Saturday, January 5, 2013

Perjalanan Setahun (3)

(...part 1...)

(...part 2...)

Waktu kami terbatas, masih ada beberapa objek wisata yang perlu kami kunjungi. Setelah dari Puncak Sikunir, walau saat itu masih pagi sekali, mobil pick-up mengantar kami ke Kawah Sikidang. Perjalanannya sekitar 15-20 menit. Tiba di sana, kami bebas sarapan di warung yang dilokalisir dalam satu area. Berhubung di Puncak Sikunir, saya sudah makan Pop Mie, di warung saya cuma nyemil gorengan. Ohya, perlu juga saya catat, saya pun buang hajat di toilet umum pagi itu. Hehehe...

Karena rombongan kami terbagi dua, saya dan teman-teman rombongan pertama menunggu rombongan kedua yang sedang akan dijemput oleh mobil pick-up yang sama. Dalam penantian itu, kami sarapan dan bebas mau ngapain saja. Beberapa ada yang sudah foto-foto duluan. Sebenarnya, kami tak harus menunggu rombongan berikutnya. Toh, memang saat itu sepertinya kami lebih senang leyeh-leyeh di warung atau di mana saja tempat yang memungkinkan.

Di Kawah Sikidang, banyak penjual masker menjajakan dagangannya. Memang, area tersebut berbau pekat belerang. Saya sendiri tidak beli masker. Saya mengandalkan pashmina untuk menutup hidung bila bau belerang itu menguar kuat. Kadang-kadang saja bau itu muncul tergantung angin yang menerbangkannya. Kawah Sikidang sangat bagus dijadikan latar belakang foto. Apalagi cuaca sangat cerah pagi itu. Kawah Sikidang ini ternyata artinya melompat-lompat. Kawah ini masih aktif dan biasa ditemukan kawah mini yang mendidih di tempat-tempat yang tak terduga. Jadi, mesti lihat-lihat ke bawah kalau jalan menuju kawah yang besar. Dan sepertinya, di bawah tanah yang kami pijak itu bisa saja ambruk membentuk kawah baru. Saya jadi ngeri sendiri dan memutuskan untuk segera pergi saja dari area sekitar kawah.

Kawah Sikidang

Objek wisata selanjutnya adalah Telaga Warna. I was quite excited. Tapi, sayang sekali awan sedikit mendung, menutupi sorot mentari ke telaga itu. Jadinya, saya cuma melihat warna hijau lumut dan hijau tosca. Mungkin karena kami juga melihatnya dari dekat, tidak dari ketinggian di puncak bukit. Saya dan beberapa teman melakukan promenade di jalan setapak tepian telaga. Ujungnya adalah area yang lebih luas dan seolah-olah itu adalah pantai dari telaga. Mentok di sana, lalu kami balik arah. Di pinggiran telaga, ada batang-batang pohon yang "tiduran". Banyak yang berdiri di sana sambil pose siap difoto. Saya pun tak ketinggalan, bersama Anggun dan Dani. Untung sekali ada fotografer cantik Irma. Tapi, fotonya belum diunggah ke Facebook. Agak ketar-ketir saat menaiki batang pohon itu. Takut jatuh, nyemplung ke telaga lalu jadi tontonan. Jadinya, pada batang pohon yang agak labil, saya seakan merayap. Seru!

Tepian Telaga Warna

Di jalan setepak tepian telaga.

Waktu menunjukkan entah berapa. Mungkin jam 10-an. Sebenarnya masih cukup dini untuk berwisata. Tapi, kami harus bersiap meninggalkan penginapan pada jam satu siang. Dengan waktu terbatas itu, kami berupaya supaya objek-objek wisata yang terkenal bisa semuanya kami kunjungi. Nah, setelah Telaga Warna, kami bersiap menuju Komplek Candi Arjuna. Ternyata, komplek itu berada tak jauh dari penginapan kami. Jalan masuk ke komplek, persis di depan penginapan. Dengan jalan kaki pun bisa dan tak butuh waktu lama. Sekitar 100 meter kurang mungkin.

Komplek Candi Arjuna

Komplek Candi Arjuna tak begitu luas. Ada beberapa candi kecil berkumpul di sana--Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Nama-nama tokoh pewayangan Mahabarata menjadi nama-nama candi tersebut. Pemandangan di sekitar komplek sangat mengagumkan. Pegunungan seakan mengelilingi. Belum lagi area candi yang ditata dengan rerumputan hijau dan pohon-pohon cemara kecil. Dan hawanya masih sejuk. Seakan surga! Hehehe...

(ki-ka-bel-dep) Hawa, Dini, Novi, Irma, Nandy, Arif, Sari, Dewanti, Pinkie, Nophay,  Nova,  Dani, Anggun,  Nopih, Melli, SAYA, Agung, mama Yet (Anggun&Agung), Efta, Bima

Setelah puas foto-foto, kami kembali ke penginapan. Ada juga beberapa teman yang tak ikut ke komplek candi, mereka duluan ke penginapan dan berberes check-out. Tampaknya mereka mempertimbangkan jatah kamar mandi. Kalau semua bersamaan tiba di penginapan, pasti antrian bakal panjang. Saya sendiri tak mandi, hanya cuci muka, lalu makan siang di lantai bawah dan membereskan isi ransel saya. Jam satu siang lebih sedikit, kami telah siap di bangku masing-masing di bus. Selamat tinggal Dieng. Terima kasih atas keramahtamahanmu. Kamu begitu indah!

Jogja pun menanti kedatangan kami.

....to be continued....

No comments:

Post a Comment