Monday, January 7, 2013

Perjalanan Setahun (5)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...) (...part 4...)

Hari terakhir di tahun 2012. Jogja cerah sekali alias garang, apalagi menuju Kabupaten Gunung Kidul. Jam enam pagi, kami semua telah bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan rumah. Ada sedikit perbedaan pendapat saat itu, apakah tas-tas tinggal di rumah atau langsung dibawa ke bus supaya bisa langsung pulang ke Jakarta. Atas saran si Bapak Tuan Rumah, tas-tas sebaiknya ditinggal dulu. Sepulang dari Gunung Kidul, bisa mampir dulu ke rumah untuk beres-beres. Saya sendiri tetap membawa tas ransel ke bus. Ya, siapa tahu butuh sesuatu yang tersimpan di dalam ransel.

Sayang sekali, saya bukan tipe pencatat perjalanan, sehingga saya sering kelupaan detail. Entah jam berapa bus kami tiba di Pantai Siung dan jalan apa saja yang kami lewati. Yang saya ingat adalah jalan dari kota Jogja ke Gunung Kidul itu melewati perbukitan yang berbelok-belok. Jalannya tidak lebar, hanya dua jalur untuk dua arah. Masuk ke Pantai Siung, kami melewati jalan yang lebih kecil. Dan... sinyal pun melemah hingga akhirnya tak ada sama sekali!!! Where were we?! Bukankah kami sejarak 2-3 jam dari kota Jogja?! Hehehe... Pantai itu memang berada di balik perbukitan, barangkali karena itu sinyal tak ada. Jadi, nggak bisa update status, deh! Hihihi...

Pantai Siung tidak terlalu panjang. Ada batu-batu karang dan pasirnya masih kasar. Di bagian tertentu pantai, pasirnya sudah halus, tidak ada kerang dan bebatuan. Tapi, pendek saja. Di sini, tampaknya ada sebuah penginapan sederhana. Fasilitas pantai lainnya, seperti toilet, cukup layak dan bayar 2000 rupiah kalau mandi. Pedagang makanan berderet di pinggir parkiran. Ada yang jual es kelapa, tentunya, dan goreng-gorengan, bakso tusuk, apapun yang "ringan-ringan". Pantai ini belum terlalu berkembang. Pengunjung juga tak terlalu ramai. Kami serombongan seakan-akan sedang bermain di pantai pribadi. Hehehe....


Bersenang-senang di Pantai Siung
Pantai Siung

Tujuan selanjutnya, Pantai Indrayanti. Tak begitu jauh dari Pantai Siung. Kami tiba saat matahari menyengat luar biasa. Sudah lewat jam 11. Hampir tengah hari. Pantai Indrayanti ini panjang sekali. Lautnya mengulurkan ombak-ombak besar. Pasir pantainya halus. Pasti enak sekali jalan telanjang kaki di sini, tapi tentu bukan saat panas demikian. Pengelolaan pantai ini jauh lebih maju daripada Pantai Siung. Pedagang makanan berderet sepanjang pantai dengan rapi. Payung-payung pun banyak berderet dan disewakan. Saya, Anggun dan Mama, menyewa satu payung lalu duduk santai di atas tikar sambil menunggu pesanan nasi goreng dan kelapa muda. Hmm, sedap! Sementara yang lain asyik bermain di pantai dan berenang dekat karang besar. Ada juga yang berkepentingan lain. Saya tak peduli, yang penting pemandangan di depan saya sungguh luar biasa. Ombak besar, pasir putih, laut biru... Ah, surga! Andai saja bisa sambil menulis di sana.

Payung Warna-warni di Pantai Indrayanti

Lepas istirahat, sholat, makan, di kawasan wisata Pantai Indrayanti, kami menaiki bus dan melaju menuju bagian Gunung Kidul lainnya yang jauh dari pantai. Gunung Kidul itu katanya daerah kering, banyak perbukitan kapur atau karst. Sejauh mata memandang selama di perjalanan, saya memang banyak melihat perbukitan seperti itu. Sawah juga jarang, kebanyakan ladang jagung. Perjalanan ini menuju Kecamatan Playen. Di sana terdapat objek wisata Goa Rancang Kencana dan Air Terjun Sri Gethuk.

