Thursday, January 3, 2013

Perjalanan Setahun (1)

Akhir tahun 2012 saya lalui dalam perjalanan bersama beberapa backpacker muda. Saya dan mereka tergabung dalam sebuah forum backpacker. Setelah perencanaan beberapa minggu oleh sang koordinator, perjalanan pun dimulai pada Jumat malam, 28 Desember 2012. Kami semua berjumlah 28 orang, sebagian besar adalah perempuan--para perempuan perkasa yang menyandang tas ransel. Salah satu titik di kawasan Semanggi menjadi meeting point keberangkatan kami. Jam sembilan malam, bus yang kami tumpangi melaju meninggalkan Jakarta.

Tujuan pertama kami adalah Dieng, Jawa Tengah. Saya menikmati perjalanan darat ini karena bisa melalui beberapa daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya. Walaupun diselingi dengan tidur, cukup banyak daerah yang saya lewati ketika saya terjaga. Menjelang subuh, sekitar jam tiga, bus berhenti di sebuah SPBU. Daerah Cirebon, tercium dari aroma laut yang menguar dan rasa asin air yang mengucur dari pipa tempat wudhu. Cukup lama kami beristirahat di sana--sopir bus ambil jatah tidur. Hampir jam lima, perjalanan dilanjutkan untuk kembali beristirahat pada jam sembilan di Rumah Makan Kalisalak--sekalian brunch--di Bumi Ayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

RM Kalisalak

Seharusnya, menurut itinerary yang telah dirancang koordinator, kami tiba di Dieng paling lama jam satu siang hari berikutnya, Sabtu 29 Desember 2012. Namun, kenyataan berkata lain. Setelah melewati Purwekorto lewat tengah hari, bus mengalami pecah ban. Barangkali pemilik atau sopir bus tidak menyiapkan bus dengan baik untuk perjalanan panjang kami. Bus yang kami sewa memang bus sederhana saja, sekecil metromini dan tanpa AC. Tentu saja kami tidak menyewa bus yang mewah karena kami adalah pelancong murah meriah--backpacker. Di saat sopir dan awaknya mereparasi ban, kami pun beristirahat di tempat yang bukan rest area. Banyak pertokoan kecil di sana, kami pun bebas memilih mau ngapain. Saya dan beberapa teman memilih numpang sholat di warung sate. Sekalian saja kami makan siang di sana. Entah jam berapa--saya sudah tak ingat--bus tercinta kami akhirnya siap beraksi kembali. 

Sudah sore lewat jam empat ketika kami memasuki kabupaten Wonosobo. Kawasan dataran tinggi Dieng semakin dekat. Dieng sendiri berada di dua kabupaten--Wonosobo dan Banjarnegara. Bus berusaha ekstra untuk menanjak ketinggian. Subhanallah, pemandangan yang melatari perjalanan kami sangat mengagumkan. Pegunungan di kanan kiri kami. Langit mendung tak jadi masalah. Percik senja tetap menyemburat malu-malu. Belum lagi, perkebunan yang luasnya menyelimuti hampir ke puncak pegunungan. Dieng menyambut kami dengan dingin. Jaket yang biasa saya tenteng mulai berfungsi. 

Kami sempat nyasar mencari homestay tempat kami menginap. Sopir sempat ngamuk karena ketidakjelasan kami menuju homestay. Beruntung, seorang backpacker yang duluan tiba, membantu mengarahkan perjalanan kami. Ternyata, backpacker itu adalah Dini! Pantas saja saya tidak melihatnya dalam rombongan, padahal saya sempat bertemu dengannya saat meeting perencanaan dan bilang bahwa dia juga ikut trip ke Dieng ini. Sebagai backpacker anak bawang, saya salut dengan keberanian Dini melaju sendirian ke Dieng. Well, kembali ke kisah perjalanan! Jelang isya, kami tiba di homestay. Ada lima kamar di lantai dua. Masing-masing dengan kasur ukuran queen. Ada tiga kamar mandi, dua di antaranya di dalam kamar. Ada dispenser dan persediaan teh, kopi dan gula. Ada ruang tamu kecil. Ada balkon. Dan di kamar, kami tidur berderet lima. Homestay yang biasa. Ya, sederhana saja. Karena kami adalah backpackers

Homestay Bougenville

....to be continued....


No comments:

Post a Comment