Monday, March 24, 2014

Kekuatan Pikiran

Malam ini, saya nggak nulis cerita Single Fighter. Saya sendiri bosan menuliskannya. Apa lagi pembaca, ya kan?! Hehehe... Saya tidak tahu akan menjadi berapa seri cerita Single Fighter itu. Kalau saya terus-terusan menulis ceritanya setiap malam tanpa saya tahu kapan ceritanya berakhir, blog saya tidak akan berwarna lagi. Makaaa... saya memutuskan untuk menulis cerita Single Fighter hanya pada minggu terakhir tiap bulan. Kebetulan malam ini sudah masuk minggu terakhir, sementara ceritanya sudah tayang minggu sebelumnya, jadiii... kelanjutannya ditulis bulan depan saja. Nah, ini termasuk info penting pertama dari blogpost kali ini. Terus, info penting selanjutnya apa?

Saya nggak tahu mau nulis apa sebenarnya. Hmm, malam ini mungkin saya hanya meracau apa saja yang akan tertuang dari benak dan/atau hati, yang mengalir melalui jemari yang menari di atas keyboard laptop. Saya nggak tahu pasti apakah saya sedang memikirkan apa yang saya tulis atau merasakan apa-apa yang hendak saya tuliskan. Entahlah... Mungkin, sedikit memikirkannya. Karena sesaat sebelum ini, saya berhenti menulis sejenak. Mungkin, bingung mau tulis apa lagi. Haduh, lupa!!! Bukankah saya tak boleh berpikir terlalu lama saat menulis ini? Saya kan harusnya berlatih menulis cepat! Ah, sial!

Oke. Saya akan menulis cepat saja. Oh, ya, tadi saya baca buku terbaru dari Merry Riana, Langkah Sejuta Suluh yang ditulis oleh Clara Ng. Bukan punya saya, tapi kakak saya yang beli. Dia sendiri belum membacanya. Sesore tadi, saya sudah membaca setengah isi buku. Satu hal yang saya ingat dari cerita inspiratif Merry Riana tersebut adalah tentang berpikir. Pas banget saya menulis tentang berpikir, meskipun kaitannya lebih ke soal tulis-menulis. Merry menyampaikan bahwa sibukkan diri itu lebih baik daripada berdiam diri yang akan memungkinkan pikiran-pikiran mengusik diri kita. Apa lagi di saat kita gagal dalam suatu hal yang kita inginkan. Jangan sampai kita merenung terlalu lama. Iya, kalau kita bisa memikirkan hal-hal yang positif, kalau enggak? Kita bisa hanyut dalam pikiran negatif, yang justru akan membuat kita terjatuh lebih dalam lagi. And, that's what I been through!

Selama ini, saya terlalu banyak memikirkan segala hal. Saya mengurung diri. Saya menuliskan apa yang saya pikirkan. It's not totally bad. Menuangkan pikiran saya menjadi deretan kata-kata setidaknya adalah bagian dari menuangkan gagasan. Bisa juga dilihat dari segi psikologis, menulis itu bagian dari terapi meredam kegelisahan. Tapi, saya justru terlalu banyak menulis. Terlalu banyak memikirkan hal-hal yang semestinya langsung praktek saja! Atau, parahnya, saya terlalu sering gelisah! Dan kenapa saya gelisah? Karena tidak mengingat Tuhan? Bisa jadi!
Kenapa saya menulis? Karena saya gelisah.Kenapa saya gelisah? Karena tidak mengingat Tuhan.Kesimpulannya?
Tidak mengingat Tuhan berarti saya melupakan diri sebagai hamba. Hmm, mungkin karena saat sedang menulis, saya sedang berusaha menyerupai Tuhan; to create. Terus, gimana dong? Entah, entah, entah....
Tapi, mungkin ada hal penting yang ingin saya tanam dalam diri saya. Berhenti merenung terlalu lama. Berhenti kebanyakan mikir, terlebih lagi, berhenti berpikiran negatif. Apa yang mewujud dalam diri saya adalah apa yang berawal dari pikiran saya. Jika saya berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, maka kenyataannya semua akan baik-baik saja. Saya hanya harus menggerakan diri seaktif mungkin, supaya pikiran-pikiran buruk enyah dari dalam benak saya. Saya tidak boleh terlalu lama memikirkan kegagalan saya; kenapa saya gagal, kenapa saya begini, kenapa saya begitu. Pikiran yang boleh berpendar dalam benak saya hanya pikiran tentang solusi dan strategi supaya saya tidak gagal lagi. Pikiran positif akan menguatkan diri untuk bangkit dari kegagalan. Saya yakin bahwa saya akan baik-baik saja. 

Ya, saya akan baik-baik saja. 

No comments:

Post a Comment