Monday, January 21, 2013

Flash Fiction untuk Dee

Senin sore, saya menerima kabar baik. Awalnya, saya terima BBM dari @zulazula yang ternyata mengucapkan selamat buat saya. Langsung saja saya cek Twitter @bentangpustaka yang mengadakan kuis Ulang Tahun Dee pada hari sebelumnya. Nah, iya! Ternyata memang ada ucapan selamat buat saya dari @bentangpustaka. Jadi, hari Minggu pagi, saya mengikuti ajakan @bentangpustaka yang mengadakan kuis menulis Flash Fiction dengan tema Selamat Ulang Tahun dalam rangka perayaan ulang tahun Dewi 'Dee' Lestari, yang notabene adalah salah satu penulis favorit saya. Ihiy! Langsung ide itu muncul dan segeralah saya menulis. Begitu kelar, langsung saya kirim pada pagi jelang siang itu juga. Walaupun hadiahnya satu buku RectoVerso yang tentunya saya telah punya (edisi TrueDee), saya tetap bersemangat ikut kuis itu. Lumayan, jadi latihan menulis. Dan ternyata menang! Hehehe...

Inilah Flash Fiction kurang dari 200 kata yang menjadi pemenang dari 138 peserta lainnya:
Firasat

Degup jantung mereka menyuarakan kepanikan. Mereka kehilangan jejak. Baru saja mereka berada dalam satu ruangan dengan seorang target mereka malam itu.
“Dia ke mana?”
“Tadi dia di sini!”
“Iya, gue tadi juga lihat. Duh!”
“Gimana nih?”
“Dia mungkin langsung pulang.”
Mereka berlima, saling bergantian bicara.
“Telepon aja!”
“Jangan! Kita harus nggak peduli seharian ini sama dia!”
“Tapi satu jam lagi kita harus menemukannya!”
“Huh! Padahal acaranya sudah diatur di sini! Dia pakai kabur segala!”
“Firasat gue, dia memang pulang. Kita susul dia ke rumahnya.”
Mereka saling berpandangan. Ragu mengiringi usulan itu. Tapi, mereka setuju... mengikuti firasat.
“Dan, sebaiknya, kita merancang ulang strategi.”
Mereka mengangguk. Orang-orang di kafe yang telah hadir demi acara mereka juga harus diberitakan perihal pembatalan acara. Mereka, dalam satu mobil, langsung melaju ke Serpong. Berpacu dengan waktu. Mereka tak ingin terlambat.
***
Pintu depan digedor kencang oleh seorang perempuan cantik. Mukanya tegang. Tubuhnya bergetar.  Tak lama, pintu itu dibuka. Dia memang ada.
“Diva, ada apa?!”
“Dee, I have to tell you that..” suara Diva bergetar juga. “Angka usiamu bertambah satu!” teriaknya, lantas tertawa.
“SURPRISE!!!” satu per satu keempat temannya menampakkan diri.
“Ruben, Dhimas, Bodhi, Elektra!” pekik Dee.
Mereka berpelukan. Lilin yang menyala segera ditiup Dee.

Terima kasih @bentangpustaka. Lain kali, terbitkan novel saya, ya! Hahaha.. (kirim dulu naskahnya oi!)

Dan... sekali lagi... Selamat ulang tahun, Dee... Teruslah menginspirasi!

PS: Infonya dari sini http://pustakabentang.blogspot.com/2013/01/pemenang-flash-fiction-selamat-ulang.html

Saturday, January 19, 2013

Impian Awal Tahun

Tentang impian. Apa yang bisa saya ceritakan tentang impian? Intinya cuma satu. Masa depan cerah gemilang. Sudahlah, Sabtu sore begini, bicara perihal impian tampaknya agak berat. Saya sendiri merasa belum pantas berkhotbah dengan tema impian. Impian saya, mungkin tenggelam sudah. Ditenggelamkan banjir Jakarta? Sudah.. sudah.. biar saya skip dulu bicara tentang impian. Ini memang masih awal tahun, waktu yang tepat bicarakan impian. Tapi, saya ingin pendam impian sendirian. Kelak. Ya, kelak... impian akan menjelma nyata. Semesta akan berkonspirasi dalam mewujudkannya. Impian... Ya, kelak!

Jadi, saya mau bicara apa? Bicara? Kenapa tidak tulis? Bukankah ini saya sedang menulis? Biarkan saja. Biar tulisan saya ini seolah-olah mengajak pembacanya berdialog. Bukankah itu terasa lebih baik? Lebih nyaman? Ah, apa ini yang sedang saya omongkan?! Tulisan absurd yang seakan berdialog padahal hanya monolog sang penulis. Penulis? Apakah saya seorang penulis? Parameter apa yang dijadikan dalam mengukuhkan seseorang sebagai penulis? Apakah sekadar menulis sesuatu lalu dicap sebagai penulis? Apapun, saya menganggap diri sendiri adalah penulis. Penulis amatir, penulis kacangan, penulis pro sekalipun, itu terserah orang lain yang menilai.

