Friday, June 27, 2014

Preview Al Dente

Penulis: Helvira Hasan
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: viii + 256 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-731-2
Harga: Rp46.000,-
Blurb (sinopsis pada sampul belakang):

Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.
Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan.
Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan?
Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku.
Usah sisipkan kata cinta di dalamnya.
Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

***

Bab 1

          Semua yang kudapatkan selalu apa yang kuinginkan, kecuali Ben. Aku tak pernah menginginkan Ben menjadi suami ku. Tapi, kupikir lagi, tak begitu penting apa yang kuinginkan. Tepatnya, siapa yang kuinginkan. Tangan yang lebih kuasa telah menunjuk Ben menjadi suamiku. Dan, kupikir… tak ada salahnya. Yang penting adalah apa yang harus kulakukan dengan apa, atau siapa, yang telah ku dapatkan saat ini.
          “Kalau begitu, aku akan memasak pasta spesial untukmu tiap bulan, tiap tanggal pernikahan kita!” cetus Ben tiba-tiba setelah kami terdiam cukup lama karena kehabisan kata-kata. Obrolan kami sebelumnya mengenai makanan kesukaan kami masing-masing kembali dibahas.
          Langkahku pun mendadak terhenti. Seraya menelengkan kepala, kupandangi lelaki yang sebelah tangannya sedang kugenggam. Mataku memicing karena menantang matahari senja di belakang Ben.
          “Emang kamu bisa masak?” tanyaku semringah.
          “Bisa belajar. Hmm, bagaimana kalau tiap minggu?” tantang Ben.
          Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kurasakan lidah ombak kembali menjilat kakiku yang telanjang. Aku menunduk. Mataku tertuju pada bintang laut yang terdampar, sebagian tubuhnya tertutup pasir putih. Aku melepas tanganku dari tangan Ben. Memungut makhluk malang itu.
          “Demi bintang laut ini, berjanjilah kamu akan memasak pasta untukku tiap bulan, pada tanggal yang sama dengan tanggal pernikahan kita.”
          “Janji!” balas Ben mantap, tangannya ikut menyentuh sang bintang laut.
          “Gombalan pertamamu sebagai suamiku!” ledekku.
          Ben tertawa. Ia berpaling memandang laut biru yang bergelombang kecil-kecil mengejar bibir pantai. Bias semburat jingga menerpa kedua pipinya. Ben tampak bercahaya. Ben tampak… bahagia.
          “Sebenarnya, bukan karena ‘ya-suka-aja’ aku jadi suka pasta.”
          “Hmm…,” gumam Ben.
          “Mungkin, kamu sudah lupa kejadiannya. Sudah lewat belasan tahun. Waktu aku sering main ke rumahmu. Ibumu baru pulang dari supermarket. Tiba-tiba, kamu muncul dan minta dimasakin nasi goreng. Aku yang saat itu melihat barang belanjaan Tante Lita—”
          “Bunda,” potong Ben sambil tersenyum, mengingatkanku bahwa Tante Jelita telah menjadi ibu mertuaku. “Belanjaan Bunda…,” ralatku. “Ada sebungkus spageti kering.” Aku ikut tersenyum. “Aku jadi pengin bikin kamu kesal. Aku desak Bunda supaya masak spageti aja. Kamu nggak mau kalah. Aku bahkan pura-pura sedih kalau Bunda menolak, dan kamu… bersikeras. Akhirnya, Bunda mau masak spageti. Kan, pesan Bunda, mesti ngalah sama yang lebih kecil. Aku tahu kamu kesal banget waktu itu.” Aku cekikikan. “Hmm, itu spageti terlezat pertamaku. Sejak itu, aku jadi suka pasta.”
          “Yakin karena lezat? Bukan karena kamu berhasil bikin aku kesal dengan pasta?” balas Ben. Sebelah tangannya merangkul pundakku.
          Aku melirik Ben. “Mungkin, rasa kesalmu yang bikin pasta itu jadi enak banget.”
          “Argh…,” gerutu Ben seraya mengacak rambutku.
          “Kayaknya batal, nih, janjinya,” godaku.
          “Nggak, dong! Karena aku juga bakal bikin kamu kesal!”
          Tanpa bisa mengelak, aku terpaku lama. Ben telah mendaratkan bibirnya di bibirku. Kedua tanganku yang tadinya menggantung pasrah, pelan-pelan berpindah merangkul pinggang Ben. Senja pertama kami di Lombok telah menjadi saksi ciuman pertamaku. Lalu…, aku terbatuk.
          Ben melepaskan ciumannya. Ia tertawa. Kedua pipiku rasanya panas. Aku tertunduk. Ben mengangkat daguku. Tawa nya reda, berganti senyum manis. Pancaran matanya seakan menggoda. Aku tahu apa yang harus kulakukan dengan seorang lelaki tampan di hadapanku, setidaknya malam ini.
          Aku dan Ben kembali berjalan menyusuri pantai, mendekati jalan setapak menuju hotel tempat kami menginap. Lagi, kami terdiam, kehabisan kata-kata. Ben memang tak pernah kuinginkan menjadi suamiku. Namun, langit senja juga tak pernah menginginkan semburat jingga. Tangan yang lebih kuasa-lah yang menggambarkan semburat jingga di langit senja.
          Mungkinkah Ben memang semburat jingga itu… di langit senjaku?

***

Bab 2

???

Beli novel Al Dente di toko buku favoritmu. 
Bacalah hingga halaman terakhir. 

Lalu, sapa penulisnya @veecla di Twitter!

See you, my readers to be! 

^_^

3 comments:

  1. kenapa dia gak menginginkan ben? terus kenapa mereka menikah? :| kak, kasi spoiler dong XD

    ReplyDelete