Tuesday, September 23, 2014

Yang Tidak Kami Lakukan

Foto Prewedding sudah menjadi trend bagi pasangan yang akan menikah. Mungkin bagi sebagian orang, itu sudah menjadi semacam kewajiban. Gak lengkap kalau gak foto prewed. Kalau yang saya lihat sendiri, hasil-hasil foto prewed itu dijadikan pajangan/dekorasi di venue resepsi. Seru juga melihat aksi dan gaya pasangan-pasangan muda itu, ada yang tampak mesra, ada yang kocak, dengan pemilihan tema tertentu; mungkin vintage, old school, sport, dan sebagainya. Seru, sih... Tapi, inilah yang tidak kami lakukan.

Kenapa? Hmm... sebelum merencanakan nikah dengan serius, saya sendiri memang gak begitu tertarik dengan foto prewed. Mikirnya, emang penting ya? Hehehe... Saya juga merasa tidak nyaman kalau difoto terlalu diarahkan begitu. I like being spontaneous. Saya sih suka foto-foto. Suka banget malah. Selfie berdua sama pacar juga cukup sering. Dan selalu saya yang duluan ngajak foto. Maklum lah ya, cewek. Suka narsis! Jadi, selama ini saya memang tidak pernah mengkhayalkan sesi foto prewed kami. Saya pun bilang ke pacar, kita gak usah foto-foto prewed segala lah ya. Pacar ya setuju aja. 

Lalu, memasuki keseriusan pernikahan, saya dan pacar tetap gak ada yang ngomongin soal foto prewed. Apalagi dalam tradisi keluarga kami, gak ada yang pakai foto-foto prewed. Kalau ada yang nanyain, tinggal bilang nih udah banyak foto-foto prewed selama empat tahun. Hahaha... Karena foto prewed bukan hal yang penting bagi kami dan keluarga, lumayan deh budget pernikahan gak bengkak. Kalaupun kami mau, sebenarnya bisa aja minta bantuan sohibnya pacar yang job sampingannya fotografer. Bisa agak ngiritlah sama dia. Tapi, ya, tetap... sejak awal karena merasa foto prewed tidak penting, kami memang tidak melakukannya. 

Sebagai gantinyaaa.... Nah, lo! Kok ada gantinya ya? Hehehe... Seperti yang saya sebut tadi, foto-foto prewed kami itu udah cukup banyak, hasil foto-foto spontan selama empat tahun kami pacaran. Saya sama pacar itu seringnya LDR, kalaupun lagi sekota juga kan gak tiap hari ketemu, jadinya kalau ketemu kadang suka foto-foto selfie berdua. Palingan dari empat tahun kami pacaran itu, hanya momen-momen tertentu aja yang hasil fotonya lumayan dan, terpenting, berkesan. Nah, foto-foto semacam inilah yang akhirnya saya kompilasi dan saya jadikan... PHOTOBOOK! Yay! Hahaha....

Jadi, belum lama ini saya iseng browsing percetakan di internet. Ketemulah yang namanya Snapy Photobook. Bisa datang langsung ke workshop-nya atau pesan online. Dari webnya itu, saya akhirnya memutuskan untuk bikin photobook. Apa sih photobook? Dari terjemahan tahulah ya maksudnya "buku foto". Berhubung saya pecinta buku, makin jatuh hatilah saya sama konsep ini. Photobook ini semacam album berisi foto. Bedanya, foto sudah tercetak di halamannya, bukan ditempel/menjadi bagian terpisah dari album. Serunya photobook, kita bisa desain sendiri (premium) atau sekadar tambah-tambahin clipart pada template yang sudah ada (deluxe). Ada tambahan text juga. Bisa ganti-ganti warna juga. Setelah menunggu semingguan (lama proses cetak dan pengiriman), akhirnya saya bisa melihat hasil akhirnya. Baru sampai hari ini, pas saya pulang langsung deh update blog. Hihihi...


Photobook dengan hardcover berwarna ungu ini cukup manis, terdiri dari 20-an halaman atau lebih 10 lembar kertas tebal yang tak begitu glossy, penuh dengan foto-foto pilihan saya, text kreasi saya, dan tambahan clipart yang udah dari sononya. Cover depan bisa juga pakai foto sendiri, tapi saya lebih pilih gambar lain yang saya cari via Google. Hehehe... Nah, suprise! Dikasih bonus notes berukuran kurang lebih sama dengan photobook, dengan isi kertas polos yang cukup tebal. Bisa deh dijadiin diary khusus cerita tentang saya dan pacar, eh calon suami. Hohoho.... Bentar lagi jadi suami. Aamiin... Overall saya cukup puas dengan hasilnya, walaupun ada satu clipart yang hilang. Gak tahu deh kenapa. Huhuhu... Photobook ini jadi semacam memoribilia perjalanan kami sejak awal pacaran, hari lamaran, sampai pas foto buat buku nikah pun saya masukkan di halaman terakhir. Lihat kan ada pas foto di pojok kanan bawah?! Plus text "we're getting married". Hehehe....

Anyway, pacar saya gak tahu saya pesan beginian. Biarlah ia tahu sendiri lewat membaca blogpost ini. Hahaha.... Kalaupun gak tahu juga, gara-gara gak baca blog saya, ya udah nanti dikasih lihat kalau ketemu. Yang saya pesan ini tipe deluxe, dengan harga yang cukup terjangkau, itu pun yang ukurannya kecil. Nanti saya mau coba lagi. Mudah-mudah ada rejeki lebih, mau pesan yang tipe premium ah... So, kamu mau coba? Monggo, lho... 

No comments:

Post a Comment