Tentang menulis. Apa yang telah saya raih dalam kepenulisan? Tentu belum banyak. Hitunglah sejak Oktober 2010, yang mana menjadi titik awal kepenulisan saya. Titik ketika saya menerbitkan secara indie buku kumpulan cerpen saya. Sempat bombastis! Hahaha... anggaplah begitu! Sensasional? Hahaha... mungkin! Seorang perempuan muda berhijab mendadak rilis buku berjudul Lajang Jalang. Menurutmu? Sudah.. sudah.. itu masa lampau. Saat ini.. sebenarnya saya masih berprogress untuk menjadi penulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbit major. Tunggu saja ya!

Wednesday, January 9, 2013

Perjalanan Setahun (6)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...) (...part 4...) (...part 5...)

Menjelang maghrib, 31 Desember 2012, kami kembali ke Jogja. Tidak ada rasa kantuk selama perjalanan dari Gunung Kidul. Seharian bersenang-senang dari pagi hingga sore di tempat-tempat indah dan damai sungguh menjadi penutup tahun yang sempurna. Di tengah perjalanan pun, saya dikejutkan oleh pemandangan yang tak terduga. Kami melewati Bukit Bintang! Saya baru tahu namanya saat itu juga. Ketika sang koordinator berseru, Bukit Bintang!

Dari kawasan Bukit Bintang, kita bisa melihat hamparan kota Jogja lengkap dengan kerlap-kerlip penerangannya. Saya langsung teringat Dago Pakar di Bandung. Dari ketinggian, kita melihat pesona dataran yang lebih rendah. Saya pun teringat Limau Manih, Sitinjau Lauik, dan Indaruang di kota Padang. Mana yang lebih bagus? Kalau menurut saya, Bukit Bintang ini, jalanannya tidak terlalu rawan, di pinggiran jalan juga banyak warung makan tapi tidak sepanjang jalan. Jadi, Bukit Bintang lebih cocok dijadikan area peristirahatan sambil menikmati kota Jogja diselimuti malam dengan bintang-bintang di daratan.

Pemandangan itu kami nikmati selewat saja. Perjalanan tetap dilanjutkan. Sekitar jam sembilan, kami tiba di rumah. Beberapa ada yang berhambur ke kamar mandi satu-satunya itu. Saya menunggu giliran dan akhirnya bisa mandi juga. Menurut rencana perjalanan, malam tahun baru seharusnya kami mengadakan acara bersama-sama di pantai (entah pantai mana), dan kalaupun terkendala kami ke Malioboro. Berhubung, kebanyakan dari kami ingin bisa tiba di Jakarta keesokan harinya, kami tak terlalu memusingkan harus bermalam tahun baru. Jadi, bagi yang ingin bermalam tahun baruan bisa mengunjungi Malioboro.

Monday, January 7, 2013

Perjalanan Setahun (5)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...) (...part 4...)

Hari terakhir di tahun 2012. Jogja cerah sekali alias garang, apalagi menuju Kabupaten Gunung Kidul. Jam enam pagi, kami semua telah bersiap-siap untuk berangkat meninggalkan rumah. Ada sedikit perbedaan pendapat saat itu, apakah tas-tas tinggal di rumah atau langsung dibawa ke bus supaya bisa langsung pulang ke Jakarta. Atas saran si Bapak Tuan Rumah, tas-tas sebaiknya ditinggal dulu. Sepulang dari Gunung Kidul, bisa mampir dulu ke rumah untuk beres-beres. Saya sendiri tetap membawa tas ransel ke bus. Ya, siapa tahu butuh sesuatu yang tersimpan di dalam ransel.

Sayang sekali, saya bukan tipe pencatat perjalanan, sehingga saya sering kelupaan detail. Entah jam berapa bus kami tiba di Pantai Siung dan jalan apa saja yang kami lewati. Yang saya ingat adalah jalan dari kota Jogja ke Gunung Kidul itu melewati perbukitan yang berbelok-belok. Jalannya tidak lebar, hanya dua jalur untuk dua arah. Masuk ke Pantai Siung, kami melewati jalan yang lebih kecil. Dan... sinyal pun melemah hingga akhirnya tak ada sama sekali!!! Where were we?! Bukankah kami sejarak 2-3 jam dari kota Jogja?! Hehehe... Pantai itu memang berada di balik perbukitan, barangkali karena itu sinyal tak ada. Jadi, nggak bisa update status, deh! Hihihi...

