Thursday, August 22, 2013

Hujan di Gurun Sahara

Sudah tujuh hari aku tak melihat kakak perempuanku. Ia sedang menjadi ratu selama itu. Ratu yang tubuhnya dibalut gaun dan separuh wajah ditutup cadar, lalu ditambah kain lebar yang menutupi seluruh tubuhnya sehingga tak seorang pun boleh melihatnya. Fatima dikelilingi dayang-dayang dadakan yang siap mengipasinya kapan saja ketika ia kepanasan. Dan segerah apapun, Fatima tak boleh melepas kain dan cadarnya. Begitulah tradisi pesta pernikahan suku kami yang berlangsung selama tujuh hari. Pesta pernikahan Fatima akan berakhir nanti malam. Ketika itulah aku akan bisa melihatnya lagi. Tetapi mungkin tidak secepat itu, karena Qasim, suami Fatima, pasti akan segera mengurungnya kembali di kamar. Kau tahu untuk apa.
Lupakan Fatima. Ia akhirnya berbahagia. Aku sedang berjalan di antara pepohonan kurma tak jauh dari rumah. Aku sedang membayangkan Alesha. Sedang apa gadis itu sore ini? Ia pasti cukup kelelahan membantu acara pesta keluargaku. Kebanyakan perempuan memasak di dapur besar di belakang rumah. Memasak untuk pasokan makan tujuh hari tujuh malam tentu saja melelahkan. Sore ini kegiatan memasak terakhir. Makanan pun melimpah di tengah-tengah para lelaki yang hadir. Aku sudah cukup bosan dengan acara minum-minum kopi, teh dan susu unta. Cukup bosan dengan bunyi-bunyian tamburin dan hentakan kaki-kaki yang menari. Aku telah jenuh riuh, makanya aku berjalan sendirian sembari menikmati semilir angin menjelang senja di Timia, sebuah desa di lembah Pegunungan Ayr yang kucinta ini. 
Perlahan matahari turun di balik bukit-bukit pasir di kejauhan. Matahari yang membara tampak bulat sempurna dengan warna jingga menyala. Negeriku selalu dilimpahi panasnya sang surya, walau di saat musim hujan sekalipun. Hujan terakhir tampaknya turun tak lama sebelum pernikahan Fatima dimulai. Pertengahan September lalu. Hujan yang dibawa oleh badai besar akhirnya jatuh ke bumi setelah sepuluh bulan kami menanti dalam musim kemarau berkepanjangan. Beruntung kami tinggal di oasis yang menyimpan cadangan air yang cukup banyak. Dikelilingi oleh gurun Sahara yang ganas, kami tidak mati kekeringan. Sumber air purba di sumur-sumur dan air hujan dari waduk bebatuan Pegunungan Ayr cukup untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan kebun kurma tumbuh subur lewat irigasi yang kami bangun sejak suku kami tidak lagi menjadi nomaden. Begitu cerita nenekku. 
Aku berasal dari suku Tuareg. Salah satu suku nomaden di Afrika. Kami tidak lagi tinggal berpindah-pindah untuk membuka lahan-lahan bertani yang baru. Kata nenekku, cerita yang ia dapat dari nenek nenek neneknya, padang pasir tak seluas sekarang. Dahulu kala, belantara Afrika penuh dengan hamparan savanah. Rerumputan di mana-mana. Air mengalir yang tak henti. Nenekku pasti tak diberi tahu bahwa itu berarti beribu tahun lalu. Savanah entah telah pindah ke mana. Setelah ikut ayahku dalam perjalanan panjang melewati Sahara untuk pertama kalinya, aku sadar aku telah berada begitu jauh dari savanah. Jadi, aku melupakan angan untuk berlarian di padang rumput, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tidak akan ada hujan yang turun di gurun Sahara. Begitu panasnya bentangan gurun hingga mampu menguapkan tetesan hujan yang baru akan turun. Tak akan ada hujan di gurun Sahara.
