Wednesday, March 12, 2014

Pekerjaan Menunggu

Banyak yang bilang kalau menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia akhirat. Hmm, di akhirat nanti antrian panjang banget, kan?? Hehehe... Baiklah, saya akan perkecil lingkup racauan malam ini. Menunggu sebagai bagian dari pekerjaan seorang penulis. Sebenarnya, saya lebih suka menyebutnya pengarang, sebutan khusus untuk penulis fiksi. Tapi, dalam tulisan ini saya akan tetap memakai istilah penulis. Karena yang ingin dan/atau yang sudah menerbitkan buku tidak hanya pengarang.

Awal saya "berkenalan" dengan penerbit X--yang akan menerbitkan naskah novel perdana saya--sudah cukup lama, dua tahun yang lalu. Tepat dua tahun. Ketika penerbit X mengadakan seleksi peserta kelas menulis kreatif. Supaya lolos seleksi, saya harus memenuhi "syarat dan ketentuan yang berlaku", yaitu sinopsis, outline dan bab pertama dari novel yang ingin saya tulis. Kesemua itu dikirim lewat email. Setelah menunggu sekitar satu bulan, keluarlah pengumuman peserta yang lolos. Salah satunya, saya. Alhamdulillaah.

Pada hari kelas menulis kreatif berlangsung, saya--dan belasan peserta lain--cukup bersemangat. Kami, ternyata, punya peluang menjadi penulis di penerbit itu. Tentu, jika calon naskah kami yang lolos seleksi itu bisa diselesaikan. This is my chance, begitulah pembakar semangat saya saat itu. Saya si indie writer yang ingin menembus penerbit major. Setelah hari itu, kurang dari dua bulan kemudian, naskah selesai saya tulis. Naskah pun saya kirim ke email seorang editor yang menjadi mentor kelompok saya di kelas menulis. Saya tak mendapat balasan. Sebulan saya tunggu kabarnya. Saya, akhirnya, "nyolek" editor ini lewat Twitter. Ternyata, oh, ternyata... Editor tersebut menyatakan telah resign dari penerbit X. Tapi, dia bilang, naskah saya akan dioper ke editor lain. Kepada editor baru ini, saya menanyakan kabar naskah saya lewat email dan Twitter yang keduanya tidak berbalas.


Waktu terus bergulir... Saya masih berharap, naskah yang saya usahakan untuk penerbit ini akan menemukan titik terang. Hingga akhir tahun, tepatnya Desember 2012, saya nekat komplain ke pimred penerbit lewat Twitter. I was sooo blessed. She's definitely kind, langsung nyamperin editor yang tak balas email dan Twitter saya dulu. Hehehe... Maaf, ya, Mbak, jadi disebut-sebut. Aku mengerti, kok, mungkin saat itu kamu sedang sibuk, dan kamu pusing ada nama baru yang menanyakan naskah padamu. Hohoho.... Jadi, bayangkanlah, sejak Maret mulai ikut seleksi, April ikut kelas, lalu mulai menulis, hingga baru pada Desember saya mendapat konfirmasi naskah saya sudah masuk dan diterima, dalam artian belum dibaca sama sekali. Lama, ya, menunggunya?!

Lalu, apakah setelah itu prosesnya lancar-lancar saja? Relatif. Yang pasti, sebagai penulis si naskah, saya masih harus menunggu. Mendekati akhir Januari, saya menerima catatan dari editor. Naskah saya akan diterbitkan dengan revisi. Senang, tentu saja. Kan memang ini yang saya harapkan?! Revisinya juga saya harapkan. Karena ini pertama kalinya saya berhasil menulis novel sampai selesai, sampai saya menulis kata 'tamat'. Saya masih butuh banyak bimbingan. Untunglah, editor memberi masukan yang membangun untuk naskah ini. Dalam dua minggu, saya menyelesaikan revisinya.

Masih menunggu? Tentu! Tujuh bulan kemudian, akhirnya, saya bertatap muka lagi dengan Mbak Editor. Masih ada revisi. Baiklah, saya mengerti. Maka, saya menulis ulang naskah. Dua minggu kemudian, saya kirim hasilnya via email. Lalu, sekitar empat bulan menunggu, editor mengirim catatan revisi lagi. Oke, saya paham. Menulis ulang ketiga kalinya, tak masalah. Toh, selesai juga. Saya telah kirim hasilnya kemarin via email. Hari ini, saya juga sudah terima balasannya dari sang editor.

Apa lagi yang harus saya lakukan sekarang?
Apa lagi kalau bukan menunggu?!
Apakah kamu bisa sesabar penulis yang menunggu karyanya bisa diterbitkan suatu saat nanti?

No comments:

Post a Comment