Saturday, October 19, 2013

Pesan Ernest Hemingway lewat Film "Midnight in Paris"

Ernest Hemingway: "What are you writing?"
Gil Pender: "A novel."
Ernest Hemingway: "About what?"
Gil Pender: "It's about a man who works in a nostalgia shop."
Dialog di atas dipenggal dari film Midnight in Paris, yang rilis dua tahun lalu. Film yang pernah saya tonton ketika tayang di bioskop, dan sekarang saya tonton ulang. Gil Pender, protagonis dalam film ini adalah seorang penulis skenario di Hollywood, tapi juga sedang menggarap novel debutnya. Novel yang mengisahkan seorang pria yang bekerja di toko kenangan. Gil Pender telah bertunangan dengan Inez, seorang wanita cantik berkelas yang sama-sama dari Amerika. Mereka sedang berlibur ke Paris bersama orangtua Inez. Gil Pender sangat menyukai Paris, terlebih saat Paris diguyur hujan. Ia bahkan berkeinginan untuk pindah ke Paris. Tapi, tentu ditolak oleh Inez, karena Inez tak tertarik dengan hal-hal yang berbau kenangan atau nostalgia. Ya, begitulah kesan Paris.

Suatu malam, tepat tengah malam, dipinggir jalan kecil, Gil dalam kondisi yang kurang lebih mabuk--tampaknya ia masih cukup sadar dengan apa yang terjadi atau malah ia berhalusinasi--melihat sebuah mobil klasik berhenti. Orang-orang di dalam mobil itu mengajaknya naik. Gil menerima ajakan itu dan terjadilah pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang tak terduga. Gil yang berasal dari tahun 2010 bertemu dengan penulis-penulis klasik Amerika ternama--yang sedang asyik-asyiknya menikmati Paris. Gil dibawa ke tahun 1920, era yang sangat diangankannya.

Baiklah, cukup sampai di sana saja. Saya tidak akan mengulas film dengan lengkap. Saya hanya ingin mengutip pesan-pesan menarik dari pertemuan Gil dengan para maestro fiksi tersebut. Sebagai penulis fiksi, tentu saja saya lebih tertarik membahas perihal ini ketimbang aspek-aspek film lainnya. Hehehe...

Awalnya, Gil bertemu dengan pasangan F.Scott Fitzgerald dan Zelda Fitzgerald di sebuah pesta. Ya, mobil yang membawa Gil tadi mengantarnya pada sebuah pesta. Karena menurut Zelda pesta tersebut membosankan, akhirnya mereka mengajak Gil ke sebuah kafe. Di sana, Gil tak menyangka bisa bertemu dengan Ernest Hemingway. Gil tampak senang. Pasangan Fitzgerald mengenalkan Gil pada Hemingway sebagai seorang penulis. Dan terjadilah percakapan berikut.

Hemingway: "You liked my book?"
Gil: "Liked? I loved. All your work."
Hemingway: "Yes, it was a good book, because it was an honest book."
Lalu, Zelda tiba-tiba bertanya pada Hemingway: "Did you read my story, what'd you think?"
Hemingway: "There was some fine writing in it, but it was unfulfilled."
Zelda: "I might’ve known you’d hate it."
Scott: "Please, old sport, you make matters extremely difficult."

Hubungan Zelda dengan Hemingway tampak tak harmonis. Mereka seperti saling membenci dan Scott jadi serba salah. Zelda istrinya, Hemingway temannya. Ketika Scott memanggil Hemingway dengan sebutan 'old sport', saya teringat dengan film The Great Gatsby, adaptasi dari novel yang ditulis oleh Scott. Jay Gatsby, protagonis dalam cerita The Great Gatsby, selalu memanggil temannya dengan sebutan 'old sport'. Okay, it's out of topic! Hehehe...

