Wednesday, January 9, 2013

Perjalanan Setahun (6)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...) (...part 4...) (...part 5...)

Menjelang maghrib, 31 Desember 2012, kami kembali ke Jogja. Tidak ada rasa kantuk selama perjalanan dari Gunung Kidul. Seharian bersenang-senang dari pagi hingga sore di tempat-tempat indah dan damai sungguh menjadi penutup tahun yang sempurna. Di tengah perjalanan pun, saya dikejutkan oleh pemandangan yang tak terduga. Kami melewati Bukit Bintang! Saya baru tahu namanya saat itu juga. Ketika sang koordinator berseru, Bukit Bintang!

Dari kawasan Bukit Bintang, kita bisa melihat hamparan kota Jogja lengkap dengan kerlap-kerlip penerangannya. Saya langsung teringat Dago Pakar di Bandung. Dari ketinggian, kita melihat pesona dataran yang lebih rendah. Saya pun teringat Limau Manih, Sitinjau Lauik, dan Indaruang di kota Padang. Mana yang lebih bagus? Kalau menurut saya, Bukit Bintang ini, jalanannya tidak terlalu rawan, di pinggiran jalan juga banyak warung makan tapi tidak sepanjang jalan. Jadi, Bukit Bintang lebih cocok dijadikan area peristirahatan sambil menikmati kota Jogja diselimuti malam dengan bintang-bintang di daratan.

Pemandangan itu kami nikmati selewat saja. Perjalanan tetap dilanjutkan. Sekitar jam sembilan, kami tiba di rumah. Beberapa ada yang berhambur ke kamar mandi satu-satunya itu. Saya menunggu giliran dan akhirnya bisa mandi juga. Menurut rencana perjalanan, malam tahun baru seharusnya kami mengadakan acara bersama-sama di pantai (entah pantai mana), dan kalaupun terkendala kami ke Malioboro. Berhubung, kebanyakan dari kami ingin bisa tiba di Jakarta keesokan harinya, kami tak terlalu memusingkan harus bermalam tahun baru. Jadi, bagi yang ingin bermalam tahun baruan bisa mengunjungi Malioboro.

Sebagian kecil teman-teman kami tinggal di rumah, termasuk Mama. Sedangkan saya dan beberapa teman lainnya menuju Malioboro. Kami semua berjalan kaki ke sana. Teringat malam sebelumnya, ketika saya, Anggun dan Mama, naik becak ke Malioboro dan mengeluh jauh. Hahaha... Ternyata, kalau dilalui ramai bareng teman-teman, perjalanan cukup panjang itu tak terlalu melelahkan. Padahal, saat itu, turun hujan gerimis. Kami berjalan dari jalan Letjen Suprapto, berbelok ke jalan Pringgokusuman dan terus lurus sampai jalan Sastrowijayan di mana beberapa bar dan cafe yang ada di sana sudah beratmosfir pesta. Mendekati pergantian tahun, kami pun tiba di Malioboro yang padat.  Tak terdengar hitung mundur. Hanya bising petasan yang silih berganti memekakkan telinga. Ah, jadi, begitulah! Selamat datang 2013! Dan kami terus berjalan hingga ke perempatan Benteng Verdeburg.

Begitu saja, malam pergantian tahun kami di Malioboro. Setelah foto-foto di perempatan itu (ya, di tengah keramaian), kami berpencar. Saya dan Anggun berjalan berdua dan kami ingin makan. Hingga akhirnya, kami bertemu kembali dengan Irma dan Hanny di tengah jalan, lalu kami makan bersama di hari pertama tahun 2013. Saya sudah tahu, makan di emperan Malioboro itu muahaaalll untuk makanan yang biasa saja.  Tapi, tak apalah, sesekali ini di Malioboro.

New Year Eve at Malioboro

Hampir jam dua, kami tiba di rumah. Oleh-oleh bakpia yang kami pesan sebelumnya pada tuan rumah sudah tiba juga. Kami segera pulang ke Jakarta, dini hari itu. Dan, ya... berakhir sudah perjalanan a la ransel kami selama setahun itu! Hahaha... Cuma lima hari, tapi hitungnya dari tahun 2012 sampai tahun 2013. Jadilah judul konten blog saya ini Perjalanan Setahun. Hehehe... Apalagi, hari pertama tahun 2013 ini cukup menguji kesabaran kami.

Cobaan pertama yaitu bus menyalip truk pembawa batang-batang bambu dan krank! Kaca spion sebelah kiri jatuh berderai. Kejadian sudah pagi jam sembilan setelah kami sarapan di warung dekat SPBU. Bus pun harus ke tukang las, memasang kaca spion 'baru' yang diambil dari rearback mirror (apa deh ini Bahasa Indonesia-nya?! Hehehe...) Kami menunggu dan koordinator pun berinisiatif kami menyumbang sepuluh ribu per orang buat si bapak sopir. Teringat kejadian saat keberangkatan, bus itu juga telah pecah ban.

Hampir satu jam menunggu, kami melanjutkan perjalanan pulang. Dan... wuuzzzz! Ban belakang kanan robek! Gembos! Pecah! Apa pun! Dan kami di tengah jalan tol! Kejadian berlangsung pada siang kira-kira jam dua. Saya tidak tahu (dan tidak peduli), itu ban entah diapakan. Tidak lama memang, tidak sampai setengah jam bus jalan lagi... dengan terseok-seok. Setiba di jalan entah apa (sudah tak peduli), yang pasti bukan jalan tol lagi, bus menemukan perhentiannya yang layak. Bengkel ban! Kami pun menghabiskan sore kami di sana. Untung ada warung makan Padang. Makanlah kami di sana. Sholat jamak di sana. Ganti baju yang mau ganti. Cuci muka yang mau cuci. Hampir maghrib, bus siap mengantar kami kembali ke ibukota. Huft...

Dan, ya... tol Cikampek yang macet memperlama waktu tiba kami. Malam sudah larut, lewat jam 11 kami tiba di Semanggi. Saya, Irma dan Dani yang satu tujuan ke arah Fatmawati, menyewa taksi yang sama. Setiba di rumah, saya langsung disuruh oleh si Uni untuk nelepon Bapak saya. Yap, yap! Saya tahu. Bapak saya pasti khawatir karena dari jam tujuh malam saya tak bisa dihubungi dan keberadaan saya yang tak jelas. Karena, handphone saya mati total. Baterai drop!

Perjalanan pergi nyaris 21 jam, perjalanan pulang juga nyaris 21 jam. Semua kendala kami lalui dengan legawa. Inilah perjalanan backpacking kami. Perjalanan (serasa) setahun. Entah kemana lagi tujuan kami selanjutnya. Mungkin kami akan bersama lagi. Mungkin akan jalan dengan teman baru lainnya di forum backpacker Indonesia. Apapun, perjalanan ini bukan perjalanan terakhir. Semoga saja. Saya sendiri ingin kembali melakukan perjalanan seperti ini. Mungkin benar-benar sebagai backpacker--mandiri menjelajah negeri baru dengan biaya seirit mungkin.

No comments:

Post a Comment