***
Langit telah sehitam jelaga ketika aku berjalan pulang ke rumah. Bintang-bintang berserak di atas sana. Indah sekali. Lagi, aku memikirkan Alesha. Sedang apa ia malam ini? Dulu ketika kami masih bocah, kami sering bermain takadant. Di bawah pohon palem, kami duduk-duduk siang hari menikmati hembusan angin dari gurun. Kami bermain tebak-tebakan mengenai apa yang sedang ada dalam pikiran kami masing-masing. Seringkali Alesha menjawab kalau aku sedang memikirkan seandainya hujan turun lebih lama di desa kami. Seringkali Alesha menang. Aku memang suka membayangkan hujan lebih lama di Timia. Aku menyukai gemuruh sebelum hujan turun di pertengahan tahun. Langit menggelap dihiasi akar-akar petir yang menyala. Aku merasakan kekuatan alam yang tak mungkin aku lawan. Namun, ada kelembutan yang mengiringinya. Derai rintik hujan yang jatuh dari arakan awan kelabu. Lalu aku akan melepas jubahku dan berlari-lari di lapangan desa seakan aku sedang menari tarian hujan. Setidaknya itu yang kulakukan ketika aku masih kecil. Sekarang, tentu saja tak mungkin. 
“Ibouchi, kaukah itu?” 
Aku melihat siluet hitam di tepi sumur. Suara yang menegurku sangat akrab di telingaku. Alesha. Segera kunaikkan cheich hingga ke bawah mataku. Laki-laki yang telah dewasa harus menutup separuh wajahnya pada orang yang bukan sanak saudaranya. Alesha tetanggaku, teman sepermainanku dulu. 
Aku berjalan mendekati sumur. 
“Biar kubantu mengangkatnya,” kataku pada Alesha. “Ke dapur besar, kan?” tanyaku. 
Alesha tertawa lirih. Di bawah remang cahaya bulan dan lampu minyak di perumahan berpuluh meter dari sumur, aku bisa melihat jelas senyuman Alesha. Membuatku sedikit gugup. 
“Tidak, Ibouchi. Ini air untuk aku mandi. Aku telah selesai membantu ibu-ibu di dapur besar.”
“Baiklah, aku akan membawanya ke rumahmu.”
Alesha menggeleng. “Biar aku saja,” katanya. 
“Tidak apa-apa, biar kubantu,” sergahku. Dua ember di kiri dan kanan tanganku tak bisa lagi direbut Alesha. Mau tak mau, ia harus membiarkanku. Bukannya aku ambil kesempatan bisa berduaan dengannya. Tapi ia pasti telah sangat lelah. 
“Kau dari mana? Kau melewatkan acara pelepasan Fatima, Ibouchi,” kata Alesha memecah keheningan kami. 
“Ah, ya, aku tahu aku pasti melewatkannya. Jadi, Fatima telah diboyong oleh Qasim ke dalam tenda pengantin,” kataku dengan tambahan sedikit tawa. Alesha hanya tersenyum. Aku jadi salah tingkat, tapi untung pemberat di kedua tanganku membiaskan kecanggunganku. “Hmm, aku sejak sore hanya berjalan-jalan di kebun kurma. Lalu, aku duduk di atas tebing sambil menyaksikan matahari terbenam.” 
Alesha menatapku tajam. “Itu seperti yang kita lakukan waktu kecil dulu! Kenapa kau tak mengajakku, hah?!” 
Aku ingin mengajakmu, batinku. 
“Hei, coba tebak apa yang sedang kupikirkan?”
“Alesha, jangan bilang kau sedang mengajakku bermain takadant.”
Alesha tersenyum lebar. Ia terus memandangiku. Kulihat wajah perempuan paling cantik di Timia. Perempuan Tuareg kebanyakan tidak mengenakan kerudung seperti perempuan penganut Islam lainnya. Tradisi Tuareg juga tidak mengharuskan perempuan menutup wajahnya dengan tasuwart, semacam cadar seperti cheich yang kaum laki-laki kenakan. Tasuwart biasanya dikenakan saat upacara-upacara tertentu.
“Ayo, apa yang kupikirkan sekarang?”
“Kalau jawabanku benar, kau akan menyesal mendengar perintahku.” Aku mencoba mengulur waktu. Aku sungguh tak bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan. 
“Coba saja!” tantang Alesha. Ia tak hanya paling cantik, tapi juga perempuan paling berani di desa ini. Inilah gadis yang kukenal sejak kami masih ingusan. 
“Kau sedang memikirkan aku,” jawabku tanpa ragu. Alesha tertawa keras. Tak lama. Ia mengedarkan pandangannya. Sepertinya ia tak ingin orang lain tahu ia sedang berjalan berdua denganku. Aku mengerti. Seorang gadis dan seorang perjaka berduaan tak baik menurut para tetua di Timia. 
Alesha menutup mulutnya yang ternganga. Mata besarnya membelalak. 
“Kau benar, Ibouchi!” ucapnya seakan ia begitu terkejut. 
“Yang benar saja!” tukasku.
Aku dan Alesha kemudian terdiam. Langkah kaki kami melambat. Rumah Alesha sudah dekat. 
“Kau ingin aku melakukan apa?” tanya Alesha.
“Sudahlah, tidak apa-apa.”
“Tidak bisa begitu! Kita selalu melakukan permainan ini dengan adil. Selalu jujur. Dan tidak pernah curang.” 
Aku terus berjalan ke belakang rumah Alesha. Beberapa langkah lagi aku bisa melepas beban di kedua tanganku. 
“Kau ingin aku menyuruhmu melakukan apa?” tanyaku setelah meletakkan kedua ember di atas tanah. 
“Tak bisa begitu,” jawab Alesha merajuk. “Eh, baiklah. Kalau itu yang kau mau.” 
Lirikan mata Alesha menyiratkan kemenangan.
“Aku ingin kau menyuruhku untuk membuka cheichmu.” 
Bagaimana mungkin?! Tentu saja itu tidak boleh. Tapi apa salahnya? Tidak ada siapa-siapa di sini selain Alesha. Lagipula ia yang meminta. Walaupun aku tak mengerti kenapa. Akhirnya aku membiarkan Alesha menurunkan cheich berwarna biru tua itu. Seketika Alesha tersenyum malu.
“Kau tampan, Ibouchi,” ucapnya. 
Jarak kami tinggal sehela napas. Alesha mengecup bibirku. Membuatku tak berkutik. Dan memberinya kesempatan untuk segera masuk ke dalam rumah. Aku masih terpaku. 
*** 
Sepertinya hujan sebelum pernikahan Fatima memang hujan terakhir tahun ini. Sudah lebih seminggu tidak turun hujan lagi. Padahal seharusnya hingga hari ini masih musim hujan. Rasanya aku ingin mengutuk gurun Sahara yang mungkin telah menguapkan semua hujan yang seharusnya bisa turun di lembah pegunungan Ayr. Mungkin karena aku belum bertemu Fatima sejak pernikahannya. Ah, apa hubungannya?!
Aku begitu menyukai hujan. Tapi aku bertahan di tengah kepungan Sahara. Seharusnya aku pindah saja ke negeri lain yang sering diguyur hujan. Tapi aku juga tak tahu di mana letak negeri yang seperti itu. Barangkali kota-kota di Perancis bekas penjajah bangsaku dulu. Kota-kota yang dihuni orang berkulit putih. Oh, tahu apa aku selain Tuareg dan Timia serta perjalanan melintasi gurun pasir?! Lagipula, ada seorang gadis yang merontokkan sendi-sendiku di sini. 
Aku dan Alesha seumuran. Aku heran kenapa belum ada perjaka yang melamarnya. Menurutku Alesha juga tidak akan memberatkan mahar. Ada beberapa perjaka yang tampaknya sudah mampu untuk meminang Alesha. Apa Alesha bukan pilihan mereka? Bisa jadi Alesha telah menolak lamaran orang-orang. Bisa jadi Alesha menungguku. Alesha mengecup bibirku beberapa hari yang lalu. Aku belum bertemu dengannya lagi sejak itu. 
Tentu aku ingin melamar Alesha. Aku ingin menikah dengannya. Mungkin sekembali aku dari Bilma nanti. Kurasa setelah itu, uang simpananku sudah cukup untuk meminang Alesha. 
“Ibouchi.” Suara Alesha di belakangku. Aku menoleh. Alesha lalu ikut duduk di sebelahku. Di pinggir tebing kami duduk hati-hati. Senja ini akan terasa lebih indah. 
“Aku tahu kau pasti sedang di sini,” kata Alesha. “Tebing yang menghadap barat ini salah satu tempat kesukaanmu sejak dulu.” 
“Kau lihat pasir yang berterbangan di bukit pertama itu?” 
Alesha mengangguk. Aku kembali memandangi Sahara. 
“Mungkin akan ada hujan lagi sebelum benar-benar berakhir.”
“Ibouchi, aku minta maaf,” ucap Alesha lirih, tak menggubris perkataanku. Aku bergeming. “Seharusnya kejadian malam itu....”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Aku senang kau melakukannya.”
“Benarkah?” tanya Alesha sambil mendelik.
