Friday, June 7, 2013

Mengasihi Mereka yang Mengemis atau Membantu Mereka yang Berusaha?

Mana yang akan kamu pilih: mengasihi mereka yang mengemis atau membantu mereka yang berusaha?
Jakarta. Sudah lebih dari tujuh tahun saya berpetualang di kota ini. Bermula dari menumpang di rumah Paman, mengontrak rumah petak tak jauh dari kampus, lalu pindah lagi ikut tinggal bersama kakak di rumah kontrakannya, dan lagi, pindah ke rumah lainnya. Telah empat kamar yang saya huni selama hidup saya di Jakarta. Dan selama itu, bila ke mana-mana yang jauh dari tempat tinggal, saya biasa menggunakan jasa angkutan umum. Mulai dari ojek, bajaj, mikrolet, metromini, kopaja, bus patas, bus TransJakarta, hingga taksi--sesekali. Banyak ragam kehidupan yang saya temui selama menempuh lika-liku jalanan ibukota. Pengamen, yang dulu di kota Padang--kampung halaman--jarang saya temui, begitu ragam keahlian dan performa. Ada yang bernyanyi dengan suara cempreng dan "alat musik" dari botol plastik. Ada pula yang sepenuh hati bersuara emas dan berperangkat alat musik, minimal gitar. Bagi saya, mereka layak diapresiasi dengan uang recehan di kantong pakaian kita. Kalau ada yang sangat menghibur, lembar dua ribu pun saya masukkan ke dalam kantong nafkah mereka. Toh, dengan begitu, saya anggap sebagai amal. Membantu mereka yang telah berusaha untuk--sedikitnya--menghibur. Bisa jadi memang bukan menghibur tujuan mereka mengamen, tapi benar-benar mencari sesuap nasi. Apapun, mereka layak dibantu. Walau hanya dengan sekoin lima ratus.

Tuesday, June 4, 2013

Cerita Kepenulisan Bersama Majalah Femina

Tanpa menghitung hari demi hari, waktu telah berlalu sebulan lebih sejak postingan terakhir. Ya, pada bulan Mei, tak sekalipun saya menulis di blog ini. Di blog saya yang lain, saya masih menulis, walau singkat saja. Hanya menuliskan hal-hal yang lebih personal dan, mungkin, sepele. Sedangkan di blogspot ini, saya lebih banyak pertimbangan. Apakah pantas atau tidak pantas? Apakah menarik atau tidak menarik? Selain juga pertimbangan, untuk menulis di Blogspot saya lebih nyaman langsung menuliskannya lewat laptop. Kalau di blog sebelah, saya bisa nyaman menulis via smartphone. Jadi, tiap ada kegelisahan--gaya penulis kan gitu! gelisah! hahaha--saya bisa dengan cepat mencurahkannya di blog sebelah. Makanya, nih, blogspot ini hampir saja seperti kuburan yang sesekali dikunjungi--membutuhkan perenungan yang lebih mendalam sebelum benar-benar dituliskan.

Bagaimana paragraf pertama saya itu? Terlalu membual? Hahaha... Memang bukan hal yang penting untuk dibahas sebenarnya. Terserah saya, toh, mau sering mau jarang update blog. Siapa juga yang peduli? Jika berangkat dari persoalan ini, tentu saya tak perlu menjelaskan panjang lebar seperti di atas, bukan? Hehehe... Begitulah, kadang seorang writer-wanna-be terlalu mendramatisir permasalahan. Atau, saya saja yang begitu? Hmm, baiklah, sampai paragraf kedua ini, saya masih terus saja membual. Jadi, saya ini mau bahas apa kali ini? Okay! Lanjut ke paragraf berikutnya....

Tarrraaaa....