Bukan tanpa alasan Hemingway tidak menyukai Zelda. Karena menurutnya, Zelda lebih banyak hura-huranya ketimbang menulis. Hal itu sedikitnya mempengaruhi Scott. Menurut Hemingway, Scott tidak punya waktu lagi untuk menulis.

Hemingway: "You’re a writer. You need time to write. Not all this fooling around."

Ketika Scott akhirnya meninggalkan meja Hemingway, menyusul istrinya yang duluan pergi, Hemingway pun bertanya pada Gil. Bagaimana pendapat Gil mengenai pasangan penulis tadi? Gil sedikit kelabakan tidak bisa menjawab. Kilahnya, ia tidak mengenal mereka dengan baik. Juga, baru pertama bertemu malam ini. Lantas, apa kata Hemingway?

"You’re a writer. You make observations."

Nampol banget! Hahaha... Dari cara Hemingway ngomong dan apa yang diucapkannya mencerminkan Hemingway seorang yang straight to the point. Apalagi ketika Gil berharap pada Hemingway untuk membaca naskah novel yang sedang ditulisnya. "Buat apa?" tanya Hemingway. "Ya, mau tahu pendapat Hemingway, kan bisa kasih masukan nanti!" Kira-kira begitu jawaban Gil. Nah, tahukan Anda apa pendapat Hemingway? Iya, bahkan sebelum ia membaca naskah novel Gil? Hohoho... Dengarlah ini, wahai, penulis!

"My opinion is I hate it. If it’s bad, I’ll hate it because I hate bad writing. And if it’s good, I’ll be envious and hate it all the more. You don’t want the opinion of another writer."

Gil pun berkilah: "I’m having a hard time... you know... trusting somebody to evaluate it."

Dengan tegas, berkata Hemingway: "Writers are competitive. If you’re a writer, declare yourself the best writer! But you’re not, as long as I’m around."

Entah itu semacam guyonan ala Hemingway. Tak ada yang menyaingi Hemingway. Ia sangat percaya diri atau sekadar narsis? Hahaha....

Satu lagi pesan dari Hemingway, pada pertengahan malam lainnya, di dalam mobil klasik ketika menjemput Gil dari tahun 2010, "You’ll never write well if you’re afraid of dying."

Dari sekian pesan Ernest Hemingway lewat film Midnight in Paris, pesan tentang meminta opini penulis lainlah yang membuat saya seakan bercermin. Saya tak pernah menjadikan teman-teman penulis lain sebagai pembaca pertama naskah saya. Setidaknya untuk naskah novel debut saya yang Insya Allah akan segera diterbitkan. Saya hanya meminta opini pada beberapa sahabat yang tak menulis tapi suka membaca. Setidaknya dari mereka, saya tahu apa yang diharapkan pembaca. Mungkin opini mereka akan berbeda dari opini penulis betulan. Bahkan mungkin, bila penulis tersebut baik--tidak sejahat Hemingway--ia akan memberi kritik dan masukan yang membangun. Tapi, itu tidak saya lakukan. Karena... entahlah, mungkin benar kata Hemingway. Saya merasa kompetitif dengan penulis lainnya. Bukan berarti saya merasa jadi yang terbaik. Hmm, sekadar berjaga-jaga. Hehehe.... Untuk naskah novel berikutnya--kalau ada--saya mungkin akan mempertimbangkan pembaca pertama saya dari kalangan teman-teman penulis juga. Tentunya, teman-teman penulis yang saya percaya. Well, kepercayaan itu mahal harganya. Atau, mungkin, saya tetap berpegang teguh pada keyakinan saya--yang kebetulan sama dengan Hemingway--bahwa jangan meminta opini penulis lain. Hahaha.... Anda tak percaya? Nah, anda boleh meniru ucapan Zelda ini, "Stunned. Stupefied. Anesthetized. Lobotomized."

Afterall, selamat menulis!

2 comments:

  1. Setuju! Hahaha.. Don't trust other writer.. Writer is legal liar. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. And a great writer is a trusted liar. ;)

      Delete