Wednesday, March 5, 2014

Bagaimana Cara Kamu Menulis Ulang Karya Fiksimu?

Bagaimana cara kamu menulis ulang karya fiksimu? Mungkin, tiap penulis punya cara masing-masing. Saya sendiri hanya mengikuti apa yang disarankan catatan editor. Tapi, tidak semuanya. Ada beberapa catatan yang hanya perlu di-recheck dan ditambah sedikit penjelasan lagi. Saya akan bercerita tentang naskah novel perdana saya. Saya masih menambahkan kata "naskah" di depan "novel", karena saya tidak tahu pasti kapan naskah tersebut akan diterbitkan. Saya hanya harus menerima revisi ketiga ini--aha, ketiga--dan tidak berhenti berusaha menyempurnakannya, meskipun pada akhirnya karya sempurna tidaklah ada. Naskah itu ibarat manusia, nobody's perfect. Mungkin, hanya bisa mendekati sempurna. Dan, itulah yang sedang saya usahakan saat ini. Sebulan telah berlalu sejak saya menerima catatan editor. Saya belum menyelesaikannya.

Menulis ulang revisi ketiga ini adalah yang terlama. Revisi pertama yang memerlukan lebih banyak perombakan malah kelar dalam, hmm, seingat saya dua minggu. Revisi kedua datang setelah saya menunggu hampir tujuh bulan--yap, selama itu. Itu juga saya selesaikan dalam waktu dua minggu. Lalu, revisi ketiga datang empat bulan kemudian. Kok, bisa selama itu? Hahaha... saya juga penasaran. Saya tak berhak menjawab, meskipun sekadar menduga. Prasangka itu tidak baik, bukan? Jadi, saya percaya saja sama editor saya, bahwa saya tidak akan menjadi korban PHP penerbit. Demikian kata sang editor setelah saya curahkan kekhawatiran ini kepadanya langsung. Pelajaran penting, jalinlah komunikasi antara penulis dan editor. Back to the topic, kenapa revisi ketiga ini lama?


Saking banyaknya catatan-catatan baru, saya tidak mengintip naskah ini beberapa lama. Saya mulai mencari novel-novel bertema serupa di toko buku. Ketemu beberapa, langsung saya beli. Padahal, saya suka belanja buku di toko online biar lebih murah. Tapi, kali itu, ya sudahlah, nggak apa-apa. Butuh cepat soalnya. Saya juga minta rekomendasi dari editor, novel apa yang tepat buat jadi referensi. Referensi ya! Bukan contekan! Saya akui saya memang jarang membaca novel genre pop romance yang saya pilih sebagai genre tulisan saya. Mungkin karena itu, tulisan saya masih kurang dapat feel pop romance. Lho, terus kenapa pilih tulisan bergenre ini? Duh, pertanyaan dengan jawaban simpel! Tentu saja saya sedang mencoba memenuhi persyaratan penerbit. Ini kan keinginan saya supaya bisa tembus penerbit major. Hehehe....

Setelah lebih seminggu, saya mulai melirik si naskah. Saya mulai dari halaman pertama. Catatan-catatannya sudah saya baca dan pahami. Naskah terdiri dari 15 bab dan epilog. Nah, kata editor, kalau ada epilog harus ada prolog. Awalnya, saya sudah menetapkan sebuah prolog, tapi setelah dipikir-pikir, kok prolog ini kepanjangan ya? Akhirnya, si prolog itu saya jadikan bab 1 pada hasil tulis ulang kedua. Karena itulah, hal pertama yang saya lakukan ketika menulis ulang ketiga ini adalah menciptakan prolog baru; yang lebih pendek dan tentunya harus menarik minat pembaca. Okay, done! Lalu, saya lanjut membaca, memperhatikan catatan samping editor, menulis ulang, dan membacanya lagi. Hingga akhirnya pada minggu keempat, saya baru menyelesaikan sekitar 80% keseluruhan naskah.

Tidak tiap hari saya berhasil menggubah naskah. Terkadang, saya hanya mentok menatap layar yang penuh huruf warna merah, biru, oranye, garis coret, berstabilo pink. Boleh dibilang beginilah yang namanya editing. Kalau writing, kita melakukannya tanpa kebanyakan mikir. Tapi, kalau sudah fase editing, kita justru harus banyak mikir. Saking kebanyakan mikir, saya malah pusing sendiri dan akhirnya menutup microsoft word. Hahaha.... Jadi, semoga editor saya memaklumi saya belum mengembalikan hasil revisi hingga saat ini. Dengan naskah sepanjang 130an halaman A4 berspasi 1, tidak mungkin selesai dalam sekejap, apalagi cukup banyak tambal sulam. Menimbang catatan-catatan editor, saya juga berencana merombak sebagian besar ending. Setidaknya dua bab terakhir dan epilog. Hmm, mungkin, epilog tidak terlalu banyak berubah. Nah, di titik inilah saya saat ini, mencoba merancang ulang dua bab terakhir walaupun hanya dalam kepala. Sudah dapat sedikit bayangan. Mudah-mudahan, dalam beberapa hari ini, saya bisa langsung menuliskannya dan... SELESAI! Aamiin....

Jadi, bagaimana cara kamu menulis ulang karya fiksimu?

No comments:

Post a Comment