Pertama, kami langsung menuju kawasan goa itu. Goa Rancang Kencana bukaannya sangat besar dan cukup luas. Katanya, goa ini baru dibuka sebagai objek wisata pada tahun 2009. Sebelumnya, area yang cukup luas itu digunakan sebagai lapangan bulutangkis oleh warga sekitar. Masuk lagi lebih ke dalam, bukaannya sangat kecil sampai harus menunduk dan di dalamnya cukup sempit. Dan, di dalam ruangan sekitar 2x3 meter itu, katanya terdapat pintu gaib menuju Gunung Merapi. Wow! Menurut sejarah, goa itu dinamai sebagai Goa Rancang Kencana karena menjadi tempat persembunyian beberapa prajurit kesultanan Mataram ketika berperang melawan Belanda. Sambil bersembunyi, mereka merancang strategi perang. Katanya, nih, hingga saat ini, masih ada orang-orang yang bersemedi di dalam celah-celah goa. Katanya lagi, goa itu dihuni oleh makhluk-makhluk halus. Hiii.... Emang katanya tuh kata siapa, sih?! Itu, lho... seorang pemuda desa yang jadi tour guide kami.

"Lapangan Bultang" Goa Rancang Kencana

Tak lama di goa, kami berpindah ke kawasan Air Terjun Sri Gethuk. Tetap dengan bus. Tidak jauh, sih, tapi juga tidak dekat. Ada yang lucu, ketika saya dan Mamanya Anggun tiba di objek wisata air terjun ini. Kami berjalan kaki dari tempat bus parkir ke jalan berbatu tak jauh dari pinggiran sungai. Ketika melihat sungai yang coklat, kami bertanya-tanya, di mana air terjunnya. Dari jauh, akhirnya kami melihat sebuah air terjun kecil yang mengalirkan air warna coklat. Saya dan Mama seakan komplain, gini saja?! Kok tidak bagus, ya?! Masih jauh lebih bagus air terjun di Lembah Anai, Padang Panjang, Sumatera Barat--kampung kami. Mama tertawa-tawa kecil. Saya juga, sih. Lalu, datanglah, koordinator atau siapa ya waktu itu yang bilang, kalau jalan setapak menuju air terjun becek dan licin. Mesti hati-hati jalan di sana. Oh, ternyata... Air Terjun Sri Gethuk masih jauh dari pandangan kami. Hehehe...

Seorang ibu-ibu baru saja balik dari air terjun, katanya, jalanan sangat licin, mesti telanjang kaki, dan jaraknya cukup jauh. Ibu itu pun menyarankan supaya Mama tidak usah ikut. Seorang bapak tua kebetulan juga balik dari sana, beliau membawa sebatang bambu sebagai penyokong jalan. Kaki-kaki orang yang balik dari sana penuh lumpur. Mama pun akhirnya mengikuti saran si ibu walau sepertinya masih mau ikut. Mungkin tak mau kalah dari si bapak tua. Hehehe... Akhirnya, Mama tinggal di tempat start, sedangkan saya , Anggun, dan beberapa teman lainnya memulai petualangan di jalur becek. Dan tongkat bambu dari bapak tua diestafetkan pada saya. *merasa terhormat*. Hahaha... Oh, ya, untung saya sudah pakai sandal gunung, jadi tak perlu telanjang kaki melewati jalur becek. Tapi, tetap hati-hati!

Dan, tibalah kami di Air Terjun Sri Gethuk... Bagus? Relatif... Hehehe...

Bagian kecil dari Air Terjun Sri Gethuk


PS: Teman-teman fotografer saya belum banyak yang upload foto Air Terjun Sri Gethuk dan Goa Rancang Kencana. Jadi, maklum ya fotonya segitu saja.

....to be continued....

No comments:

Post a Comment