“Ya, aku bahkan ingin lebih dari kecupan,” kataku datar. “Kau mau bermain takadant?” tanyaku. 
Alesha mengangguk lagi. Bersemangat. 
“Kau duluan,” pintaku. 
“Hmm, kau pasti memikirkan seandainya nanti malam hujan.”
Aku tertawa. Bukan karena ia benar. “Kali ini kau salah, Alesha.”
“Tak mungkin!” tukasnya.  
“Hujan telah dikalahkan olehmu,” kataku sembari tersenyum. Alesha mengerutkan keningnya. Warna coklat wajahnya yang mulai berkeringat tampak berkilauan di bawah langit Afrika. Bibir penuh yang mungil. Bibir yang ingin kukecup. 
“Kau yang sekarang sering menguras pikiranku, Alesha. Aku selalu memikirkanmu. Dan hujan... aku masih menyukainya. Hujan menjadi latar jalinan kisah kita. Aku ingin menikah denganmu ketika musim hujan tiba. Bila kau bersedia menerimaku... hari itu pasti akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku.”
Kini seluruh sendiku menegang. 
“Apa... kau sungguh-sungguh, Ibouchi?” tanya Alesha ragu. 
Aku menatap mata Alesha lebih lama. Dan lebih dalam. Aku yakin kami sama-sama saling menyukai. Ia adalah teman bermainku yang paling dekat. Ketika para laki-laki dewasa kembali ke Timia setelah perjalanan enam bulan, mereka membagi-bagikan permen dari atas unta mereka pada kami bocah-bocah yang berebutan. Aku dan Alesha setelahnya akan menghitung jumlah permen yang kami dapat. Siapa yang paling banyak ialah yang menang dan harus mengerjai yang kalah. Ketika masaku tiba menjadi penunggang unta yang kembali dari perjalanan, aku bisa melihat Alesha berdiri di depan rumahnya. Saat pandangan kami bertemu, Alesha memberikan senyuman seakan memberi pertanda ia berbahagia aku telah kembali dengan selamat. Alesha selalu menantiku. 
“Setelah musim hujan, kami akan pergi. Bila kau bersedia, tunggulah aku kembali, aku akan melamarmu setelah itu.”
Akhir kalimatku disusul oleh bunyi petir. Alesha memandangi langit yang entah kapan telah menjadi kelabu. 
“Ya, Ibouchi, aku bersedia. Aku akan menunggumu.”
Lengkung bibirnya menyiratkan suka cita. Aku terlebih lagi. Hujan pun akan segera turun. Aku kurang bahagia apa? 
Gemuruh mulai bertalu-talu. Kami segera bangkit dari tepi tebing dan menuruninya lewat jalan setapak landai di bagian timur. Tangan kami saling berpegangan hingga kami mendekati perumahan. Di sumur pusat desa, kami berpisah tepat saat kucuran deras langit menghunjam tanah kering Timia. 
*** 
“Ibouchi, tolong angkat rumput ini!” teriak ayahku. Aku pun menghentikan pekerjaan menimba air dari sumur. 
Aku, Ayah, Paman Halim, dan sepupuku Ali mengangkat rerumputan yang telah dipak ke atas punuk unta. Semua unta telah menyandang beban masing-masing. Ada yang menyandang rumput bekal makan unta-unta itu sendiri. Ada yang menyandang perlengkapan perjalanan kami. Ada yang menyandang kurma, daging kering, susu unta, dan biji-bijian yang akan kami jual di desa lain yang jaraknya bermil-mil dari Timia. Untaku sendiri, Addawser, menyandang rumput di kedua sisi tubuhnya, seakan Addawser menjadi unta bersayap. Sayap yang tebal hingga tak mungkin untuk terbang. 
Sebelum matahari semakin meninggi, karavan kami yang berjumlah puluhan orang dan unta segera bersiap berangkat. Timia akan kami tinggalkan selama paling cepat enam bulan bila perjalanan kami lancar melintasi Sahara. Perjalanan ini sangat penting bagi kami suku Tuareg. Karavan unta Tuareg dari Timia akan melewati keganasan Sahara menuju kota oasis Bilma. Di sana, kami membeli garam hasil tambang lalu melanjutkan perjalanan ke pasar di sebuah kota dekat Niamey, arah selatan Bilma. Dan itu juga masih melewati Sahara. Perjalanan berminggu-minggu di gurun Sahara yang panas dan berbahaya bukanlah perjalanan ringan. 