Pantai Siung tidak terlalu panjang. Ada batu-batu karang dan pasirnya masih kasar. Di bagian tertentu pantai, pasirnya sudah halus, tidak ada kerang dan bebatuan. Tapi, pendek saja. Di sini, tampaknya ada sebuah penginapan sederhana. Fasilitas pantai lainnya, seperti toilet, cukup layak dan bayar 2000 rupiah kalau mandi. Pedagang makanan berderet di pinggir parkiran. Ada yang jual es kelapa, tentunya, dan goreng-gorengan, bakso tusuk, apapun yang "ringan-ringan". Pantai ini belum terlalu berkembang. Pengunjung juga tak terlalu ramai. Kami serombongan seakan-akan sedang bermain di pantai pribadi. Hehehe....

Saturday, January 5, 2013

Perjalanan Setahun (4)

(...part 1...) (...part 2...) (...part 3...)

Kami meninggalkan Dieng pada siang hari, 30 Desember 2012. Tujuan kami selanjutnya adalah kota budaya, Jogjakarta. Perjalanan menempuh waktu lebih lama daripada seharusnya. Menurut pengguna gadget sejati yang mengandalkan GPS (coba tebak siapa?!), sopir bus mengambil jalan yang lebih panjang. Entahlah... toh yang saya ingat, perjalanan menuju Jogja itu melewati Magelang. Berhubung waktu terbatas, Candi Borobudur yang masuk dalam itinerary batal dikunjungi. Tarian hujan menyambut kami setiba di Jogja sehabis maghrib. Bus berhenti di SPBU tak jauh dari penginapan. Kami turun dan mengambil barang, lalu berjalan kaki sambil dipercik hujan. Tak sabar ingin mandi segera!

Sayang sekali, penginapan kali ini tidak sebaik penginapan di Dieng. Sangat ala kadarnya. Penginapan kami itu merupakan rumah pemiliknya, jadi kami berbaur tinggal bersama tuan rumah. Rumahnya sangat sederhana, terdiri dari tiga kamar dan satu kamar mandi. Sebenarnya, satu kamar diasingkan hanya untuk tuan rumah dan dua orang backpacker lain sebelum kami. Kebetulan dalam rombongan kami ada seorang ibu, yakni ibunya Anggun, kamar tersebut pun dibuka juga untuk sang tetua rombongan kami. Sedangkan, kami yang kini berjumlah 29 orang, belum lagi tas-tas ransel, harus berbagi tempat di antara ruang depan (buat cowok-cowok), satu kamar depan yang cukup layak, dan satu kamar belakang yang menurut saya tidak layak ditempati oleh cewek-cewek. Hmm, sorry to say this, lampu penerangan saja tidak ada. Saya pun terpikir, apakah menjadi seorang backpacker, menyusahkan diri dan badan itu jadi bagian petualangan? Mungkin. Toh, dengan budget seminimal mungkin, backpacker harus dapat bertahan hidup dalam perjalanannya.

Tak lama setelah menempatkan tas-tas, banyak di antara kami yang ke luar dari rumah. Barangkali mau ambil napas! Hahaha... Saking sumpeknya kali ya?! Hehehe.... Saya tetap tinggal di rumah (lebih pantas disebut rumah daripada penginapan) bersama segelintir orang. Kalau tak salah, yang habis mandi langsung tinggal di kamar hanya beberapa--Sara, Erni, Aryani...dan entah siapa lagi. Saya bersama Anggun dan ibunya pun merasa sedikit tidak betah, walaupun si Mama sudah dapat kamar yang cukup layak barengan dengan tuan rumah. Akhirnya, kami bertiga ingin menyusul yang lain. Ke luar rumah sesegera mungkin! Hahaha....

Perjalanan Setahun (3)

(...part 1...)

(...part 2...)

Waktu kami terbatas, masih ada beberapa objek wisata yang perlu kami kunjungi. Setelah dari Puncak Sikunir, walau saat itu masih pagi sekali, mobil pick-up mengantar kami ke Kawah Sikidang. Perjalanannya sekitar 15-20 menit. Tiba di sana, kami bebas sarapan di warung yang dilokalisir dalam satu area. Berhubung di Puncak Sikunir, saya sudah makan Pop Mie, di warung saya cuma nyemil gorengan. Ohya, perlu juga saya catat, saya pun buang hajat di toilet umum pagi itu. Hehehe...

Karena rombongan kami terbagi dua, saya dan teman-teman rombongan pertama menunggu rombongan kedua yang sedang akan dijemput oleh mobil pick-up yang sama. Dalam penantian itu, kami sarapan dan bebas mau ngapain saja. Beberapa ada yang sudah foto-foto duluan. Sebenarnya, kami tak harus menunggu rombongan berikutnya. Toh, memang saat itu sepertinya kami lebih senang leyeh-leyeh di warung atau di mana saja tempat yang memungkinkan.

