Monday, March 31, 2014

Oversharing On Social Media

"As if every thought that tumbles through your head is so clever it would be a crime for it not to be shared. The Internet's not written in pencil, Mark, it's written in ink." - The Social Network
I think it's well said. For it's "permanent record" even after we are dead, I'd better stop oversharing my thoughts, feelings, and experiences on social media. Moreover, if those things relate to my personal value. Perhaps, I need to rethink about what I had written on this blogpost. So, for now and then, I only share something which are worthy to share to public. Anyway, I try my best to keep update the story of Single Fighter. And, what else? Well... Let me see then, how long I can restrain myself not to share on Facebook, Twitter, Instagram, and even this blog.

Actually, oversharing depends on each person's value. Someone might think that upload the selfie is not oversharing, but for someone else, it is. It's better to define oversharing according to our value. Somehow, oversharing is desirable. We can't resist to keep our joy, even sadness, alone. We demand people's attention. Then, what if no one notice it? Whatever, folks! For I myself, I've decided to keep my personal life in secret. Secret is a new sexy! Hahaha...

See you on my next blogpost--about anything but my life. Unless, it's worth sharing! Hehehe...

Friday, March 28, 2014

Kelinci dan Kura-kura: Empat Hari Lomba Lari

Pada suatu hari, di bawah naungan dedaunan lebat pepohonan hutan yang asri, seekor kelinci melihat kura-kura berjalan melewatinya. Kura-kura berjalan sangat pelan. Kelinci yang sedang bersandar di batang pohon seketika mendapat ide. Dia segera bangkit dan menghampiri kura-kura.

"Hai, kura-kura, kau mau ke mana?" Kelinci bertanya. Tampak senyum jailnya mengembang.
"Tidak ke mana-mana, hanya berjalan santai saja menikmati hari." Kura-kura menjawab, matanya tampak sayu.
"Bagaimana kalau kita bermain saja. Aku punya tantangan menarik buatmu."
"Apa?"

Kelinci berbicara dengan percaya diri. Ia mengajak kura-kura bertanding lari dengannya. Tentu saja, pikirnya, ia akan menang melawan kura-kura. Kura-kura, ketika mendengar ajakan kelinci, sejenak berpikir. Lomba lari? Jalanku begitu pelan, seumur hidupku aku tak pernah berlari. Kura-kura membatin. Tapi, ia tak menolak. Ia ingin mencoba berlari. Tantangan kelinci setidaknya menarik perhatiannya. Entah ia akan menang atau kalah, kura-kura tak begitu memikirkannya.

Garis start dan finish akhirnya ditentukan oleh kelinci. Kura-kura menyanggupi. Dimulai dengan hitungan satu-dua-tiga, mereka pun memulai pertandingan itu. Awalnya, kelinci dengan cepat meninggalkan kura-kura. Ia berlari jauh lebih cepat daripada kura-kura. Sementara, kura-kura sekuat tenaga mencoba menarik dirinya dan cangkang di atasnya. Kura-kura sekali pun tak berhenti. Ia terus melaju meskipun kecepatannya berbanding jauh daripada kelinci.

Garis finish masih beberapa meter lagi, kelinci yang tahu kura-kura tertinggal jauh memutuskan untuk menunggu kura-kura. Kalau kura-kura sudah terlihat, kelinci akan melanjutkan larinya. Ia tetap akan menang. Maka, beristirahatlah kelinci di bawah sebuah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi akhirnya melenakan kelinci. Kelinci tertidur lelap.

Tanpa disadari oleh kelinci, kura-kura telah mendekati garis finish. Garis itu tinggal selangkah lagi oleh kura-kura. Tepat ketika itulah, kelinci terbangun. Tapi, kura-kura telah melewati garis finish itu. Kelinci menangisi kekalahannya.

Keesokan harinya, kelinci yang sudah menyadari keteledorannya, menantang kura-kura kembali. Kura-kura menyanggupi lagi. Mungkin kemenangannya kemarin telah meningkatkan rasa percaya dirinya. Tapi, yang tidak diketahui kura-kura, kelinci tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Sekeras apa pun usaha kura-kura, akhirnya kelinci yang memenangkan lomba lari itu. Kura-kura pun mengakui kehebatan kelinci.