“Ibouchi,” panggil Alesha sesaat aku menarik Addawser. Kubiarkan lagi untaku itu minum air hingga ia benar-benar puas. Karavan unta lain telah berkumpul di gerbang perbatasan Timia sebelah timur. 
“Ya, Alesha,” balasku. Kami berdiri di dekat sumur yang sama saat aku membantunya mengangkat air. 
“Aku akan merindukanmu,” ucapnya lirih. 
Aku tersenyum, lalu berkata, “dekaplah rindu itu. Hingga aku kembali nanti.”
“Ya, hingga tahun depan. Dan... setelah itu kau akan melamarku, kan?”
“Tentu saja, Alesha.”
“Hmm, kudengar tahun 2000 akan terjadi kiamat. Semoga saja itu berita bohong. Karena aku ingin menikah denganmu tahun depan. Aku tak ingin terjadi kiamat.”
Aku tertawa. Ternyata berita itu juga sampai di telinga Alesha.
“Tenanglah! Kudengar itu berita kiamat pada perangkat listrik. Kurasa hanya akan menimpa orang-orang di kota.”
“Oh, ya? Maksudnya?”
“Entahlah, aku juga tak mengerti.” Aku menghela napas. “Alesha, aku harus pergi. Mereka menungguku.”
“Ya,” sahut Alesha lemah. “Kau akan kembali, kan? Berhati-hatilah pada Sahara!” pintanya memohon.
“Tenang saja, Alesha. Ini perjalananku yang kedelapan sejak usiaku sepuluh tahun. Bila Tuhan mengizinkan, aku pasti kembali.”
“Insya Allah,” ucap Alesha sambil memejamkan matanya. 
“Sampai jumpa, Alesha,” ucapku. Aku menarik Addawser. Alesha melambaikan tangannya. Aku segera berjalan menyusul karavan di depan. Aku menoleh lagi ke belakang. Alesha masih berdiri di sana. “Aku akan merindukanmu, Alesha... dan hujan!” teriakku gembira. 
*** 
“Kau lama sekali! Matahari sudah meninggi!” sambut ayahku galak. Kami semua telah berkumpul di gerbang. Sebelum menginjak gurun Sahara, kami berdoa meminta keselamatan dan kemudahan dalam perjalanan nanti. Kami juga berdoa supaya kami bisa menawar garam Bilma dengan harga murah dan bisa menjualnya di pasar dengan sedikit lebih mahal. Kami pun berdoa agar penghasilan kami bisa lebih dari cukup untuk membeli keperluan pakaian dan bahan pangan lainnya walaupun saingan kami telah banyak yang mengangkut garam dengan truk. 
Langkah pertama di atas pasir Sahara membuat jantungku berdegup kencang. Timia akan kutinggalkan berbulan-bulan ke depan. Dan di Timia ada Alesha yang menungguku. Aku ingin menghalau pikiran-pikiran yang tak penting untuk perjalanan ini. Aku harus fokus. Aku tidak boleh ketinggalan dari rombongan. Selama empat hari ke depan, kami berjalan kaki menyusuri Sahara sebelum tiba di sumur purba. Di sana kami harus memasok air lagi bagi unta-unta dan kami. Semoga saja kami tak kehilangan arah. Paman Halim sudah sangat mahir melihat bintang-bintang di langit malam. Setiap malam aku memerhatikannya. Aku masih harus belajar lagi sebelum aku menjadi pemimpin karavan di suatu waktu nanti. 
Malam menjadi sangat dingin di gurun. Ali telah membuat api unggun dari tahi kering unta. Persedian taguella, roti gandum, masih cukup banyak. Kami telah makan dengan kenyang. Unta-unta mulai menutup mata. Beberapa dari kami masih asyik mengobrol. Aku duduk bersandar di perut Addawser. Ayah, Paman Halim dan Ali tak jauh dariku. Qasim juga ikut, tapi aku tak melihatnya. Mungkin ia sedang bersama kelompok lain. 
“Ibouchi, menurutmu apa kau bisa menggantikan kami tahun depan?” tanya Paman Halim.
“Maksud Paman?”
“Kami sudah tua. Aku dan ayahmu sudah lebih tiga puluh tahun melakukan perjalanan ini.”
“Maksud ayahku, apa kau bisa menjadi pemimpin karavan tahun depan?” kata Ali.
