Tuesday, March 4, 2014

Buku Harian Online?

Aktif ngeblog? Pernah, dulu di Kompasiana. Sekarang, sejak tahun 2011 kalau nggak salah, saya berhenti ngeblog di sana. Saya berpindah ke sini; meracau hal-hal penting tak penting, mem-posting karya-karya fiksi tak laku, ulasan-ulasan ala kadarnya tentang film, buku, dsb. Biasanya, kalau mau update blog, saya langsung buka halaman menulis dan dengan lancar saya menulis apa saja yang mengalir dari dalam kepala. Nggak terlalu mikir, tulisannya bagus atau jelek, penting atau nggak, bermanfaat atau sia-sia. Selesai menulis pun, saya cukup baca ulang untuk revisi tanda baca, EYD, dan semacam itu. Lalu, klik "publish". Selesai!

Namun, akhir-akhir ini, sejak postingan terakhir (berarti sebelum postingan ini), saya mulai terlalu mikir. Pertama, saya menulis (sudah cukup panjang) via smartphone. Tapi, belum selesai tulisannya, saya berhenti dan sementara jadi draft dulu. Draft ini pun belum saya utak-atik lagi. Hanya tulisan simpel tentang masa kecil saya yang membuat saya menjadi saya. Saya bertanya-tanya, buat apa ya posting tulisan ini? Begitulah akhirnya saya tidak menyelesaikan draft itu. Kedua, saya menulis post baru, kali ini langsung di laptop. Tentang seorang teman yang saya petik hikmahnya. Tulisan itu selesai. Tapi, setelah ditimbang-timbang, saya tidak mengklik tombol "publish" itu. Akhirnya, jadi draft saja.

Mungkin, saya mulai menimbang-nimbang tulisan macam apa yang mau saya tampilkan di blog ini. Sebenarnya, saya tak terlalu peduli. Toh, blog ini juga tidak banyak pengunjung. Mungkin, hanya ada beberapa orang yang akan membaca. Tapi, beberapa orang itulah yang sedikitnya memengaruhi pertimbangan saya untuk mempublikasikan tulisan saya. Saya tahu dan sadar kalau racauan di blog saya ini nggak bagus-bagus amat. Harusnya, sih, peduli setan kalaupun ada orang lain yang bilang jelek, nggak penting, nggak ada gunanya. Jadi, harusnya, dua draft tersebut tak perlu pertimbangan layak tak layak dipublikasi. Biar saja, toh. 

Apa saya mulai membangun image? Apakah saya mulai berpikir tentang personal branding? Tapi, apa perlunya? Saya bukanlah siapa-siapa. Hanya manusia mediocre yang kebetulan suka menulis di jagad tak berbatas ini. Mungkin, apa yang telah saya tulis itu terlalu menggambarkan diri saya secara gamblang. Bisa jadi inilah pertimbangan terbesar saya sebelum memutuskan "publish" atau "save". Tapi, bukankah blog berkisar tentang itu, blog kita mencerminkan pribadi kita? Bukankah blog itu diary atau jurnal online? Selama tidak mem-posting hal-hal sensitif, kenapa nggak? 

Ah, entahlah! Lihat saja nanti, mau saya apakan blog ini?! Penginnya, sih, bisa posting tiap hari sejak malam ini. Apa saja, selama tiap malam saya menulis. Karena mulai tahun ini saya memutuskan berhenti mencoba menjadi seorang "published author". Beberapa tahun terakhir, sejak buku pertama saya terbit dengan self-publishing, saya begitu getol ikut ini ikut itu demi bisa jadi "published author" alias punya novel sendiri. Syukurlah, usaha itu sedikitnya membuahkan hasil, walaupun saya tak tahu ke depannya bagaimana; entah akan menjadi novel laris atau tak laku. Saya berserah saja pada takdir. Saya hanya bisa mengusahakan menulis karya saya sebaik mungkin. Barangkali, saya sudah lelah dengan dunia penerbitan. Jadi, begitu deh, saya berhenti berusaha. Kalaupun saya pengin menulis fiksi di blog ini, mungkin itu hanya pelampiasan sedikit rindu. 

Jadi, besok malam mau tulis apa? 

1 comment: