Monday, February 4, 2013

Menulis: Aksi Keberanian atau Pelarian

"Writing is an act of courage. But it's worth taking the risk." ~ Paulo Coelho
Beberapa kali saya menemukan kutipan dari Paulo Coelho tersebut di status jejaring sosial. Ternyata, setelah ditelusuri, kutipan itu diambil dari catatan Paulo Coelho di blognya. Tentunya, catatan itu berkaitan dengan penulisan. Saya sendiri belum sempat membaca keseluruhannya. Hanya memindai dan menemukan sekalimat yang memancing saya untuk menulis postingan ini. 

Siapa Paulo Coelho? Kalau ada yang belum kenal, saya jamin dia orang yang sama sekali tak suka membaca. Paulo Coelho adalah penulis internasional. Dia terkenal lewat bukan buku perdananya berjudul The Alchemist. Ya, yang baca postingan saya ini, pasti sudah tahu dan mungkin pula sudah membaca The Alchemist. Setidaknya, sering bertemu tak sengaja dengan kutipan inspiratif dari buku itu entah di buku lainnya atau jejaring sosial, blog, dan segala macam media. 

Saya sedang tak membahas The Alchemist. Saya sedang tak ingin pula membahas Paulo Coelho walaupun dia termasuk salah satu penulis favorit saya. Saya telah membaca beberapa novelnya, ada yang saya suka ada juga yang menurut saya biasa saja tapi tetap saya baca. Ya sudah, mari kembali ke topik yang ingin saya bicarakan di postingan ini.

Tentunya, curcol saya kali ini berkaitan dengan kutipan yang telah saya salin di atas. Menulis adalah tindakan yang berani (membutuhkan keberanian), tetapi layak untuk menanggung risikonya. Demikian kata Paulo Coelho yang akhirnya membuat saya bercermin. 

Saya mulai menulis secara (cukup) profesional sejak beberapa tahun terakhir. Memang hanya bermula dari blogging. Tulisan-tulisan yang sebelumnya saya share di blog, kemudian saya terbitkan dalam bentuk buku dengan jalur indie. Langkah yang saya ambil saat itu, hanya tindakan ambil peluang. Dan bukannya membutuhkan keberanian, tetapi hanya kenekatan saya. Dan kenekatan saya itu cenderung sebuah bentuk pelarian saya dari kenyataan. 

Setiap orang pasti punya masalah. Saya tak terkecuali. Kalau orang lain memecahkan masalahnya dengan berbagai tindakan yang solutif, saya justru lari dari masalah. Saya lari dari kenyataan bahwa saya punya masalah. Ada yang bilang, "Writing is relieving." Tak salah. Sementara waktu, dengan menulis saya akhirnya memang merasa baik-baik saja. Tetapi masalah saya tak terpecahkan. Saya masih saja berlari. Dan pelarian ini berujung pada dunia kepenulisan. Tiba-tiba saja saya berada di lingkungan gemar menulis. Tiba-tiba saja tulisan saya pun lumayan bisa dinikmati orang-orang. Tiba-tiba saja saya mencap diri saya seorang penulis. Padahal, dunia ini hanyalah pelarian saya....

Jadi, apakah saya orang yang berani karena saya menulis? Saya terus bercermin. 

Sesungguhnya, saya hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik topeng kepenulisan. 

2 comments: