Monday, July 14, 2014

Per-Kain-An

Tiga hari sebelum saya pulang ke Padang, pacar mendadak minta saya beli kain buat isi seserahan lamaran nanti. Kain yang Insya Allah dijadikan bahan buat baju akad nikah. Kalau lamaran diterima. Hahaha... Lamaran nanti sih rencananya bukan acara ribet, hanya pertemuan dua keluarga inti. Mengingat keluarga pacar dan keluarga saya itu terpisah Selat Sunda dan Bukit Barisan. Dari Klaten menuju Padang. Tapi, yang namanya lamaran, mesti ada seserahan juga kan, ya?! Dan, salah satunya, ya itu... kain buat saya. Ini pun juga mendadak dikasih tahu ke saya. Pacar yang kebetulan lagi dinas keluar kota tidak akan sempat ketemu lagi dengan saya, setidaknya sampai hari lamaran nanti, beberapa hari setelah lebaran. Jadilah, saya dititipkan buat beli kain yang mungkin maksudnya biar sesuai dengan selera saya. Namun, saya sendiri masih bingung. Nggak tahu apa-apa tentang persoalan kain ini. Kain apa yang mesti dibeli. Bahan apa yang cocok buat baju nikah. Belinya di mana. Harganya berapa. Akhirnya, ya harus pintar-pintar sendiri. Berhubung saya juga sudah sendiri di Jakarta. Kakak saya sudah pulang kampung duluan. Om Google lah yang menyelamatkan saya dari ketidaktahuan ini.


Waktu saya tinggal dua hari lagi. Besok dan lusa. Sampai detik ini saya memutuskan untuk memusatkan area pencarian kain di Pasar Mayestik. Nggak jauh dari rumah. Di situ juga harga bersaing. Katanya, sebisa mungkin datang pagi jam 9-an biar nggak terlalu ramai. Sudah ada nama beberapa toko yang saya ingat untuk memudahkan pencarian saya, hasil dari baca-baca blog para calon manten yang berburu kain. Hal lain yang perlu diingat adalah jenis bahan kain. Untuk ini, saya harus tahu dulu mau model baju nikah kayak gimana. Browsing deh foto-foto gaun atau kebaya nikah. Dari sini, saya jadi tahu jenis-jenisnya. Ada bahan brokat, satin, sifon, dsb. Dari satu jenis bahan pun juga bercabang-cabang lagi jenisnya. Misal, brokat prancis, brokat semi-prancis, brokat korea, dan saya nggak ketemu yang namanya brokat Indonesia. Hehehe... Setelah cukup yakin dengan model baju nikah yang saya inginkan, diputuskanlah jenis kain apa saja yang akan saya beli nanti. Dan, mudah-mudahan sesuai dengan budget yang dikasih pacar. Setidaknya, malam ini saya sudah punya sedikit wawasan tentang per-kain-an ini, biar nggak bego pas belanja. Karena kalau bego, bisa-bisa ditipu harga. Apalagi, sepertinya, saya juga bakal ke Mayestik sendirian. Huhuhu...


Ya Allah, semoga Engkau lancarkan urusan kami menuju jalan yang lurus, menuju pintu kebaikan nan penuh berkah dunia akhirat. Well, persiapan pernikahan kami tidak seribet kebanyakan orang. Tak ada to-do-list yang harus dicontreng satu per satu sampai bikin stress. Saya dan pacar memang nggak mau ribet dan rempong. Bagai air mengalir saja. Awalnya, hanya omongan saya pada ayah saya, pacar saya mau melamar setelah lebaran. Kami ingin menikah secepatnya. Ya, daripada kelamaan pacaran, kan?! Ayah saya sempat menawar waktu, tapi akhirnya bisa menerima rencana kami. Kami intinya hanya ingin menjadi halal. Akad nikah, itu yang terpenting. Masalah resepsi, saya malah nggak memikirkannya saat ini. Mikirnya setelah proses lamaran nan sederhana nanti saja. Mudah-mudahan, jalan ke titik itu dilancarkan Allah. Aamiin. Bantu doa juga, ya, teman-teman. Daaannn... Sampai ketemu di posting prewed saya selanjutnya! Hehehe...


PS: Saya rencananya nggak mau posting soal-soal prewed di blog. Tapi, begitu ketemu banyak blog cewek-cewek (Nah lho... saya nggak ketemu blog cowok satu pun yang bahas prewed! Tanya kenapa?!), saya jadi kepingin juga. Pernikahan kan sebuah langkah besar dalam hidup. Ya, saya pun ingin seperti cewek-cewek itu, mengabadikan catatan bersejarah ini. Nanti kalau berantem-berantem setelah nikah, tinggal kasih lihat ke pasangan, "Nih, inget perjuangan kita buat nikah!" Hahaha... Nggak segitunya juga kali yaa. 

No comments:

Post a Comment