Monday, March 10, 2014

Flexible Mom

Dua hari lalu, saya share artikel menarik dari mommiesdaily.com ke halaman Facebook. Tentang "perselisihan" antara Stay At Home Mom (SAHM) dengan Working Mom (WM). Link yang saya share itu ditambah kesimpulan yang saya tarik dari isi artikel, isinya:
Stay At Home Mom (SAHM) pun sering diserang seperti halnya Working Mom (WM), walaupun tidak terlalu diekspos media sosial. Setiap pilihan memiliki alasan yang menjadi rahasia keluarga. Kenapa harus terusik dengan penilaian orang lain? 
Yuk, stop "mengadu domba" SAHM vs WM. Semua ibu, apapun pilihannya, pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Mereka tidak butuh sindiran dan cacian, tapi dukungan dari semua pihak. Setiap ibu juga harus yakin dengan pilihannya, supaya pede menjalaninya. Ingat saja kutipan menarik ini, "Tuhan yang menciptakan, manusia yang menjalani, orang lain yang mengomentari."
Beberapa teman saya memberi 'like' dan 'comment'. Pada umumnya, mereka setuju dengan apa yang saya tulis dan isi artikel tersebut. Dan, entah ini menggembirakan atau menyayangkan, mereka semua adalah perempuan. Kemana, ya, lelaki? Apa lelaki tidak memedulikan hal ini? Suatu hal yang sangat sensitif bagi para ibu. Ya, sudahlah, lebih baik saya fokus ke permasalahan "mommy" ini.

Kenapa, sih, kita meributkan perbedaan SAHM dan WM? Kenapa kita tidak fokus pada status ibu itu sendiri? Entah dia SAHM atau WM, toh, dia adalah ibu. Ibu yang mengandung berbulan-bulan, ibu yang melahirkan; normal maupun caesar, ibu yang berusaha menyusui bayinya, ibu yang menyayangi anaknya, ibu yang merawat buah hatinya dengan penuh kasih, ibu yang akan melakukan apa pun demi kesehatan dan kebahagiaan anaknya. Walaupun, pada kenyataan, ada ibu yang mengalami kelainan.

Dulu, saya berpikir bahwa sebaik-baiknya ibu adalah ibu yang tinggal di rumah. Ibu yang turun langsung mengerjakan apa saja berkaitan dengan anaknya. Ibu yang tidak menitipkan anaknya begitu saja pada pengasuh; apa lagi kalau pengasuh ini sekaligus pembantu rumah tangga, bukan nanny khusus merawat dan menjaga anak. Saya menyaksikan sendiri bagaimana anak yang diasuh oleh orang lain. Kalau pengasuhnya baik, saya khawatir si anak malah jadi lebih lengket ke pengasuhnya daripada ibu kandung sendiri. Kalau pengasuhnya jahat? Duh, amit-amit, deh! Saya juga mengkhawatirkan perkembangan anak. Saya masih percaya kalau anak yang cerdas itu adalah berkat ibunya yang cerdas. Apa yang terjadi jika sehari-hari anak ditinggal dengan pengasuh yang, maaf, pendidikannya kurang? Pembentukan karakter anak juga akan dipengarui oleh pengasuhan sejak dini. Makanya, saya sempat memutuskan bahwa nanti saya akan jadi SAHM dan, jika memungkinkan, saya bekerja dari rumah. Untungnya, profesi yang saya pilih, memungkinkan untuk itu.

Namun, bagaimana dengan ibu yang punya pilihan lain? Mereka yang tidak memilih menjadi SAHM? Mereka yang mungkin sebelum menikah telah berkarir. Mereka yang diberi amanah di luar rumah. Mereka yang, single parent, sehingga harus bekerja--dengan kata lain, mereka yang tidak bisa memilih. Bisa juga, mereka yang membantu suami berpenghasilan jauh dari kata mencukupi. Mereka tentu tidak butuh kesinisan kita. Toh, bagaimanapun, mereka pasti mempunyai alasan yang kuat. Mereka mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu yang tak kita tahu. Sebagai WM, mereka harus pintar membagi waktu, tenaga, dan perhatian. Dengan kesempatan yang lebih sedikit bersama anak, mereka harus menjadikannya berkualitas maksimal. Karena itu, saya memaklumi mereka yang akhirnya memilih menjadi WM.

Dari pengalaman terdekat juga, saya pun berpikir bahwa seorang ibu mungkin sebaiknya tidak melulu harus di rumah. Tiap orang pasti akan mempunyai pengalaman berbeda-beda. Seorang SAHM dengan SAHM lain, pengalamannya pasti berbeda, perasaan yang melingkupinya juga pasti berbeda. Begitu pula dengan WM satu dengan WM lain. Tapi, ada pertimbangan yang akhirnya menggeser pilihan saya, bahwa seorang ibu sebaiknya bekerja. Ibu mungkin akan dibutuhkan 24 jam oleh bayi/balitanya. Lalu, apa yang terjadi jika anaknya mulai sekolah? Atau, kasarnya, ketika anak tidak lagi membutuhkan ibu 24 jam. Well, ibu pasti akan selalu dibutukan dan selalu ada buat sang anak kapan saja, any time, tapi tidak selama 24 jam full, kan? Ibu yang SAHM tentu akan punya waktu luang. That's good, ibu bakal punya me-time! Tapi, tiap hari? Semakin bertambah usia anak, kesibukan anak juga bertambah, berarti me-time ibu lebih lama? Lalu, apa yang ibu-ibu SAHM lakukan pada waktu yang begitu luang ini? Shopping ke mal? Spa di salon? Arisan? Oh, no! Suami tajir abis, sih, nggak masalah. Kalaupun suami tajir, duh, apa menariknya? Jadi, saya pikir sebaiknya saya tidak menjadi SAHM sepenuhnya dan selamanya. Saya harus bekerja. Saya harus bermanfaat untuk--jangan muluk-muluk dulu, deh--saya sendiri. Saya pasti punya potensi untuk melakukan hal selain merawat dan mendidik anak.

I-B-U. Ibu. Mungkin sebaiknya, kita simpulkan saja bahwa hanya ada satu nama di dunia ini untuk manusia yang paling dimuliakan. Ibu. Tidak ada yang namanya Stay At Home Mom, Working Mom, atau istilah Indonesia, Ibu Rumah Tangga, Ibu Wanita Karir. Mereka semua adalah ibu. Ibu yang tidak perlu disindir dan dicaci apa pun pilihannya, selama anak tetap nomor satu. Kalau ada yang merasa pilihannya yang terbaik, tidak perlu update status perihal betapa mulianya pilihan itu, tidak perlu update status yang menyindir ibu dengan pilihan lain. Yang miris malah, yang melakukan bangga-banggain diri sendiri dan menyindir orang lain itu, ya, ibu-ibu juga. Benar banget, tuh, isi artikel di mommiesdaily.com itu. Kalau memang sudah yakin dengan pilihan sendiri, pede-lah menjalaninya. Kalau masih pamer bangga diri dan sindir orang lain, tandanya belum pede!

Peringatan juga buat saya yang belum jadi mommy ini. Menikah saja belum. Hehehe... Saya baru memulai menggali pengetahuan yang penting untuk para ibu. Sedikit banyak, perseteruan antara SAHM vs WM ini saya temui juga. Kadang saya suka share juga di media sosial. Lebih ke pertimbangan untuk diri sendiri dan berbagi ke orang lain supaya bisa dapat masukan. Setelah membaca artikel itu, mudah-mudahan saya lebih berhati-hati sharing. Sebisa mungkin, sharing info yang bermanfaat untuk ibu apa saja, tak peduli SAHM atau WM. Ah, kenapa sih mesti membagi-bagi status ibu ini?!! Hey, saya punya istilah yang lebih cocok untuk para ibu. Semua ibu adalah FM, yakni Flexible Mom. Ibu SAHM adalah FM. Mereka di rumah seharian, tapi belum tentu tidak punya pekerjaan lain. Ibu WM juga FM. Mereka bekerja seharian, tapi akhirnya kembali memeluk keluarga. Hehehe... apa pun, deh! Toh, seorang ibu pastinya harus fleksibel menyikapi kehidupan demi kebaikan seluruh anggota keluarga. Dukung selalu ibu mana pun yang kita temui. Karena surga di bawah telapak kaki ibu.

www.sheknows.com

2 comments:

  1. :) kembalikan pada kebutuhan dan kesanggupan masing masing ya vira.. nice post

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree, mbak Galuh. Thanks for visiting! :)

      Delete