Sunday, October 6, 2013

Curiosity

Keingintahuanku belum akan membunuhku--setidaknya untuk perkara satu ini. Kau boleh saja diam, enggan menjawab pertanyaanku. Pertanyaan yang kadang kaunilai konyol. Tapi, percayalah, kebisuanmu hanya membuatku semakin ingin tahu.

Sore ini, di saat anjing Herder kesayanganmu mondar-mandir di halaman depan rumahmu, aku datang tanpa memberi kabar. Aku sengaja tak memberi tahumu. Lagipula, kau belum ada di rumah kan? Aku tahu jam kerjamu belum berakhir sedikitnya satu jam kemudian. Butuh satu jam pula bagimu untuk tiba di rumahmu. Aku punya waktu dua jam menunggumu. Tak apa-apa. Ibumu memberiku sajian teh dan camilan kue putu--sudah lama sekali aku tak mencobanya. Bosso, dengan gugukan ceria, juga menghiburku di teras ini. Dua jam itu tak lama. Nah, lihat, arlojiku sudah menunjukkan pukul enam. Sebentar lagi, kita bertatap muka.

Oh, tunggu! Ada yang harus kupersiapkan.

Aku bergegas ke dalam rumah. Memanggil ibumu. Ah, beliau cantik! Ibu yang kau kagumi. Kadang aku ragu, bisakah aku seperti ibumu yang begitu perhatian, penyabar dan penyayang. Kutepis pikiran itu. Lebih baik aku berkonsentrasi mempersiapkan semua ini. Aku ingin memberimu kejutan.

Aku tak yakin kau akan senang. Beberapa hari ke belakang memang menyebalkan. Kau mendiamkanku. Aku memaksa kau terus. Tapi, aku juga tak kuasa menahan diriku. Aku perlu tahu. Ya, pertanyaanku konyol, menurutmu.

"Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?"

"Apa kau benar-benar ingin mendengar jawabanku?"

"Tentu saja!"

"Apa tak bisa kau rasakan saja?"

"Kadang perasaan saja tak meyakinkanku. Kadang aku ingin mendengarnya langsung darimu."

Kau bergeming. Aku menunggu beberapa saat, berharap kau akan membuka mulut.

"Kau mencintaiku?"

Tetap aku tak mendapat jawaban, bahkan sekadar anggukan. Bukan kali pertama aku bertanya perihal itu. Bukan kali pertama pula kau diam membisu. Tak bisakah, setelah hampir setahun menjalin hubungan denganku, kau berkata bahwa kau mencintaiku?

Klakson mobilmu terdengar hingga ke dalam rumah. Lilin di atas kue ulang tahun telah kutata membentuk pola hati. Pertanda cinta. Kuharap aku akan mendengar pernyataan kau mencintaiku hari ini.

Kau sedang duduk di teras sambil melepas ikatan tali sepatumu. Kau mungkin mendengar langkah kakiku hingga kau menoleh ke belakang.

"Selamat ulang tahun, sayang!" ucapku bersamaan dengan Ibu.

Senyumku mengembang sempurna. Kau tampak terkejut. Bagus! Rencanaku berhasil. Sebuah kejutan kecil untuk lelaki yang kucintai di hari ulang tahunnya. Kau meniup lilin-lilin setelah sekejap kau memejamkan mata--entah berharap apa. Kau mencium keningku. Oh, syukurlah, kita berbaikan. Ya, itu pertanda yang cukup. Lalu, kau memeluk ibumu.

Kejutan kecil itu berlangsung sebentar saja. Kita bersama menuju ruang makan dan memotong kue ulang tahun. Sambil makan--ibumu tiba-tiba saja sudah tak ada--kau mengucapkan terima kasih. Aku mengangguk. Sekalian aku meminta maaf atas egoku yang memaksamu. Aku tahu bahwa aku merasakan cinta darimu. Harusnya aku tak perlu lagi bertanya. Tapi, maafku tak kau terima. Katamu, aku tak perlu minta maaf. Justru sesaat kemudian, kau berkata padaku. Kata-kata yang telah kian lama kutunggu.

"Aku mencintaimu, sayang."

Hari ini, bersamamu, terasa sempurna.

Keingintahuanku belum berakhir. Lagipula, belum akan membunuhku.

"Sayang, aku ingin tahu alasanmu mencintaiku."

***

No comments:

Post a Comment