Tuesday, June 4, 2013

Cerita Kepenulisan Bersama Majalah Femina

Tanpa menghitung hari demi hari, waktu telah berlalu sebulan lebih sejak postingan terakhir. Ya, pada bulan Mei, tak sekalipun saya menulis di blog ini. Di blog saya yang lain, saya masih menulis, walau singkat saja. Hanya menuliskan hal-hal yang lebih personal dan, mungkin, sepele. Sedangkan di blogspot ini, saya lebih banyak pertimbangan. Apakah pantas atau tidak pantas? Apakah menarik atau tidak menarik? Selain juga pertimbangan, untuk menulis di Blogspot saya lebih nyaman langsung menuliskannya lewat laptop. Kalau di blog sebelah, saya bisa nyaman menulis via smartphone. Jadi, tiap ada kegelisahan--gaya penulis kan gitu! gelisah! hahaha--saya bisa dengan cepat mencurahkannya di blog sebelah. Makanya, nih, blogspot ini hampir saja seperti kuburan yang sesekali dikunjungi--membutuhkan perenungan yang lebih mendalam sebelum benar-benar dituliskan.

Bagaimana paragraf pertama saya itu? Terlalu membual? Hahaha... Memang bukan hal yang penting untuk dibahas sebenarnya. Terserah saya, toh, mau sering mau jarang update blog. Siapa juga yang peduli? Jika berangkat dari persoalan ini, tentu saya tak perlu menjelaskan panjang lebar seperti di atas, bukan? Hehehe... Begitulah, kadang seorang writer-wanna-be terlalu mendramatisir permasalahan. Atau, saya saja yang begitu? Hmm, baiklah, sampai paragraf kedua ini, saya masih terus saja membual. Jadi, saya ini mau bahas apa kali ini? Okay! Lanjut ke paragraf berikutnya....

Tarrraaaa....


Tak terasa tahun 2013 telah memasuki bulan Juni. Berarti sisa satu bulan lagi, kita pun dihadapi dengan pertengahan tahun. Tidak! Tenang saja! Saya tidak akan berkontemplasi di sini. Saya cuma mau berbagi pengalaman yang saya peroleh awal Juni kemarin. Tepatnya, hari Sabtu tanggal 1 Juni, pukul 8.30 pagi hingga pukul 13.00 lebih kurang. Pada saat itu, saya menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Majalah Femina--tahu, kan?!--berupa Writing Clinic bersama Leila S.Chudori dan Iwan Setyawan. Kesempatan yang berharga bisa mendengar sharing dari jawara penulis tanah air itu. Leila S.Chudori yang baru saja merilis novel terbarunya berjudul Pulang, banyak memberikan ilmu kepenulisan fiksi. Masih hal-hal yang mendasar tapi sangat penting. Penulis pro sekalipun tak boleh menyepelekan.

Ada beberapa faktor yang dibutuhkan oleh penulis untuk menulis karya yang baik. Faktor pertama adalah bakat. Bukan hal yang sangat penting, kata Mbak Leila. Bakat tanpa dilatih juga percuma. Tidak akan menghasilkan apa-apa. Bakat yang dilengkapi dengan minat dan kerja keras tentu akan berbeda hasilnya. Tapi, bagaimana apabila seseorang yang tanpa bakat mempunyai minat dan kerja keras. Percayalah, itu juga akan berhasil menelurkan karya. Dan sungguh, bukan kerja keras yang sekadarnya. Jadi, beruntunglah kamu yang memiliki bakat bercerita. Faktor lainnya adalah--yang telah disebutkan--kerja keras, yaitu merawat kemampuan teknis, berlatih, dan rajin observasi. Seorang penulis adalah pengamat ulung! Faktor selanjutnya adalah kemampuan dan kemauan besar untuk membaca. Ibarat bernafas, membaca adalah oksigen. Kemudian, yang tak kalah penting adalah faktor sikap, harus rendah hati dan mau terus belajar. Bersikap layaknya sponge yang meresap. Nah, selebihnya, Mbak Leila berbagi perihal tips dan teknik penulisan. Bermula dari ide, membentuk tema, menyusun plot, menggambarkan karakter, dan mengakhiri cerita dengan menuliskan intro yang menarik minat pembaca--intro yang tak bertele-tele.

Lain lagi dengan Mas Iwan! Ia sharing secara spontan saja. Tak perlu slide. Tak perlu materi. Karena apa yang ia bagi ke peserta adalah pengalaman dan, boleh dibilang, semacam motivasi--walaupun Mas Iwan tak mau disebut sebagai motivator! Mas Iwan memang telah mempunyai one hit wonder! Siapa yang tak kenal novel 9 Summers 10 Autumns?! Best seller! Karya pertama dan langsung melejit. Bahkan sekarang, karya tersebut difilmkan. Lagi tayang di bioskop. Bagi Mas Iwan, semakin tua ia semakin gelisah, semakin ia menyadari bahwa he must do something. Sesuatu yang bermakna dan bisa menginspirasi banyak orang. Setidaknya bagi anak-anak dari ayah yang sopir angkot, seperti dirinya dulu. Ia yang telah nyaman secara finansial di New York City akhirnya memilih untuk meninggalkan American Dream demi Indonesian Dream. Dan, yang tak saya sangka, Mas Iwan itu kocak! Saya baca novelnya, dan saya kira ia orang yang serius. Pelajaran! Jangan menilai penulis dari hasil karyanya! Hahaha...

Pada akhirnya, setelah menghadiri acara-acara kepenulisan seperti ini, seseorang yang ingin menghasilkan karya harus kembali ke halaman kosong itu. Buat apa hadir ini itu, tapi tak ada yang ditulis? Paham teori, tapi tanpa praktik, buat apa? Aha! Mungkin karena itu, saya kembali ke blog ini. Menulis! Hehehe... Jadi, begitu saja! Setidaknya, blogspot saya ter-update! Kerinduanmu membaca tulisanku pun terobati. Hahaha...

Zula, Vira, Iwan, Adit

2 comments:

  1. Semoga lancar menulisnya, dan menghasilkan karya yang luar biasa ya Kak ^^

    ReplyDelete