Monday, January 13, 2014

Racauan Awal Tahun tentang Reading Challenge

Awal tahun 2014, Goodreads menyambut saya (lagi) dengan Reading Challenge. Tanpa pikir panjang saya memutuskan akan membaca 50 buku, seperti tahun lalu. Semula Reading Challenge tahun 2013--tahun lalu--memang saya targetkan sebanyak 50 buku, lalu saya ganti menjadi 48 buku supaya hitungannya 4 buku tiap 1 bulan. Hasilnya? Mendekati akhir tahun, jumlah buku yang saya baca memang melebihi 40. Tetapi, ternyata gagal memenuhi target. Saya mentok di buku ke-43, yaitu novel sastra terjemahan dari Albert Camus berjudul La Peste (Sampar). Buku itu sempat saya sela dengan novel "Semusim dan Semusim lagi" karya pemenang DKJ 2012 Andina Dwifatma, yang akhirnya jadi buku terakhir di tahun 2013. Sedangkan, buku Sampar pun menjadi buku pertama yang tamat saya baca di tahun 2014.

Kalau mau dievalusi kenapa saya tidak memenuhi Reading Challenge 2013 lalu, saya hanya bisa jawab karena malas saja. Boleh dibilang tahun 2014 saya juga akan malas baca novel. Tapi, saya tetap menargetkan baca 50 buku. Itu, sih, prinsipnya "who knows?!" saja. Ya, who knows saya malah semangat baca buku ketimbang nonton film. Well, ya, film juga jadi keasyikan tersendiri. Film yang saya tonton mungkin melebihi novel yang saya baca. Mungkin itu juga penyebab tersitanya waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca. Lalu, tahun ini bagaimana? Pokoknya, set target saja dulu, 50 buku!

Buku-bukunya sudah ada? Oh, ada banget! Walaupun saya tidak beli buku-buku baru sekalipun. Saya masih punya belasan buku yang belum dibaca. Saya juga punya puluhan softcopy alias ebook atau pdf karya-karya klasik yang dulu saya download sepuasnya tanpa pernah tahu kapan akan membacanya. Nah! Berhubung tahun ini adalah "tahun hemat" bagi saya, inilah saatnya saya membaca koleksi tersebut. Tidak perlu mupeng sama buku-buku baru. Koleksi lama saja masih banyak yang belum dibaca, kan?! Karena itulah, tahun ini juga akan menjadi tahun bacaan klasik bagi saya. 

Actually, sudah sejak lama saya berkeinginan membaca karya-karya klasik lebih intensif. Pada dasarnya, karya klasik sudah terjamin kualitasnya. Tentu saja, kan?! Kalau tidak berkualitas, tidak mungkin karya itu bertahan puluhan hingga ratusan tahun. Nah, saya bisa belajar menulis dari karya yang berkualitas. Tidak hanya sebagai media belajar menulis, karya klasik juga punya kesan tersendiri bagi saya. Kosakata 'klasik' itu saja sudah punya kesan baik buat saya, sejak dahulu kala. Hehehe... lebay! Dulu, saya paling suka musik klasik, bahkan sampai berkeinginan jadi pemain musik klasik, tapi tak kesampaian. Pas mulai suka sastra pun, suara hati saya pun meminta saya untuk melirik karya klasik. Pelan-pelan saya mulai baca sastra klasik dari buku-buku terjemahan. Dan tahun ini, intensitas membaca karya klasik akan saya tingkatkan. 

Sedikit review karya-karya klasik yang sudah saya baca awal tahun ini. Karya pertama yang saya baca, dari akhir tahun 2013, sih, tapi tamatnya tahun ini as I've said, Sampar karya Albert Camus terbit pada tahun 1947, tentang sebuah kota bahagia yang tiba-tiba dilanda wabah penyakit sampar. Ceritanya bertemakan universal, pesannya akan selalu menggema dari zaman ke zaman. Jadi, meskipun belum berumur satu abad, karya ini termasuk karya klasik. Karena karya klasik tak melulu harus karya tua. Karya yang akan menyinggung hati dan pikiran kita, yang akan selalu memberi artian baru tiap kali dibaca, yang menangkap citra sebuah zaman atau peradaban lewat teropong kemanusiaan, adalah karya yang layak menjadi klasik. Duh, ini pengertian saya saja, nggak tahu deh apa kata ahli! Hehehe... Setelah Albert Camus, saya baca playscript dari Oscar Wilde, berjudul The Importance of Being Ernest. Lalu, apa lagi ya karya klasik lainnya yang akan saya baca? Kita lihat saja nanti! 


No comments:

Post a Comment