Tuesday, February 11, 2014

Cerita Si Katak


Wallpaper ponsel saya berganti-ganti suasana sesuai waktu. Wallpaper bergambar "hutan yang bergerak". Ketika pagi atau siang, layar ponsel saya menyajikan pemandangan pepohonan dan berkas-berkas sinar mentari--walaupun mentarinya tak terlihat--menelusup lewat rimbun dedaunan di puncak pepohonan. Ketika malam, berkas-berkas sinar itu tetap ada, bukan lagi dari mentari tapi dari rembulan yang juga tak digambarkan di wallpaper itu. Ketika hujan, titik-titik hujan pun membasahi layar ponsel saya. Saya baru beberapa hari memasang live wallpaper itu untuk layar ponsel saya. Setelah diperhatikan, ternyata, hutan itu dihuni oleh beberapa binatang. Binatang-binatang itu bergantian mengunjungi hutan di ponsel saya, seakan ingin menyapa saya. Hingga akhirnya, seekor kodok bermahkota menarik perhatian saya dan terlintaslah sebuah cerita. Saya mengambil screenshot, lalu mengunduhnya ke Instagram. Cerita singkat pun saya tuliskan dalam kotak komentar foto. Ada tiga screenshot yang saya ambil. Pada akhirnya, cerita tiap screenshot--sengaja tak sengaja, nyambung tak nyambung--menjadi cerita bersambung. 

Alone in the dark forest, I asked the moon above me, "I've been waiting like a thousand years, for a girl who will kiss me... Where is she? When will I find her? How can I know that she's the one?"
Then the moon smiled, and replied, "Why don't you just Google her?"
"Coz I'm a frog, you moron Moon!" cried me desperately.
Tiba-tiba, si Burung Hantu datang. Seraya bertengger di atas dahan ringkih, ia menegurku.
"Sudahlah, nikmati saja hidupmu sebagai katak. Hidup seekor katak tak akan serumit hidup seorang manusia."
Aku tak mengacuhkan racauannya. Harapanku tak akan pupus, walaupun seluruh dunia meremehkanku.
Tak ada yang lebih kesepian selain aku, yang bertengger di atas dahan pohon yang membisu, siang malam kering basah. Lihatlah.. Langit sedang mencurahkan berkah. Cambung-cambung bumi menggenang.
Tidakkah seekor katak merasa berbahagia? Hai, katak, menarilah bersama hujan! 


Awalnya, saya menulis cerita dalam bahasa Inggris. Pada screenshot kedua, saya kesulitan menemukan kata 'bertengger' sehingga, ya sudahlah, bahasa Indonesia saja. Hehehe... Screenshot pertama bercerita sedikit jenaka karena kotak pencarian Google yang sedikitnya juga memantik ide cerita. Jadi, cukup mudah menulisnya dalam bahasa Inggris. Mulai screenshot kedua, saya mulai berkontemplasi. Apalagi saya kembali membaca cerita screenshot pertama. It means something deeper! Dan apa yang bisa saya tuliskan untuk screenshot kedua yang saya ambil? Makanya, pas menulis cerita kedua, seakan saya berkaca. Sentuhan emosi pun terasa dalam cerita kedua. Begitu pula pada screenshot ketiga. Sentuhan emosi masih terasa, tapi kontemplasi saya mulai "logis". Di akhir cerita, saya justru "membanting" si Katak setelah melambungkannya seakan hanya dialah yang benar. 

Mungkin tak semua orang bisa mendapatkan sesuatu dari "cerita bersambung" mini itu. Namun, cerita yang saya tulis sendiri itu malah sangat berpengaruh bagi saya. Saya merasa sebagai si Katak yang mendamba sesuatu tanpa peduli pada apapun yang mencoba merintanginya. Saya merasa sebagai Katak yang tak bisa menari bersama hujan. Saya merasa ada yang salah dalam hidup yang saja jalani saat ini. 

No comments:

Post a Comment