Wednesday, September 4, 2013

Meja Belajar

Saya tidak termasuk golongan anak yang sangat rajin belajar di rumah. Saya biasa belajar, tapi hanya saat mau ujian atau sejenisnya. Saya tidak menjadikan kegiatan belajar sebagai rutinitas harian yang terjadwal ketat, walaupun sebuah meja belajar yang nyaman selalu ada di kamar saya.

Kucingku Kibo suka duduk di atas meja belajar, mungkin mau belajar juga. 



Meja belajar dalam foto di atas adalah meja belajar saya saat ini. Ia telah menemani saya sekitar 8 tahun. Bukan sebuah meja belajar yang mewah, tapi kuat dan mencukupi kebutuhan saya. Di atasnya saya tata beberapa buku yang kerap dibutuhkan, seperti kamus. Lainnya, tentu saja peralatan belajar, lampu belajar dan perintilan yang perlu diambil setiap saat, selebihnya berkas-berkas penting. Di sinilah, saya mengerjakan tugas kuliah; baik itu mencatat di buku tulis maupun mengetik di laptop. Akhir-akhir ini, saya lebih sering mengetik di laptop untuk menulis cerita. Hehehe...

Hasil jepret foto cetak yang saya bawa ke Jakarta sebagai pengobat rindu.

Nah, foto kedua itu juga meja belajar saya. Letaknya tentu di dalam kamar saya juga, bukan di Jakarta sini, tapi ketika saya masih menetap di kampung halaman tercinta, Padang. Saya tak ingat pasti usianya. Kalau tak salah, sudah ada sejak saya SMP. Saat saya sudah menempati kamar baru saya yang baru saja dibangun. Sebelumnya, saya menempati kamar lama dan menumpang belajar di meja belajar kakak saya atau di meja makan atau bahkan di lantai rumah, di mana saja saya ingin.

Meja belajar. Itulah pemberian ayah saya yang tak pernah saya minta. Ayah saya yang berinisiatif membelikan saya meja belajar. Ayah tak membeli meja rias, walaupun anaknya perempuan. Tetapi Ayah lebih mementingkan meja belajar buat anak-anaknya daripada meja rias. Mungkin saya terlambat, baru merenungkannya akhir-akhir ini. Saya menyimpulkan Ayah tak menginginkan saya menjadi perempuan pesolek. Beliau ingin anak-anaknya (empat perempuan dan satu laki-laki) menjadi manusia pembelajar. Tentu dengan begitu, beliau berharap kami menjadi anak-anak yang pintar dan sukses. Keempat anak perempuannya bukan berarti dilarang bersolek. Tapi Ayah hanya memberi sarana secukupnya; cermin dan sedikit tempat untuk bedak dan sisir. Bagi Ayah mungkin tidak penting menjadi cantik, tetapi sangat penting menjadi terpelajar.

Kembali saya pandangi meja belajar saya. Terima kasih, Ayah. Tetapi saya juga hendak mengucap maaf, bila saya tak selalu rajin belajar. Saya akan berusaha berubah ke arah lebih baik. Semoga saya tak berhenti belajar. Selamanya belajar. Aamiin.

2 comments:

  1. menjadi cantik itu juga diharuskan, epppss tapi untuk siapa dulu, Islam mengajarkan bagi semua wanita tuk tambil cantik untuk SUAMI- SUAMI nya, hehehe, terpelajar, ya harus! terpelajar ( berakhlak baik dan mengerti mana yang haram dan halal, tau akan hak dan kewajiban) tuk bekal mendidik anak-anaknya kelak,
    semoga kamu jadi perempuan yang di inginkan oleh syorga adiku.. ( salam, uda wandi, padang)

    ReplyDelete