Thursday, June 26, 2014

Workshop Penulisan Cerpen Kompas 2014

Beberapa minggu lalu, saya mendaftarkan diri ikut seleksi penerimaan peserta workshop penulisan cerpen harian Kompas. Itu pun sudah mepet deadline. Procrastinator! Hehehe... Saya mengirim CV yang cukup unik (seperti yang diharapkan panitia). Bagi saya, unik berarti mencantumkan empat judul cerpen yang pernah ditolak terbit oleh Kompas (memang menerima surat penolakan resmi dari Kompas). Hahaha... Lalu, saya juga lampirkan empat cerpen sebagaimana yang disyaratkan, yakni mengirim 2-4 contoh cerpen. Cerpen-cerpen yang saya kirim pernah saya terbitkan di blog ini; Hujan di Gurun Sahara, Pemilik Rahasia, Tak Berencana, dan Dimensi Tanpa Waktu. Yang pasti, keempat cerpen tersebut memang belum pernah saya kirim ke Kompas. Jadi demikianlah hingga akhirnya pada suatu pagi yang cerah, 25 Juni 2014, saya berangkat dengan riang gembira ke Palmerah Selatan. Yup, saya patut bersyukur, karena termasuk salah satu yang berbakat dan beruntung, bersama dengan 29 peserta lainnya yang lolos dari 380 nama pendaftar. Kini, saya mau berbagi apa-apa saja yang kiranya dapat saya bagi dari hasil workshop kemarin. Apalagi cukup langka saya bisa mendapat kesempatan sekelas bareng Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor. Ya, maestro cerpen tanah air!

Seno bukanlah guru yang membosankan. Ia tidak menampilkan presentasi seperti slideshow di depan kelas ataupun menyuguhkan teori ini-itu. Ia mengajak kami menjelajah pikiran. Membebaskan pikiran. Menemui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari sebuah kejadian. Tetapi, juga perlu dicatat kalau segala yang mungkin itu hendaknya pantas untuk dituliskan. Saya menangkapnya sebagai hal yang memang patut dipikirkan. Cerpen menjadi bermakna karena membuat orang (pembaca) untuk berpikir. Jadi, cerpen itu bukanlah curhat dari penulisnya. Kita harus mematahkan mitos bahwa sastra itu curhat. Namun, tentu saja pengalaman pribadi atau subjektivitas pikiran si penulis boleh menjadi basis pemikiran dalam cerpennya, asalkan syarat lainya terpenuhi.

Kata Seno, cerpen itu seperti cerita sekali tonjok! Cerpen merupakan sepotong suasana, secuil plot, yang menggambarkan sebuah ironi. Bagi Seno, cerpen yang bagus harus ada ironi kehidupan. Cerpenis yang jeli hendaknya bisa menangkap ironi dalam absurditas kehidupan sehari-hari. Dari ironi ini, kita bisa menemukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Berat, ya? Hihihi... Karena itu, menulislah dengan bahasa yang mudah dimengerti. Sastra tidak selalu berbahasa mendayu-dayu, puitis, atau kalimat-kalimat rumit yang membuat kening mengerut. Tapi, kenapa ya, justru banyak karya yang berlabel sastra membikin banyak pembaca mengerutkan kening? Konon, label sastra itu hanya kesepakatan sosial "penguasa". Mungkin, supaya ada yang dipelajari di fakultas sastra. Hahaha...


Peserta Workshop bersama Seno Gumira Ajidarma

Persoalan teknis, Seno tak membahasnya. Sudah banyak buku tentang itu. Kalau mau bacalah semuanya, lalu tutup buku itu, lupakan dan mulailah menulis. Karena yang terpenting dalam menulis cerpen bukanlah soal teknis, tapi imajinasi. Seperti yang telah disebutkan, menjelajah pikiran, membebaskan pikiran. Berimajinasi. Dan, cerpen yang bagus itu hendaknya juga membiarkan pembaca berpartisipasi untuk berimajinasi. Membuat pembaca berpikir. Karena itu, buatlah ending yang menyebabkan pembaca bertanya-tanya. Bukan mempertanyakan ketidaklogisan atau hal-hal absurd dalam cerita. Karena sebenarnya dalam mencipta cerita, logika justru penting untuk menunjukkan hal-hal yang tak logis. Di sinilah dituntut kemampuan penulis untuk meyakinkan pembaca bahwa seabsurd atau se-surealis apapun cerpennya tetaplah cerpen yang bermakna. Cerpen yang memberi kesempatan pembaca bertanya, berpikir, berimajinasi.

Bersama Agus Noor, lain lagi yang dibahas. Penulis diminta untuk menjawab terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan penting bagi penulis. Kenapa menulis? Untuk apa? Lalu, bagaimanakah sikap atau pandangan hidup kita? Karena sikap/pandangan hidup penulisnya yang akan menuntun terciptanya sebuah cerita. Agus Noor menilai kehidupan adalah keganjilan, keanehan. Maka, cerpennya pun tak jauh-jauh dari keganjilan. Agus Noor juga mencontohkan Seno. Kenapa Seno bilang dalam cerpen seharusnya ada ironi? Karena itulah sikap/pandangan hidup Seno. Kehidupan itu ironi. Lalu, bagaimana bagi yang masih galau seperti saya? Teruslah menulis. Lewat proses itu, kita akan menemukan apa sebenarnya sikap/pandangan hidup kita. Sikap/pandangan hidup yang tercermin dalam sebuah cerita merupakan value atau nilai dasar yang jelas dari cerita. Inilah yang disebut orang-orang sebagai moralitas. Nah, moralitas Agus Noor adalah keganjilan, bukan kunang-kunang. Moralitas Seno adalah ironi, bukan senja, Alina, ataupun Sukab. Mengerti sejauh ini? Hahaha....

Kedua maestro tersebut berpesan pada kami dengan cara yang berbeda tapi saya rasa sebelas duabelas sama maksudnya. Kata Seno, santai dan fokus. Kata Agus Noor, terobsesilah dan disiplinlah. Materi workshop dari mereka juga mencakup sedikit pengalaman mereka menjadi cerpenis ternama. Seno mulai mengirim cerpen ke Kompas sejak tahun 1974, tetapi baru dimuat tahun 1978. Agus Noor menyisihkan waktunya secara disiplin 7-9 jam setiap hari untuk obsesi menulisnya; obsesi mengikuti jejak seniornya, Seno Gumira Ajidarma. Waktu selama itu, bisa terpakai untuk menulis, bisa juga membaca. Oh, tentu saja! Jangan lupa, kegiatan menulis tak akan lepas dari kegiatan membaca. Dan, Agus Noor membaca apa saja. Bahkan ide ceritanya banyak bersumber dari bacaan-bacaan non-sastra/non-fiksi. Lalu, jadilah kreatif. Apa itu kreatif? Yaitu mencari hal-hal yang tidak dipikirkan oleh orang lain.

Kegiatan praktiknya dipandu oleh Agus Noor. Ia membagikan satu kartu remi kepada masing-masing peserta workshop. Kami diminta menulis satu kata pada stiker kosong yang ditempel pada halaman kartu remi. Setelah itu, semua kartu dikumpulkan kembali. Dikocok dan kami memilih tiga kartu remi. Sementara, angka yang terdapat pada kartu dijumlahkan sebagai waktu yang dibutuhkan untuk menuliskan ide cerita. Dari tiga kata itu saja, kami bisa menuliskan ide cerita utuh. Jadi, tak ada alasan kehabisan inspirasi!

Sesi terakhir workshop dipandu oleh Putu Fajar Arcana, editor Kompas Minggu yang tentunya ikut menyeleksi cerpen-cerpen yang masuk ke harian Kompas. Ternyata kompetisinya memang berat. Setiap tahun, ada sekitar 4000-an cerpen yang menghujani meja redaksi Kompas. Tetapi, tempat yang tersedia hanya untuk 52 cerpen; satu dalam tiap minggu selama setahun. Untuk bisa lolos tampil di harian Kompas, setidaknya cerpen kita bakal dibaca oleh editor, perhatikanlah ejaan dan tata bahasa. Kata Bli Can, jangan sampai menulis salah eja apalagi pada paragraf pertama. Itu tandanya penulis sendiri tidak menghargai tulisannya, bagaimana orang lain akan menghargai? Ya, kan?! Lalu, Bli Can juga menyampaikan bahwa pilihan cerpen Kompas itu adalah cerpen-cerpen yang bisa mengajak kita melihat problem-problem kultural di daerah, yang langka, yang tak banyak diketahui tapi terjadi. Bagaimana? Berminat mengirim cerpen ke Kompas? Silakan! Hehehe...

Banyak sekali yang sepertinya luput saya sampaikan di sini. Mungkin, juga ada kekhilafan makna yang saya tangkap dari penjelasan Seno, Agus Noor dan Bli Can. Tentu ini kesalahan saya jika ada. Untuk itu, mohon maaf. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang ingin workshop tapi tak kesampaian, juga bagi pembaca lain yang ingin menjadi cerpenis. Dan, semoga ini tidak saja sebatas oleh-oleh workshop dari saya. Semoga bisa sebagai pengingat bahwa saya pernah ingin menjadi cerpenis yang karya-karyanya diterbitkan Kompas atau koran lainnya. Entah akan menjelma nyata atau tidak... Siapa yang tahu?! Hehehe....

4 comments:

  1. Vira, terima kasih resume pelatihannya. Serasa hadir....:)

    ReplyDelete
  2. Wah keren ini, bisa baca sedikit review worksop cerpen kompas. Jadi penting bagi yang tidak ikut,bisa baca ini hehe

    ReplyDelete