampingimu di pelaminan. Dari, untuk, dan oleh dia lah, pernikahanmu ada. Terima kasih banyaaak, Pamski, suamikuuu! Muach!


4 comments:

  1. ih, bahagianyaa..
    pasti udah jadi keluarga sakinah mawaddah warahmahh..
    Amiiinn

    ReplyDelete
  2. waah hari pernikahannya bertepatan dengan hari lahir aku mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hari lahir kita deketan dong ya... Makasi udah mampir :)

      Delete