Thursday, March 6, 2014

Ngulek, Yuk!

Sambel. S-A-M-B-E-L. Kata bakunya, sih, "sambal". Kalau dalam Bahasa Minang, disebut "samba balado". Ditambah "balado", karena kalau kata "samba" doang artinya lauk. Pada umumnya, makanan orang Minang itu selalu ada sambelnya. Tapi, tidak semua orang Minang suka makanan pedas ini. Nah, kalau saya yang 100% asli berdarah Minang, sangat suka sambel. Biasanya kalau di rumah makan Padang, tuh, ada samba balado merah dan hijau. Yang merah dimasak dari cabe keriting merah. Sementara, yang hijau dimasak dari cabe keriting muda, yang masih hijau itu. Orang-orang mungkin sudah menganggap sambal balado dari Padang ini rasanya pedas. Tapi, nggak, lho! Menurut lidah Minang saya. Hehehe... Kenyataannya, sambal dari Padang ini memang nggak terlalu pedas, kok, dibandingkan cabe rawit. Cabe kecil-kecil gendut yang warnanya dari hijau muda, oranye, sampai merah menyala.

Dekat tempat tinggal saya di Jakarta ini, ada tempat makan kaki lima yang buka tiap malam dan itu selaluuu... ramai! Lokasinya yang strategis di perempatan dan di depan Seven Eleven, mungkin memengaruhi jumlah pengunjungnya. Tapi, tempat makan yang menyediakan bermacam lauk goreng (ayam, bebek, aneka makanan laut, tempe, tahu, pete, jengkol, dll) mempunyai sambal khas, yang dinamai sambel setan. Saya jadi langganan tempat makan ini gara-gara sambelnya itu. Pedes banget banget banget! Makannya bisa sampai keringatan, tapi tetap nafsu makan.

Sambelnya diulek di sana, jadi bukan sambel sudah jadi yang mereka siapkan sebelum membuka lapak. Dalam semalam, mereka bisa mengulek sambel berkali-kali. Dalam sekali ulek juga dalam jumlah banyak. Nah, sambelnya itu diulek dari cabe rawit yang saya sebut di atas. Cabe kecil-kecil gendut yang warnanya dari hijau muda, oranye, sampai merah menyala. Bukan cabe rawit yang biasa buat makan gorengan. Katanya, sih, namanya cabe jawa. Pokoknya, cuma yang suka pedas saja yang bakal sanggup makan pakai sambel setan.

Tak jauh dari rumah juga, ada yang jual masakan serba ayam plus sambel khasnya masing-masing. Nah, saya coba juga, tuh. Saya pilih, deh, yang menunya ayam goreng penyet. Pas saya lihat, sambelnya ternyata diulek dari cabe yang sama dengan sambel setan. Wah, pasti pedes, nih! Pas dicoba memang pedes, tapi nggak sepedas sambel setan. Kok bisa? Entahlah! Mungkin ada rahasia perusahaan di balik ulekan masing-masing.

Akhirnya, saking sukanya yang namanya sambel--apalah rasanya makan tanpa sambel bagai apalah arti hidup tanpamu--saya pun mencoba meracik sambel pedes ulekan saya sendiri. Kebetulan ke Carrefour, saya beli cabe rawit jawa itu. Karena resep yang tahu cuma sambel penyet, ya diulek jadi sambel penyet, deh. Hanya ditambah beberapa siung bawang putih dan garam. Setelah itu, disiram minyak goreng panas. Pas dicoba... euhhh... pedes gilaaa! Tapi, rasanya, kok, beda dari sambel penyet yang biasa saya beli. Oh, iya, saya kan nggak pakai micin alias MSG. Ya, hambar-hambar pedas doang, deh! Hehehe...

Saya nggak kapok ngulek sambel sendiri lagi, walaupun tangan habis ngulek jadi berdenyut panas. Pas mampir pasar tradisional dekat rumah, lagi lagi saya beli cabe rawit jawa. Ulek lagi. Kali ini, tambah gula juga dikit. Kalau kata kakak saya biar gurih. Hasilnya? Sama saja, tapi memang lumayanlah daripada percobaan pertama. Pas ketemu lagi itu cabe di Carrefour, (ternyata lebih murah dibanding beli di pasar, mungkin karena saya nggak nawar dulu) beli lagi! Kali ini lebih banyak, sampai seperempat kilo. Saya sisihkan tuh sebagian. Nah, ulekan yang ketiga ini, bumbunya masih sama. Tapi, masaknya nggak sekadar disiram minyak goreng panas. Jadi, langsung saja saya goreng. Dan, tetap, pedesnya nggak berkurang!

Nah, tadi habis magrib, saya ngulek lagi buat sambel penyet baru. Sisa cabe sebelumnya yang sebenarnya bisa buat dua kali ulekan, sekalian semuanya saya ulek. Kali ini, saya rebus dulu cabenya. Kalau nggak salah, biar pedesnya berkurang dikit. Baru, deh, saya ulek dengan bahan-bahan seperti biasa. Tapi, yang ini sengaja saya tambah Royco. Hahaha... Dimasaknya juga digoreng. Voila! Sambel penyet jadi, deh! Bisa dimakan buat berhari-hari, nih! Jangan lupa masukin kulkas! Sampai saya foto segala, lho! Hehehe....



Lho, kok, ada dua sambel? Mana yang sambel penyet? Sambel penyet yang warnanya lebih terang, oranye. Kalau yang merah itu, yang ditaburi bawang goreng, itu sambel merah ala Padang atau samba balado. Dibuat dari cabe keriting merah. Nggak perlu diulek tangan, pakai blender juga nggak apa-apa. Ini, sih, kakak saya yang masak. Terus, kalau makan, saya pakai sambel mana? Ya, dua-duanya, dong, dicampur! Hahaha....

No comments:

Post a Comment