Friday, January 4, 2013

Perjalanan Setahun (2)

(....part 1....)

Kami telah tiba di penginapan Bouginville, Dieng, pada waktu maghrib. Kami semua membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam yang telah disediakan tuan rumah. Setelah itu, kami pun berkumpul di ruang tengah lantai dua. Koordinator, bernama Bima, membahas hal-hal penting yang perlu kami ketahui untuk persiapan perjalanan esok hari serta mereview hal-hal yang telah terjadi selama perjalanan keberangkatan dari Jakarta. Di saat itulah, kami juga saling mengenalkan diri lebih dekat. Diiringi dengan canda tawa tentunya. Saya sendiri lebih condong menjadi "penonton", mengingat umur juga, banyak teman backpacking saya yang ternyata lebih muda dari saya.

Ngalor-ngidul malam itu tak boleh diteruskan. Kami harus beristirahat. Dini hari jam tiga, 30 Desember 2012, kami harus bangun dan bersiap menempuh perjalanan singkat ke Puncak Sikunir. Di sana kami akan melihat matahari terbit. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Saya selalu terpesona melihat matahari terbit yang menjadi bagian scene di film-film. Saya memang jarang keluar rumah menengok matahari terbit kala subuh. Lagipula saya tinggal di kota. Oh, well, bilang saja kalau saya malas bangun subuh. Hehehe... Saya masih ingat salah satu scene di film Benjamin Button, di saat Ben menemani ayah kandung yang telah mencampakkannya untuk melihat matahari terbit di tepian danau. It was so mesmerizing! Matahari terbit menyiratkan saya akan sebuah harapan baru. So, I was so excited to see the sunrise live! 

Dinihari itu, rombongan terbagi dua. Lima belas pertama, saya di antaranya, diberangkatkan lebih dulu dengan mobil bak terbuka. Ya, kami semua duduk di sana ibarat sekumpulan sapi yang diantar ke pasar. Hahaha... Perjalanan dari penginapan ke desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa itu memakan waktu sekitar 20-30 menit. Selanjutnya, kami berjalan kaki dari tempat perhentian menuju Puncak Sikunir. Ada sebuah telaga sebelum kami memulai pendakian. Masih gelap dan kami membutuhkan senter untuk penerangan.

Awal pendakian terasa ringan. Seiring bertambah ketinggian, saya mulai ngos-ngosan. Saya tahu kenapa. Saya kelaparan. Saya selalu tidak bisa beraktivitas terlalu berat bila perut saya masih kosong. Apalagi saya jarang olahraga. Setelah setengah jalur pendakian, saya mulai kehilangan tenaga, napas saya ngos-ngosan. Tas saya yang berisi air botol, obat-obatan dan perintilan lainnya terpaksa saya serahkan pada Dini. Lumayan meringankan beban. Untuk beberapa menit, saya duduk saja di atas batu besar di pinggir jurang. Bukan! Bukan saya mau bunuh diri! Hahaha... Saya rasa muka saya sudah pucat. Oh, ya, saya lapar! Beruntung ada cemilan coklat chacha dari Risma. It helped a lot! Istirahat, minum air, dan cemilan seadanya, akhirnya mengembalikan stamina saya walau tak seberapa. Pendakian harus dilanjutkan!

Pendakian memang terasa lebih berat, tapi ada semangat yang tak surut untuk melihat matahari terbit. Saya terus melaju seberapapun beratnya. Semangat dari teman-teman juga membantu. Hmm, saya jadi teringat beban studi saya. Kalau mau mencapai puncak sukses, saya memang tak boleh menyerah seberapapun beratnya. Begitulah... saya dan teman-teman akhirnya mencapai Puncak Sikunir dalam rentang waktu sekitar 30 menit dari titik start pendakian yang jaraknya sekitar satu kilometer. Hawa dingin semakin menyerang! Saya pakai dua lapis sweater dan satu jaket, pashmina yang saya sulap jadi syal, dan sarung tangan. Beruntung sudah pakai kerudung, jadi tak perlu pakai kupluk.

Di puncak, kami tak lupa sholat subuh. Wudhu dengan tayamum. Sebenarnya, saat kami turun dari mobil, adzan sedang berkumandang. Tapi, kami memilih jalan terus dulu dan sholat di puncak. Ampun ya Allah... Saya sendiri agak terakhir giliran sholatnya. Itupun dibantu Anggun mempersiapkan tempat sholat. Memang kondisi saya masih lemas. Tapi, saya senang telah berada di puncak. Puncak juga sudah ramai oleh pelancong lain. Tak hanya orang-orang muda, anak kecil dan orang-orang tua pun berhasil mencapai puncak. Demi matahari terbit! Demi sebuah harapan yang entah apa.... Ah, saya kadang suka terharu kalau sudah membahas harapan yang dimetaforakan dengan matahari terbit. Hihihi...

Sunrise

Perlahan, semburat fajar menyapa. Ada awan mendung yang menemani, tapi matahari punya kekuatan menerobos langit. Di sebelah awan mendung itu, matahari menampakkan diri sedikit demi sedikit. Aksi foto-foto pun berlangsung dengan semarak. Hehehe...

Puncak Sikunir

Sekitar jam enam, kami turun. Perjalanan turun ini diwarnai oleh pemandangan yang begitu indah. Pegunungan, lembah, perkebunan, pohon-pohon beranting kering.... Subhanallah! Perjalanan ini tak lagi melelahkan. Rasanya bahkan enggan meninggalkan tempat itu. Hanya keterbatasan waktu yang menuntun kami untuk terus turun dan tiba di tepian telaga. Ternyata telaga yang kami lewati itu bernama telaga Cebong.  Beberapa mobil parkir di sana. Tak hanya mobil bak yang kami sewa, tapi mobil-mobil mahal juga mejeng di sana. Saya siap menyaksikan keindahan Dieng lainnya, walau dengan sarana apa adanya.

Indahnya ciptaan Tuhan



Telaga Cebong, Desa Sembungan, Dieng
....to be continued....

No comments:

Post a Comment