Aku menggenggam pasir. “Entahlah, Paman.”
“Sudah sepantasnya, Ibouchi,” sambung ayahku. Kalau titah sudah keluar, aku bisa tolak apa?
“Ya, Ibouchi, sudah pantas! Bukannya tahun depan kau akan menikah dengan Alesha?! Jadi tahun depan selain jadi pemimpin rumah tangga, kau juga harus jadi pemimpin karavan!” 
Aku melempar segenggam pasir ke tubuh Ali. Ia malah terbahak.
“Oh, ya?” tanya ayahku. “Alesha yang rumahnya tiga petak dari rumah kita?” selidik ayah. 
Aku menggaruk hidungku yang tak gatal. Cheich tak kulepas. Sesekali angin meniupkan pasir. Mukaku harus terhindar dari terpaannya. 
“Apa Paman tak memerhatikan Ibouchi sebelum berangkat kemarin berpamitan dengan Alesha?” Ali masih saja mengurusiku. 
“Gadis itu. Ya, dia cantik, Ibouchi!” kata Paman Halim. “Kau berteman dekat dengannya sejak kecil, kan? Kasihan gadis itu, ayahnya tewas sebagai pejuang Tuareg saat bentrokan dengan pemerintah Nigeria hampir sembilan tahun yang lalu.” 
“Ya, Paman. Tapi Alesha gadis yang kuat dan tegar.”
“Kau benar ingin menikahinya?” tanya ayahku. 
Aku mengangguk. “Ya, Ayah. Sekembali dari perjalanan ini, aku akan melamarnya. Semoga Ayah berkenan.”
“Tentu saja, Ibouchi!” jawab ayahku. “Kau memang sudah seharusnya menikah!” tambahnya. Ayah, Paman Halim dan Ali kemudian tertawa lepas. Malam makin larut. Puluhan malam lagi harus kulewati di gurun Sahara. Rinduku pada Alesha makin tak terbendung.
*** 
Pagi sekali, kami telah bersiap melanjutkan perjalanan. Seharusnya siang nanti, kami akan bertemu sumur purba. Setelah itu, beberapa hari kemudian kami akan tiba di Bilma. Tapi ada gejolak di dada yang entah kenapa selalu berujung mengingat Alesha. Kadang kupikir sedang terjadi sesuatu padanya. Tentu saja kutepis dugaan itu. Kuharap Alesha baik-baik saja di Timia. 
Cuaca hari ini sangat panas. Rasanya keringat terus berkucuran tapi tak ada bekas keringat di kulitku. Kasihan pada anak yang pertama kali melakukan perjalanan ini. Karena belum akil baligh, mereka belum diperbolehkan mengenakan cheich—penutup kepala berupa turban dan penutup wajah seperti cadar. Mereka akan lebih cepat merasa haus. Sebagai Tuareg, kami harus kuat menahannya. Sebagai Tuareg, aku juga harusnya berdamai dengan cuaca panas. Tidak melulu merindukan hujan. Mana ada hujan di gurun Sahara?
Puluhan mil telah kami lewati semenjak dari Timia. Masih ada ratusan mil lagi bentangan Sahara. Kadang aku ingin kembali menjadi bocah sepuluh tahun, lalu berlari-lari di bukit-bukit pasir dan meluncur menyusul karavan. Sekarang rasanya aku ingin berbalik ke belakang dan mengejar Alesha. 
“Ya, Tuhan!” Kudengar teriakan Paman Halim. “Ayo kalian semua merapat! Ada badai pasir!”
Kami terlatih untuk tidak panik. Aku melihat kelebatan pasir menari-nari di depanku. Sudah begitu dekat. Aku masih berdiri paling belakang. Hempasan pasir segera merubuhkan tubuhku. Alesha, gumamku.
Ketika aku bangun, aku berada di puncak bukit pasir. Aku sendirian. Aku tak melihat karavan. Bayangan Alesha tiba-tiba muncul di hadapanku. Ia menangis. Aku pun merasakan hujan membasahiku. Bagaimana mungkin? Tak ada hujan di gurun Sahara! Namun, hujan itu semakin deras. Pasir-pasir basah mengungkung kedua kakiku. Ini hanya mimpi. Aku ingin bangun. Tapi aku sudah bangun. Bangun tanpa nyawa...
Tuhan, kenapa aku tak boleh memiliki keduanya? Alesha... dan hujan. 
*** 
Tamat

No comments:

Post a Comment