Thursday, March 13, 2014

Tega, tega, tega!

Kabarnya, kabut asap di Provinsi Riau dan Sumatra Barat--kampuang nan jauah di mato--kian tebal dan sangat mengganggu pernapasan dan kelancaran beraktifitas. Di Facebook, saya ketemu foto titik-titik api di wilayah itu. Titik-titik api yang menjadi pertanda titik-titik keserakahan manusia. Manusia-manusia yang tidak memedulikan ekosistem, lingkungan, alam, satwa liar yang menghuni hutan tapi malah dibakar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Semua itu untuk apa? Demi pemenuhan keserakahan mereka akan uang, uang dan uang yang tak berbatas. Semakin menumpuk uang, semakin mereka serakah.
Apa yang harus saya lakukan? Saya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya berharap kabut asap mereda. Masyarakat sana telah menggelar sholat istisqa' meminta hujan turun menghalau kabut. Lantas, pejabat yang berwenang ngapain? Entahlah...

Hari ini, saya juga membaca berita di portal online, seorang pemulung perempuan digelandang Satpol PP dengan kasar, yang begitu sedih karena harus berpisah dengan anjing peliharaannya, anjing yang setia menemaninya bekerja memulung sampah. Dari hasil pekerjaannya itu, sang pemulung telah mengumpulkan uang hingga 17 juta rupiah. Uang hasil jerih memulung itu ingin digunakan untuk membangun rumah untuk tinggal bersama anjingnya. Tapi, apa daya, entah uang itu masih ada di tangannya atau tidak, sang pemulung telah dipaksa menghuni panti sosial milik pemerintah, karena dibawa paksa oleh Satpol PP. Di sana pun, pemulung dipaksa dipotong pendek rambutnya seperti lelaki. Manusia yang berusaha bertahan hidup dengan cara yang halal, tidak mengemis, tidak memalak, malah membantu membersihkan sampah-sampah, mempunyai kesadaran menyayangi binatang itu, tak tahu harus berbuat apa lagi demi bertemu dengan anjingnya.


Apa yang bisa saya lakukan untuk pemulung itu? Tidak ada. Saya hanya bisa komplain kenapa dia diperlakukan kasar oleh Satpol PP dan petugas dinas sosial. Mungkin mereka jengah, karena pemulung ini terus merengek ingin menjemput anjingnya. Ah, entahlah....
Belum lama ini, juga tersiar berita seorang bapak muda yang bangga telah menembak kepala anak kucing dengan senapan koleksinya. Foto anak kucing yang mati lantas diunggah ke media sosial, yang menjadi bumerangnya sendiri. Ternyata bukan hanya satu, tapi telah beberapa kucing kampung yang menjadi korban kebiadabannya. Berdalih kucing itu sering mencuri makanan, populasinya kebanyakan di tempatnya, bahkan kucing itu berani tidur di atas pakaian anaknya, ia merasa "criminal cat" itu pantas dibantai dengan hunusan pelurunya. Sungguh, dialah yang memiliki "criminal mind", tak punya hati, perasaan welas asih hingga ia merasa bangga dengan perbuatannya.

Kenapa sepertinya manusia-manusia semakin tega kepada sesamanya? Manusia berduit tega membakar hutan demi duit, duit dan duit. Manusia kelas bawah tega bersikap kasar pada manusia yang dipikirnya lebih rendah darinya. Manusia kelas "menengah ngehek" tega menembak kepala kucing, binatang kesayangan nabi suatu umat. Kekejaman, kekejian, brutalitas, kian marak terjadi di atas bumi ini. Untuk pemenuhan entah apa yang tak saya mengerti kenapa harus dituruti.

Apa yang harus saya lakukan? Saya tak tahu. Saya hanya bisa mencatat kejadian-kejadian itu. Entah untuk apa. Mungkin, juga untuk suatu pemenuhan yang entah apa. Ah, entah!

No comments:

Post a Comment