Di Kawah Sikidang, banyak penjual masker menjajakan dagangannya. Memang, area tersebut berbau pekat belerang. Saya sendiri tidak beli masker. Saya mengandalkan pashmina untuk menutup hidung bila bau belerang itu menguar kuat. Kadang-kadang saja bau itu muncul tergantung angin yang menerbangkannya. Kawah Sikidang sangat bagus dijadikan latar belakang foto. Apalagi cuaca sangat cerah pagi itu. Kawah Sikidang ini ternyata artinya melompat-lompat. Kawah ini masih aktif dan biasa ditemukan kawah mini yang mendidih di tempat-tempat yang tak terduga. Jadi, mesti lihat-lihat ke bawah kalau jalan menuju kawah yang besar. Dan sepertinya, di bawah tanah yang kami pijak itu bisa saja ambruk membentuk kawah baru. Saya jadi ngeri sendiri dan memutuskan untuk segera pergi saja dari area sekitar kawah.

Friday, January 4, 2013

Perjalanan Setahun (2)

(....part 1....)

Kami telah tiba di penginapan Bouginville, Dieng, pada waktu maghrib. Kami semua membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam yang telah disediakan tuan rumah. Setelah itu, kami pun berkumpul di ruang tengah lantai dua. Koordinator, bernama Bima, membahas hal-hal penting yang perlu kami ketahui untuk persiapan perjalanan esok hari serta mereview hal-hal yang telah terjadi selama perjalanan keberangkatan dari Jakarta. Di saat itulah, kami juga saling mengenalkan diri lebih dekat. Diiringi dengan canda tawa tentunya. Saya sendiri lebih condong menjadi "penonton", mengingat umur juga, banyak teman backpacking saya yang ternyata lebih muda dari saya.

Ngalor-ngidul malam itu tak boleh diteruskan. Kami harus beristirahat. Dini hari jam tiga, 30 Desember 2012, kami harus bangun dan bersiap menempuh perjalanan singkat ke Puncak Sikunir. Di sana kami akan melihat matahari terbit. Inilah yang saya tunggu-tunggu. Saya selalu terpesona melihat matahari terbit yang menjadi bagian scene di film-film. Saya memang jarang keluar rumah menengok matahari terbit kala subuh. Lagipula saya tinggal di kota. Oh, well, bilang saja kalau saya malas bangun subuh. Hehehe... Saya masih ingat salah satu scene di film Benjamin Button, di saat Ben menemani ayah kandung yang telah mencampakkannya untuk melihat matahari terbit di tepian danau. It was so mesmerizing! Matahari terbit menyiratkan saya akan sebuah harapan baru. So, I was so excited to see the sunrise live! 

Dinihari itu, rombongan terbagi dua. Lima belas pertama, saya di antaranya, diberangkatkan lebih dulu dengan mobil bak terbuka. Ya, kami semua duduk di sana ibarat sekumpulan sapi yang diantar ke pasar. Hahaha... Perjalanan dari penginapan ke desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di pulau Jawa itu memakan waktu sekitar 20-30 menit. Selanjutnya, kami berjalan kaki dari tempat perhentian menuju Puncak Sikunir. Ada sebuah telaga sebelum kami memulai pendakian. Masih gelap dan kami membutuhkan senter untuk penerangan.

Thursday, January 3, 2013

Perjalanan Setahun (1)

Akhir tahun 2012 saya lalui dalam perjalanan bersama beberapa backpacker muda. Saya dan mereka tergabung dalam sebuah forum backpacker. Setelah perencanaan beberapa minggu oleh sang koordinator, perjalanan pun dimulai pada Jumat malam, 28 Desember 2012. Kami semua berjumlah 28 orang, sebagian besar adalah perempuan--para perempuan perkasa yang menyandang tas ransel. Salah satu titik di kawasan Semanggi menjadi meeting point keberangkatan kami. Jam sembilan malam, bus yang kami tumpangi melaju meninggalkan Jakarta.

Tujuan pertama kami adalah Dieng, Jawa Tengah. Saya menikmati perjalanan darat ini karena bisa melalui beberapa daerah yang belum pernah saya jelajahi sebelumnya. Walaupun diselingi dengan tidur, cukup banyak daerah yang saya lewati ketika saya terjaga. Menjelang subuh, sekitar jam tiga, bus berhenti di sebuah SPBU. Daerah Cirebon, tercium dari aroma laut yang menguar dan rasa asin air yang mengucur dari pipa tempat wudhu. Cukup lama kami beristirahat di sana--sopir bus ambil jatah tidur. Hampir jam lima, perjalanan dilanjutkan untuk kembali beristirahat pada jam sembilan di Rumah Makan Kalisalak--sekalian brunch--di Bumi Ayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

RM Kalisalak