Friday, September 27, 2013

Merasakan yang Kau Rasakan

Apa yang kau harapkan dengan berkata, "Lo nggak ngerasain apa yang gue rasain sih.", kepada temanmu?

Ada banyak kemungkinan harapan.

Pertama, kau berharap dikasihani. Tapi apa iya, itu yang benar-benar kau harapkan? Sebagai temanmu, aku tak akan mengasihani dirimu. Karena aku ingin kau menjadi kuat. Mengasihanimu hanya akan melemahkanmu. Apa kau merasa pantas dikasihani? Kalau kau masih bisa berdiri di atas kedua kakimu sendiri, kau tak layak dikasihani, seberat apapun kepedihan yang menderamu, sesusah apapun kehidupan yang kau keluhkan. Aku tahu, kau tak pantas dikasihani.

Kedua, kau berharap aku merasakan apa yang kau rasakan. Aku akan memberitahumu rahasia kehidupan; tak ada seorang pun yang bisa memahami perasaan orang lain kalau tak benar-benar menyusup ke balik kulitnya. Aku tahu rahasia ini dari karya klasik "To Kill a Mockingbird", kalau kau perlu tahu. Kau tahu maksudnya? Sekalipun aku mencoba melepas kulitku, lalu memasangkan kulitmu di tubuhku, sama sekali tidak akan pas. Sekalipun aku mencoba merasakan apa yang kau rasakan, aku tak akan bisa merasakannya sama persis dengan apa yang kau rasakan. Kita punya kepribadian sendiri-sendiri. Sekalipun kita berdua dihadapi dengan masalah yang sama persis, kita akan menanggapinya dengan berbeda. Karena kita punya jalan pikir yang berbeda, hati yang tak sama. Sepintar-pintarnya aku berempati terhadap permasalahan/penderitaan/kesusahan orang lain, aku tak akan bisa merasakan hal yang sama persis dirasakan oleh orang itu. Kau harus tahu ini. Ya itulah kenapa aku merespon pernyataanmu dengan pernyataanku ini:

"Ya orang lain manapun juga nggak ada yang pernah ngerasain apa yg gue rasain. Hidup gue... apa pentingnya orang lain mesti ngerasain."
Nah, apa pentingnya orang lain merasakan apa yang kau rasakan? Jawabannya balik ke pertanyaan awalku, apa yang kau harapkan dari itu?

Ini kemungkinan ketiga, kau berharap aku akan mendengar curhatanmu. Dan ini bukan yang pertama. Lagi, persoalan yang sama. Kenapa kau tak pernah belajar dari pengalamanmu--guru terbaik yang kau miliki? Aku memang temanmu. Kau ingin didengarkan oleh temanmu. Tapi, temanmu bukan tong sampah. Setidaknya, aku tidak memilih untuk jadi tong sampahmu. Kalau untuk permasalahan yang berbeda, bolehlah. Sebagai tempat berdiskusi, ayo. Tapi, hasil diskusi kita tampaknya cuma sekali lewat, tidak berguna. Karena kau lagi-lagi mempermasalahkan hal yang sama. Kenapa kau selalu mengeluh itu lagi itu lagi? Jangan menyandarkan kebahagiaanmu pada orang lain. Oh, ya, kau hanya ingin didengarkan. Pilih saja orang asing untuk mendengarkanmu. Seorang teman sesungguhnya tidak pernah suka dengan berita buruk dari temannya. Kau ungkap kesengsaraanmu hanya untuk didengarkan, lalu temanmu hanya bisa memberimu semangat. Tetap saja yang akan mengubah kesengsaraanmu adalah dirimu sendiri, bukan temanmu. Kau tahu, teman sejati jauh lebih suka mendengar berita baik dan ikut berbahagia bersama. Percayalah, kalau kau merasa tak enak mendengar berita baik dari temanmu, patut disangsikan arti pertemenan itu. Ya, aku tak suka mendengar berita buruk darimu.

Apa ada kemungkinan lain? Entahlah, kau yang tahu apa yang sebenarnya kau harapkan. Mungkin, kemungkinan keempat, kau berharap hanya ada tempat untuk mengeluhkan suasana hatimu, tak perlu saran dariku, yang penting kau cuma mau mengeluh. Setahuku tak sepantasnya kau mengeluh, kita semua tak sepantasnya mengeluh.

Ya, aku tidak akan bisa merasakan apa yang kau rasakan, apa yang orang lain rasakan. Aku pun tak berharap akan ada orang lain yang bisa merasakan apa yang aku rasakan. Aku punya hidup yang unik yang tak akan sama dengan hidup orang lain. Jalan hidupku aku yang lalui sendiri, hanya aku yang bisa merasakan.

Semoga kau mengerti. Semoga kau tak mengulang lagi pernyataan itu pada orang lain. Percayalah, mereka tak akan bisa, sekalipun mereka berkata bisa. Sebagai temanmu, aku percaya kau mandiri, bukankah hidup yang keras telah mengujimu?

Catatan ini kudedikasikan untuk semua orang yang merasa ingin dipahami oleh orang lain.

2 comments:

  1. Kadang, kita perlu juga jadi tempat sampahnya teman, meski masalah berulang-ulang. Emang mau, teman jadi gila karena gak punya tempat buang keluh kesah? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menjadikan temanmu tong sampah tandanya kamu sudah gila, tidak sensitif dgn si teman. Bukan kamu saja yg punya masalah di dunia ini, bukan? Lagipula, utk sampah yg itu lagi itu lagi. Lagipula lagi, kamu punya Tuhan, kan? Kecuali kamu atheis. Buat apa kamu keluh kesah terus? Lagipula lagi lagi, kamu bisa menulis. Buatku, writing is relieving, tidak perlu orang lain serta merta harus mendengar masalahku. Tapi, ada semesta yg mendengarku dgn menulis. Sekian. :))

      Delete