Monday, August 11, 2014

Ketika Kamu Berkunjung Ke Rumahku untuk Pertama Kali

"Aku dilamaaarrr..."

Teringat iklan jadul. Hehehe...  Alhamdulillah, hari lamaran itu berlangsung lancar dan damai. Tak ada yang menentang rencana kami. InsyaAllah. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan. Ya, pacar dan kedua orangtuanya cukup sekali datang ke rumah saya di Padang. Bagi keluarga saya, itu tak masalah. Mereka cukup mengerti soal jarak yang cukup menyita waktu dan biaya. Makanya, penentuan tanggal, mau resepsi seperti apa, dalam keluarga saya sudah dibahas sebelum hari lamaran; Rabu, 6 Agustus 2014.

Sekitar jam 9.30 pagi, pacar dan orangtuanya landing di bandara Minangkabau. Pacar sudah menelepon saya sejak itu, berkali-kali misscalled, baru bisa saya jawab lebih 15 menit kemudian. Kakak saya dan suaminya padahal baru berangkat dari rumah buat jemput ke bandara. Untung pacar saya sabar, walaupun di telepon terdengar agak kesal, sih. Maaf ya, kesalahan teknis memang ada di pihak kami. Hehehe...

Mereka tiba di rumah jam 11 kurang. Saya tak ada di depan menyambut mereka, karena saya masih merapikan diri di kamar, baru selesai mandi. Hohoho... Kalau dalam adat saya (Minangkabau), sebenarnya keluarga pihak perempuan yang datang ke rumah pihak laki-laki. Itupun bukan keluarga inti saja, tapi keluarga besar. Calon mempelai perempuan tak ikut, sementara calon mempelai laki-laki juga hanya di dalam kamarnya, tidak bergabung dalam pembahasan lamaran dan penentuan tanggal. Berhubung calon suami saya--bosan sebut 'pacar'--berasal dari Jawa dan keluarga saya juga tak saklek soal adat, jadilah acara lamaran ini seperti pertemuan dua keluarga saja. Saya dan dia juga boleh hadir dalam acara. Nah, berhubung saya telat mandi, saya nggak lihat, deh, bagaimana dia dan kedua orangtuanya membawa lima kotak seserahan. Hehehe... Dikit, ya? Iya, yang nganter juga cuma bertiga. Tapi, tetap Alhamdulilllaah ya.


Awalnya, saya curi dengar mereka masih ngobrol remehtemeh. Saat saya sudah mengambil tempat di ruangan itu, barulah ayahnya calon suami bicara lebih formal. Dengan kata lain, hal-hal yang ditunggu itu dimulai. Melamar. Dari pihak keluarga saya juga sudah hadir Mamak (paman dari pihak ibu) dan kakak perempuan ayah saya. Mamak ini penting hadir sebagai penyambung lidah ke keluarga besar. Karena, ya tadi itu, lamaran kami hanya lamaran sederhana. Keluarga besar yang seharusnya hadir tidak diikutsertakan.

Intinya, lamaran sederhana itu berjalan lancar dan damai. Tanggal pernikahan sudah disetujui. Bahkan, orangtua saya sudah deal dengan wedding organizer, empat hari sebelum hari lamaran. Hehehe... Ya, sebagaimana yang saya bilang, perihal pernikahan sudah dibahas sebelum hari lamaran, malah sejak awal tahun. Acara lamaran hanya jadi formalitas. Sejak acara lamaran itu, soal pernikahan makin intens dibahas. Semoga urusannya lancar sampai hari-H. Nanti saya lanjut lagi, deh, ceritanya. Pegel jempolnya ngetik di HP. Hehehe...


PS: salah satu isi seserahan, boxset Lord of The Ring. Sejak awal Gramedia menerbitkan novel-novel JRR Tolkien ini dalam satu boxset, saya sudah ingin memilikinya. Ternyata rejekinya pas lamaran. Hehehe...

No comments:

Post a Comment