Thursday, February 28, 2013

Rectoverso dan Lovediction

Februari akan segera berakhir. Kemudian datang Maret. Pertanda saya harus segera berlari. March. Tak banyak hal yang bisa saya ceritakan kali ini. Mungkin karena tak banyak hal menarik yang terjadi selama Februari ini. Saya lebih sering menyepi. Menjauh dari hingar-bingar yang tak berarti. Ah, ya, memang masih banyak yang harus saya lakukan. Dan saya tak akan membaginya di sini.

Saya upload foto buku. Dua buku Rectoverso yang saya punya. Edisi pertama saya beli pada Februari 2010. Edisi terbaru saya dapat Februari ini sebagai hadiah dari Bentang Pustaka karena karya flash fiction saya menang dalam kuis bertajuk "Selamat Ulang Tahun, Dee!"

Rectoverso
Saya juga sudah nonton film omnibus Rectoverso. Sebagai penikmat film, saya sangat menikmatinya. Tidak ada kritik atau pujian overrated. Yang penting saya suka dan saya menikmatinya. Begitu saja komentar saya.

Thursday, February 7, 2013

Miskom

Malam ini saya belajar hal yang sangat penting perihal KOMUNIKASI. Saya sendiri bukan tipe orang yang banyak omong--kecuali lewat tulisan, mungkin. Saya tidak begitu sering berkomunikasi dengan orang lain. Saya jarang bertegur sapa dan mengajak ngobrol terlebih dahulu. Orang lain pun cenderung menilai saya cuek, lebih parah dicap sombong. Tapi kalau sudah mengenal saya lebih dekat, saya tidak begitu, kok! *pembelaan! Hehehe...* Kasus malam ini telah mengingatkan saya tentang betapa pentingnya komunikasi. Tentu saja supaya kita tidak salah paham dan tidak serta merta menilai.

Namun, terlalu inisiatif berkomunikasi pun tampaknya malah menyebabkan hubungan yang baik menjadi kurang baik. Hmm, saya rasa saya memang salah. Saya dengar tentang A dari B kalau A begini ke C. Bukannya saya konfimasi dulu ke A, saya malah langsung tanyakan ke C. Akhirnya, jadi salah paham. Apa yang disampaikan A ke B belum tentu akhirnya menjadi sama dengan apa yang disampaikan ke saya. Mungkin sama, tetapi bisa jadi saya menangkap maksudnya berbeda. Sama saja jadinya. Bukan salah paham, tapi gagal paham. *apa bedanya? Hehehe...*

Akhirnya, saya belajar untuk menghargai pentingnya komunikasi. Tangkap dulu maksud yang sebenar-benarnya. Dan jangan pernah menilai kalau memang tak pernah bertanya dan berbicara. Setelah kasus malam ini, saya akan lebih sering bertanya, mencoba untuk menyapa dan mengajak ngobrol. Semoga, ya!

Monday, February 4, 2013

Menulis: Aksi Keberanian atau Pelarian

"Writing is an act of courage. But it's worth taking the risk." ~ Paulo Coelho
Beberapa kali saya menemukan kutipan dari Paulo Coelho tersebut di status jejaring sosial. Ternyata, setelah ditelusuri, kutipan itu diambil dari catatan Paulo Coelho di blognya. Tentunya, catatan itu berkaitan dengan penulisan. Saya sendiri belum sempat membaca keseluruhannya. Hanya memindai dan menemukan sekalimat yang memancing saya untuk menulis postingan ini. 

Siapa Paulo Coelho? Kalau ada yang belum kenal, saya jamin dia orang yang sama sekali tak suka membaca. Paulo Coelho adalah penulis internasional. Dia terkenal lewat bukan buku perdananya berjudul The Alchemist. Ya, yang baca postingan saya ini, pasti sudah tahu dan mungkin pula sudah membaca The Alchemist. Setidaknya, sering bertemu tak sengaja dengan kutipan inspiratif dari buku itu entah di buku lainnya atau jejaring sosial, blog, dan segala macam media. 

Saya sedang tak membahas The Alchemist. Saya sedang tak ingin pula membahas Paulo Coelho walaupun dia termasuk salah satu penulis favorit saya. Saya telah membaca beberapa novelnya, ada yang saya suka ada juga yang menurut saya biasa saja tapi tetap saya baca. Ya sudah, mari kembali ke topik yang ingin saya bicarakan di postingan ini.