Friday, March 14, 2014

Sempurna Dalam Ketidaksempurnaan

Aku jauh dari sempurna, bahkan ketika dulu aku begitu ingin mengejar kesempurnaan.

Aku ingin menjadi anak terpintar di antara teman-temanku. Tapi, kemudian, aku sadari aku tercipta dengan IQ di bawah Einstein. Ternyata, banyak anak yang lebih pintar daripada aku.

Aku ingin menjadi gadis tercantik menurut standar penilaian produk-produk perempuan. Tapi, kemudian, aku sadari genetik tubuhku tak mendukung untuk itu. Ternyata, aku tetaplah gadis cantik, mesikpun banyak gadis yang lebih cantik karena sesuai dengan standar yang berlaku.

Aku ingin menjadi manusia multi-talenta. Kucoba segala hal yang menarik perhatianku. Aku berlatih biola, berharap aku akan mahir memainkannya. Aku ikut bermain basket, supaya bisa menjadi atlet seperti kakakku. Aku mencoba menulis cerita, bermimpi aku akan menerbitkan buku sendiri. Aku belajar bahasa Prancis, karena satu bahasa asing tak cukup memenuhi hasrat kesempurnaanku. Aku mengejar cita-cita yang diidamkan banyak orang, karena itu akan menambah prestiseku.


Namun, kemudian, multi-talenta itu hanya lamunan. Aku bertumbuh menjadi seorang yang pemalas, tak bergiat mencapainya. Aku hanya ingin, ingin dan ingin. Tapi, di tengah jalan, ketika kutemui halangan, aku menyerah. Komitmenku terhadap segala pilihanku terputus begitu saja.

Biola sudah kumuseumkan. Basket sudah jauh hari kutinggalkan. Bahasa Prancis tak pernah kupelajari lagi. Mimpi menjadi penulis pun akan kusudahi. Hanya cita-cita akan prestise yang masih bertahan, karena pengorbanan orangtuaku telah terlalu besar untuk itu. Ternyata, aku bukanlah manusia multi-talenta.
Lantas, apakah karena aku tak bisa menjadi apa yang kuinginkan aku tidak sempurna? Kecerdasanku memang tak sempurna. Kecantikanku memang tak sempurna. Talentaku tak sempurna. Bahkan, hatiku, jiwaku, naluriku, nuraniku, moralku, mentalku, juga jauh dari sempurna.

Inilah aku sebagai manusia biasa. Dan, ternyata, kusadari bahwa sebagai manusia biasa, diriku ini sesungguhnya sempurna. Karena aku menyadari ketidaksempurnaan yang ada dalam diriku.

We're perfect because we're imperfect.

No comments:

Post a Comment