Saturday, November 30, 2013

Menjadi Orangtua dalam Film What Maisie Knew

Pernahkah kamu merasa bahwa orangtuamu mungkin hanya berpura-pura mencintaimu? Pernahkah kamu mendamba orangtua lain yang lebih baik daripada orangtua kandungmu yang kamu kenal selama ini? Well, Maisie might have been.

Maisie, gadis cilik berusia mungkin sekitar enam tahun, mulanya tinggal bersama kedua orangtuanya, dibantu dengan seorang pengasuh. Susanna dan Beale ternyata bukan pasangan yang harmonis. Mereka sibuk di pekerjaan masing-masing, Susanna sebagai musisi dan Beale sebagai pebisnis. Percekcokan orangtua Maisie tersebut berujung pada perceraian. Dan tanpa disangka, Beale kemudian menikah dengan daun muda Margo, sang pengasuh. Seperti tak mau kalah, Susanna pun menikah dengan pria lain, lebih tepatnya seorang berondong yang bekerja sebagai bartender, bernama Lincoln.

Sebagaimana anak yang orangtuanya bercerai, Maisie tinggal silih berganti antara rumah ayahnya dan ibunya. Maisie seakan begitu dewasa, bisa menerima apa yang dialaminya dan mungkin apa yang begitu sangat disadarinya. Maisie tampak tak begitu terkejut ketika Margo menjadi istri ayahnya. Toh, ia pun tak perlu marah. Mungkin karena ia tak begitu mengerti apa yang terjadi. Atau bisa jadi malah sangat mengerti, tapi toh ia menyayangi Margo, apa salahnya Margo menjadi istri ayahnya. Margo juga tak kalah sayang dan perhatian pada Maisie. Dan ketika di rumah ibunya, Maisie juga menerima kejutan bahwa suami yang dinikahi ibunya pernah ia lihat sebelumnya bercengkrama dengan sang ibu. Tetap saja, Maisie bisa menerimanya. Malah membuat Susanna jengkel karena Lincoln bisa mengambil hati putrinya. Memang Lincoln ini seorang pria yang cukup muda untuk jadi suami Susanna dan bisa pula menyayangi Maisie. Maisie malah mengaku, ketika ditanya oleh Margo, bahwa ia menyanyangi Lincoln.


Keadaan makin buruk, Margo akhirnya sadar bahwa selama ini ia hanya dimanfaatkan oleh Beale untuk menjaga Maisie. Tangisan Margo yang marah pada Beale dilihat oleh Maisie dan Lincoln. Kebetulan Lincoln ingin menitipkan Maisie pada Margo meski bukan saatnya Maisie tinggal dengan ayahnya—tentu saja ini maksudnya dengan Margo, karena ayahnya begitu sibuk. Kesibukan yang justru membuat hubungan mereka semakin jelas. Beale memutuskan untuk pindah ke Inggris. Itu berarti bukan hanya meninggalkan Margo, tapi juga Maisie. Tapi, mana ada sih orangtua yang senang berpisah dengan anak kandungnya? Beale mencintai Maisie, ia tentu saja begitu sedih ketika meninggalkan Maisie. Perpisahan mereka terjadi  saat menurunkan Maisie dari taksi di depan gedung apartemen Susanna. Beale pun melaju pergi. Ia bahkan tega menitipkan Maisie pada penjaga apartemen karena tak ada sesiapa. Untunglah Lincoln kemudian datang dan membawa masuk Maisie ke dalam rumahnya.

Mungkin bisa diduga sejak awal, pertemuan Margo dan Lincoln akhirnya memercikkan suatu rasa di hati masing-masing. Tak begitu diekspos dalam cerita ini, Margo dan Lincoln—yang sama-sama meyayangi Maisie—menjadi sepasang kekasih. Tentunya setelah Lincoln memutuskan berpisah dari Susanna, karena ya mungkin sama seperti Margo, ia merasa dimanfaatkan oleh Susanna untuk menjadi pengasuh Maisie. Tapi, lihatlah! Bagaimanapun busuknya niat orangtua Maisie, Margo dan Lincoln benar-benar bisa sayang dan perhatian pada Maisie. Seakan-akan melebihi dari orangtua kandung Maisie. Maisie menghabiskan lebih banyak waktu bersama Margo atau Lincoln, atau malah sekaligus keduanya bersamaan.

Cerita klimaks yang membuat saya sangat sedih melihat Maisie adalah saat Susanna harus tour musiknya keliling negara bagian. Sejak awal cerita, Susanna tak henti-hentinya mengatakan ia mencintai Maisie. Tapi, ia seolah-olah tak punya pilihan untuk bisa menjadi ibu sepenuhnya bagi Maisie. Entah karena sisi psikologis Susanna yang labil, entah karena ia memang harus bekerja, entah karena ia marah pada mantan suaminya, Susanna tanpa konfirmasi pada Lincoln, meninggalkan Maisie di restoran tempat Lincoln bekerja. Padahal malam itu, Lincoln sedang tak bertugas. Jadilah Maisie terlantar di restoran itu hingga tertidur di kursi dapur. Rekan kerja Lincoln yang akhirnya menjaga dan membawa Maisie pulang ke rumahnya. Maisie terbangun dari tidurnya, tampak sedih dan takut begitu sadar ia entah di rumah siapa. Ia merengek pelan menanyakan Margo dan minta pulang. Ketika perempuan, teman Lincoln, itu mengajak Maisie tidur kembali, air mata Maisie menetes. Gadis cilik itu… Saya rasanya sangat marah pada orangtua kandungnya betapapun mereka mengakui dan berbusa-busa mulut mereka menyatakan mereka mencintai Maisie.

Begitu Maisie bangun paginya, Margo telah datang menjemput. Mereka pun pergi ke sebuah rumah peristirahatan di pantai milik sepupu Margo. Maisie, sebagaimana anak-anak, tak kenal kesedihan dan dendam. Ia berbahagia di sana seakan tak pernah terjadi apa-apa. Selang beberapa hari kemudian, Lincoln datang menyusul mereka di tempat itu. Dan Maisie tahu… Margo dan Lincoln saling mencintai.

Keadaan itu harusnya bisa saja diakhiri di bagian itu. Tapi, seperti yang sudah saya bilang, sejak awal diceritakan bahwa Susanna begitu mencintai Maisie. Ia tentu akhirnya menjemput Maisie saat ada waktu luang. Oh, ya, Susanna tahu di mana Maisie. Margo kan bukan penculik anak. Ia tentu saja sejak awal sudah memberi tahu Susanna terlebih dahulu. Susanna tiba-tiba datang di rumah pantai itu tengah malam. Ia tak sekadar menjenguk, tapi ingin membawa serta Maisie mengikuti tour musiknya. Sayang sekali, Maisie sudah punya agenda esok harinya dengan Margo dan Lincoln untuk naik kapal. Maisie sudah menginginkannya sejak lama. Maisie menolak ikut ibunya saat itu juga. Ia akan mau ikut kalau saja esok lusa. Susanna yang temperamental jadi emosi, tapi tak lama begitu melihat Maisie ketakutan. Susanna akhirnya melepas Maisie.
Maisie tahu… bagaimanapun, ibunya tetap mencintainya.

Setelah melihat film ini, seakan kita ditunjukkan bahwa anak-anak tak peduli sesungguhnya apakah mereka memiliki orangtua kandung, tiri, atau angkat, selama orangtua itu menyayangi mereka sepenuh hati, menjaga, merawat dan memberi kedamaian. Bahwa menjadi orangtua itu proses belajar seumur hidup. Bahwa tak mudah jadi orangtua. Bahwa seburuk apapun kita menilai orangtua kita, mereka tetaplah selamanya mencintai anak-anak mereka. Dan kita harus tahu itu….

1 comment: