Thursday, May 22, 2014

Tentang Kebahagiaan

Apa yang bisa membuatmu bahagia?

Menyecap es krim sambil duduk di jok belakang mobil Mercedes yang disetir oleh seorang supirmu?

Bisa jalan-jalan keliling dunia, meskipun dengan cara backpacker?

Melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya? Mendapat beasiswa ke luar negeri? Menjadi ilmuwan? Berbakti pada nusa dan bangsa?

Atau, menjadi apa pun selama orangtuamu meridhoi dan mereka berbahagia karenanya?

Bahagia juga bisa karena menikah dengan orang yang kamu cintai sepenuh hati, lalu juga memiliki karir cemerlang? Punya anak-anak yang sehat dan pintar?

Segala sesuatunya, apalagi yang sering kita lihat di media sosial, pada umumnya adalah gambaran di atas. Singkat kata, gambaran kebahagiaan. Apapun impianmu, harapanmu, keinginanmu, selama itu akhirnya tercapai, kamu akan merasakan kebahagiaan.

Mungkin Leo Tolstoy, di alam sana, perlu mengkaji ulang tulisannya dalam karyanya Anna Karenina.
"All happy families resemble one another, each unhappy family is unhappy in its own way."

Semua keluarga yang bahagia itu satu sama lain serupa, sementara keluarga yang tak bahagia merasa tak bahagia dengan caranya tersendiri. Kira-kira begitu kalau saya artikan. Mungkin Tolstoy ada benarnya, keluarga bahagia itu tampak serupa. Hidup layak, berkecukupan, saling mengasihi. Tetapi, ini hanya gambaran umum. Tidakkah setiap keluarga punya visi misi tersendiri? Yang berbeda satu sama lain? Hanya dengan tercapainya visi misi itu yang bisa membuat keluarga tersebut berbahagia. Begitu pula dengan satu individu. Masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk berbahagia.

Seorang penulis traveling, Eric Weiner, pernah menyitir kutipan Tolstoy itu ke dalam bukunya The Geography of Bliss dengan pandangan yang berbeda. Lewat pengalamannya mengunjungi banyak negara untuk mencari negara paling berbahagia, Eric berpendapat bahwa, "Semua negara yang menderita mirip satu sama lain, negara-negara yang bahagia merasakan kebahagiaan dengan caranya sendiri-sendiri." Ternyata dari tiap negara yang ia kunjungi, ia menemukan bahwa definisi bahagia dari tiap negara (tentunya diwakili oleh warga negara) itu berbeda. Kalau ada banyak jalan menuju Roma, maka ada banyak jalan juga menuju kebahagiaan.

Dan, barangkali... jalan menuju kebahagiaan itu sangat sederhana, yakni...
...RASA SYUKUR. 
Bersyukur dengan segala yang kita miliki saat ini.

2 comments:

  1. Bahagia itu melakukan perbuatan yang memberikan keuntungan bagi kita setelah kematian.

    ReplyDelete