Tuesday, October 1, 2013

Your Happiness must Come First

Sebuah status seseorang di Facebook mengantarkan saya pada pencarian Google seorang Vishen Lakhiani. Ternyata ia adalah seorang computer engineer ternama keturunan India yang besar di Kuala Lumpur. Ia merintis perusahaan MindValley. Sebuah perkenalan yang cukup bagi saya untuk bisa berasumsi bahwa ia seorang lelaki yang cukup bijaksana. Wajar saja kalau ada orang yang mengutip pernyataannya dan menjadikan status di Facebook. Begini katanya, "Human heart is the most selfish organ in your body. Because the good blood that flows thru it, the most oxygenated blood, the heart takes for itself. It takes all the good blood, and then it lets the rest flow to the rest of your organ. Selfish, I know. But if the heart did not do that, the heart would die. And if the heart die, it takes all the other organ to live. And the key idea here is, you've gotta be selfish. You gotta make sure your own happiness comes first, and only then you can apply all these things to make your business, employees, coworkers happy. You gotta start with yourself." Kurang lebih, maksudnya, kita harus berbahagia terlebih dahulu sebelum kita bisa membahagiakan orang lain. Kurang lebih, saya setuju. Bagaimana tidak? Logikanya, menurut saya, bagaimana saya bisa membahagiakan orang lain kalau saya sendiri tidak berbahagia? Mustahil. Contohnya saja, seorang ibu yang hatinya rusuh akan terasa oleh si anak. Bagaimana pun si ibu terlihat membahagiakan si anak, si anak tak akan merasa bahagia, karena ia merasa ada sesuatu yang mengganjal perasaan si ibu. Ia merasa si ibu tidak berbahagia, lantas bagaimana bisa ia berbahagia walaupun ibunya terlihat ingin membahagiakan dirinya? Si anak ikut perasaan ibunya, tidak bahagia. Ibu yang berbahagia akan membentuk anak-anak yang berbahagia. Seingat saya, contoh tersebut pernah saya tonton di acara Oprah.

Nah, kalau sudah sepakat dengan hipotesa kita harus berbahagia sebelum bisa membahagiakan orang lain, kita harus mencari tahu apa-apa saja yang membuat kita bahagia. Mungkin sebagian orang akan berbahagia kalau sudah membahagiakan orang lain. Tapi, kok jadi kebalikan hipotesa di atas ya? Tampaknya memang tidak ada kesimpulan yang paling benar untuk setiap orang. Kita harus menggali sendiri apa yang kita inginkan atau apa yang harus kita lakukan supaya bahagia. Terpenting, berbahagialah karena diri kita sendiri, bukan bergantung pada perlakuan orang lain terhadap kita. Berbahagialah dengan cara sendiri yang kita yakini.

Jadi, apa saya bahagia? Saya tak akan menjawabnya di ruang ini. Tapi, saya tahu apa yang bisa membuat saya bahagia. 

No comments:

Post a Comment