Friday, June 27, 2014

Al Dente: Sebuah Roman dengan Sentuhan Filosofis tentang Pasta

Saya sedang senang, tapi juga harap-harap cemas. Al Dente, novel debut saya, baru saja rilis dalam minggu ini. Belum tujuh hari berlalu sejak kehadirannya di toko-toko buku, termasuk toko buku online. Sejak saya menerima bukti cetak Al Dente sebanyak 10 eksemplar, saya pun membagi-bagikannya kepada orang-orang beruntung yang mememangkan kuis yang saya adakan, tentu juga kepada orang-orang yang memenangkan hati saya hingga saya ikhlas memberikan Al Dente dengan gratis. Masih, saya sedang senang, tapi juga harap-harap cemas dengan nasib anak yang baru saja saya lahirkan tapi sudah lepas mengembara ke penjuru negeri. 

Tak banyak yang tahu, sekitar dua tahun lalu saya "menikah" dengan sebuah ide yang turun begitu saja dari langit, menghinggapi benak saya. Pergumulan antara ide dengan pikiran saya pun terjadi dengan sepenuh perasaan. Pergumulan yang akhirnya membentuk janin dalam rahim bernama Microsoft Word. Hingga tiba saatnya--pada waktu yang tepat--janin itu dilahirkan, dibantu oleh dokter SpOG bernama Gagas Media. Bayi yang lantas saya beri nama Al Dente kini bertaruh nasib. Nongkrong di toko-toko buku, menunggu jodoh yang akan membacanya. Al Dente, saya yakin, siap untuk bertumbuh dengan segala risiko dunia; puji dan caci. Jadi, memang, saya sedang senang, tapi juga harap-harap cemas.

Saya tak tahu dengan benar bagaimana cara menjual. Tapi, biarlah saya coba untuk menampilkan secuil karya saya, yang barangkali, akan menarik minat pembaca untuk membelinya. Berikut ini adalah blurb novel:

Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.
Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.
Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan.
Kau bukanlah orang yang kuharapkan.
Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan?
Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.
Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku.
Usah sisipkan kata cinta di dalamnya.
Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

Kalau membaca blurb saja, mungkin tak akan banyak yang tahu kalau "aku" sebenarnya ingin meninggalkan suaminya. Iya, cerita Al Dente tentang pasangan yang baru menikah. Ada tokoh bernama Cynara yang sangat menyukai masakan pasta; spageti, fusili, makaroni, dsb. Al Dente, sebuah pujian khas Italia, untuk pasta yang dimasak dengan konsistensi kekenyalan yang pas. Sebuah penanda bahwa pasta telah dimasak dalam waktu yang tepat. Lalu, apa hubungannya dengan isi cerita? Saya pikir, sebaiknya, langsung baca saja ceritanya. Tapi, tenanglah, cerita ini bukan "foodlit". Cerita ini tetaplah sebuah roman, yang mengisahkan perjalanan dua insan menuju satu cinta. Tentunya, dengan sentuhan filosofis tentang pasta. Tentang Al Dente.

Penulis: Helvira Hasan
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: viii + 256 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-731-2
Harga: Rp46.000,-

Selamat menikmati Al Dente!

Salam,

Helvira Hasan
nama pena baru saya.

3 comments: