Wednesday, December 31, 2014

Ceracau Akhir Tahun

Menutup tahun 2014, saya memutuskan untuk update blog. Dini hari ini, tepat setelah mandi junub. Karena sebelumnya sempat kawin. Alhamdulillah. Hehehe... Saya memasuki bulan ketiga pernikahan saya dengan pria yang pernah saya pacari empat tahun lebih. Pfft.... Begitu lama pacaran, akhirnya jadi mantan pacar. Dan sejak postingan terakhir saya perihal persiapan pernikahan, saya begitu tidak peduli dengan blog yang terbengkalai. Bahkan untuk update prewed prep pun maleees banget. Padahal beberapa hari setelah The Wedding Day, saya sempat nulis panjang di ponsel, mengeluhkan beberapa hal terkait make-up artist dan butik baju nikah. Tulisan yang masih tersimpan sebagai draft di dashboard blog ini. Makin tua, kok saya makin takut buat posting hal-hal jelek. Ah, mungkin saya makin bijaksana untuk menentukan mana yang sebaiknya diutarakan di publik, mana yang sebaiknya disimpan sendiri. Anggaplah juga saya ingin berbuat baik dengan memandang sisi positif saja dari hal-hal yang saya keluhkan itu.

Pernikahan pada sabtu pagi itu, 25 Oktober 2014, berlangsung lancar, tanpa kendala berarti. Hanya PLN tolol yang mendadak memadamkan listrik area rumah saya tepat acara akad nikah dimulai. Padahal, karena suatu hal yang telah dilakukan oleh pihak keluarga saya, PLN tak seharusnya memadamkan listrik pada hari itu, apalagi tepat pada jam itu. Setelah seseorang bersegera ke kantor PLN, beberapa menit kemudian, listrik kembali nyala. Grrr banget ulah PLN! Bapak saya juga sempat kesal. Well... the show must go on! Tibalah waktunya perjanjian suci dan sakral itu. Bapak masuk ke kamar pengantin menemui saya, menanyakan kerelaan saya untuk dinikahkan. Lalu, Bapak keluar, berhadapan dengan mempelai pria. Dan... ijab kabul pun terucap sempurna. SAH! Saya resmi jadi istri Pambudi Satria. Saya pun menemui suami saya tersebut. Minta ridho orangtua, tukar cincin, cium tangan cium kening, foto-foto, tandatangan buku nikah, foto-foto, salam-salaman dengan tamu, foto-foto, ya... selalu foto-foto.

Tuesday, September 23, 2014

Yang Tidak Kami Lakukan

Foto Prewedding sudah menjadi trend bagi pasangan yang akan menikah. Mungkin bagi sebagian orang, itu sudah menjadi semacam kewajiban. Gak lengkap kalau gak foto prewed. Kalau yang saya lihat sendiri, hasil-hasil foto prewed itu dijadikan pajangan/dekorasi di venue resepsi. Seru juga melihat aksi dan gaya pasangan-pasangan muda itu, ada yang tampak mesra, ada yang kocak, dengan pemilihan tema tertentu; mungkin vintage, old school, sport, dan sebagainya. Seru, sih... Tapi, inilah yang tidak kami lakukan.

Kenapa? Hmm... sebelum merencanakan nikah dengan serius, saya sendiri memang gak begitu tertarik dengan foto prewed. Mikirnya, emang penting ya? Hehehe... Saya juga merasa tidak nyaman kalau difoto terlalu diarahkan begitu. I like being spontaneous. Saya sih suka foto-foto. Suka banget malah. Selfie berdua sama pacar juga cukup sering. Dan selalu saya yang duluan ngajak foto. Maklum lah ya, cewek. Suka narsis! Jadi, selama ini saya memang tidak pernah mengkhayalkan sesi foto prewed kami. Saya pun bilang ke pacar, kita gak usah foto-foto prewed segala lah ya. Pacar ya setuju aja. 

Lalu, memasuki keseriusan pernikahan, saya dan pacar tetap gak ada yang ngomongin soal foto prewed. Apalagi dalam tradisi keluarga kami, gak ada yang pakai foto-foto prewed. Kalau ada yang nanyain, tinggal bilang nih udah banyak foto-foto prewed selama empat tahun. Hahaha... Karena foto prewed bukan hal yang penting bagi kami dan keluarga, lumayan deh budget pernikahan gak bengkak. Kalaupun kami mau, sebenarnya bisa aja minta bantuan sohibnya pacar yang job sampingannya fotografer. Bisa agak ngiritlah sama dia. Tapi, ya, tetap... sejak awal karena merasa foto prewed tidak penting, kami memang tidak melakukannya. 

Sebagai gantinyaaa.... Nah, lo! Kok ada gantinya ya? Hehehe... Seperti yang saya sebut tadi, foto-foto prewed kami itu udah cukup banyak, hasil foto-foto spontan selama empat tahun kami pacaran. Saya sama pacar itu seringnya LDR, kalaupun lagi sekota juga kan gak tiap hari ketemu, jadinya kalau ketemu kadang suka foto-foto selfie berdua. Palingan dari empat tahun kami pacaran itu, hanya momen-momen tertentu aja yang hasil fotonya lumayan dan, terpenting, berkesan. Nah, foto-foto semacam inilah yang akhirnya saya kompilasi dan saya jadikan... PHOTOBOOK! Yay! Hahaha....

Friday, September 12, 2014

Maleficent: Kisah Peri yang Manusiawi

Fairy tales dari Disney makin "manusiawi" saja, lho. Belum lama ini kita terkesan oleh film Frozen. Beberapa selipan moral terutama tentang cinta menyentil hampir semua cerita-cerita Disney sebelumnya. Tentang tak mungkinnya menikah dengan orang yang baru sekali bertemu. Percaya pada cinta pandangan pertama? No way! Pesan seperti itu muncul lagi di film terbaru Disney, Maleficent. Eh, sudah agak lama, sih! Saya saja yang nontonnya telat.

Maleficent ini seorang peri terkuat di wilayah Moors yang tak jauh berada di wilayah kerajaan manusia. Diperankan oleh Angelina Jolie, Maleficent memberi kesan baik dan jahat dengan berimbang. And, this is the story told us about. Gak ada hati yang sebaik malaikat punya, gak ada pula hati yang sejahat iblis punya. This heart belongs to anyone, whether you are human, or in a fairy tale case, you are fairy. Justru kebaikan dan kejahatan ini selalu berperang dalam diri kita. Berasa "manusiawi", kan?!

Sedikit review, Maleficent ini awalnya peri yang baik. Lalu, ia bertemu, berkenalan, dan jatuh cinta pada manusia. Manusia yang ternyata mengkhianatinya demi meraih kekuasaan--menjadi seorang raja; King Stefan. King Stefan kemudian menikah dengan ratu yang entah siapa namanya, lalu lahirlah seorang putri nan cantik jelita dan baik hati. (Yeah, still fairy tale!) Maleficent yang telah dikhianati--sayapnya dipotong dan dicuri oleh King Stefan--membalas dendam. Ia mengutuk Aurora, si putri kerajaan, dengan bumbu fairy tale pada umumnya. Yakni, Aurora akan tertidur selamanya pada usia 16 tahun karena tertusuk jarum. Dan, hanya ciuman dari seorang cinta sejatilah yang akan bisa membangunkannya. Tapi, sebenarnya Maleficent itu ngibul. Nggak ada kok yang bisa meluruhkan kutukan itu. Karena bagi Maleficent, cinta sejati itu gak ada. Buktinya, cintanya yang tulus saja dikhianati oleh Stefan. Untuk menjaga Aurora, King Stefan mengungsikan putrinya itu ke desa terpencil dan dirawat oleh tiga peri kecil yang menyamar sebagai manusia. Nah, di sinilah, diam-diam Maleficent selalu memantau perkembangan Aurora hingga akhirnya ia sadar Aurora tak layak menanggung kutukan itu. Intinya, Maleficent ini muncul lagi kebaikan hatinya.

Tuesday, September 2, 2014

Wedding Preparation

Menjalani LDR jelang nikah itu susah-susah gampang. Selesai acara lamaran, saya hanya punya waktu tiga hari bersama Pamski buat nyiapin pernikahan. Diburulah apa-apa yang bisa dikerjakan dalam tiga hari itu. Untungnya Pamski ini--ternyata--sangat sigap. Nggak lemot kayak saya. Hahaha... Iya, saya baru nyadar kalau Pamski ini orangnya gak males-males amat. Apa karena dia excited mau kawin ya jadi semangat ngerjain wedding prep ini? Hihihi... Tapi, memang sih tugas kami syukurnya gak banyak. Buat acara nikah sampai resepsi semuanya Insya Allah sudah ada yang ngatur. Kami pakai jasa WO untuk urusan ini. Kami sekeluarga mudah-mudahan gak pusing soal acara. Sejauh ini our wedding prep ituuu....

Deal dengan WO:
Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Deal dengan WO ini malah sudah dilaksanakan beberapa hari sebelum acara lamaran. Karena kami memang sudah yakin soal tempat dan waktu nikah, acara lamaran hanya soal formalitas. Saya dan sekeluarga inti sempat mau bagi-bagi tugas buat ngurusin acara. Kalau tempat acara sudah tradisi diadakan di rumah. Kakak saya semuanya nikah dan resepsi di rumah. Tadinya, diusulkan pas giliran saya--si anak bungsu--acaranya di gedung saja. Kapan lagi gitu kan nyobain di gedung? Tapi, sayanya gak sreg. Saya gak lihat pentingnya bikin acara di gedung di saat rumah sendiri, alhamdulillah, masih cukup buat ngadain acara. Apalagi kalau di kampung saya--kota Padang itu--orang-orang yang mau diundang itu masih banyak yang di sekitar rumah. Orang-orang itu pasti malaslah kalau mesti naik kendaraan ke resepsi, belum tentu semuanya punya kendaraan pribadi, kan?! Begitu pikir keluarga saya juga. Akhirnya sepakat deh acaranya di rumah. Kalau waktunya? Alhamdulillah, sudah sepakat juga. Setelah dua hal penting ini disepakati barulah kami memikirkan hal-hal penting lainnya. Nyari pelaminan, tenda, catering, entertainment, baju adat nikah, make-up artist, baju seragam keluarga, dokumentasi foto dan video. Saya bersyukur sekali punya keluarga besar. Sampe-sampe ponakan saya yang paling tua, yang memang suka sibuk ngurusin orang (maklum anaknya aktif banget, anak OSIS gitu, saya aja kagum sama dia, hahaha) juga ketiban pembagian tugas. Nah, tapi kemudian hari, seorang kakak saya yang kebagian nyari tenda malah menemukan Bang Adi, teman lama (dulunya tetangga kita) yang sudah menjelma jadi seorang wedding organizer. Dialah yang akhirnya jadi WO kita. Kalau lihat portfolionya lumayan oke. Dan yang pasti--katanya--kita dapat diskon. Penting ini! Hahaha.... Namanya AE Event Organizer/Wedding Organizer. Hampir semuanya dia yang ngatur, karena kita ngambil sepaket. Dari baju adat/baju baralek (yang suntiang itu), pelaminan, dekorasi, catering, entertainment, dokumentasi foto-video, tenda beserta meja dan kursinya, sampai baju seragam buat bapak-bapak (pakaian demang), hingga tambahan make-up buat pagar ayu. Buat yang tinggal di Padang mungkin AE ini bisa jadi referensi. Kalau soal make-up buat pengantinnya, dia juga nyediain sebenarnya, tapi karena kita sudah DP dengan make-up artist lain, kita gak pake dari dia. Mudah-mudahan lancar diatur sama AE ini.

Monday, August 11, 2014

Ketika Kamu Berkunjung Ke Rumahku untuk Pertama Kali

"Aku dilamaaarrr..."

Teringat iklan jadul. Hehehe...  Alhamdulillah, hari lamaran itu berlangsung lancar dan damai. Tak ada yang menentang rencana kami. InsyaAllah. Tanggal pernikahan pun telah ditetapkan. Ya, pacar dan kedua orangtuanya cukup sekali datang ke rumah saya di Padang. Bagi keluarga saya, itu tak masalah. Mereka cukup mengerti soal jarak yang cukup menyita waktu dan biaya. Makanya, penentuan tanggal, mau resepsi seperti apa, dalam keluarga saya sudah dibahas sebelum hari lamaran; Rabu, 6 Agustus 2014.

Sekitar jam 9.30 pagi, pacar dan orangtuanya landing di bandara Minangkabau. Pacar sudah menelepon saya sejak itu, berkali-kali misscalled, baru bisa saya jawab lebih 15 menit kemudian. Kakak saya dan suaminya padahal baru berangkat dari rumah buat jemput ke bandara. Untung pacar saya sabar, walaupun di telepon terdengar agak kesal, sih. Maaf ya, kesalahan teknis memang ada di pihak kami. Hehehe...

Mereka tiba di rumah jam 11 kurang. Saya tak ada di depan menyambut mereka, karena saya masih merapikan diri di kamar, baru selesai mandi. Hohoho... Kalau dalam adat saya (Minangkabau), sebenarnya keluarga pihak perempuan yang datang ke rumah pihak laki-laki. Itupun bukan keluarga inti saja, tapi keluarga besar. Calon mempelai perempuan tak ikut, sementara calon mempelai laki-laki juga hanya di dalam kamarnya, tidak bergabung dalam pembahasan lamaran dan penentuan tanggal. Berhubung calon suami saya--bosan sebut 'pacar'--berasal dari Jawa dan keluarga saya juga tak saklek soal adat, jadilah acara lamaran ini seperti pertemuan dua keluarga saja. Saya dan dia juga boleh hadir dalam acara. Nah, berhubung saya telat mandi, saya nggak lihat, deh, bagaimana dia dan kedua orangtuanya membawa lima kotak seserahan. Hehehe... Dikit, ya? Iya, yang nganter juga cuma bertiga. Tapi, tetap Alhamdulilllaah ya.

Monday, July 14, 2014

Per-Kain-An

Tiga hari sebelum saya pulang ke Padang, pacar mendadak minta saya beli kain buat isi seserahan lamaran nanti. Kain yang Insya Allah dijadikan bahan buat baju akad nikah. Kalau lamaran diterima. Hahaha... Lamaran nanti sih rencananya bukan acara ribet, hanya pertemuan dua keluarga inti. Mengingat keluarga pacar dan keluarga saya itu terpisah Selat Sunda dan Bukit Barisan. Dari Klaten menuju Padang. Tapi, yang namanya lamaran, mesti ada seserahan juga kan, ya?! Dan, salah satunya, ya itu... kain buat saya. Ini pun juga mendadak dikasih tahu ke saya. Pacar yang kebetulan lagi dinas keluar kota tidak akan sempat ketemu lagi dengan saya, setidaknya sampai hari lamaran nanti, beberapa hari setelah lebaran. Jadilah, saya dititipkan buat beli kain yang mungkin maksudnya biar sesuai dengan selera saya. Namun, saya sendiri masih bingung. Nggak tahu apa-apa tentang persoalan kain ini. Kain apa yang mesti dibeli. Bahan apa yang cocok buat baju nikah. Belinya di mana. Harganya berapa. Akhirnya, ya harus pintar-pintar sendiri. Berhubung saya juga sudah sendiri di Jakarta. Kakak saya sudah pulang kampung duluan. Om Google lah yang menyelamatkan saya dari ketidaktahuan ini.


Waktu saya tinggal dua hari lagi. Besok dan lusa. Sampai detik ini saya memutuskan untuk memusatkan area pencarian kain di Pasar Mayestik. Nggak jauh dari rumah. Di situ juga harga bersaing. Katanya, sebisa mungkin datang pagi jam 9-an biar nggak terlalu ramai. Sudah ada nama beberapa toko yang saya ingat untuk memudahkan pencarian saya, hasil dari baca-baca blog para calon manten yang berburu kain. Hal lain yang perlu diingat adalah jenis bahan kain. Untuk ini, saya harus tahu dulu mau model baju nikah kayak gimana. Browsing deh foto-foto gaun atau kebaya nikah. Dari sini, saya jadi tahu jenis-jenisnya. Ada bahan brokat, satin, sifon, dsb. Dari satu jenis bahan pun juga bercabang-cabang lagi jenisnya. Misal, brokat prancis, brokat semi-prancis, brokat korea, dan saya nggak ketemu yang namanya brokat Indonesia. Hehehe... Setelah cukup yakin dengan model baju nikah yang saya inginkan, diputuskanlah jenis kain apa saja yang akan saya beli nanti. Dan, mudah-mudahan sesuai dengan budget yang dikasih pacar. Setidaknya, malam ini saya sudah punya sedikit wawasan tentang per-kain-an ini, biar nggak bego pas belanja. Karena kalau bego, bisa-bisa ditipu harga. Apalagi, sepertinya, saya juga bakal ke Mayestik sendirian. Huhuhu...

Saturday, July 12, 2014

Who is Helvira Hasan?

I started my literary career as an indie writer, in particular short story writer. At first, my writing style was influenced by Djenar Maesa Ayu and Ayu Utami. So that, I was quite brave to publish "Lajang Jalang". I'd like to say it, a moral semi-erotic romance anthology. It was self-published with Nulisbuku.com on October 2010. I did all the preparation by myself without anyone knew about it. I merely... 
"bring it on!"

My pen name was Vira Cla. I also used this name when I got a chance to publish a short story for major publisher. This was the beginning of my literary career in mainstream publishing. I contributed in young adult (teenlit) anthologies; Lovediction 1 (IceCube KPG, February 2013) and Siwon Six (PlotPoint, April 2013). 

I never stop dreaming since then. I set my target to write a novel. The goal was accomplished and it was published by a popular publisher, Gagas Media. For this debut novel, Al Dente, I decided to change my pen name to be another pen name--Helvira Hasan. Helvira is my real first name and Hasan is my father's name. The reason is to respect my father who lets me to do this literary stuff while I often disappoint him. I won't let anyone know my middle name. But, if you already know it, please keep it for yourself. Anyway, please call me Vira. *cheers*

I still consider myself as an aspiring writer. If I could, I'd like to write in many genre. My masterpiece hasn't been born yet! Just wait and see. 

Bismillaah.


Friday, June 27, 2014

Preview Al Dente

Penulis: Helvira Hasan
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: viii + 256 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-731-2
Harga: Rp46.000,-
Blurb (sinopsis pada sampul belakang):

Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.
Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.

Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan.
Kau bukanlah orang yang kuharapkan.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan?
Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.

Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku.
Usah sisipkan kata cinta di dalamnya.
Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

***

Bab 1

          Semua yang kudapatkan selalu apa yang kuinginkan, kecuali Ben. Aku tak pernah menginginkan Ben menjadi suami ku. Tapi, kupikir lagi, tak begitu penting apa yang kuinginkan. Tepatnya, siapa yang kuinginkan. Tangan yang lebih kuasa telah menunjuk Ben menjadi suamiku. Dan, kupikir… tak ada salahnya. Yang penting adalah apa yang harus kulakukan dengan apa, atau siapa, yang telah ku dapatkan saat ini.
          “Kalau begitu, aku akan memasak pasta spesial untukmu tiap bulan, tiap tanggal pernikahan kita!” cetus Ben tiba-tiba setelah kami terdiam cukup lama karena kehabisan kata-kata. Obrolan kami sebelumnya mengenai makanan kesukaan kami masing-masing kembali dibahas.
          Langkahku pun mendadak terhenti. Seraya menelengkan kepala, kupandangi lelaki yang sebelah tangannya sedang kugenggam. Mataku memicing karena menantang matahari senja di belakang Ben.
          “Emang kamu bisa masak?” tanyaku semringah.
          “Bisa belajar. Hmm, bagaimana kalau tiap minggu?” tantang Ben.
          Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kurasakan lidah ombak kembali menjilat kakiku yang telanjang. Aku menunduk. Mataku tertuju pada bintang laut yang terdampar, sebagian tubuhnya tertutup pasir putih. Aku melepas tanganku dari tangan Ben. Memungut makhluk malang itu.
          “Demi bintang laut ini, berjanjilah kamu akan memasak pasta untukku tiap bulan, pada tanggal yang sama dengan tanggal pernikahan kita.”
          “Janji!” balas Ben mantap, tangannya ikut menyentuh sang bintang laut.
          “Gombalan pertamamu sebagai suamiku!” ledekku.
          Ben tertawa. Ia berpaling memandang laut biru yang bergelombang kecil-kecil mengejar bibir pantai. Bias semburat jingga menerpa kedua pipinya. Ben tampak bercahaya. Ben tampak… bahagia.
          “Sebenarnya, bukan karena ‘ya-suka-aja’ aku jadi suka pasta.”
          “Hmm…,” gumam Ben.
          “Mungkin, kamu sudah lupa kejadiannya. Sudah lewat belasan tahun. Waktu aku sering main ke rumahmu. Ibumu baru pulang dari supermarket. Tiba-tiba, kamu muncul dan minta dimasakin nasi goreng. Aku yang saat itu melihat barang belanjaan Tante Lita—”
          “Bunda,” potong Ben sambil tersenyum, mengingatkanku bahwa Tante Jelita telah menjadi ibu mertuaku. “Belanjaan Bunda…,” ralatku. “Ada sebungkus spageti kering.” Aku ikut tersenyum. “Aku jadi pengin bikin kamu kesal. Aku desak Bunda supaya masak spageti aja. Kamu nggak mau kalah. Aku bahkan pura-pura sedih kalau Bunda menolak, dan kamu… bersikeras. Akhirnya, Bunda mau masak spageti. Kan, pesan Bunda, mesti ngalah sama yang lebih kecil. Aku tahu kamu kesal banget waktu itu.” Aku cekikikan. “Hmm, itu spageti terlezat pertamaku. Sejak itu, aku jadi suka pasta.”
          “Yakin karena lezat? Bukan karena kamu berhasil bikin aku kesal dengan pasta?” balas Ben. Sebelah tangannya merangkul pundakku.
          Aku melirik Ben. “Mungkin, rasa kesalmu yang bikin pasta itu jadi enak banget.”
          “Argh…,” gerutu Ben seraya mengacak rambutku.
          “Kayaknya batal, nih, janjinya,” godaku.
          “Nggak, dong! Karena aku juga bakal bikin kamu kesal!”
          Tanpa bisa mengelak, aku terpaku lama. Ben telah mendaratkan bibirnya di bibirku. Kedua tanganku yang tadinya menggantung pasrah, pelan-pelan berpindah merangkul pinggang Ben. Senja pertama kami di Lombok telah menjadi saksi ciuman pertamaku. Lalu…, aku terbatuk.
          Ben melepaskan ciumannya. Ia tertawa. Kedua pipiku rasanya panas. Aku tertunduk. Ben mengangkat daguku. Tawa nya reda, berganti senyum manis. Pancaran matanya seakan menggoda. Aku tahu apa yang harus kulakukan dengan seorang lelaki tampan di hadapanku, setidaknya malam ini.
          Aku dan Ben kembali berjalan menyusuri pantai, mendekati jalan setapak menuju hotel tempat kami menginap. Lagi, kami terdiam, kehabisan kata-kata. Ben memang tak pernah kuinginkan menjadi suamiku. Namun, langit senja juga tak pernah menginginkan semburat jingga. Tangan yang lebih kuasa-lah yang menggambarkan semburat jingga di langit senja.
          Mungkinkah Ben memang semburat jingga itu… di langit senjaku?

***

Bab 2

???

Beli novel Al Dente di toko buku favoritmu. 
Bacalah hingga halaman terakhir. 

Lalu, sapa penulisnya @veecla di Twitter!

See you, my readers to be! 

^_^

Al Dente: Sebuah Roman dengan Sentuhan Filosofis tentang Pasta

Saya sedang senang, tapi juga harap-harap cemas. Al Dente, novel debut saya, baru saja rilis dalam minggu ini. Belum tujuh hari berlalu sejak kehadirannya di toko-toko buku, termasuk toko buku online. Sejak saya menerima bukti cetak Al Dente sebanyak 10 eksemplar, saya pun membagi-bagikannya kepada orang-orang beruntung yang mememangkan kuis yang saya adakan, tentu juga kepada orang-orang yang memenangkan hati saya hingga saya ikhlas memberikan Al Dente dengan gratis. Masih, saya sedang senang, tapi juga harap-harap cemas dengan nasib anak yang baru saja saya lahirkan tapi sudah lepas mengembara ke penjuru negeri. 

Tak banyak yang tahu, sekitar dua tahun lalu saya "menikah" dengan sebuah ide yang turun begitu saja dari langit, menghinggapi benak saya. Pergumulan antara ide dengan pikiran saya pun terjadi dengan sepenuh perasaan. Pergumulan yang akhirnya membentuk janin dalam rahim bernama Microsoft Word. Hingga tiba saatnya--pada waktu yang tepat--janin itu dilahirkan, dibantu oleh dokter SpOG bernama Gagas Media. Bayi yang lantas saya beri nama Al Dente kini bertaruh nasib. Nongkrong di toko-toko buku, menunggu jodoh yang akan membacanya. Al Dente, saya yakin, siap untuk bertumbuh dengan segala risiko dunia; puji dan caci. Jadi, memang, saya sedang senang, tapi juga harap-harap cemas.

Saya tak tahu dengan benar bagaimana cara menjual. Tapi, biarlah saya coba untuk menampilkan secuil karya saya, yang barangkali, akan menarik minat pembaca untuk membelinya. Berikut ini adalah blurb novel:

Agar matang sempurna, ada takaran waktu yang tepat untuk pasta.
Begitu pula cinta. Ada waktu yang tepat untuk cinta.
Namun, waktu malah mempertemukan kita dengan orang-orang dari masa lalu.
Aku yakin cintamu hanya untuk dia yang selalu kau cinta sejak lama; dan cintaku ini hanya untuknya—orang yang kutunggu sejak dahulu.
Maafkan aku, kau bukanlah orang yang kuinginkan.
Kau bukanlah orang yang kuharapkan.
Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan?
Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan, hatiku telah lama merasakan aku ditakdirkan untuk dia; dia yang masih saja membuatku penuh debar saat di dekatnya.
Usah lagi tinggalkan hangat bibirmu di bibirku.
Usah sisipkan kata cinta di dalamnya.
Lepaskan pelukmu dan kumohon jawab tanyaku; bolehkah aku meninggalkanmu?

Kalau membaca blurb saja, mungkin tak akan banyak yang tahu kalau "aku" sebenarnya ingin meninggalkan suaminya. Iya, cerita Al Dente tentang pasangan yang baru menikah. Ada tokoh bernama Cynara yang sangat menyukai masakan pasta; spageti, fusili, makaroni, dsb. Al Dente, sebuah pujian khas Italia, untuk pasta yang dimasak dengan konsistensi kekenyalan yang pas. Sebuah penanda bahwa pasta telah dimasak dalam waktu yang tepat. Lalu, apa hubungannya dengan isi cerita? Saya pikir, sebaiknya, langsung baca saja ceritanya. Tapi, tenanglah, cerita ini bukan "foodlit". Cerita ini tetaplah sebuah roman, yang mengisahkan perjalanan dua insan menuju satu cinta. Tentunya, dengan sentuhan filosofis tentang pasta. Tentang Al Dente.

Penulis: Helvira Hasan
Ukuran: 13 x 19 cm
Tebal: viii + 256 hlm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-731-2
Harga: Rp46.000,-

Selamat menikmati Al Dente!

Salam,

Helvira Hasan
nama pena baru saya.

Thursday, June 26, 2014

Workshop Penulisan Cerpen Kompas 2014

Beberapa minggu lalu, saya mendaftarkan diri ikut seleksi penerimaan peserta workshop penulisan cerpen harian Kompas. Itu pun sudah mepet deadline. Procrastinator! Hehehe... Saya mengirim CV yang cukup unik (seperti yang diharapkan panitia). Bagi saya, unik berarti mencantumkan empat judul cerpen yang pernah ditolak terbit oleh Kompas (memang menerima surat penolakan resmi dari Kompas). Hahaha... Lalu, saya juga lampirkan empat cerpen sebagaimana yang disyaratkan, yakni mengirim 2-4 contoh cerpen. Cerpen-cerpen yang saya kirim pernah saya terbitkan di blog ini; Hujan di Gurun Sahara, Pemilik Rahasia, Tak Berencana, dan Dimensi Tanpa Waktu. Yang pasti, keempat cerpen tersebut memang belum pernah saya kirim ke Kompas. Jadi demikianlah hingga akhirnya pada suatu pagi yang cerah, 25 Juni 2014, saya berangkat dengan riang gembira ke Palmerah Selatan. Yup, saya patut bersyukur, karena termasuk salah satu yang berbakat dan beruntung, bersama dengan 29 peserta lainnya yang lolos dari 380 nama pendaftar. Kini, saya mau berbagi apa-apa saja yang kiranya dapat saya bagi dari hasil workshop kemarin. Apalagi cukup langka saya bisa mendapat kesempatan sekelas bareng Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor. Ya, maestro cerpen tanah air!

Seno bukanlah guru yang membosankan. Ia tidak menampilkan presentasi seperti slideshow di depan kelas ataupun menyuguhkan teori ini-itu. Ia mengajak kami menjelajah pikiran. Membebaskan pikiran. Menemui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dari sebuah kejadian. Tetapi, juga perlu dicatat kalau segala yang mungkin itu hendaknya pantas untuk dituliskan. Saya menangkapnya sebagai hal yang memang patut dipikirkan. Cerpen menjadi bermakna karena membuat orang (pembaca) untuk berpikir. Jadi, cerpen itu bukanlah curhat dari penulisnya. Kita harus mematahkan mitos bahwa sastra itu curhat. Namun, tentu saja pengalaman pribadi atau subjektivitas pikiran si penulis boleh menjadi basis pemikiran dalam cerpennya, asalkan syarat lainya terpenuhi.

Kata Seno, cerpen itu seperti cerita sekali tonjok! Cerpen merupakan sepotong suasana, secuil plot, yang menggambarkan sebuah ironi. Bagi Seno, cerpen yang bagus harus ada ironi kehidupan. Cerpenis yang jeli hendaknya bisa menangkap ironi dalam absurditas kehidupan sehari-hari. Dari ironi ini, kita bisa menemukan sesuatu yang harus diperjuangkan. Berat, ya? Hihihi... Karena itu, menulislah dengan bahasa yang mudah dimengerti. Sastra tidak selalu berbahasa mendayu-dayu, puitis, atau kalimat-kalimat rumit yang membuat kening mengerut. Tapi, kenapa ya, justru banyak karya yang berlabel sastra membikin banyak pembaca mengerutkan kening? Konon, label sastra itu hanya kesepakatan sosial "penguasa". Mungkin, supaya ada yang dipelajari di fakultas sastra. Hahaha...

Friday, May 30, 2014

Review: (Bukan) Salah Waktu



Nastiti Denny telah dikenal sebagai penulis cerpen dalam buku-buku antologi yang luar biasa. Kali ini, Nastiti berhasil menjadi pemenang naskah pilihan dari lomba menulis novel Bentang Pustaka dengan tema Wanita Dalam Cerita. Dalam novel debutnya, saya menemukan penuturan cerita yang sangat runut dan rapi. Tapi begitu mendekati ending, cerita menjadi terpotong-potong. Pada beberapa bagian, narasi terlalu panjang, deskripsi juga terlalu detail, yang mana ini bukanlah selera saya. Saya selalu geli tiap baca sentimenter atau kilogram yang menggambarkan fisik tokoh. Ya, ini hanya masalah selera.

Konflik utama cerita ini adalah terkuaknya masa lalu sepasang suami istri, Sekar dan Prabu. Tetapi, menurut saya, penyelesaiannya malah lari ke tokoh-tokoh lain. Tidak adanya penyelesaian yang personal antara Sekar dan Prabu membuat konflik besar dalam cerita ini seakan-akan tidak pernah terjadi. Setelah dua tahun menikah, entah bagaimana bisa masa lalu Sekar dirahasiakan begitu rapat dan itu juga membutuhkan kerjasama dengan orangtua Sekar. Tapi, rahasia itu malah terbuka dari orangtua Sekar. Setelah konflik yang didera Prabu ini, saya menunggu penyelesaian antara mereka. Tapi, yang terjadi malah munculnya konflik lain dan Prabu tampak sudah lupa begitu saja dengan permasalahan soal rahasia Sekar. Begitu pula ketika konflik lain itu muncul, yaitu masa lalu Prabu yang diketahui oleh Sekar, penyelesaiannya malah Prabu lebih berurusan dengan Laras. Sekar juga malah lari ke rumah ibunya. Lalu, entah kenapa mendekati ending, hanya kemunculan Wira yang seolah-olah sudah menyelesaikan semua permasalahan suami istri tersebut. Bagaimana dengan rahasia Sekar? Bagaimana dengan masa lalu Prabu? Bagaimana dengan pertikaian Prabu dan Bram yang sampai jontok-jontokan itu? Apakah tidak membuat kedua suami istri itu bicara dari hati ke hati? Sebagai pembaca, saya mengharapkan adegan ini. Tapi, tidak ada. Romansa/chemistry antara Prabu dan Sekar menjadi tidak terasa. Justru romansa ini sedikit terasa pas hubungan Sekar dan Bram. Penyelesaian masalah Sekar dengan Miranda yang sahabatnya dan kekasih Bram juga mengambang.

Saya juga menemukan salah ketik atau ketidaktelitian penulis/pembaca pertama/editor. Awalnya disebut Pak Toni itu direktur perusahaan minyak (hal 13), lalu disebut juga ia punya jabatan penting di badan pertanahan (107). Bagaimana bisa? Lalu, Sekar yang menunggu sekian puluh tahun untuk mendapat jawaban perihal Mbok Ijah. Apakah masa kuliahnya di Yogyakarta sudah lewat puluh tahun? (hal 133)

Menurut saya, jika karya ini dibaca lagi oleh penulisnya, dan editornya juga teliti memberi masukan-masukan, lalu ditulis ulang sedemikian rupa, karya ini akan lebih baik. Karena cara tutur penulisnya sudah baik dan tema yang diangkat juga cukup bagus. Apalagi dengan cover gambar jam, keterangan waktu berupa jam sekian yang sering muncul dalam narasi di awal hingga pertengahan cerita sebaiknya juga diteruskan hingga akhir cerita. Supaya bisa ada koneksi plus dengan judul dan cover.

Tak ada cerita yang ditulis menjadi sia-sia. (Bukan) Salah Waktu setidaknya telah menyuguhkan pesannya kepada kita. Jangan ada rahasia di antara kita; suami istri. Dan...

"Cinta terkadang memang sesederhana memaafkan masa lalu..." (hal 244)


Thursday, May 22, 2014

Tentang Kebahagiaan

Apa yang bisa membuatmu bahagia?

Menyecap es krim sambil duduk di jok belakang mobil Mercedes yang disetir oleh seorang supirmu?

Bisa jalan-jalan keliling dunia, meskipun dengan cara backpacker?

Melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya? Mendapat beasiswa ke luar negeri? Menjadi ilmuwan? Berbakti pada nusa dan bangsa?

Atau, menjadi apa pun selama orangtuamu meridhoi dan mereka berbahagia karenanya?

Bahagia juga bisa karena menikah dengan orang yang kamu cintai sepenuh hati, lalu juga memiliki karir cemerlang? Punya anak-anak yang sehat dan pintar?

Segala sesuatunya, apalagi yang sering kita lihat di media sosial, pada umumnya adalah gambaran di atas. Singkat kata, gambaran kebahagiaan. Apapun impianmu, harapanmu, keinginanmu, selama itu akhirnya tercapai, kamu akan merasakan kebahagiaan.

Mungkin Leo Tolstoy, di alam sana, perlu mengkaji ulang tulisannya dalam karyanya Anna Karenina.

Tuesday, May 20, 2014

Ucapan Terima Kasih



Kapan terakhir kali kamu menulis ucapan terima kasih? Kalau kamu pernah wisuda, minimal menjadi sarjana, pasti pernah menulis ucapan terima kasih, sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan kamu menyelesaikan karya tulis ilmiah berupa skripsi. I have done it, too. Years ago. Dan, apakah saya masih ingat kepada siapa-siapa saja saya berterima kasih? Yang pasti, nama orangtua dan keluarga, serta nama dosen pembimbing tak akan terlewat begitu saja. Terutama lagi, kalau kita memiliki keyakinan tertentu, nama Tuhan pun tak luput ditulis. Lalu, siapa selebihnya? Masih ingat?

Ucapan terima kasih dalam skripsi, tesis, disertasi, dan buku lainnya, umumnya dibatasi jumlah halaman. Apakah ini ketentuan baku, saya tak begitu tahu. Dalam satu atau dua halaman, kita akan menuliskan nama-nama orang yang telah membantu kita, khususnya yang membantu dalam pencapaian kita tersebut. Tuhan yang telah memberi berkah kelulusan, orangtua dan keluarga yang telah memanjatkan doa, para dosen yang telah membagi ilmu, dan, mungkin, teman-teman seperjuangan yang menyemangati. Kalau ada pacar, nama pacarnya pun tak lupa ditulis, atas perhatian yang tak kurang ketika kita malah mengurangi perhatian kepadanya. Hehehe... Bukan curcol, kok!

Wednesday, April 30, 2014

Menerjemahkan Puisi

Puisi. Rangkaian kata indah penuh makna. Tapi, sayang sekali, saya jarang baca puisi. Saya lebih suka menenggelamkan diri dalam prosa, lebih tepatnya cerita; cerpen maupun novel. Lalu, suatu ketika saya membaca sebuah puisi berbahasa Inggris di sebuah note FB seorang teman. Puisi itu langsung 'nyantol' di benak saya. Puisi berjudul Present Tense yang ditulis oleh Jason Lehman pada tahun 1989. Puisi, yang menurut saya, menggambarkan sifat manusia yang paling primitif; menginginkan. Tanpa direncanakan, saya membaca kembali puisi itu, puisi yang sudah saya salin ke blog Tumblr saya. Tanpa pikir panjang, halaman puisi di blog itu saya screenshot dan saya unggah ke Instagram, sekaligus menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia; sebagai keterangan foto.

Hasil unggah ke Instagram

Sebelumnya, saya tak pernah menerjemahkan puisi. Tapi, saya tidak asing dengan bahasa Inggris. Sejak tahun pertama kuliah, saya sudah terbiasa membaca textbook berbahasa Inggris sekaligus menerjemahkannya (menulis paper). Tapi, bahasa textbook tentu lebih kaku. Maka, ketika saya berhadapan dengan puisi, saya mencoba untuk tidak terlalu 'saklek' menerjemahkannya. Saya merasa-rasa kata-kata yang tepat untuk saya gunakan dalam puisi berbahasa Indonesia. Padahal, saya jarang sekali menulis puisi. Ya, satu dua kali memang pernah saya hasilkan puisi. Karena itu, saya yakin saya tidak cocok menjadi penyair. Tapi, untuk satu puisi ini, saya ingin sekali menerjemahkannya, tanpa keinginan untuk berlatih menulis puisi, misalnya. Mungkin, ini sebagai latihan awal bagi saya untuk menerjemahkan novel berbahasa Inggris. Ya, saya berkeinginan untuk menerjemahkan satu dua novel yang saya suka. Semoga saja sempat. Kali ini, terjemahan puisi dulu.

Monday, March 31, 2014

Oversharing On Social Media

"As if every thought that tumbles through your head is so clever it would be a crime for it not to be shared. The Internet's not written in pencil, Mark, it's written in ink." - The Social Network
I think it's well said. For it's "permanent record" even after we are dead, I'd better stop oversharing my thoughts, feelings, and experiences on social media. Moreover, if those things relate to my personal value. Perhaps, I need to rethink about what I had written on this blogpost. So, for now and then, I only share something which are worthy to share to public. Anyway, I try my best to keep update the story of Single Fighter. And, what else? Well... Let me see then, how long I can restrain myself not to share on Facebook, Twitter, Instagram, and even this blog.

Actually, oversharing depends on each person's value. Someone might think that upload the selfie is not oversharing, but for someone else, it is. It's better to define oversharing according to our value. Somehow, oversharing is desirable. We can't resist to keep our joy, even sadness, alone. We demand people's attention. Then, what if no one notice it? Whatever, folks! For I myself, I've decided to keep my personal life in secret. Secret is a new sexy! Hahaha...

See you on my next blogpost--about anything but my life. Unless, it's worth sharing! Hehehe...

Friday, March 28, 2014

Kelinci dan Kura-kura: Empat Hari Lomba Lari

Pada suatu hari, di bawah naungan dedaunan lebat pepohonan hutan yang asri, seekor kelinci melihat kura-kura berjalan melewatinya. Kura-kura berjalan sangat pelan. Kelinci yang sedang bersandar di batang pohon seketika mendapat ide. Dia segera bangkit dan menghampiri kura-kura.

"Hai, kura-kura, kau mau ke mana?" Kelinci bertanya. Tampak senyum jailnya mengembang.
"Tidak ke mana-mana, hanya berjalan santai saja menikmati hari." Kura-kura menjawab, matanya tampak sayu.
"Bagaimana kalau kita bermain saja. Aku punya tantangan menarik buatmu."
"Apa?"

Kelinci berbicara dengan percaya diri. Ia mengajak kura-kura bertanding lari dengannya. Tentu saja, pikirnya, ia akan menang melawan kura-kura. Kura-kura, ketika mendengar ajakan kelinci, sejenak berpikir. Lomba lari? Jalanku begitu pelan, seumur hidupku aku tak pernah berlari. Kura-kura membatin. Tapi, ia tak menolak. Ia ingin mencoba berlari. Tantangan kelinci setidaknya menarik perhatiannya. Entah ia akan menang atau kalah, kura-kura tak begitu memikirkannya.

Garis start dan finish akhirnya ditentukan oleh kelinci. Kura-kura menyanggupi. Dimulai dengan hitungan satu-dua-tiga, mereka pun memulai pertandingan itu. Awalnya, kelinci dengan cepat meninggalkan kura-kura. Ia berlari jauh lebih cepat daripada kura-kura. Sementara, kura-kura sekuat tenaga mencoba menarik dirinya dan cangkang di atasnya. Kura-kura sekali pun tak berhenti. Ia terus melaju meskipun kecepatannya berbanding jauh daripada kelinci.

Garis finish masih beberapa meter lagi, kelinci yang tahu kura-kura tertinggal jauh memutuskan untuk menunggu kura-kura. Kalau kura-kura sudah terlihat, kelinci akan melanjutkan larinya. Ia tetap akan menang. Maka, beristirahatlah kelinci di bawah sebuah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi akhirnya melenakan kelinci. Kelinci tertidur lelap.

Tanpa disadari oleh kelinci, kura-kura telah mendekati garis finish. Garis itu tinggal selangkah lagi oleh kura-kura. Tepat ketika itulah, kelinci terbangun. Tapi, kura-kura telah melewati garis finish itu. Kelinci menangisi kekalahannya.

Keesokan harinya, kelinci yang sudah menyadari keteledorannya, menantang kura-kura kembali. Kura-kura menyanggupi lagi. Mungkin kemenangannya kemarin telah meningkatkan rasa percaya dirinya. Tapi, yang tidak diketahui kura-kura, kelinci tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Sekeras apa pun usaha kura-kura, akhirnya kelinci yang memenangkan lomba lari itu. Kura-kura pun mengakui kehebatan kelinci.

Thursday, March 27, 2014

Dear, my silent readers...

Hari ini, saya menerima surat penolakan dari sebuah penerbit. Naskah novel kedua saya katanya masih perlu diperbaiki. Baiklah. Tapi, saya tak akan memperbaikinya sekarang. Banyak hal lain yang harus saya kerjakan. Hehehe...
Saya memang sedang tak mau terlalu memikirkan penerbitan. Tidak seperti dulu, getoool banget. Kegetolan yang sedikitnya membuahkan hasil. Naskah novel debut saya sudah ada yang ngurusin sekarang. Hanya saja, saya tidak tahu kapan jadwal terbitnya. Saya sudah berusaha, biarkan Tuhan yang menentukan akhirnya.
Malam ini, saya sedang tak ingin banyak meracau. Sekian saja blogpost kali ini. Selamat malam, my silent readers.

Wednesday, March 26, 2014

Que Sera Sera

When I was just a little girl
I asked my mother what I will be
Will I be pretty? Will I be rich?
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
When I was just a little boy
I asked my mother what I will be
Will I be handsome? Will I be rich?
Here's what she said to me
Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera
What will be will be
Lirik di atas adalah lagu lawas populer, Que Sera Sera. Saya tak tahu pasti siapa yang menyanyikannya pertama kali, siapa penciptanya, dan kapan diciptakan. Dan, saya sedang tak ingin 'googling'.
Kenapa saya bisa hapal lagunya? Karena saat kakak saya melahirkan anak pertamanya, dia sering mendengarkan lagu ini pada bayinya. Sejak itu, saya pun juga jadi sering mendengar lagu ini. Lama kelamaan saya bisa menyanyikannya, hapal liriknya. Entah siapa penyanyinya, saya tak begitu perhatikan. Judul lagu ini pula yang akhirnya menjadi inspirasi saya menulis sebuah cerpen. Bukan cerpen terbaik saya, tapi lumayanlah, salah satu yang masuk dalam buku kumpulan cerpen pertama saya.
Que Sera Sera. What will be will be. Apa pun yang terjadi, terjadilah.
Bagi yang beriman pada Tuhan, mungkin bisa memahami kalimat di atas sebagai berserah. Tapi, kalau dibaca lagi lirik keseluruhannya, artinya berubah menjadi pasrah. Hmm, menurut saya sih gitu. Perhatikan saja ketika si anak bertanya apakah ia akan kaya, si ibu malah menjawab, "Apa pun yang terjadi, terjadilah. Kita nggak bisa lihat masa depan, Nak." Kira-kira begitu. Kira-kira, ya, pasrah. Artinya akan berbeda kalau liriknya ditambah dengan, "Yang penting kamu berusaha dulu supaya menjadi apa pun yang kamu mau." Nah, kalau begini, kita akhirnya berserah. Masa depan siapa yang tahu?! Selama kita sudah berusaha, ketetapannya tetaplah hak prerogatif Tuhan. Makanya, orang sukses banyak yang tetap bergantung pada Tuhan, mereka banyak berdoa, supaya usaha mereka membuahkan hasil yang mereka inginkan.
Ora et Labora! *judul blogpost kemarin! Hehehe...

Tuesday, March 25, 2014

Ora et Labora

Saya baru saja menamatkan buku Langkah Sejuta Suluh yang ditulis oleh Clara Ng. Buku ini merupakan sekuel dari Mimpi Sejuta Dolar. Ya, kedua buku itu bercerita tentang kisah nyata milyuder muda dari Indonesia, Merry Riana. Merry Riana bukanlah nama yang asing bagi saya. Sejak kemunculannya di talkshow Kick Andy, Merry Riana makin berkibar tidak hanya sebagai entrepreneur, tapi juga sebagai motivator. Saya tidak membaca buku Mimpi Sejuta Dolar. Kebetulan buku Langkah Sejuta Suluh ada di rumah, kakak saya yang membeli, saya pun langsung penasaran dengan isi buku sekuel ini. Tanpa membaca buku pertamanya, ternyata buku sekuel ini tetap bisa "berdiri sendiri".

Buku ini saya tamatkan dalam dua sesi baca. Setengah pertama saya baca pada sesi pertama, setengah terakhir saya baca pada sesi kedua. Dan, begitu saya selesai membaca akhir cerita, air mata saya menetes. Betapa perjuangan seorang perempuan muda, yang bahkan belum mencapai usia tiga puluh, telah berhasil menggapai satu mimpi besarnya, tidak hanya itu, tapi juga berhasil menjadi penerang bagi orang-orang di sekitarnya. Langkah Sejuta Suluh, mengisahkan langkah-langkah Merry Riana dari titik nol sampai menjadi "perempuan berpenghasilan 1 juta dolar pada usia 26 tahun". Dari seorang relawan organisasi yang sering mengadakan seminar-seminar motivasi dan sejenisnya, menjual tiket-tiket seminar, direkrut menjadi sales produk-produk keuangan, hingga meraih angka penjualan tertinggi di antara sales-sales lainnya, sampai kemudian, mendirikan agency sendiri, menjadi manajer, lalu direktur dan merekrut pemuda-pemudi untuk menjadi seperti dirinya; bermimpi besar dan berani memperjuangkan mimpi itu. Dalam setiap langkahnya, dalam setiap doanya, Merry Riana tidak memikirkan kepentingannya sendiri. Ia bekerja keras tidak hanya supaya mimpinya tercapai. Ia bekerja keras untuk membahagiakan orangtuanya. Dan, ketika ia lelah, cinta teruntuk keluarga yang mampu membuatnya bangkit kembali. Cinta dari kekasihnya pula yang kembali memberinya semangat berjuang. Cintanya kepada Tuhan juga yang selalu menguatkannya. Merry Riana adalah bukti hidup bahwa kerja keras dan doa adalah kunci keberhasilan. Ora et labora
Sudah setekun apa doamu?
Sudah sekeras apa kerjamu?
Orang sukses tidak hanya bekerja keras dalam meraih kesuksesan, tapi juga sangaaat bergantung pada Tuhan. Seorang arsitek internasional yang kini menjabat Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah sosok yang ingat Tuhan. Saya ingat profil dirinya dalam acara Kick Andy. Seorang mahasiswa prestasi di fakultas saya dulu, adalah sosok yang juga tidak meninggalkan ibadah. Merry Riana menyadari kesuksesannya adalah berkat dari Tuhan. Banyak orang yang sukses, tapi berapa banyak yang tetap rendah hati dalam kesuksesan? Hanya mereka. Mereka yang bekerja keras, tapi tetap ingat Tuhan.

Tahu kenapa saya meneteskan air mata setelah membaca buku Langkah Sejuta Suluh?

Tak perlulah saya jawab.


Monday, March 24, 2014

Kekuatan Pikiran

Malam ini, saya nggak nulis cerita Single Fighter. Saya sendiri bosan menuliskannya. Apa lagi pembaca, ya kan?! Hehehe... Saya tidak tahu akan menjadi berapa seri cerita Single Fighter itu. Kalau saya terus-terusan menulis ceritanya setiap malam tanpa saya tahu kapan ceritanya berakhir, blog saya tidak akan berwarna lagi. Makaaa... saya memutuskan untuk menulis cerita Single Fighter hanya pada minggu terakhir tiap bulan. Kebetulan malam ini sudah masuk minggu terakhir, sementara ceritanya sudah tayang minggu sebelumnya, jadiii... kelanjutannya ditulis bulan depan saja. Nah, ini termasuk info penting pertama dari blogpost kali ini. Terus, info penting selanjutnya apa?

Saya nggak tahu mau nulis apa sebenarnya. Hmm, malam ini mungkin saya hanya meracau apa saja yang akan tertuang dari benak dan/atau hati, yang mengalir melalui jemari yang menari di atas keyboard laptop. Saya nggak tahu pasti apakah saya sedang memikirkan apa yang saya tulis atau merasakan apa-apa yang hendak saya tuliskan. Entahlah... Mungkin, sedikit memikirkannya. Karena sesaat sebelum ini, saya berhenti menulis sejenak. Mungkin, bingung mau tulis apa lagi. Haduh, lupa!!! Bukankah saya tak boleh berpikir terlalu lama saat menulis ini? Saya kan harusnya berlatih menulis cepat! Ah, sial!

Friday, March 14, 2014

Sempurna Dalam Ketidaksempurnaan

Aku jauh dari sempurna, bahkan ketika dulu aku begitu ingin mengejar kesempurnaan.

Aku ingin menjadi anak terpintar di antara teman-temanku. Tapi, kemudian, aku sadari aku tercipta dengan IQ di bawah Einstein. Ternyata, banyak anak yang lebih pintar daripada aku.

Aku ingin menjadi gadis tercantik menurut standar penilaian produk-produk perempuan. Tapi, kemudian, aku sadari genetik tubuhku tak mendukung untuk itu. Ternyata, aku tetaplah gadis cantik, mesikpun banyak gadis yang lebih cantik karena sesuai dengan standar yang berlaku.

Aku ingin menjadi manusia multi-talenta. Kucoba segala hal yang menarik perhatianku. Aku berlatih biola, berharap aku akan mahir memainkannya. Aku ikut bermain basket, supaya bisa menjadi atlet seperti kakakku. Aku mencoba menulis cerita, bermimpi aku akan menerbitkan buku sendiri. Aku belajar bahasa Prancis, karena satu bahasa asing tak cukup memenuhi hasrat kesempurnaanku. Aku mengejar cita-cita yang diidamkan banyak orang, karena itu akan menambah prestiseku.


Namun, kemudian, multi-talenta itu hanya lamunan. Aku bertumbuh menjadi seorang yang pemalas, tak bergiat mencapainya. Aku hanya ingin, ingin dan ingin. Tapi, di tengah jalan, ketika kutemui halangan, aku menyerah. Komitmenku terhadap segala pilihanku terputus begitu saja.

Biola sudah kumuseumkan. Basket sudah jauh hari kutinggalkan. Bahasa Prancis tak pernah kupelajari lagi. Mimpi menjadi penulis pun akan kusudahi. Hanya cita-cita akan prestise yang masih bertahan, karena pengorbanan orangtuaku telah terlalu besar untuk itu. Ternyata, aku bukanlah manusia multi-talenta.
Lantas, apakah karena aku tak bisa menjadi apa yang kuinginkan aku tidak sempurna? Kecerdasanku memang tak sempurna. Kecantikanku memang tak sempurna. Talentaku tak sempurna. Bahkan, hatiku, jiwaku, naluriku, nuraniku, moralku, mentalku, juga jauh dari sempurna.

Inilah aku sebagai manusia biasa. Dan, ternyata, kusadari bahwa sebagai manusia biasa, diriku ini sesungguhnya sempurna. Karena aku menyadari ketidaksempurnaan yang ada dalam diriku.

We're perfect because we're imperfect.

Thursday, March 13, 2014

Tega, tega, tega!

Kabarnya, kabut asap di Provinsi Riau dan Sumatra Barat--kampuang nan jauah di mato--kian tebal dan sangat mengganggu pernapasan dan kelancaran beraktifitas. Di Facebook, saya ketemu foto titik-titik api di wilayah itu. Titik-titik api yang menjadi pertanda titik-titik keserakahan manusia. Manusia-manusia yang tidak memedulikan ekosistem, lingkungan, alam, satwa liar yang menghuni hutan tapi malah dibakar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Semua itu untuk apa? Demi pemenuhan keserakahan mereka akan uang, uang dan uang yang tak berbatas. Semakin menumpuk uang, semakin mereka serakah.
Apa yang harus saya lakukan? Saya tak bisa berbuat apa-apa selain hanya berharap kabut asap mereda. Masyarakat sana telah menggelar sholat istisqa' meminta hujan turun menghalau kabut. Lantas, pejabat yang berwenang ngapain? Entahlah...

Hari ini, saya juga membaca berita di portal online, seorang pemulung perempuan digelandang Satpol PP dengan kasar, yang begitu sedih karena harus berpisah dengan anjing peliharaannya, anjing yang setia menemaninya bekerja memulung sampah. Dari hasil pekerjaannya itu, sang pemulung telah mengumpulkan uang hingga 17 juta rupiah. Uang hasil jerih memulung itu ingin digunakan untuk membangun rumah untuk tinggal bersama anjingnya. Tapi, apa daya, entah uang itu masih ada di tangannya atau tidak, sang pemulung telah dipaksa menghuni panti sosial milik pemerintah, karena dibawa paksa oleh Satpol PP. Di sana pun, pemulung dipaksa dipotong pendek rambutnya seperti lelaki. Manusia yang berusaha bertahan hidup dengan cara yang halal, tidak mengemis, tidak memalak, malah membantu membersihkan sampah-sampah, mempunyai kesadaran menyayangi binatang itu, tak tahu harus berbuat apa lagi demi bertemu dengan anjingnya.

Wednesday, March 12, 2014

Pekerjaan Menunggu

Banyak yang bilang kalau menunggu adalah pekerjaan paling membosankan di dunia akhirat. Hmm, di akhirat nanti antrian panjang banget, kan?? Hehehe... Baiklah, saya akan perkecil lingkup racauan malam ini. Menunggu sebagai bagian dari pekerjaan seorang penulis. Sebenarnya, saya lebih suka menyebutnya pengarang, sebutan khusus untuk penulis fiksi. Tapi, dalam tulisan ini saya akan tetap memakai istilah penulis. Karena yang ingin dan/atau yang sudah menerbitkan buku tidak hanya pengarang.

Awal saya "berkenalan" dengan penerbit X--yang akan menerbitkan naskah novel perdana saya--sudah cukup lama, dua tahun yang lalu. Tepat dua tahun. Ketika penerbit X mengadakan seleksi peserta kelas menulis kreatif. Supaya lolos seleksi, saya harus memenuhi "syarat dan ketentuan yang berlaku", yaitu sinopsis, outline dan bab pertama dari novel yang ingin saya tulis. Kesemua itu dikirim lewat email. Setelah menunggu sekitar satu bulan, keluarlah pengumuman peserta yang lolos. Salah satunya, saya. Alhamdulillaah.

Pada hari kelas menulis kreatif berlangsung, saya--dan belasan peserta lain--cukup bersemangat. Kami, ternyata, punya peluang menjadi penulis di penerbit itu. Tentu, jika calon naskah kami yang lolos seleksi itu bisa diselesaikan. This is my chance, begitulah pembakar semangat saya saat itu. Saya si indie writer yang ingin menembus penerbit major. Setelah hari itu, kurang dari dua bulan kemudian, naskah selesai saya tulis. Naskah pun saya kirim ke email seorang editor yang menjadi mentor kelompok saya di kelas menulis. Saya tak mendapat balasan. Sebulan saya tunggu kabarnya. Saya, akhirnya, "nyolek" editor ini lewat Twitter. Ternyata, oh, ternyata... Editor tersebut menyatakan telah resign dari penerbit X. Tapi, dia bilang, naskah saya akan dioper ke editor lain. Kepada editor baru ini, saya menanyakan kabar naskah saya lewat email dan Twitter yang keduanya tidak berbalas.

Tuesday, March 11, 2014

Berlatih Menulis Cepat

Akhir-akhir ini, saya jadi sering update blog. Dimulai hari selasa lalu, saya posting tentang rencana saya terhadap blog ini. Saya akan update blog setiap malam. Sejak itu, empat malam berturut-turut saya update blog. Ada saja bahan cerita hari itu yang saya jadikan tulisan. Tapi, pas malam akhir pekan--Sabtu dan Minggu-saya absen posting. Rencana menulis tiap malam di blog jadinya saya rencanakan ulang, replanning. Memasuki Senin malam, blog pun update post baru. Saya memutuskan sebaiknya ada jeda istirahat untuk menulis. Maka, seperti pekerjaan lainnya, weekend menjadi hari libur saya untuk update blog.

Penulis adalah profesi. Pekerjaannya adalah menulis. Jadi, saya pikir, menulis di blog ini adalah bagian dari pekerjaan saya sebagai penulis, meskipun masih penulis kelas teri. Hahaha... Karena kita tidak tiap hari bekerja, maka saya pun tidak menulis tiap hari, alias saya menulis hanya pada hari kerja. Lebih tepatnya, pada "malam" kerja. Karena saya memang baru bisa melakukannya pada malam hari. Hehehe... Tapi, kalau update blog ini bagian dari pekerjaan, berapa gaji saya sebulan? Nah, lo?!

Setiap pekerjaan pasti akan membuahkan hasil. Bagi saya, menulis setiap weekdays ini nantinya juga akan saya petik hasilnya. Tidak dalam bentuk uang. Entah apa, yang pasti, kemampuan menulis cepat saya akan lebih terasah. Update blog ini memang salah satu cara belajar menulis cepat. Saya pribadi tidak butuh waktu lama-lama buat update blog. Apapun yang terlintas di benak bisa saja langsung dipindahkan ke blog ini. Saya mungkin butuh waktu antara setengah sampai satu jam untuk menulis satu postingan.

Monday, March 10, 2014

Flexible Mom

Dua hari lalu, saya share artikel menarik dari mommiesdaily.com ke halaman Facebook. Tentang "perselisihan" antara Stay At Home Mom (SAHM) dengan Working Mom (WM). Link yang saya share itu ditambah kesimpulan yang saya tarik dari isi artikel, isinya:
Stay At Home Mom (SAHM) pun sering diserang seperti halnya Working Mom (WM), walaupun tidak terlalu diekspos media sosial. Setiap pilihan memiliki alasan yang menjadi rahasia keluarga. Kenapa harus terusik dengan penilaian orang lain? 
Yuk, stop "mengadu domba" SAHM vs WM. Semua ibu, apapun pilihannya, pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Mereka tidak butuh sindiran dan cacian, tapi dukungan dari semua pihak. Setiap ibu juga harus yakin dengan pilihannya, supaya pede menjalaninya. Ingat saja kutipan menarik ini, "Tuhan yang menciptakan, manusia yang menjalani, orang lain yang mengomentari."
Beberapa teman saya memberi 'like' dan 'comment'. Pada umumnya, mereka setuju dengan apa yang saya tulis dan isi artikel tersebut. Dan, entah ini menggembirakan atau menyayangkan, mereka semua adalah perempuan. Kemana, ya, lelaki? Apa lelaki tidak memedulikan hal ini? Suatu hal yang sangat sensitif bagi para ibu. Ya, sudahlah, lebih baik saya fokus ke permasalahan "mommy" ini.

Kenapa, sih, kita meributkan perbedaan SAHM dan WM? Kenapa kita tidak fokus pada status ibu itu sendiri? Entah dia SAHM atau WM, toh, dia adalah ibu. Ibu yang mengandung berbulan-bulan, ibu yang melahirkan; normal maupun caesar, ibu yang berusaha menyusui bayinya, ibu yang menyayangi anaknya, ibu yang merawat buah hatinya dengan penuh kasih, ibu yang akan melakukan apa pun demi kesehatan dan kebahagiaan anaknya. Walaupun, pada kenyataan, ada ibu yang mengalami kelainan.

Thursday, March 6, 2014

Ngulek, Yuk!

Sambel. S-A-M-B-E-L. Kata bakunya, sih, "sambal". Kalau dalam Bahasa Minang, disebut "samba balado". Ditambah "balado", karena kalau kata "samba" doang artinya lauk. Pada umumnya, makanan orang Minang itu selalu ada sambelnya. Tapi, tidak semua orang Minang suka makanan pedas ini. Nah, kalau saya yang 100% asli berdarah Minang, sangat suka sambel. Biasanya kalau di rumah makan Padang, tuh, ada samba balado merah dan hijau. Yang merah dimasak dari cabe keriting merah. Sementara, yang hijau dimasak dari cabe keriting muda, yang masih hijau itu. Orang-orang mungkin sudah menganggap sambal balado dari Padang ini rasanya pedas. Tapi, nggak, lho! Menurut lidah Minang saya. Hehehe... Kenyataannya, sambal dari Padang ini memang nggak terlalu pedas, kok, dibandingkan cabe rawit. Cabe kecil-kecil gendut yang warnanya dari hijau muda, oranye, sampai merah menyala.

Dekat tempat tinggal saya di Jakarta ini, ada tempat makan kaki lima yang buka tiap malam dan itu selaluuu... ramai! Lokasinya yang strategis di perempatan dan di depan Seven Eleven, mungkin memengaruhi jumlah pengunjungnya. Tapi, tempat makan yang menyediakan bermacam lauk goreng (ayam, bebek, aneka makanan laut, tempe, tahu, pete, jengkol, dll) mempunyai sambal khas, yang dinamai sambel setan. Saya jadi langganan tempat makan ini gara-gara sambelnya itu. Pedes banget banget banget! Makannya bisa sampai keringatan, tapi tetap nafsu makan.

Wednesday, March 5, 2014

Bagaimana Cara Kamu Menulis Ulang Karya Fiksimu?

Bagaimana cara kamu menulis ulang karya fiksimu? Mungkin, tiap penulis punya cara masing-masing. Saya sendiri hanya mengikuti apa yang disarankan catatan editor. Tapi, tidak semuanya. Ada beberapa catatan yang hanya perlu di-recheck dan ditambah sedikit penjelasan lagi. Saya akan bercerita tentang naskah novel perdana saya. Saya masih menambahkan kata "naskah" di depan "novel", karena saya tidak tahu pasti kapan naskah tersebut akan diterbitkan. Saya hanya harus menerima revisi ketiga ini--aha, ketiga--dan tidak berhenti berusaha menyempurnakannya, meskipun pada akhirnya karya sempurna tidaklah ada. Naskah itu ibarat manusia, nobody's perfect. Mungkin, hanya bisa mendekati sempurna. Dan, itulah yang sedang saya usahakan saat ini. Sebulan telah berlalu sejak saya menerima catatan editor. Saya belum menyelesaikannya.

Menulis ulang revisi ketiga ini adalah yang terlama. Revisi pertama yang memerlukan lebih banyak perombakan malah kelar dalam, hmm, seingat saya dua minggu. Revisi kedua datang setelah saya menunggu hampir tujuh bulan--yap, selama itu. Itu juga saya selesaikan dalam waktu dua minggu. Lalu, revisi ketiga datang empat bulan kemudian. Kok, bisa selama itu? Hahaha... saya juga penasaran. Saya tak berhak menjawab, meskipun sekadar menduga. Prasangka itu tidak baik, bukan? Jadi, saya percaya saja sama editor saya, bahwa saya tidak akan menjadi korban PHP penerbit. Demikian kata sang editor setelah saya curahkan kekhawatiran ini kepadanya langsung. Pelajaran penting, jalinlah komunikasi antara penulis dan editor. Back to the topic, kenapa revisi ketiga ini lama?

Tuesday, March 4, 2014

Buku Harian Online?

Aktif ngeblog? Pernah, dulu di Kompasiana. Sekarang, sejak tahun 2011 kalau nggak salah, saya berhenti ngeblog di sana. Saya berpindah ke sini; meracau hal-hal penting tak penting, mem-posting karya-karya fiksi tak laku, ulasan-ulasan ala kadarnya tentang film, buku, dsb. Biasanya, kalau mau update blog, saya langsung buka halaman menulis dan dengan lancar saya menulis apa saja yang mengalir dari dalam kepala. Nggak terlalu mikir, tulisannya bagus atau jelek, penting atau nggak, bermanfaat atau sia-sia. Selesai menulis pun, saya cukup baca ulang untuk revisi tanda baca, EYD, dan semacam itu. Lalu, klik "publish". Selesai!

Namun, akhir-akhir ini, sejak postingan terakhir (berarti sebelum postingan ini), saya mulai terlalu mikir. Pertama, saya menulis (sudah cukup panjang) via smartphone. Tapi, belum selesai tulisannya, saya berhenti dan sementara jadi draft dulu. Draft ini pun belum saya utak-atik lagi. Hanya tulisan simpel tentang masa kecil saya yang membuat saya menjadi saya. Saya bertanya-tanya, buat apa ya posting tulisan ini? Begitulah akhirnya saya tidak menyelesaikan draft itu. Kedua, saya menulis post baru, kali ini langsung di laptop. Tentang seorang teman yang saya petik hikmahnya. Tulisan itu selesai. Tapi, setelah ditimbang-timbang, saya tidak mengklik tombol "publish" itu. Akhirnya, jadi draft saja.

Tuesday, February 11, 2014

Cerita Si Katak


Wallpaper ponsel saya berganti-ganti suasana sesuai waktu. Wallpaper bergambar "hutan yang bergerak". Ketika pagi atau siang, layar ponsel saya menyajikan pemandangan pepohonan dan berkas-berkas sinar mentari--walaupun mentarinya tak terlihat--menelusup lewat rimbun dedaunan di puncak pepohonan. Ketika malam, berkas-berkas sinar itu tetap ada, bukan lagi dari mentari tapi dari rembulan yang juga tak digambarkan di wallpaper itu. Ketika hujan, titik-titik hujan pun membasahi layar ponsel saya. Saya baru beberapa hari memasang live wallpaper itu untuk layar ponsel saya. Setelah diperhatikan, ternyata, hutan itu dihuni oleh beberapa binatang. Binatang-binatang itu bergantian mengunjungi hutan di ponsel saya, seakan ingin menyapa saya. Hingga akhirnya, seekor kodok bermahkota menarik perhatian saya dan terlintaslah sebuah cerita. Saya mengambil screenshot, lalu mengunduhnya ke Instagram. Cerita singkat pun saya tuliskan dalam kotak komentar foto. Ada tiga screenshot yang saya ambil. Pada akhirnya, cerita tiap screenshot--sengaja tak sengaja, nyambung tak nyambung--menjadi cerita bersambung. 

Alone in the dark forest, I asked the moon above me, "I've been waiting like a thousand years, for a girl who will kiss me... Where is she? When will I find her? How can I know that she's the one?"
Then the moon smiled, and replied, "Why don't you just Google her?"
"Coz I'm a frog, you moron Moon!" cried me desperately.
Tiba-tiba, si Burung Hantu datang. Seraya bertengger di atas dahan ringkih, ia menegurku.
"Sudahlah, nikmati saja hidupmu sebagai katak. Hidup seekor katak tak akan serumit hidup seorang manusia."
Aku tak mengacuhkan racauannya. Harapanku tak akan pupus, walaupun seluruh dunia meremehkanku.
Tak ada yang lebih kesepian selain aku, yang bertengger di atas dahan pohon yang membisu, siang malam kering basah. Lihatlah.. Langit sedang mencurahkan berkah. Cambung-cambung bumi menggenang.
Tidakkah seekor katak merasa berbahagia? Hai, katak, menarilah bersama hujan! 

Monday, January 13, 2014

Racauan Awal Tahun tentang Reading Challenge

Awal tahun 2014, Goodreads menyambut saya (lagi) dengan Reading Challenge. Tanpa pikir panjang saya memutuskan akan membaca 50 buku, seperti tahun lalu. Semula Reading Challenge tahun 2013--tahun lalu--memang saya targetkan sebanyak 50 buku, lalu saya ganti menjadi 48 buku supaya hitungannya 4 buku tiap 1 bulan. Hasilnya? Mendekati akhir tahun, jumlah buku yang saya baca memang melebihi 40. Tetapi, ternyata gagal memenuhi target. Saya mentok di buku ke-43, yaitu novel sastra terjemahan dari Albert Camus berjudul La Peste (Sampar). Buku itu sempat saya sela dengan novel "Semusim dan Semusim lagi" karya pemenang DKJ 2012 Andina Dwifatma, yang akhirnya jadi buku terakhir di tahun 2013. Sedangkan, buku Sampar pun menjadi buku pertama yang tamat saya baca di tahun 2014.

Kalau mau dievalusi kenapa saya tidak memenuhi Reading Challenge 2013 lalu, saya hanya bisa jawab karena malas saja. Boleh dibilang tahun 2014 saya juga akan malas baca novel. Tapi, saya tetap menargetkan baca 50 buku. Itu, sih, prinsipnya "who knows?!" saja. Ya, who knows saya malah semangat baca buku ketimbang nonton film. Well, ya, film juga jadi keasyikan tersendiri. Film yang saya tonton mungkin melebihi novel yang saya baca. Mungkin itu juga penyebab tersitanya waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca. Lalu, tahun ini bagaimana? Pokoknya, set target saja dulu, 50 buku!