Thursday, August 22, 2013

Hujan di Gurun Sahara

Sudah tujuh hari aku tak melihat kakak perempuanku. Ia sedang menjadi ratu selama itu. Ratu yang tubuhnya dibalut gaun dan separuh wajah ditutup cadar, lalu ditambah kain lebar yang menutupi seluruh tubuhnya sehingga tak seorang pun boleh melihatnya. Fatima dikelilingi dayang-dayang dadakan yang siap mengipasinya kapan saja ketika ia kepanasan. Dan segerah apapun, Fatima tak boleh melepas kain dan cadarnya. Begitulah tradisi pesta pernikahan suku kami yang berlangsung selama tujuh hari. Pesta pernikahan Fatima akan berakhir nanti malam. Ketika itulah aku akan bisa melihatnya lagi. Tetapi mungkin tidak secepat itu, karena Qasim, suami Fatima, pasti akan segera mengurungnya kembali di kamar. Kau tahu untuk apa.
Lupakan Fatima. Ia akhirnya berbahagia. Aku sedang berjalan di antara pepohonan kurma tak jauh dari rumah. Aku sedang membayangkan Alesha. Sedang apa gadis itu sore ini? Ia pasti cukup kelelahan membantu acara pesta keluargaku. Kebanyakan perempuan memasak di dapur besar di belakang rumah. Memasak untuk pasokan makan tujuh hari tujuh malam tentu saja melelahkan. Sore ini kegiatan memasak terakhir. Makanan pun melimpah di tengah-tengah para lelaki yang hadir. Aku sudah cukup bosan dengan acara minum-minum kopi, teh dan susu unta. Cukup bosan dengan bunyi-bunyian tamburin dan hentakan kaki-kaki yang menari. Aku telah jenuh riuh, makanya aku berjalan sendirian sembari menikmati semilir angin menjelang senja di Timia, sebuah desa di lembah Pegunungan Ayr yang kucinta ini. 
Perlahan matahari turun di balik bukit-bukit pasir di kejauhan. Matahari yang membara tampak bulat sempurna dengan warna jingga menyala. Negeriku selalu dilimpahi panasnya sang surya, walau di saat musim hujan sekalipun. Hujan terakhir tampaknya turun tak lama sebelum pernikahan Fatima dimulai. Pertengahan September lalu. Hujan yang dibawa oleh badai besar akhirnya jatuh ke bumi setelah sepuluh bulan kami menanti dalam musim kemarau berkepanjangan. Beruntung kami tinggal di oasis yang menyimpan cadangan air yang cukup banyak. Dikelilingi oleh gurun Sahara yang ganas, kami tidak mati kekeringan. Sumber air purba di sumur-sumur dan air hujan dari waduk bebatuan Pegunungan Ayr cukup untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan kebun kurma tumbuh subur lewat irigasi yang kami bangun sejak suku kami tidak lagi menjadi nomaden. Begitu cerita nenekku. 
Aku berasal dari suku Tuareg. Salah satu suku nomaden di Afrika. Kami tidak lagi tinggal berpindah-pindah untuk membuka lahan-lahan bertani yang baru. Kata nenekku, cerita yang ia dapat dari nenek nenek neneknya, padang pasir tak seluas sekarang. Dahulu kala, belantara Afrika penuh dengan hamparan savanah. Rerumputan di mana-mana. Air mengalir yang tak henti. Nenekku pasti tak diberi tahu bahwa itu berarti beribu tahun lalu. Savanah entah telah pindah ke mana. Setelah ikut ayahku dalam perjalanan panjang melewati Sahara untuk pertama kalinya, aku sadar aku telah berada begitu jauh dari savanah. Jadi, aku melupakan angan untuk berlarian di padang rumput, lalu tiba-tiba hujan turun dengan deras. Tidak akan ada hujan yang turun di gurun Sahara. Begitu panasnya bentangan gurun hingga mampu menguapkan tetesan hujan yang baru akan turun. Tak akan ada hujan di gurun Sahara.
***