Thursday, March 27, 2014

Dear, my silent readers...

Hari ini, saya menerima surat penolakan dari sebuah penerbit. Naskah novel kedua saya katanya masih perlu diperbaiki. Baiklah. Tapi, saya tak akan memperbaikinya sekarang. Banyak hal lain yang harus saya kerjakan. Hehehe...
Saya memang sedang tak mau terlalu memikirkan penerbitan. Tidak seperti dulu, getoool banget. Kegetolan yang sedikitnya membuahkan hasil. Naskah novel debut saya sudah ada yang ngurusin sekarang. Hanya saja, saya tidak tahu kapan jadwal terbitnya. Saya sudah berusaha, biarkan Tuhan yang menentukan akhirnya.
Malam ini, saya sedang tak ingin banyak meracau. Sekian saja blogpost kali ini. Selamat malam, my silent readers.

Wednesday, March 26, 2014

Que Sera Sera

When I was just a little girl
I asked my mother what I will be
Will I be pretty? Will I be rich?
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
When I was just a little boy
I asked my mother what I will be
Will I be handsome? Will I be rich?
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be
Lirik di atas adalah lagu lawas populer, Que Sera Sera. Saya tak tahu pasti siapa yang menyanyikannya pertama kali, siapa penciptanya, dan kapan diciptakan. Dan, saya sedang tak ingin 'googling'.
Kenapa saya bisa hapal lagunya? Karena saat kakak saya melahirkan anak pertamanya, dia sering mendengarkan lagu ini pada bayinya. Sejak itu, saya pun juga jadi sering mendengar lagu ini. Lama kelamaan saya bisa menyanyikannya, hapal liriknya. Entah siapa penyanyinya, saya tak begitu perhatikan. Judul lagu ini pula yang akhirnya menjadi inspirasi saya menulis sebuah cerpen. Bukan cerpen terbaik saya, tapi lumayanlah, salah satu yang masuk dalam buku kumpulan cerpen pertama saya.
Que Sera Sera. What will be will be. Apa pun yang terjadi, terjadilah.
Bagi yang beriman pada Tuhan, mungkin bisa memahami kalimat di atas sebagai berserah. Tapi, kalau dibaca lagi lirik keseluruhannya, artinya berubah menjadi pasrah. Hmm, menurut saya sih gitu. Perhatikan saja ketika si anak bertanya apakah ia akan kaya, si ibu malah menjawab, "Apa pun yang terjadi, terjadilah. Kita nggak bisa lihat masa depan, Nak." Kira-kira begitu. Kira-kira, ya, pasrah. Artinya akan berbeda kalau liriknya ditambah dengan, "Yang penting kamu berusaha dulu supaya menjadi apa pun yang kamu mau." Nah, kalau begini, kita akhirnya berserah. Masa depan siapa yang tahu?! Selama kita sudah berusaha, ketetapannya tetaplah hak prerogatif Tuhan. Makanya, orang sukses banyak yang tetap bergantung pada Tuhan, mereka banyak berdoa, supaya usaha mereka membuahkan hasil yang mereka inginkan.
Ora et Labora! *judul blogpost kemarin! Hehehe...

Tuesday, March 25, 2014

Ora et Labora

Saya baru saja menamatkan buku Langkah Sejuta Suluh yang ditulis oleh Clara Ng. Buku ini merupakan sekuel dari Mimpi Sejuta Dolar. Ya, kedua buku itu bercerita tentang kisah nyata milyuder muda dari Indonesia, Merry Riana. Merry Riana bukanlah nama yang asing bagi saya. Sejak kemunculannya di talkshow Kick Andy, Merry Riana makin berkibar tidak hanya sebagai entrepreneur, tapi juga sebagai motivator. Saya tidak membaca buku Mimpi Sejuta Dolar. Kebetulan buku Langkah Sejuta Suluh ada di rumah, kakak saya yang membeli, saya pun langsung penasaran dengan isi buku sekuel ini. Tanpa membaca buku pertamanya, ternyata buku sekuel ini tetap bisa "berdiri sendiri".

Buku ini saya tamatkan dalam dua sesi baca. Setengah pertama saya baca pada sesi pertama, setengah terakhir saya baca pada sesi kedua. Dan, begitu saya selesai membaca akhir cerita, air mata saya menetes. Betapa perjuangan seorang perempuan muda, yang bahkan belum mencapai usia tiga puluh, telah berhasil menggapai satu mimpi besarnya, tidak hanya itu, tapi juga berhasil menjadi penerang bagi orang-orang di sekitarnya. Langkah Sejuta Suluh, mengisahkan langkah-langkah Merry Riana dari titik nol sampai menjadi "perempuan berpenghasilan 1 juta dolar pada usia 26 tahun". Dari seorang relawan organisasi yang sering mengadakan seminar-seminar motivasi dan sejenisnya, menjual tiket-tiket seminar, direkrut menjadi sales produk-produk keuangan, hingga meraih angka penjualan tertinggi di antara sales-sales lainnya, sampai kemudian, mendirikan agency sendiri, menjadi manajer, lalu direktur dan merekrut pemuda-pemudi untuk menjadi seperti dirinya; bermimpi besar dan berani memperjuangkan mimpi itu. Dalam setiap langkahnya, dalam setiap doanya, Merry Riana tidak memikirkan kepentingannya sendiri. Ia bekerja keras tidak hanya supaya mimpinya tercapai. Ia bekerja keras untuk membahagiakan orangtuanya. Dan, ketika ia lelah, cinta teruntuk keluarga yang mampu membuatnya bangkit kembali. Cinta dari kekasihnya pula yang kembali memberinya semangat berjuang. Cintanya kepada Tuhan juga yang selalu menguatkannya. Merry Riana adalah bukti hidup bahwa kerja keras dan doa adalah kunci keberhasilan. Ora et labora
Sudah setekun apa doamu?
Sudah sekeras apa kerjamu?
Orang sukses tidak hanya bekerja keras dalam meraih kesuksesan, tapi juga sangaaat bergantung pada Tuhan. Seorang arsitek internasional yang kini menjabat Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah sosok yang ingat Tuhan. Saya ingat profil dirinya dalam acara Kick Andy. Seorang mahasiswa prestasi di fakultas saya dulu, adalah sosok yang juga tidak meninggalkan ibadah. Merry Riana menyadari kesuksesannya adalah berkat dari Tuhan. Banyak orang yang sukses, tapi berapa banyak yang tetap rendah hati dalam kesuksesan? Hanya mereka. Mereka yang bekerja keras, tapi tetap ingat Tuhan.

Tahu kenapa saya meneteskan air mata setelah membaca buku Langkah Sejuta Suluh?

Tak perlulah saya jawab.


Monday, March 24, 2014

Kekuatan Pikiran

Malam ini, saya nggak nulis cerita Single Fighter. Saya sendiri bosan menuliskannya. Apa lagi pembaca, ya kan?! Hehehe... Saya tidak tahu akan menjadi berapa seri cerita Single Fighter itu. Kalau saya terus-terusan menulis ceritanya setiap malam tanpa saya tahu kapan ceritanya berakhir, blog saya tidak akan berwarna lagi. Makaaa... saya memutuskan untuk menulis cerita Single Fighter hanya pada minggu terakhir tiap bulan. Kebetulan malam ini sudah masuk minggu terakhir, sementara ceritanya sudah tayang minggu sebelumnya, jadiii... kelanjutannya ditulis bulan depan saja. Nah, ini termasuk info penting pertama dari blogpost kali ini. Terus, info penting selanjutnya apa?

Saya nggak tahu mau nulis apa sebenarnya. Hmm, malam ini mungkin saya hanya meracau apa saja yang akan tertuang dari benak dan/atau hati, yang mengalir melalui jemari yang menari di atas keyboard laptop. Saya nggak tahu pasti apakah saya sedang memikirkan apa yang saya tulis atau merasakan apa-apa yang hendak saya tuliskan. Entahlah... Mungkin, sedikit memikirkannya. Karena sesaat sebelum ini, saya berhenti menulis sejenak. Mungkin, bingung mau tulis apa lagi. Haduh, lupa!!! Bukankah saya tak boleh berpikir terlalu lama saat menulis ini? Saya kan harusnya berlatih menulis cepat! Ah, sial!

Friday, March 14, 2014

Sempurna Dalam Ketidaksempurnaan

Aku jauh dari sempurna, bahkan ketika dulu aku begitu ingin mengejar kesempurnaan.

Aku ingin menjadi anak terpintar di antara teman-temanku. Tapi, kemudian, aku sadari aku tercipta dengan IQ di bawah Einstein. Ternyata, banyak anak yang lebih pintar daripada aku.

Aku ingin menjadi gadis tercantik menurut standar penilaian produk-produk perempuan. Tapi, kemudian, aku sadari genetik tubuhku tak mendukung untuk itu. Ternyata, aku tetaplah gadis cantik, mesikpun banyak gadis yang lebih cantik karena sesuai dengan standar yang berlaku.

Aku ingin menjadi manusia multi-talenta. Kucoba segala hal yang menarik perhatianku. Aku berlatih biola, berharap aku akan mahir memainkannya. Aku ikut bermain basket, supaya bisa menjadi atlet seperti kakakku. Aku mencoba menulis cerita, bermimpi aku akan menerbitkan buku sendiri. Aku belajar bahasa Prancis, karena satu bahasa asing tak cukup memenuhi hasrat kesempurnaanku. Aku mengejar cita-cita yang diidamkan banyak orang, karena itu akan menambah prestiseku.


Namun, kemudian, multi-talenta itu hanya lamunan. Aku bertumbuh menjadi seorang yang pemalas, tak bergiat mencapainya. Aku hanya ingin, ingin dan ingin. Tapi, di tengah jalan, ketika kutemui halangan, aku menyerah. Komitmenku terhadap segala pilihanku terputus begitu saja.

Biola sudah kumuseumkan. Basket sudah jauh hari kutinggalkan. Bahasa Prancis tak pernah kupelajari lagi. Mimpi menjadi penulis pun akan kusudahi. Hanya cita-cita akan prestise yang masih bertahan, karena pengorbanan orangtuaku telah terlalu besar untuk itu. Ternyata, aku bukanlah manusia multi-talenta.
Lantas, apakah karena aku tak bisa menjadi apa yang kuinginkan aku tidak sempurna? Kecerdasanku memang tak sempurna. Kecantikanku memang tak sempurna. Talentaku tak sempurna. Bahkan, hatiku, jiwaku, naluriku, nuraniku, moralku, mentalku, juga jauh dari sempurna.

Inilah aku sebagai manusia biasa. Dan, ternyata, kusadari bahwa sebagai manusia biasa, diriku ini sesungguhnya sempurna. Karena aku menyadari ketidaksempurnaan yang ada dalam diriku.

We're perfect because we're imperfect.

Thursday, March 13, 2014

Tega, tega, tega!

Kabarnya, kabut asap di Provinsi Riau dan Sumatra Barat--kampuang nan jauah di mato--kian tebal dan sangat mengganggu pernapasan dan kelancaran beraktifitas. Di Facebook, saya ketemu foto titik-titik api di wilayah itu. Titik-titik api yang menjadi pertanda titik-titik keserakahan manusia. Manusia-manusia yang tidak memedulikan ekosistem, lingkungan, alam, satwa liar yang menghuni hutan tapi malah dibakar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Semua itu untuk apa? Demi pemenuhan keserakahan mereka akan uang, uang dan uang yang tak berbatas. Semakin menumpuk uang, semakin mereka serakah.
Apa yang harus saya lakukan? Saya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya berharap kabut asap mereda. Masyarakat sana telah menggelar sholat istisqa' meminta hujan turun menghalau kabut. Lantas, pejabat yang berwenang ngapain? Entahlah...

Hari ini, saya juga membaca berita di portal online, seorang pemulung perempuan digelandang Satpol PP dengan kasar, yang begitu sedih karena harus berpisah dengan anjing peliharaannya, anjing yang setia menemaninya bekerja memulung sampah. Dari hasil pekerjaannya itu, sang pemulung telah mengumpulkan uang hingga 17 juta rupiah. Uang hasil jerih memulung itu ingin digunakan untuk membangun rumah untuk tinggal bersama anjingnya. Tapi, apa daya, entah uang itu masih ada di tangannya atau tidak, sang pemulung telah dipaksa menghuni panti sosial milik pemerintah, karena dibawa paksa oleh Satpol PP. Di sana pun, pemulung dipaksa dipotong pendek rambutnya seperti lelaki. Manusia yang berusaha bertahan hidup dengan cara yang halal, tidak mengemis, tidak memalak, malah membantu membersihkan sampah-sampah, mempunyai kesadaran menyayangi binatang itu, tak tahu harus berbuat apa lagi demi bertemu dengan anjingnya.

Wednesday, March 12, 2014

Pekerjaan Menunggu

Banyak yang bilang kalau menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia akhirat. Hmm, di akhirat nanti antrian panjang banget, kan?? Hehehe... Baiklah, saya akan perkecil lingkup racauan malam ini. Menunggu sebagai bagian dari pekerjaan seorang penulis. Sebenarnya, saya lebih suka menyebutnya pengarang, sebutan khusus untuk penulis fiksi. Tapi, dalam tulisan ini saya akan tetap memakai istilah penulis. Karena yang ingin dan/atau yang sudah menerbitkan buku tidak hanya pengarang.

Awal saya "berkenalan" dengan penerbit X--yang akan menerbitkan naskah novel perdana saya--sudah cukup lama, dua tahun yang lalu. Tepat dua tahun. Ketika penerbit X mengadakan seleksi peserta kelas menulis kreatif. Supaya lolos seleksi, saya harus memenuhi "syarat dan ketentuan yang berlaku", yaitu sinopsis, outline dan bab pertama dari novel yang ingin saya tulis. Kesemua itu dikirim lewat email. Setelah menunggu sekitar satu bulan, keluarlah pengumuman peserta yang lolos. Salah satunya, saya. Alhamdulillaah.

Pada hari kelas menulis kreatif berlangsung, saya--dan belasan peserta lain--cukup bersemangat. Kami, ternyata, punya peluang menjadi penulis di penerbit itu. Tentu, jika calon naskah kami yang lolos seleksi itu bisa diselesaikan. This is my chance, begitulah pembakar semangat saya saat itu. Saya si indie writer yang ingin menembus penerbit major. Setelah hari itu, kurang dari dua bulan kemudian, naskah selesai saya tulis. Naskah pun saya kirim ke email seorang editor yang menjadi mentor kelompok saya di kelas menulis. Saya tak mendapat balasan. Sebulan saya tunggu kabarnya. Saya, akhirnya, "nyolek" editor ini lewat Twitter. Ternyata, oh, ternyata... Editor tersebut menyatakan telah resign dari penerbit X. Tapi, dia bilang, naskah saya akan dioper ke editor lain. Kepada editor baru ini, saya menanyakan kabar naskah saya lewat email dan Twitter yang keduanya tidak berbalas.

Tuesday, March 11, 2014

Berlatih Menulis Cepat

Akhir-akhir ini, saya jadi sering update blog. Dimulai hari selasa lalu, saya posting tentang rencana saya terhadap blog ini. Saya akan update blog setiap malam. Sejak itu, empat malam berturut-turut saya update blog. Ada saja bahan cerita hari itu yang saya jadikan tulisan. Tapi, pas malam akhir pekan--Sabtu dan Minggu-saya absen posting. Rencana menulis tiap malam di blog jadinya saya rencanakan ulang, replanning. Memasuki Senin malam, blog pun update post baru. Saya memutuskan sebaiknya ada jeda istirahat untuk menulis. Maka, seperti pekerjaan lainnya, weekend menjadi hari libur saya untuk update blog.

Penulis adalah profesi. Pekerjaannya adalah menulis. Jadi, saya pikir, menulis di blog ini adalah bagian dari pekerjaan saya sebagai penulis, meskipun masih penulis kelas teri. Hahaha... Karena kita tidak tiap hari bekerja, maka saya pun tidak menulis tiap hari, alias saya menulis hanya pada hari kerja. Lebih tepatnya, pada "malam" kerja. Karena saya memang baru bisa melakukannya pada malam hari. Hehehe... Tapi, kalau update blog ini bagian dari pekerjaan, berapa gaji saya sebulan? Nah, lo?!

Setiap pekerjaan pasti akan membuahkan hasil. Bagi saya, menulis setiap weekdays ini nantinya juga akan saya petik hasilnya. Tidak dalam bentuk uang. Entah apa, yang pasti, kemampuan menulis cepat saya akan lebih terasah. Update blog ini memang salah satu cara belajar menulis cepat. Saya pribadi tidak butuh waktu lama-lama buat update blog. Apapun yang terlintas di benak bisa saja langsung dipindahkan ke blog ini. Saya mungkin butuh waktu antara setengah sampai satu jam untuk menulis satu postingan.

Monday, March 10, 2014

Flexible Mom

Dua hari lalu, saya share artikel menarik dari mommiesdaily.com ke halaman Facebook. Tentang "perselisihan" antara Stay At Home Mom (SAHM) dengan Working Mom (WM). Link yang saya share itu ditambah kesimpulan yang saya tarik dari isi artikel, isinya:
Stay At Home Mom (SAHM) pun sering diserang seperti halnya Working Mom (WM), walaupun tidak terlalu diekspos media sosial. Setiap pilihan memiliki alasan yang menjadi rahasia keluarga. Kenapa harus terusik dengan penilaian orang lain? 
Yuk, stop "mengadu domba" SAHM vs WM. Semua ibu, apapun pilihannya, pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Mereka tidak butuh sindiran dan cacian, tapi dukungan dari semua pihak. Setiap ibu juga harus yakin dengan pilihannya, supaya pede menjalaninya. Ingat saja kutipan menarik ini, "Tuhan yang menciptakan, manusia yang menjalani, orang lain yang mengomentari."
Beberapa teman saya memberi 'like' dan 'comment'. Pada umumnya, mereka setuju dengan apa yang saya tulis dan isi artikel tersebut. Dan, entah ini menggembirakan atau menyayangkan, mereka semua adalah perempuan. Kemana, ya, lelaki? Apa lelaki tidak memedulikan hal ini? Suatu hal yang sangat sensitif bagi para ibu. Ya, sudahlah, lebih baik saya fokus ke permasalahan "mommy" ini.

Kenapa, sih, kita meributkan perbedaan SAHM dan WM? Kenapa kita tidak fokus pada status ibu itu sendiri? Entah dia SAHM atau WM, toh, dia adalah ibu. Ibu yang mengandung berbulan-bulan, ibu yang melahirkan; normal maupun caesar, ibu yang berusaha menyusui bayinya, ibu yang menyayangi anaknya, ibu yang merawat buah hatinya dengan penuh kasih, ibu yang akan melakukan apa pun demi kesehatan dan kebahagiaan anaknya. Walaupun, pada kenyataan, ada ibu yang mengalami kelainan.

Thursday, March 6, 2014

Ngulek, Yuk!

Sambel. S-A-M-B-E-L. Kata bakunya, sih, "sambal". Kalau dalam Bahasa Minang, disebut "samba balado". Ditambah "balado", karena kalau kata "samba" doang artinya lauk. Pada umumnya, makanan orang Minang itu selalu ada sambelnya. Tapi, tidak semua orang Minang suka makanan pedas ini. Nah, kalau saya yang 100% asli berdarah Minang, sangat suka sambel. Biasanya kalau di rumah makan Padang, tuh, ada samba balado merah dan hijau. Yang merah dimasak dari cabe keriting merah. Sementara, yang hijau dimasak dari cabe keriting muda, yang masih hijau itu. Orang-orang mungkin sudah menganggap sambal balado dari Padang ini rasanya pedas. Tapi, nggak, lho! Menurut lidah Minang saya. Hehehe... Kenyataannya, sambal dari Padang ini memang nggak terlalu pedas, kok, dibandingkan cabe rawit. Cabe kecil-kecil gendut yang warnanya dari hijau muda, oranye, sampai merah menyala.

Dekat tempat tinggal saya di Jakarta ini, ada tempat makan kaki lima yang buka tiap malam dan itu selaluuu... ramai! Lokasinya yang strategis di perempatan dan di depan Seven Eleven, mungkin memengaruhi jumlah pengunjungnya. Tapi, tempat makan yang menyediakan bermacam lauk goreng (ayam, bebek, aneka makanan laut, tempe, tahu, pete, jengkol, dll) mempunyai sambal khas, yang dinamai sambel setan. Saya jadi langganan tempat makan ini gara-gara sambelnya itu. Pedes banget banget banget! Makannya bisa sampai keringatan, tapi tetap nafsu makan.

Wednesday, March 5, 2014

Bagaimana Cara Kamu Menulis Ulang Karya Fiksimu?

Bagaimana cara kamu menulis ulang karya fiksimu? Mungkin, tiap penulis punya cara masing-masing. Saya sendiri hanya mengikuti apa yang disarankan catatan editor. Tapi, tidak semuanya. Ada beberapa catatan yang hanya perlu di-recheck dan ditambah sedikit penjelasan lagi. Saya akan bercerita tentang naskah novel perdana saya. Saya masih menambahkan kata "naskah" di depan "novel", karena saya tidak tahu pasti kapan naskah tersebut akan diterbitkan. Saya hanya harus menerima revisi ketiga ini--aha, ketiga--dan tidak berhenti berusaha menyempurnakannya, meskipun pada akhirnya karya sempurna tidaklah ada. Naskah itu ibarat manusia, nobody's perfect. Mungkin, hanya bisa mendekati sempurna. Dan, itulah yang sedang saya usahakan saat ini. Sebulan telah berlalu sejak saya menerima catatan editor. Saya belum menyelesaikannya.

Menulis ulang revisi ketiga ini adalah yang terlama. Revisi pertama yang memerlukan lebih banyak perombakan malah kelar dalam, hmm, seingat saya dua minggu. Revisi kedua datang setelah saya menunggu hampir tujuh bulan--yap, selama itu. Itu juga saya selesaikan dalam waktu dua minggu. Lalu, revisi ketiga datang empat bulan kemudian. Kok, bisa selama itu? Hahaha... saya juga penasaran. Saya tak berhak menjawab, meskipun sekadar menduga. Prasangka itu tidak baik, bukan? Jadi, saya percaya saja sama editor saya, bahwa saya tidak akan menjadi korban PHP penerbit. Demikian kata sang editor setelah saya curahkan kekhawatiran ini kepadanya langsung. Pelajaran penting, jalinlah komunikasi antara penulis dan editor. Back to the topic, kenapa revisi ketiga ini lama?

Tuesday, March 4, 2014

Buku Harian Online?

Aktif ngeblog? Pernah, dulu di Kompasiana. Sekarang, sejak tahun 2011 kalau nggak salah, saya berhenti ngeblog di sana. Saya berpindah ke sini; meracau hal-hal penting tak penting, mem-posting karya-karya fiksi tak laku, ulasan-ulasan ala kadarnya tentang film, buku, dsb. Biasanya, kalau mau update blog, saya langsung buka halaman menulis dan dengan lancar saya menulis apa saja yang mengalir dari dalam kepala. Nggak terlalu mikir, tulisannya bagus atau jelek, penting atau nggak, bermanfaat atau sia-sia. Selesai menulis pun, saya cukup baca ulang untuk revisi tanda baca, EYD, dan semacam itu. Lalu, klik "publish". Selesai!

Namun, akhir-akhir ini, sejak postingan terakhir (berarti sebelum postingan ini), saya mulai terlalu mikir. Pertama, saya menulis (sudah cukup panjang) via smartphone. Tapi, belum selesai tulisannya, saya berhenti dan sementara jadi draft dulu. Draft ini pun belum saya utak-atik lagi. Hanya tulisan simpel tentang masa kecil saya yang membuat saya menjadi saya. Saya bertanya-tanya, buat apa ya posting tulisan ini? Begitulah akhirnya saya tidak menyelesaikan draft itu. Kedua, saya menulis post baru, kali ini langsung di laptop. Tentang seorang teman yang saya petik hikmahnya. Tulisan itu selesai. Tapi, setelah ditimbang-timbang, saya tidak mengklik tombol "publish" itu. Akhirnya, jadi draft saja.