Friday, September 12, 2014

Maleficent: Kisah Peri yang Manusiawi

Fairy tales dari Disney makin "manusiawi" saja, lho. Belum lama ini kita terkesan oleh film Frozen. Beberapa selipan moral terutama tentang cinta menyentil hampir semua cerita-cerita Disney sebelumnya. Tentang tak mungkinnya menikah dengan orang yang baru sekali bertemu. Percaya pada cinta pandangan pertama? No way! Pesan seperti itu muncul lagi di film terbaru Disney, Maleficent. Eh, sudah agak lama, sih! Saya saja yang nontonnya telat.

Maleficent ini seorang peri terkuat di wilayah Moors yang tak jauh berada di wilayah kerajaan manusia. Diperankan oleh Angelina Jolie, Maleficent memberi kesan baik dan jahat dengan berimbang. And, this is the story told us about. Gak ada hati yang sebaik malaikat punya, gak ada pula hati yang sejahat iblis punya. This heart belongs to anyone, whether you are human, or in a fairy tale case, you are fairy. Justru kebaikan dan kejahatan ini selalu berperang dalam diri kita. Berasa "manusiawi", kan?!

Sedikit review, Maleficent ini awalnya peri yang baik. Lalu, ia bertemu, berkenalan, dan jatuh cinta pada manusia. Manusia yang ternyata mengkhianatinya demi meraih kekuasaan--menjadi seorang raja; King Stefan. King Stefan kemudian menikah dengan ratu yang entah siapa namanya, lalu lahirlah seorang putri nan cantik jelita dan baik hati. (Yeah, still fairy tale!) Maleficent yang telah dikhianati--sayapnya dipotong dan dicuri oleh King Stefan--membalas dendam. Ia mengutuk Aurora, si putri kerajaan, dengan bumbu fairy tale pada umumnya. Yakni, Aurora akan tertidur selamanya pada usia 16 tahun karena tertusuk jarum. Dan, hanya ciuman dari seorang cinta sejatilah yang akan bisa membangunkannya. Tapi, sebenarnya Maleficent itu ngibul. Nggak ada kok yang bisa meluruhkan kutukan itu. Karena bagi Maleficent, cinta sejati itu gak ada. Buktinya, cintanya yang tulus saja dikhianati oleh Stefan. Untuk menjaga Aurora, King Stefan mengungsikan putrinya itu ke desa terpencil dan dirawat oleh tiga peri kecil yang menyamar sebagai manusia. Nah, di sinilah, diam-diam Maleficent selalu memantau perkembangan Aurora hingga akhirnya ia sadar Aurora tak layak menanggung kutukan itu. Intinya, Maleficent ini muncul lagi kebaikan hatinya.


Sepanjang cerita Maleficent inilah, pesan moral yang "manusiawi" bisa kita petik. Saya masih percaya kalau cerita yang baik itu harus bisa meninggalkan pesan (dan kesan) bagi penikmat cerita. Cerita tidak hanya rentetan kejadian tanpa makna. Nah, setelah nonton Maleficent, ada beberapa pesan yang saya petik.

Pertama, cinta pada pandangan pertama itu mungkin saja ada, tapi belum tentu itu cinta sejati. Dan, cinta sejati itu gak hanya antara sepasang kekasih yang kasmaran itu, lho. Cinta antara ibu dan anak juga cinta sejati. Belajarlah pada Princess Aurora. Dan, Maleficent mengajarkan kita, bahwa cinta sejati itu sungguh ada, walaupun kita merasa cinta sejati itu tak ada. Bersabarlah, time will tell!

Kedua, manusia itu bisa teramat serakah, nekat bertindak sejahat apapun demi memenuhi keserakahannya, dan tak mau kalah meskipun salah. Belajarlah pada King Stefan. Coba bayangkan, mengkhianati cinta Maleficent yang telah dibangun bertahun-tahun demi meraih simpati the old king supaya ia diangkat menjadi raja setelah the old king itu mangkat. Khianat yang juga sangat jahat, begitu tega memotong sayap Maleficent, membuat Maleficent tak berdaya. Saat Maleficent balas dendam, bukannya sadar akan kesalahannya, King Stefan malah balik mau balas dendam. Lha, sudah jahat, setelah dijahatin balik, bukannya sadar. Capek, deh! Manusia macam ini sungguh ada! Hihi... serem! Dan, percayalah, tak ada akhir yang indah dari manusia macam ini.

Ketiga, we can't be nice forever. Manusia berhati malaikat itu mana ada sih? Kalau kita dijahatin, pasti kan rasanya tuh pengen balas ngejahatin, atau kalau gak sanggup, didoain yang jelek. Nggak juga? Ya, terus misuh-misuh sendiri, kan?! Hehehe... Rasul aja berperang, kok, melawan kejahatan. Tapi, tentu beda ya, Rasul gak serta merta jadi jahat, kan? Nah, manusia yang dijahatin memang kadang suka jadi jahat juga. Maksudnya ya balas dendam. Inilah, yang katanya khilaf itu. Setelah melakukannya kita sadar kalau hal itu tidak baik. Karena sesungguhnya hati itu fitrahnya bersih, suka dengan kebaikan. Hanya amarah dan pendek pikir saja yang mengubah hati menjadi jahat. So, that's it. Manusiawi! Dalam hidup, kita kadang menjadi hero, kadang bertukar peran menjadi villain. Dengan demikianlah, cerita kehidupan akan terus berlanjut.

Apa lagi, ya? Cukup segitu aja, ah!

No comments:

Post a Comment