Friday, May 30, 2014

Review: (Bukan) Salah Waktu



Nastiti Denny telah dikenal sebagai penulis cerpen dalam buku-buku antologi yang luar biasa. Kali ini, Nastiti berhasil menjadi pemenang naskah pilihan dari lomba menulis novel Bentang Pustaka dengan tema Wanita Dalam Cerita. Dalam novel debutnya, saya menemukan penuturan cerita yang sangat runut dan rapi. Tapi begitu mendekati ending, cerita menjadi terpotong-potong. Pada beberapa bagian, narasi terlalu panjang, deskripsi juga terlalu detail, yang mana ini bukanlah selera saya. Saya selalu geli tiap baca sentimenter atau kilogram yang menggambarkan fisik tokoh. Ya, ini hanya masalah selera.

Konflik utama cerita ini adalah terkuaknya masa lalu sepasang suami istri, Sekar dan Prabu. Tetapi, menurut saya, penyelesaiannya malah lari ke tokoh-tokoh lain. Tidak adanya penyelesaian yang personal antara Sekar dan Prabu membuat konflik besar dalam cerita ini seakan-akan tidak pernah terjadi. Setelah dua tahun menikah, entah bagaimana bisa masa lalu Sekar dirahasiakan begitu rapat dan itu juga membutuhkan kerjasama dengan orangtua Sekar. Tapi, rahasia itu malah terbuka dari orangtua Sekar. Setelah konflik yang didera Prabu ini, saya menunggu penyelesaian antara mereka. Tapi, yang terjadi malah munculnya konflik lain dan Prabu tampak sudah lupa begitu saja dengan permasalahan soal rahasia Sekar. Begitu pula ketika konflik lain itu muncul, yaitu masa lalu Prabu yang diketahui oleh Sekar, penyelesaiannya malah Prabu lebih berurusan dengan Laras. Sekar juga malah lari ke rumah ibunya. Lalu, entah kenapa mendekati ending, hanya kemunculan Wira yang seolah-olah sudah menyelesaikan semua permasalahan suami istri tersebut. Bagaimana dengan rahasia Sekar? Bagaimana dengan masa lalu Prabu? Bagaimana dengan pertikaian Prabu dan Bram yang sampai jontok-jontokan itu? Apakah tidak membuat kedua suami istri itu bicara dari hati ke hati? Sebagai pembaca, saya mengharapkan adegan ini. Tapi, tidak ada. Romansa/chemistry antara Prabu dan Sekar menjadi tidak terasa. Justru romansa ini sedikit terasa pas hubungan Sekar dan Bram. Penyelesaian masalah Sekar dengan Miranda yang sahabatnya dan kekasih Bram juga mengambang.

Saya juga menemukan salah ketik atau ketidaktelitian penulis/pembaca pertama/editor. Awalnya disebut Pak Toni itu direktur perusahaan minyak (hal 13), lalu disebut juga ia punya jabatan penting di badan pertanahan (107). Bagaimana bisa? Lalu, Sekar yang menunggu sekian puluh tahun untuk mendapat jawaban perihal Mbok Ijah. Apakah masa kuliahnya di Yogyakarta sudah lewat puluh tahun? (hal 133)

Menurut saya, jika karya ini dibaca lagi oleh penulisnya, dan editornya juga teliti memberi masukan-masukan, lalu ditulis ulang sedemikian rupa, karya ini akan lebih baik. Karena cara tutur penulisnya sudah baik dan tema yang diangkat juga cukup bagus. Apalagi dengan cover gambar jam, keterangan waktu berupa jam sekian yang sering muncul dalam narasi di awal hingga pertengahan cerita sebaiknya juga diteruskan hingga akhir cerita. Supaya bisa ada koneksi plus dengan judul dan cover.

Tak ada cerita yang ditulis menjadi sia-sia. (Bukan) Salah Waktu setidaknya telah menyuguhkan pesannya kepada kita. Jangan ada rahasia di antara kita; suami istri. Dan...

"Cinta terkadang memang sesederhana memaafkan masa lalu..." (hal 244)


Thursday, May 22, 2014

Tentang Kebahagiaan

Apa yang bisa membuatmu bahagia?

Menyecap es krim sambil duduk di jok belakang mobil Mercedes yang disetir oleh seorang supirmu?

Bisa jalan-jalan keliling dunia, meskipun dengan cara backpacker?

Melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya? Mendapat beasiswa ke luar negeri? Menjadi ilmuwan? Berbakti pada nusa dan bangsa?

Atau, menjadi apa pun selama orangtuamu meridhoi dan mereka berbahagia karenanya?

Bahagia juga bisa karena menikah dengan orang yang kamu cintai sepenuh hati, lalu juga memiliki karir cemerlang? Punya anak-anak yang sehat dan pintar?

Segala sesuatunya, apalagi yang sering kita lihat di media sosial, pada umumnya adalah gambaran di atas. Singkat kata, gambaran kebahagiaan. Apapun impianmu, harapanmu, keinginanmu, selama itu akhirnya tercapai, kamu akan merasakan kebahagiaan.

Mungkin Leo Tolstoy, di alam sana, perlu mengkaji ulang tulisannya dalam karyanya Anna Karenina.

Tuesday, May 20, 2014

Ucapan Terima Kasih



Kapan terakhir kali kamu menulis ucapan terima kasih? Kalau kamu pernah wisuda, minimal menjadi sarjana, pasti pernah menulis ucapan terima kasih, sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan kamu menyelesaikan karya tulis ilmiah berupa skripsi. I have done it, too. Years ago. Dan, apakah saya masih ingat kepada siapa-siapa saja saya berterima kasih? Yang pasti, nama orangtua dan keluarga, serta nama dosen pembimbing tak akan terlewat begitu saja. Terutama lagi, kalau kita memiliki keyakinan tertentu, nama Tuhan pun tak luput ditulis. Lalu, siapa selebihnya? Masih ingat?

Ucapan terima kasih dalam skripsi, tesis, disertasi, dan buku lainnya, umumnya dibatasi jumlah halaman. Apakah ini ketentuan baku, saya tak begitu tahu. Dalam satu atau dua halaman, kita akan menuliskan nama-nama orang yang telah membantu kita, khususnya yang membantu dalam pencapaian kita tersebut. Tuhan yang telah memberi berkah kelulusan, orangtua dan keluarga yang telah memanjatkan doa, para dosen yang telah membagi ilmu, dan, mungkin, teman-teman seperjuangan yang menyemangati. Kalau ada pacar, nama pacarnya pun tak lupa ditulis, atas perhatian yang tak kurang ketika kita malah mengurangi perhatian kepadanya. Hehehe... Bukan curcol, kok!