Friday, March 28, 2014

Kelinci dan Kura-kura: Empat Hari Lomba Lari

Pada suatu hari, di bawah naungan dedaunan lebat pepohonan hutan yang asri, seekor kelinci melihat kura-kura berjalan melewatinya. Kura-kura berjalan sangat pelan. Kelinci yang sedang bersandar di batang pohon seketika mendapat ide. Dia segera bangkit dan menghampiri kura-kura.

"Hai, kura-kura, kau mau ke mana?" Kelinci bertanya. Tampak senyum jailnya mengembang.
"Tidak ke mana-mana, hanya berjalan santai saja menikmati hari." Kura-kura menjawab, matanya tampak sayu.
"Bagaimana kalau kita bermain saja. Aku punya tantangan menarik buatmu."
"Apa?"

Kelinci berbicara dengan percaya diri. Ia mengajak kura-kura bertanding lari dengannya. Tentu saja, pikirnya, ia akan menang melawan kura-kura. Kura-kura, ketika mendengar ajakan kelinci, sejenak berpikir. Lomba lari? Jalanku begitu pelan, seumur hidupku aku tak pernah berlari. Kura-kura membatin. Tapi, ia tak menolak. Ia ingin mencoba berlari. Tantangan kelinci setidaknya menarik perhatiannya. Entah ia akan menang atau kalah, kura-kura tak begitu memikirkannya.

Garis start dan finish akhirnya ditentukan oleh kelinci. Kura-kura menyanggupi. Dimulai dengan hitungan satu-dua-tiga, mereka pun memulai pertandingan itu. Awalnya, kelinci dengan cepat meninggalkan kura-kura. Ia berlari jauh lebih cepat daripada kura-kura. Sementara, kura-kura sekuat tenaga mencoba menarik dirinya dan cangkang di atasnya. Kura-kura sekali pun tak berhenti. Ia terus melaju meskipun kecepatannya berbanding jauh daripada kelinci.

Garis finish masih beberapa meter lagi, kelinci yang tahu kura-kura tertinggal jauh memutuskan untuk menunggu kura-kura. Kalau kura-kura sudah terlihat, kelinci akan melanjutkan larinya. Ia tetap akan menang. Maka, beristirahatlah kelinci di bawah sebuah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi akhirnya melenakan kelinci. Kelinci tertidur lelap.

Tanpa disadari oleh kelinci, kura-kura telah mendekati garis finish. Garis itu tinggal selangkah lagi oleh kura-kura. Tepat ketika itulah, kelinci terbangun. Tapi, kura-kura telah melewati garis finish itu. Kelinci menangisi kekalahannya.

Keesokan harinya, kelinci yang sudah menyadari keteledorannya, menantang kura-kura kembali. Kura-kura menyanggupi lagi. Mungkin kemenangannya kemarin telah meningkatkan rasa percaya dirinya. Tapi, yang tidak diketahui kura-kura, kelinci tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Sekeras apa pun usaha kura-kura, akhirnya kelinci yang memenangkan lomba lari itu. Kura-kura pun mengakui kehebatan kelinci.


Kekalahan kura-kura pada hari kedua justru memancing dirinya sendiri untuk menantang kelinci. Ia menantang kelinci lomba lari tapi dengan jalur yang ditentukan oleh kura-kura. Dengan cerdik, kura-kura memilih jalur yang bisa melemahkan kekuatan lawannya. Garis finish berada di seberang sungai. Ketika kelinci telah lebih dulu mencapai tepian sungai, ia kebingungan. Garis finish itu sudah dekat. Tapi, ia tak bisa melewati arus sungai. Jika ia memutar jalan, jalur akan bertambah sangat jauh. Kelinci belum juga memutuskan. Kura-kura bahkan telah sampai di tepian bersamanya. Kura-kura menembus aliran sungai. Kali ini, kura-kura kembali memenangkan pertandingan.

Dengan pengalaman yang telah mereka lewati bersama. Kelinci dan kura-kura semakin sering bertemu dan mengobrol. Mereka menjadi teman baik. Mereka kembali adu lari. Jalurnya masih sama seperti kemarin. Kelinci tentu saja tahu ia akan dikalahkan lagi. Tapi, tak apalah, kelinci tetap menerima tantangan dari temannya itu. Ketika mereka berdua sampai di tepian sungai, kelinci tentu sudah lama menunggu kura-kura, kura-kura melirik kelinci.

"Hai, kelinci, ikutlah bersamaku." Kura-kura berkata.
Kelinci melongo.
"Ayo, naiklah ke atasku. Kita seberangi sungai ini bersama-sama."
Tawaran itu diterima kelinci dengan hati riang. Akhirnya, kelinci dan kura-kura tiba di garis finish bersamaan. Mereka berdua sama-sama menang.

---

Cerita di atas saya karang dengan versi saya sendiri berdasarkan cerita yang saya baca dari bab terakhir buku Merry Riana, Langkah Sejuta Suluh. Cerita kelinci dan kura-kura di hari pertama tentu telah sangat awam. Cerita tiga hari berikutnya adalah cerita yang dituturkan oleh mentor Merry Riana. Cerita itulah yang menjadi formula keberhasilan Merry Riana. Setidaknya, salah satunya.

Hari pertama, kura-kura mengajarkan kita bahwa untuk berhasil, kita harus mau memulai. Menerima tantangan. Tantangan itu dijalankan dengan konsisten. Lihatlah kura-kura yang lambat, tapi karena ia tetap konsisten, ia pun menjadi pemenang.

Hari kedua, kelinci mengajarkan kita untuk bisa belajar dari kegagalan. Jangan putus asa jika belum berhasil. Lalu, optimalkan kemampuan kita dalam bidang yang kita tekuni, Insya Allah, kita bisa mencapai impian kita. Dan, jangan pernah meremehkan apa/siapa pun.

Hari ketiga, kura-kura mengajarkan kita untuk menggali bakat (talent) dan panggilan jiwa (passion) kita. Tunjukkan apa kelebihan kita. Lalu, dengan talent dan passion itu, kita rancang strategi yang tepat supaya bisa berhasil; menjadi pemenang.

Hari keempat, kura-kura dan kelinci mengajarkan kita tentang arti kebersamaan. Apalah guna sukses jika hanya kita sendiri yang menikmati. Jika kita bekerja dalam tim, maka menanglah bersama tim. Jangan hanya menonjolkan diri sendiri. Berbagi itu indah. Kalaupun kita bekerja sendiri, tetapkanlah impian yang tak hanya mementingkan diri sendiri, tapi juga bisa membahagiakan orang lain, setidaknya orangtua kita.

Maafkan kalau pelajaran yang saya petik tidak terlalu sama dengan apa yang tertulis dalam buku Langkah Sejuta Suluh. Saya memang belajar formula meraih kesuksesan dari buku itu. Tapi, karena saya agak lupaan, bukunya juga sedang tidak di tangan saya, jadinya saya hanya menuliskan kembali apa yang bisa saya ingat dan saya sesuaikan dengan cerita kelinci dan kura-kura di atas.

Semoga bermanfaat, ya!

PS: Saya senang bisa membaca buku kisah nyata Merry Riana, Langkah Sejuta Suluh. Entah saya akan bisa mengaplikasikan inspirasinya dalam kehidupan pribadi saya. Saya ingin. Ah, semoga saja. Saya juga jadi ingin baca buku pertamanya, Mimpi Sejuta Dolar.

No comments:

Post a Comment